Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 _Mahkota Untuk Aurora
Gema musik pesta semalam barulah saja memudar dari aula besar, namun bagi Ara, keheningan fajar di Kerajaan Noxvallys membawa ketakutan yang jauh lebih nyata. Belum sempat matahari benar-benar menampakkan sinarnya, pintu gudang tempat Ara beristirahat ditendang hingga terbuka lebar.
"Bangun, kau pelayan hina!" teriak Putri Morena. Wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah yang tersisa dari semalam.
Morena melangkah maju dan menjambak rambut Ara, memaksanya berdiri meski kakinya masih lemas. "Kau pikir kau siapa, hah? Kau pikir dengan berpura-pura jatuh di pelukan Pangeran Benedict, kau bisa merebut perhatiannya dariku? Kau sengaja melakukan itu untuk mempermalukanku di depan tamu-tamu agung itu!"
"Tidak, Tuan Putri... saya benar-benar pusing karena belum makan," rintih Ara, air mata mulai mengalir di pipinya yang masih lebam.
"Bohong! Kau itu hanya pelayan kotor yang haus perhatian! Kau ingin merebut pria yang kucintai, bukan?" Morena mengambil sebuah cambuk kecil yang biasa digunakan untuk kuda dan melecutkannya ke arah kaki Ara.
Cethar!
Ara memekik kesakitan. "Demi langit, saya tidak pernah berpikir seperti itu, Tuan Putri!" "Tutup mulutmu! Kau akan mendapatkan pelajaran karena sudah berani bersikap 'centil' di depan para pangeran!" Morena memukul Ara berkali-kali hingga gadis malang itu meringkuk di lantai yang dingin.
Morena baru berhenti setelah napasnya terengah-engah. Ia menatap Ara dengan jijik. "Dengarkan aku. Hari ini, Raja Malakor memerintahkanku untuk membalas kunjungan tujuh pangeran itu ke kediaman mereka. Aku akan pergi ke sana, dan kau... kau harus ikut."
Morena tersenyum licik. "Aku akan membawamu agar kau bisa melihat betapa tinggi perbedaan antara seorang putri sepertiku dan sampah sepertimu. Tapi ingat, jika kau berani menatap mata mereka atau mengeluarkan suara sedikit pun, aku akan memastikan lidahmu dipotong."
Perjalanan menuju kediaman tamu agung di perbatasan kota dimulai beberapa jam kemudian. Morena duduk dengan nyaman di dalam kereta kencana yang mewah, beralaskan bantal sutra dan dikelilingi oleh camilan manis. Namun, bagi Ara, perjalanan ini adalah siksaan yang lain.
Morena sengaja tidak mengizinkan Ara duduk di dalam kereta. "Pelayan kotor sepertimu tidak pantas menyentuh kursi sutra ini," cetusnya. Ara dipaksa berlari kecil di samping kereta kencana sambil memegang tali pengikat kuda, di bawah terik matahari yang mulai menyengat dan debu jalanan yang menyesakkan napas.
Sepanjang perjalanan, Morena terus melakukan hal-hal yang kejam. Saat kereta melewati genangan air berlumpur, Morena memerintahkan sais kuda untuk mempercepat lajunya, sehingga lumpur kotor membasahi seluruh tubuh Ara. Tak cukup sampai di situ, setiap kali kereta berhenti sejenak, Morena akan menjatuhkan air minumnya ke tanah dan menyuruh Ara membersihkan sepatunya menggunakan kain baju yang sedang Ara pakai.
"Lihatlah dirimu, Ara," Morena mengejek dari jendela kereta. "Kau terlihat seperti tikus selokan. Kau pikir pangeran-pangeran tampan itu akan melirikmu lagi jika melihatmu sekotor ini? Mereka hanya merasa kasihan kemarin, jangan terlalu besar kepala."
Ara tetap diam, meskipun hatinya terasa hancur. la terus melangkah meski kakinya mulai lecet dan berdarah karena hanya mengenakan alas kaki tipis yang sudah rusak. Di balik bajunya yang kotor dan basah, ia merasakan sesuatu yang keras menempel di kulit dadanya-Pulpen Cendana Emas. Benda itu terasa hangat, memberikan kekuatan yang tak kasat mata bagi Ara untuk terus bertahan. Aku harus kuat. Aku harus bertahan, bisiknya dalam hati.
Sementara itu, di istana peristirahatan yang megah, tujuh pangeran Aethelgard sedang menunggu dengan gelisah. Mereka telah menyiapkan perjamuan kecil, namun pikiran mereka sama sekali tidak tertuju pada makanan.
"Aku tidak bisa tidur semalam," ucap Gideon sambil mondar-mandir di aula depan. "Aku terus terbayang bagaimana tangan Benedict menangkapnya. Dia sangat kurus, Kak. Dia seperti tidak pernah diberi makan."
"Kita harus membawanya hari ini," sahut Alistair tegas. la berdiri di dekat jendela, menatap jalan raya istana. "Jika benar dia adalah Aurora, setiap detik dia berada di tangan keluarga Valeska adalah penghinaan bagi kerajaan kita."
"Tenanglah semua," Caspian menimpali sambil membuka sebuah gulungan tua. "Putri Morena akan segera sampai. Dia pasti akan membawa pelayannya. Kita harus bermain dengan halus. Kita tidak bisa langsung merebutnya tanpa bukti yang kuat, atau Raja Malakor akan memulai perang sebelum kita siap."
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda dan gemerincing lonceng kereta terdengar. Kereta kencana Noxvallys masuk ke halaman istana. Tujuh pangeran itu segera berdiri di barisan depan untuk menyambut.
Pintu kereta terbuka. Morena turun dengan anggun, mengenakan gaun biru langit yang sangat mewah, berusaha meniru warna kesukaan para pangeran. la tersenyum lebar, tampak sangat cantik dan berkelas. Namun, pemandangan di belakangnya membuat jantung tujuh pangeran itu seolah berhenti berdetak.
Di samping kuda, seorang gadis kecil tampak sangat mengenaskan. Tubuhnya penuh lumpur, bajunya robek di beberapa bagian, dan wajahnya tertunduk dalam. la gemetar hebat, memegang nampan berisi hadiah dari Morena dengan tangan yang luka-luka.
"Selamat siang, para pangeran yang mulia," ucap Morena dengan suara manja. "Maaf jika kami sedikit terlambat. Pelayan bodoh ini sangat lambat saat berjalan, jadi kami harus menunggunya berkali-kali."
Mata Benedict langsung berkilat tajam melihat kondisi Ara. la ingin melangkah maju dan menghajar siapa pun yang bertanggung jawab atas luka di wajah gadis itu, namun Alistair menahan bahunya dengan kuat, memberi isyarat untuk tetap tenang.
"Mari masuk, Putri Morena," Alistair menyapa dengan suara datar, berusaha keras menyembunyikan amarahnya. "Kami telah menyiapkan perjamuan di dalam."
Ara berjalan di belakang Morena dengan langkah gontai. Saat ia melewati para pangeran, ia tidak berani mendongak. Namun, bau harum dari jubah para pangeran-aroma kayu cendana dan embun pagi-terasa sangat akrab di penciumannya. Aroma itu membangkitkan ingatan samar tentang pelukan hangat yang pernah ia rasakan di masa kecil.
Siksaan belum berakhir. Di dalam aula, Morena sengaja memerintahkan Ara untuk berdiri di belakangnya tanpa bergerak sedikit pun selama berjam-jam saat mereka berbicara. Morena terus bercerita tentang kehebatan dirinya, sementara sesekali ia sengaja menjatuhkan sapu tangan atau kipasnya agar Ara harus membungkuk kesakitan untuk mengambilnya.
"Oh, lihatlah dia," Morena tertawa kecil sambil melirik Ara. "Dia memang sedikit cacat dan lemah. Ayahku menemukannya di tumpukan sampah saat bayi, jadi jangan heran jika dia tidak memiliki sopan santun."
Mendengar kata-kata 'ditemukan saat bayi', Caspian dan Darian saling berpandangan. Kecurigaan mereka kini mencapai puncaknya.
Momen krusial itu terjadi ketika Morena hendak memamerkan sebuah hadiah kepada para pangeran. la menyuruh Ara maju untuk membukakan kotak perhiasan. Karena tangan Ara sangat gemetar dan licin akibat keringat dan darah, nampan yang ia bawa miring. Saat itulah, sebuah benda jatuh dari balik lipatan baju Ara yang sobek.
Ting!
Sebuah benda logam berwarna emas jatuh dan berguling di atas lantai marmer, tepat di tengah-tengah lingkaran ketujuh pangeran. Benda itu berkilau sangat terang di bawah cahaya lampu istana.
Ketujuh pangeran itu tertegun. Alistair segera memungutnya. Matanya membelalak lebar saat melihat ukiran burung phoenix dan aroma kayu cendana yang keluar dari benda itu.
"Ini..." suara Alistair bergetar hebat. "Ini adalah Pulpen Cendana Emas milik Aethelgard!" Morena tersentak. la melihat pulpen itu dan menyadari bahwa benda itu tampak sangat berharga. Melihat reaksi para pangeran yang begitu terkejut, otak liciknya bekerja dengan sangat cepat. la tidak tahu apa benda itu, tapi ia tahu ia harus memilikinya agar para pangeran memperhatikannya.
"Oh! Itu..." Morena tiba-tiba berteriak dengan nada dramatis, menunjuk ke arah Ara. "Beraninya kau, Ara! Kau mencuri pulpen itu dariku!"
Ara mendongak dengan wajah pucat. "Apa? Tidak, Tuan Putri... itu milik saya sejak kecil..." "Bohong!" Morena memotong dengan keras.
la langsung bersimpuh di depan Alistair dengan air mata buatan yang mulai jatuh. "Pangeran, maafkan saya. Pulpen itu adalah peninggalan ibunda saya yang hilang sejak lama. Saya baru menemukannya kemarin, tapi pelayan jahat ini mencurinya dari meja rias saya tadi pagi! Tolong kembalikan pada saya!"
Ara terpaku. la tidak menyangka Morena akan berbohong sekejam itu. Di depan tujuh pangeran yang ia kagumi, ia kini dituduh sebagai seorang pencuri. Kebenaran seolah tertutup kembali oleh awan gelap, sementara Morena mulai menenun jaring kebohongannya untuk merebut mahkota yang bukan miliknya.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.