"Ya Tuhan...apa yang sudah aku lakukan? Kalau mamih dan papih tahu bagaimana?" Ucap Ariana cemas.
Ariana Dewantara terbangun dari tidurnya setelah melakukan one night stand bersama pria asing dalam keadaan mabuk.
Dia pergi dari sana dan meninggalkan pria itu. Apakah Ariana akan bertemu lagi dengannya dalam kondisi yang berbeda?
"Ariana, aku yakin kamu mengandung anakku." Ucap Deril Sucipto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Seorang Anak
"ANNA."
DEG
Sontak yang dipanggil pun menoleh, begitu pun Deril dan Bima. Seketika mereka semua mematung. Terutama Anna. Air matanya mengalir deras memandangi mamihnya yang ada di depan matanya. Ia tidak bermimpi, semua ini nyata.
Anna menoleh pada suaminya seolah meminta ijin. Deril mengangguk pelan, ia menemani istrinya menghampiri mamih Aleesya.
"Mamih... Hiks hiks hiks."
Saat itu Anna bersimpuh di kaki ibunya, tangis haru mewarnai pertemuan ibu dan anak ini. "Bangun nak." Mamih Aleesya langsung memeluk anak perempuannya ini.
Papih Alarich dan ketiga kakak Anna menghampiri dua wanita yang tengah menangis ini. "An, kakak minta maaf yah. Asal kamu tahu, kakak sangat menyayangi mu sayang. Maaf, kakak udah keterlaluan sama kamu, sampai kamu pergi dari kehidupan kami." Ucap Athala.
Athala mendekap erat adik bungsunya ini, keduanya menangis haru. "Anna juga minta maaf ya kak, aku enggak bermaksud pergi kak. Aku sebel sama kakak."
"Iya kakak memang nyebelin, tapi kamu sayang kan?" Goda Athala pada adik bungsunya ini. Kepala Anna mengangguk dan terus berpelukan dengan kakaknya ini.
Tangan Deril mengusap-ngusap punggung istrinya lembut. "Kok kalian bisa tahu aku di sini?" Tanya Anna.
"Sherra lihat kamu kemarin di rumah sakit." Ucap Atharya.
Setelah mereka semua berpelukan dan saling memaafkan, Deril dan mamah Mona menyuruh mereka semua masuk ke dalam. Mamah Mona juga bilang jika tadi ada acara pengajian tujuh bulanan Anna.
Orang tua Anna terlihat sedih, harusnya mereka ada di sini mendampingi anaknya. Tapi karena satu keadaan, mereka tidak bisa menemani anaknya.
Anna sedari tadi lengket sekali dengan orang tuanya. Ketiga kakaknya juga kakak iparnya pun sangat merindukan Anna. Begitu juga semua keponakan Anna.
Deril juga meminta maaf pada mertuanya, atas sikapnya yang sudah menjauhkan Anna dari keluarganya. Namun sebagai mertua dan orang tua, mereka memakluminya.
"Saya juga sudah pernah melakukan hal sama dulu, ketika keluarga dari Aleesya menyakitinya." Celetuk papih Alarich.
"Itu kan dulu, pih." Ucap mamih Aleesya.
"Iya sayang, jadi papih sama sekali tidak marah pada Deril dan Anna."
Anna meminta orang tuanya menginap di sini. "Boleh kan mah?" tanya Anna pada mamah Mona.
"Boleh donk sayang. Tapi mohon maaf pak Alarich, kamar disini tidak banyak, sisa tiga kamar lagi."
Seketika Alana punya ide, sisa dua kamar lagi untuk para wanita dan anak anak. Dan satunya lagi untuk para suami suami mereka.
"Ckk... Aku tidur bareng sama mereka gitu?" Celetuk Athala sambil menunjuk Erlan dan Atharya.
"Idih, aku juga ogah tidur sama dia." Ucap Atharya tak mau kalah.
Erlan hanya menghela nafasnya melihat perdebatan ini. Mamah Mona meminta keluarga besan-nya untuk makan siang dulu disini.
-
-
-
Di depan meja rias sambil menghapus makeup-nya, wajah Anna berseri-seri. Ia bahagia sekali bisa bertemu orang tuanya. Kecupan manis mendarat di pipi bumil cantik ini.
"Kenapa senyum senyum terus? Mikirin cowok lain ya." Celetuk Deril dengan ketus.
"Enak aja! Aku seneng tahu ada mamih sama papih. Kok aku bisa lupa ya mas, kalau keluarga kak Zena kan tinggal di sini. Pantas aja Sherra lihat aku kemarin." Ucap Anna dengan heran.
"Sudah takdir sayang. Aku bahagia lihat kamu bahagia." Kata Deril dengan penuh haru. Ibu jarinya membelai pipi istrinya yang terlihat chubby, dan mengecupnya lembut.
"Makasih ya mas, kamu udah membela aku. Mungkin dengan cara kita pergi, semua kembali membaik." Lirih Anna.
"Enggak gratis yah ucapan makasihnya." Ucap Deril dengan mata genitnya, dan itu membuat Anna merinding.
Anna segera ke tempat tidur menyelimuti dirinya sampai leher. "Eits... Enak aja tidur! Ayo sayang dedeknya udah bangun." Goda Deril pada istrinya ini.
"Ya ampun mas, punya nafsu jangan ketinggian. Kan semalem udah dua kali." Keluh Anna.
"Iya sekarang tiga kali."
"Mas_hmmpt." Belum selesai Anna bicara, Deril sudah membungkamnya dan menggempurnya. Meskipun menggerutu tetap saja Anna sangat menikmatinya dan ketagihan lagi dan lagi.
Suara erangan dan lenguhan lolos dari bibir mungil bumil ini, pusaka suaminya mampu membuatnya melayang ke nirwana. Di rasa pergumulan mereka sudah terlalu lama, Anna menyudahinya.
Namun sepertinya Deril tidak akan pernah puas, ia menciumi seluruh perut istrinya yang sangat s*ksi dimatanya. Tangan Anna membelai lembut rambut suaminya.
Ocehan Deril membuat anak di dalam kandungan Anna bergerak aktif. "Sayang pelan pelan ssshh." Anna meringis memegang perutnya.
"Anak kita aktif banget sayang, tuh nendang terus perut kamu. Adek sayang, pelan pelan ya nak kasihan mamah." Ucap Deril.
Seolah mengerti perkataan papahnya, anak mereka menjadi pelan gerakannya. Tangan Deril membalur perut istrinya dan mengusap ngusap lembut. Juga, ia mengecup dahi istrinya dalam sekali.
"Mas, aku operasi aja yah. Aku kemarin lihat video orang lahiran normal kok takut ya mas." Lirih Anna.
"Sebetulnya kamu bisa lahiran normal, karena kandungan kamu tidak ada masalah. Tapi kalau kamu mau operasi, boleh." Deril juga menjelaskan dengan detail perbedaan melahirkan normal dan caesar.
Anna bergidik ngeri. "Mas, apa ada cara yang enggak bikin sakit? Kok serem ya mas."
"Enggak serem kok sayang. Namanya pengorbanan seorang ibu melahirkan anaknya yah memang melewati jalan seperti itu. Baik normal maupun caesar sama sama berjuang." Kata Deril dengan menenangkan istrinya. Ia tahu jika Anna beberapa hari ini cemas menjelang kelahiran anaknya.
Maka dari itu Deril selalu memantau apa yang istrinya tonton. Tapi terkadang Anna suka mencuri kesempatan menonton video orang melahirkan. Walaupun ujungnya ia bergidik ngeri membayangkannya.
Namun Anna tidak menjawabnya, ia pasrahkan pada yang Maha Kuasa. Kepalanya semakin menelusup ke dada polos suaminya. Tangan kokoh Deril membelai lengan istrinya dan semakin mendekapnya.
"Tenang ya sayang. Semua akan baik baik aja, percaya sama aku." Kata Deril.
"Iya mas, tapi harus mas yang operasi aku. Jangan dokter lain." Lirih Anna.
"Iya sayang, mungkin nanti dibantu juga sama dokter lain."
-
-
-
"Pagi sayang, gimana perut kamu? Mamih sama mamah Mona habis masakin ini buat kamu sayang." Ucap mamih Aleesya dengan memberikan sop buntut kesukaan Anna.
"Wah, wangi banget mih."
"Iya sayang ayo cepat makan, cucu omah harus gembul dan sehat." Ucap mamah Mona dengan girang.
Mata Anna celingukkan menanyakan kemana ketiga kakaknya. Rupanya, mereka tengah bermain keluar ke tempat wisata.
"Tadinya mau ajak kamu sayang. Tapi kamunya tadi masih tidur. Jadi mamih enggak tega ganggu istirahat kamu."
"Iya sih mih enggak apa-apa. Lagian Anna juga capek banget semalem perut Anna keram. Tapi sekarang udah aman mih."
Papih Alarich menghampiri anaknya dan memeluknya. "Gimana cucu opah? Udah makan?" Tanyanya.
"Ini mau makan opah. Kangen papih." Rengek Anna.
"Papih juga sayang. Udah beli perlengkapan bayi?" Tanya papih Alarich.
"Udah pih kemarin, Anna sampai kalap hihi."
Anna semakin mengeratkan pelukannya pada papihnya. Suaminya baru keluar dari kamar dan menyusul istrinya. Ia membawa obat dan vitamin istrinya.
"Minum obat sayang." Ucap Deril.
"Tuh sana, suami kamu cariin." Kata papih Alarich.
Para tetua ini bahagia melihat kemesraan Anna dan Deril. Juga perhatian Deril pada Anna yang begitu besar. "Udah habis mas."
"Nanti aku stok lagi sayang obatnya."
soal nya lupa