Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Bagas tidak pergi untuk menyelamatkan kyra saat ini. Bagas tahu pasti kyra bisa mengahadapi masalahnya sendiri. Dia punya rencana tersendiri nantinya. Saat ini dia ingin menghabiskan waktunya seharian bersama Aldian putranya.
Mereka berdua sedang rebahan santai di ranjang kecil di kamar itu. Aldian tiduran sambil memainkan mobil-mobilan kecil di selimut, sementara Bagas berbaring menyamping, menopang kepalanya dengan tangan, mengamati putranya.
"Aldian," panggil Bagas lembut.
"Iya, Om?" sahut Aldian, mendongak.
"Kamu bosan enggak di sini terus?" tanya Bagas, mengusap pelan punggung Aldian.
Aldian mengangguk kecil, wajahnya memelas.
“Bosan, Om…”
Bagas meliriknya, tersenyum tipis.
“Kamu mau nggak ikut ke rumah Om?”
Mata Aldian langsung membesar.
“Ke rumah yang besar itu, Om?”
Bagas tersenyum. "Bukan yang itu, Sayang. Itu rumah Mama Om, Nenekmu. Om punya rumah sendiri. Namanya Apartemen."
“Tempat tinggal juga, tapi tinggi. Ada banyak lantai. Om tinggal di lantai sebelas. Ada lift, ada tempat main, dan kamarnya lebih besar dari kamar ini.”
Aldian langsung duduk, wajahnya berbinar.
“Om! Aldian mau! Mau banget!”
Bagas menahan tawa, mengacak rambut lembut bocah itu.
Aldian mengangguk semangat, lalu membenamkan wajahnya ke dada Bagas yang hangat.
“Om… apartemennya ada ikan juga?”
Bagas meringis kecil. “Ikan? Hm… belum. Tapi kalau Aldian mau, kita bisa beli.”
Aldian langsung menatapnya dengan mata berbinar tak percaya. “Beli? Beneran boleh?!”
“Beneran,” jawab Bagas Lalu ia menepuk pelan kepala bocah itu. “Ayo, cepet siap-siap. Kita pergi sekarang.”
"horeee, makasih om" ucap Aldian memeluk Bagas dengan erat.
Bagas terdiam sesaat. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengguncang dadanya.
Ia membalas pelukan kecil itu.
“Om juga sayang sama Aldian" ucap Bagas membalas pelukan anak itu.
Lalu ia bangkit dari ranjang sambil menggendong Aldian, mengarah ke lemari kecil Kyra untuk mengambil pakaian ganti anak itu.
“Om, kita langsung ke apartemen?” tanya Aldian polos.
Bagas menggeleng. “Belum. Kita mampir dulu.”
“Ke mana?”
Bagas tersenyum. “Ke mall. Om mau beliin Aldian baju yang bagus-bagus.”
Mata Aldian langsung membesar, bibirnya terbuka lebar. “Beneran?!”
“Beneran,” jawab Bagas sambil mengacak rambutnya.
“Ayo berangkat.”
Aldian berjalan sambil menggenggam tangan Bagas, langkahnya kecil-kecil tapi penuh semangat. Bagas membawanya ke toko pakaian anak-anak.
Begitu masuk, Aldian langsung terpaku.
“Om… bajunya banyak banget!” suaranya penuh kekaguman.
"Pilih yang kamu suka, Sayang," kata Bagas, mendorong troli kecil yang khusus untuk anak-anak.
Bagas mengambilkan satu set pakaian kasual yang keren, sepatu sneakers baru, dan yang paling penting, beberapa set piyama lembut dengan motif superhero. Ia tahu betapa nyamannya bahan piyama itu untuk tidur Aldian. Bagas ingin memastikan segala hal yang Aldian butuhkan tersedia, bahkan untuk tidur.
"Lihat ini, Om!" Aldian memegang piyama bergambar dinosaurus. "Om belikan ini, ya?"
"Tentu saja," jawab Bagas, senyumnya tulus. "ambil semua sayang ngga perlu khawatir"
Begitu melewati depan toko mainan, Aldian otomatis berhenti. Tangannya masih menggenggam jari Bagas.
“Om…”
Ia menatap ke dalam toko dengan mulut menganga.
Bagas pura-pura tidak tahu.
“Kenapa?”
“Itu… itu… mobil pemadam kebakaran!” tunjuk Aldian dengan mata berbinar.
“Aldian mau?” tanya Bagas lembut.
Anak itu langsung mengangguk begitu kuat hingga rambutnya berantakan.
“Mau!”
“Yuk, kita ambil satu,” kata Bagas sambil menuntunnya masuk.
Aldian memilih satu unit mobil pemadam dengan tangga panjang. Bagas ikut menambahkan satu set balok bangunan dan satu mobil mini tambahan.
“Om! Banyak banget!” Aldian panik kecil.
“Kan Om bilang satu,” jawab Aldian polos.
Bagas tersenyum kecil, menatap putranya lama.
“Yang milih satu. Sisanya Om yang pengen beliin.”
Aldian terdiam… lalu memeluk pinggang Bagas erat-erat. “Om baik banget…”
Bagas memeluk balik dengan hangat. “Ayo bayar dulu.”
Bagas juga menyempatkan ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan karena di apartemennya hanya ada beberapa bahan makanan.
Setelah troli mereka penuh, Bagas mengajak Aldian makan siang. Bagas memilih restoran Jepang yang terkenal dengan menu sushi dan udon yang child-friendly.
"Aldian, kita akan makan ini. Namanya udon," kata Bagas, menunjukkan mangkuk besar berisi mie kuah.
"Wah, banyak sekali, Om!"
"iya. Ini enak banget pasti Aldian suka"
Bagas menggandeng tangan kecil Aldian menuju lift mall. Di tangan lain, ia membawa beberapa kantong berisi pakaian baru, mainan, dan bahan makanan. Aldian berjalan berjingkat-jingkat penuh semangat, seolah baru saja memenangkan hadiah besar.
“Om,” panggil Aldian pelan sambil menengok ke atas.
“Hmm?” Bagas menurunkan kepala sedikit.
“Apartemennya jauh nggak?”
“Enggak. Lima belas menit sampai,” jawab Bagas sambil mengusap pelan puncak kepala Aldian.
Bagas membuka pintu unit apartemennya. Ruangan yang menyambut mereka adalah ruang keluarga berkonsep terbuka dengan desain minimalis modern. Dinding kaca besar mendominasi satu sisi, menawarkan pemandangan panorama kota Jakarta yang membentang luas.
Aldian perlahan masuk, langkahnya kecil dan hati-hati.
“Om…” suaranya hampir seperti bisikan.
“Rumah Om… gede banget…”
Bagas berjongkok di sampingnya.
“Kamu suka?”
Aldian mengangguk cepat. “Suka! Suka banget!”
Ia langsung berlari kecil ke sofa besar di ruang tengah dan memanjatnya, kemudian menatap keluar jendela.
“Om! Mobil-mobilnya kecil banget dari sini!!!”
Bagas tertawa pelan, melepas sepatu sambil memandang putranya yang tampak begitu bahagia.
Bagas melirik jam dinding.
Sudah waktunya Kyra pulang.
“Aldian,” panggilnya lembut, “Om siap-siap jemput Bunda ya? Biar Bunda nggak pulang sendirian.”
Aldian langsung berdiri, mengambil jaket kecilnya yang tadi ia letakkan di sofa.
“Mau ikut jemput Bunda!” katanya riang.
Bagas menjalankan mobilnya menuju perusahaannya. Sedangkan Aldian duduk di sampingnya sambil berceloteh. Setelah beberapa saat Bagas memberhentikan mobilnya di parkiran, dia menunggu disana tak mau ambil resiko.
Bagas mengambil ponselnya dan menghubungi kyra, tapi beberapa kali di menghubunginya tidak di angkat oleh kyra. Akhirnya Bagas memilih mengirim pesan.
"aku sudah diparkiran bersama Aldian. Aku tunggu. Kamu tahukan mobilku yang mana. Hanya aku yang memiliki mobil seperti ini."
Kyra berjalan cepat menuju ruang ganti karyawan, kepalanya sedikit pening karena sejak beberapa jam lalu ia diserbu pekerjaan dan juga tatapan orang-orang. Desakan bisik-bisik yang mengikuti setiap langkahnya membuat tubuhnya terasa berat.
Ia baru saja mengganti bajunya ketika ponselnya bergetar berkali-kali.
Kyra mengerutkan kening.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di loker, layar penuh dengan panggilan tak terjawab.
Bagas.
“Hah…” Kyra menahan napas, menekankan jemari ke pelipis. “Kenapa dia nelepon berkali-kali sih?”
“Aku sudah di parkiran bersama Aldian. Aku tunggu.
Kamu tahukan mobilku yang mana.
Hanya aku yang memiliki mobil seperti ini.”
Ia menahan diri agar tidak mengembuskan napas keras. Buru-buru ia membuka pintu loker, mengambil tas, lalu berjalan keluar dari ruang ganti.
Tangannya sudah hendak mengetik balasan—ketika seseorang memanggilnya.
“Kyra.”
Kyra menoleh. Amel berdiri di dekat ambang pintu, menatapnya dengan wajah serius, lebih serius dari sebelumnya.
“Kamu mau pulang?” tanya Amel.
Kyra mengangguk. “Iya,kenapa"
"ngga papa. Kamu hati-hati yaa" ucap Amel di sampingnya juga ada Arya yang baru datang.
"iya aku pulang duluan yaa"
Kyra langsung keluar menuju parkiran melihat dimana mobil Bagas terparkir. Mata Kyra langsung tertuju pada satu-satunya mobil mewah yang menonjol di antara kendaraan lainnya
“Bunda!!!” teriaknya begitu Kyra semakin mendekat.
Bagas yang duduk di kursi kemudi menoleh cepat. Begitu melihat Kyra, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum lega.
Kyra melihat sekeliling memastikan tidak ada yang melihatnya.
Begitu ia membuka pintu, Aldian langsung memanggilnya.
“Bunda! Bunda lama banget! Aldian kangen!” seru Aldian sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Kyra.
Kyra tersenyum kecil, masuk ke dalam mobil dan membelai pipi anaknya.
“Iya, Sayang. Maaf ya. Bunda baru selesai kerja.”
Setelah memastikan pintunya tertutup, Kyra mengangkat kepala dan mendapati Bagas sedang menatapnya.
udah ancur lebur ini hati tutup hempas ke Amazon,,apa Balikan lagi kamu kyra move on bisa ga