NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Masa Lalu (part 2)

"Kalendra meminta diriku menikah dengannya sebagai syarat." Kanaya memberitahu orangtuanya. 

"Yasudah, kau terima saja syarat itu, Kanaya. Ini malah semakin baik untuk kita. Selain suntikkan dana, kau juga akan memiliki seluruh harta kekayaannya." balas sang ibu tampak senang, seperti baru saja mendapatkan harta karun yang berlimpah. 

"Masalahnya, hubunganku dan Kalendra tidak baik, Bu. Aku takut, dia memintaku menikah dengannya karena ingin membalaskan dendam masa lalu." jawab Kanaya, berharap ibunya itu bisa mengerti posisinya. 

"Dendam masa lalu apa maksudmu?"

Kanaya membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Dulu, waktu di sekolah menengah atas, dia pernah menyatakan cinta padaku di hadapan semua siswa. Saat itu aku dan Pram masih menjalin hubungan. Aku--- aku menolaknya dan--- dan menghinanya di hadapan semua siswa."

"Bodoh!!" umpat Tania. "Bagaimana kau bisa menolak keturunan Wijaya, Kanaya! Apa kau tahu kau telah menolak lumbung berlian?!"

"Sudah ku bilang, aku memiliki Pram sebagai kekasih saat itu."

"Tapi nyatanya dia berselingkuh, benar? Cihh, bahkan dibandingkan Wijaya, Abraham tidak ada apa-apanya. Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau membuang berlian demi emas palsu?!"

Kanaya sakit hati. Tentu saja. Ucapan ibunya berhasil membuka luka lama yang mantan kekasihnya torehkan. 

"Aku tidak mau tahu, kau harus menikah dengan Kalendra Wijaya! Jika perlu, rayu dia. Buat dia kembali tergila-gila padamu."

"Bu---

"Aku yakin, dia masih menyukaimu, jika tidak mana mungkin dia memintamu untuk menikah dengannya. Lagipula, menjadi istri Kalendra Wijaya tidak akan rugi, kau akan hidup dengan bergelimang harta."

Sampai akhirnya, pernikahan itu tiba Kanaya sah menjadi istri Kalendra. Jangan bayangkan kehidupan rumah tangga yang indah dan penuh cinta. Itu semua omong kosong belaka. 

Kalendra selalu bersikap dingin. Acuh. Dan kadang, menjatuhkan harga diri Kanaya. Sebutan tikus kecil yang harus patuh pada majikannya seperti sudah paten, tersemat pada Kanaya.

Laki-laki itu serius menjalankan aksi balas dendamnya. Kanaya merasa sudah tidak memiliki harga diri di hadapan Kalendra. . 

Meskipun begitu, Kanaya selalu mencoba mendekati Kalendra--- tuntutan dari ibunya sendiri. Meskipun, Kanaya harus membiarkan harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Hingga hari itu tiba. Kedatangan Zana Damara. Kalendra memperkejakannya sebagai balas budi karena perempuan itu telah menyelamatkan nyawanya. 

Hari demi hari, interaksi Kalendra dan Zana semakin dekat. Dan jujur saja, Kanaya benci melihatnya. Hatinya terasa panas. Namun ia memilih diam. Mau protes pun, percuma. Kanaya yakin, Kalendra tidak akan peduli. 

Puncaknya, ketika Kalendra dengan santainya mengatakan bahwa dia akan menikahi Zana. Laki-laki itu ingin menceraikannya. Kanaya tetap diam. Sekali lagi, perempuan itu berpikir jika pun menolak, Kalendra tidak akan pernah peduli. 

Sampai suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah tertidur, Kanaya masih setia terjaga. Menatap butiran-butiran obat di tangannya dengan pandangan kosong. Perempuan itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak memiliki arti.

Dalam sekali tenggak, Kanaya memakan obat itu, tanpa air. Membiarkan rasa pahit menjalar di dalam mulut saat dia mengunyah belasan butir obat itu.

Tak lama, rasa pusing dan mual mulai terasa. Dadanya terasa sesak. Namun, Kanaya tak menghiraukannya. Perempuan itu memilih untuk berbaring, memejamkan matanya.

Dan dia...tidak akan pernah terbangun lagi.

.

Pagi harinya, saat Kalendra ingin menemui istrinya, laki-laki itu begitu terkejut melihat pemandangan di atas ranjang. 

Istrinya yang tergeletak tak berdaya dengan busa keluar dari mulutnya. Laki-laki itu menggeleng tak percaya, hingga teriakannya menggelegar di seantero rumah. 

"Kanaya!!"

Kalendra dekati istrinya. Meletakkan kepala itu pada pangkuannya. 

"Ka--Kanaya bangun. Aku bilang bangun!!" jeritnya mengguncang tubuh sang istri. 

Meskipun, hal itu sia-sia. Kanaya tidak akan pernah bangun. Nafasnya sudah tidak ada. Jantungnya telah berhenti berdetak. 

"Sialan Kanaya. Siapa yang mengijinkanmu untuk melakuan hal ini, hah?!"

"Bangun!!"

Kalendra merengkuh tubuh dingin itu, seolah ingin memerikan kehangatan. Matanya bergetar, menahan sesuatu yang ingin keluar. 

"Tidak. Tidak bisa...."

"Kau tidak bisa meninggalkanku Kanaya!!"

Jerit frustasi itu menggema sesak. Suara yang biasa terdengar angkuh itu bergetar penuh ketakutan. Kalendra mempererat dekapannya pada tubuh kaku sang istri. Bahkan wajah perempuan itu sudah membiru. Mulutnya sedikit terbuka dengan busa putih yang keluar melalui celahnya.

"Bangun. Aku perintahkan dirimu untuk bangun."

"Bangun atau aku akan menghukummu!"

Tidak ada reaksi. Perempuan itu tetap damai dalam tidurnya. Membuat Kalendra semakin meraung. Mengguncang tubuh istrinya kalut. 

"Kenapa kau melakukan ini, hah? Kau bodoh. Kau tidak punya otak!"

"Kenapa dari sekian banyak pilihan, kau memilih berakhir seperti ini Kanaya..."

Sudah tidak ada lagi teriakan. Kini suara itu terdengar lirih penuh keputus-asaan. Tanpa laki-laki itu sadari, setetes air mata jatuh mengenai wajah sang istri yang pucat. Sampai akhirnya dia merengkuh tubuh ringkih itu. Membawanya ke dalam dekapan erat sembari menggumamkan kata ajaib yang sudah tidak ada gunanya. 

"Maaf...."

Pemakaman telah dilakukan. Satu persatu orang meninggalkan rumah duka. Kini, Kalendra menyendiri di kamarnya. Wajahnya datar, matanya memerah. Tidak ada tangis karena kehilangan. Semuanya tampak normal, sebelum laki-laki itu membuka laci nakasnya. Mengambil senjata api dari sana. 

Sebuah pistol. 

Tersenyum dingin, dia tempelkan pistol itu di kepalanya. "Maafkan aku karena telah banyak menorehkan luka di hatimu."

"Aku ingin sekali membencimu, tapi rasa sialan ini selalu kalah dengan cintaku padamu." lirih Kalendra, berbisik pada angin. Berharap, angin akan berbaik hati mengantarkan ucapannya pada Kanaya. 

"Aku...mecintaimu, Kanaya."

Dor!! 

Pada akhirnya, laki-laki itu memilih menyusul istrinya.

.

.

"Anda sudah mengingat semuanya, Nyonya?"

Kanaya tak menjawab. Namun, rautnya yang tertegun dengan mata yang berkaca-kaca sudah menjelaskan segalanya. Perempuan itu kembali mengingat kehidupan pertamanya.

Ya. Kehidupan pertama. Nyatanya, ini bukan cerita novel. Bukan juga karangan penulis. Tetapi, ini adalah kehidupan pertama perempuan itu sendiri. Kanaya Wilson adalah dirinya sendiri.

Jiwanya tidak tersesat di dunia novel, melainkan kembali pada kehidupan pertama.

Kanaya memejamkan matanya, lalu setetes air mata jatuh melewati pipinya. Kenangan-kenangan itu muncul, menyeruak tak terkendali, sehingga kepala Kanaya terasa sakit bagai dihantam batu berulang kali.

Tentang bagaimana Kalendra selalu mengejarnya saat mereka berada di bangku sekolah menengah atas. Selalu membututinya bak pengawal. Padahal laki-laki itu tahu, Kanaya memiliki kekasih pada masa itu.

Lalu penghinaan itu. Mungkin itu adalah awal dari dendam Kalendra. Sehingga, waktu Kanaya datang menemuinya, Kalendra dengan sengaja memanfaatkan situasi. Mengikat Kanaya dalam tali pernikahan. Menjalankan dendam masalalu. Menyelesaikan kisah yang belum selesai.

Penkhianatan Kalendra--- saat laki-laki itu ingin menceraikannya dan menikahi Zana, membuat Kanaya mengambil tindakan bodoh dengan bunuh diri.

Layar di depannya, menampilkan kejadian setelah dirinya pergi. Saat Kalendra, memilih melenyapkan dirinya.

"Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia...juga melenyapkan dirinya sendiri?"

"Karena Tuan Kalendra, tidak bisa hidup tanpa cintanya."

Kanaya menoleh pada Ami. Matanya dipenuhi kebingungan yang minta dituntaskan.

"Tuan Kalendra, dia masih mecintai anda, dari dulu hingga sekarang. Balas dendam, itu hanyalah pikiran impulsifnya. Egonya terluka, karena setelah apa yang anda lakukan padanya, perasaan Tuan Kalendra tidak menghilang. Justru--- semakin besar."

"Jika benar dia mecintaiku, kenapa dia ingin menceraikanku dan menikahi Zana? Kenapa dia selalu dingin kepadaku? Bahkan dia sering menghinaku." tuntut Kanaya tak terima. Perlakuan Kalendra selama menjadi suaminya, tidak bisa disebut sebagai orang yang sedang jatuh cinta.

"Seperti yang saya katakan, ego Tuan Kalendra tidak terima. Dia juga berpikir, anda akan kembali semena-mena jika dia memperlakukan anda dengan lembut."

"Lalu, kenapa dia ingin menikahi Zana? Dia kerap pamer kemesraan di depanku-- istrinya sendiri."

"Nyonya, Tuan Kalendra hanya berpura-pura."

Mata Kanaya membeliak terkejut mendengarnya.

"Tuan Kalendra hanya ingin melihat respon Nyonya Kanaya. Lalu, saat Nyonya tetap diam, itu membuat Tuan Kalendra tak terima. Dia berpikir, Nyonya tidak memiliki perasaan padanya. Kemudian, dia mengatakan akan menikahi Zana, berharap Nyonya akan marah dan....cemburu. Namun harapannya hanya menjadi angan saat Nyonya tetap diam. Tidak menolak tidak pula membantah."

"Aku diam karena berpikir dia tidak akan peduli." gumam Kanaya samar. Walaupun begitu, Ami masih bisa mendengarnya.

"Nyonya, dalam suatu hubungan, komunikasi sangatlah penting. Masa lalu, biarlah menjadi kenangan. Yang perlu manusia lakukan bukanlah terus menerus berada di kubangan masa lalu, tapi melangkah maju dengan menjadikan masa lalu itu sebagai pelajaran. Entah itu masa lalu yang baik ataupun buruk."

"Anda juga mecintai Tuan Kalendra, bukan?"

Kanaya diam. Namun, tak dapat dipungkiri dadanya berdebar lebih kencang.

"Aku...tidak tahu."

Ami tersenyum. "Tidak apa-apa. Anda bisa mencari jawabannya setelah ini."

"Se--setelah ini?"

Ami tidak menjawab. Wanita paruh baya itu hanya menampilkan senyum penuh artinya.

"Kenapa Bi Ami bisa tahu semua ini? Sebenarnya, siapa Bi Ami?"

Ami tersenyum lembut. "Saya hanyalah orang yang ditugaskan untuk merubah takdir yang tragis."

"Nyonya, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Selesaikan yang belum tuntas. Buat akhir yang bahagia untuk semua orang."

"Tapi---

"Nyonya, waktu kita sudah habis. Ingat pesan saya, gunakan kesempatan kali ini sebaik-baiknya."

Lantas, sebuah cahaya putih tiba-tiba datang, menghalangi penglihatan Kanaya. Perempuan itu memejamkan matanya karena silau, sampai dia merasa tubuhnya disedot oleh sesuatu tak kasat mata.

.

.

PERINGATAN KERASS!! Jangan meromantisasikan menyakiti diri sendiri apalagi sampai bunuh diri karena cinta. Itu bukan tindakan romantis, tapi pembodohan.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!