Mawar, gadis cantik, diusianya yang telah matang harus menerima pernikahannya dengan Dirga, seseorang yang tak pernah dikenal sebelumnya. Menggantikan Dimas yang pergi entah Kemana di hari pernikahannya. Cinta yang tak pernah ada sebelumnya, berlahan hadir di dalam mahligai rumah tangga, Dimas yang pergi kembali dengan sejuta penyesalan, ingin kembali pada Mawar kekasih pujaan hati. Bisakah Dimas merebut Mawar dari tangan Dirga? akankah hidup mereka bahagia? ikuti kisahnya terus di Menikah Tanpa Cinta.
Coretan pertama Isti arisandi. Mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu yang selalu salah
Karena keberadaannya takut diketahui oleh Dimas, Mawar segera menyelinap keluar, setelah selesai melakukan transaksi pembayaran pada kasir.
Di kejar oleh pria berkelas semacam Dimas tentunya wanita sangat menyukai, namun Mawar tidak ingin menyakiti hati suaminya. Karena Mawar masih ingat betul bagaimana Dirga begitu cemburu saat Dimas meraih pergelangan tangannya tempo hari.
"Syukurlah Dimas, kau sudah baik saja. Setidaknya kau sudah move.on dari semua peristiwa buruk yang sudah menimpa kita melihatmu baik saja itu juga membuat aku merasa lega." Itu sepatah kata yang terucap dari bibir Mawar untuk sang mantan pacarnya.
Tak ingin berlama Mawar segera menunggu angkot ditepi jalan. Jangan salahkan Mawar jika ia masih menyukai tradisi lamanya ia masih rela buang waktu menunggu angkutan umum.
Karena Mawar lebih suka kesederhanaan dan itu tidak memalukan menurutnya. Mawar juga takut naik motor, karena waktu masih tahap belajar ia pernah terjatuh dan mengalami cidera yang lumayan di kakinya.
Angkot sudah terlihat sekitar 300 meter di kejauhan. Namun tiba tiba laki laki tadi sudah didekatnya dan mengangkatkan barang belanjaannya. "Mawar biar aku bantu, membawakan barang barangmu ini sampai di tempat dimana kau tinggal. Jika kau tak lagi mengizinkan aku masuk kedalam. Biarkan aku mengantarmu sampai diluar rumah saja.
Suara itu mengagetkan Mawar. Hingga membuat ia spontan merebut kembali barang miliknya. "Jangan Dimas, aku masih bisa sendiri. Terima kasih tawaranmu sangat menggiurkan tapi aku tidak tertarik."
Mawar membawa dua kantong plastik dengan ukuran besar itu bergerak menjauhi Dimas. Langkah kakinya mendekat menuju dimana keberadaan angkot itu berada.
Namun Dimas yang bukan orang baru dalam hidup Mawar. Ia sudah bertahun tahun mengenal dirinya. Ia mengetahui bahwa Mawar tidak sedang baik saja. Di benaknya terlintas.
Apakah Mawar sakit?
Apakah Mawar tidak bahagia?
Semua yang terjadi pada Mawar semakin membuat kebenciannya pada Dirga memuncak. Ia mengutuk dirinya sendiri atas kegagalan menikahi Mawar tempo hari hingga memberi kesempatan Dirga memiliki kekasihnya seutuhnya.
"Mawar berhenti biar aku membantumu." Suara itu seperti semakin mendekat. Ternyata Dimas masih mengejar Mawar yang melangkah menjauhinya.
"Dimas sudah kuperingatkan! Aku masih bisa sendiri, masih banyak orang yang butuh bantuanmu. Bantu saja mereka!"
"Tunggu Mawar, jangan marah, aku tidak ingin mengantarmu lagi. Aku hanya akan membantumu mengangkat barang yang kau beli sampai kepada angkot itu saja."
"Aku akan tetap membantunya, siapapun yang kutemui, walaupun wanita itu bukan Dirimu." Dimas meyakinkan Mawar. Agar ia tidak menolak lagi.
"Baiklah kelihatannya kau sangat memaksa." kali ini Mawar menurunkan barang belanjaannya. Yang memang barang itu tidaklah ringan. Mawar berjalan dibelakang dan Dimas didepannya menenteng dua kantong besar itu memang tidak ringan,
Ketika sudah sampai Dimas segera menaikkan belanjaan tadi ke dalam angkot, yang kebetulan didalamnya baru ada dua penumpang dan Mawar segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam angkutan umum tersebut.
"Kenapa kau sendirian? Tanya Dimas lagi.
"Itu bukan urusan kamu lagi Dim! Terima kasih, yang hanya bisa aku ucapkan atas bantuanmu!. Terlihat Mawar mulai kesal, ia membuang pandangannya ketempat lain.
Dimas masih tak putus asa memaksa Mawar untuk menerima kehadiran dirinya kembali.
"Mawar," panggil Dimas sambil menyodorkan benda persegi sekilas mirip KTP itu.
"Apa ini? "Mawar merasa kini Dimas sangat mengganggunya.
"Ini kartu nama aku, disitu ada nomor yang bisa kamu hubungi karena aku yakin selain Dimas yang dulu telah kau depak dari hidupmu. Nomor handponenya pasti juga sudah kau delete dari ingatanmu.
"Dimas kamu sudah nggak waras rupanya! Mawar mulai meninggikan suaranya dua oktaf. Ia melihat Dimas tak kunjung pergi, dan masih menahan sopir angkot agar tak menyalakan mesin mobilnya terlebih dahulu.
"Jangan marah Mawar. Bukankah hubungan kamu dan kekasihmu Dimas sudah berakhir. Dan kartu nama ini, ini adalah Dimas yang lain. Ayo buruan ambil !"
Dimas memaksa Mawar menerimanya. Ia memasukkan kartu namanya sendiri ke dalam saku depan Mawar.
"Anggap saja kita baru berkenalan hari ini, Okey!" Dimas menepuk bahu mawar berkali kali dan tersenyum miris. Namun Mawar hanya diam saja. Firasatnya ada yang aneh dengan kelakuan Dimas. Ia khawatir Dimas akan menyusun rencana yang buruk. Padanya atau suaminya.
"Apakah kau punya rencana lain?" Mawar bertanya dengan nada menyelidik.
"Rencana apa maksudmu? Dimas berlagak bengong tak mengerti apa apa."
"Belum tua kau sudah pelupa Dim! Kau lupa telah memukuli suamiku tempo hari?
Siapa yang bisa percaya dengan kebaikanmu sekarang?"
"Mawar, Mawar. Sepertinya kau terlalu banyak memakan rayuan cinta suamimu yang payah itu. Hingga kau sendiri lupa aku yang menemanimu bertahun tahun, masih saja kau tak percaya denganku."
"Pak ayo cepat!! Jalankan angkotnya. Atau aku akan kembali turun." Ucap Mawar kemudian.
"Baik mbak. Kita akan segera jalan."
Angkot yang membawa Mawar sudah berlalu pergi. Dimas hanya bisa memandang Mawar dari kejauhan setelah kepergian Mawar
"Merelakan kamu bersama orang lain saja aku tak kuasa, apalagi harus melupakanmu. Sikapmu yang dulu manis sekarang juga kau berubah sekali."
Dimas kembali ke mobil ingin rasanya satu mobil sama Mawar dan berbicara panjang lebar didalam , tapi wanita itu terlalu angkuh ia menolak mentah-mentah tawarannya.
Untuk menghilangkan kekesalan yang sudah merajai hatinya. Dimas membutuhkan sesuatu untuk menenangkan jiwanya. Segera ia meneguk minuman sedikit alkohol.dan tangannya reflek menyalakan music box yang setiap hari menjadi temannya saat berkendara
Lagu dari Armada yang Harusnya Aku Yang Disana itu kini berlahan masuk dalam indera pendengarannya. Itu sebenarnya enak sekali didengar. Namun tidak dengan Dimas ia segera menghentikan lagu itu. Ia merasa semakin kesal karena sepertinya lagu itupun juga menertawakannya.
Dilihatnya angkot itu mulai melaju agak jauh beberapa meter darinya, Dimas mulai mengikuti laju kendaraan itu dibelakangnya. Karena mengikuti dari belakang Dimas bisa tetap melihat Mawar.
Sesampainya dirumah, Mawar kembali menyibukkan diri dengan semua hal yang berurusan dengan pekerjaan.
Ia bawa masuk semua belanjaannya yang seabrek itu tadi, dibantu dengan pak Bagus. Yang kebetulan pak Bagus sedang memotong rumput di halaman depan. Melihat Mawar kesulitan segera membantunya.
Baru saja masuk, lelah belum hilang. Mama Hana sudah membombardir dengan sejuta pertanyaan.
Kenapa lama sekali Mawar!, apa letak supermarket itu sekarang sudah pindah ke pasar luar kota sana?...
"Apa saja yang kau lakukan diluar sana?..."
"Apa kau memang sengaja, suamimu nggak ada dan kau harus kelayapan?..."
Tekanan demi tekanan terus ia dapatkan, Mawar mulai memikirkan apa yang dialaminya sendiri.
"*Kenapa aku selalu salah dimata Mama?"
"Tak melihatkah aku sudah membuat putranya hidupnya lebih lengkap dan bahagia.
" Tak sadarkah jika aku akan menjadi ibu dari cucunya*.
Rasanya Mawar sudah bosan dengan menitikkan air Mata. Mawar mengerti jika sebaik apapun yang dilakukan oleh dirinya akan selalu kurang dimata Mama.
Dirga yang Disana sudah sangat merindukan sang istri ia membayangkan istrinya pasti selesai mandi dan udah berdandan cantik.
Tapi ia belum sempat menghubunginya karena masih sibuk dengan pertemuan yang belum juga kelar sejak siang tadi.
"Sedang apa sayang, aku sudah sangat merindukamu. aku benar benar tak bisa jauh darimu sehari aku rasanya sudah mau mati saja."
Dirga kurang fokus dengan pekerjaannya, membuat ia lebih sering melamun, dan mengamati foto sang istri yang ia jadikan walpaper. Sehingga teman di depannya sering kali mengingatkan. Pak Hendra nama patner kerja barunya.
"Pulanglah besok, Bro!, kau sepertinya seorang pengantin baru. Yang tak bisa jauh dari guling hangatmu, tapi aku sudah terlanjur senang bekerja sama denganmu."
pak Hendra humoris juga. seketika tawa mereka berdua pecah. Disela sela kesibukannya.
#Readers maafkan daku jika hari ini ceritanya kurang greget.
# tapi tetep jangan lupa kasih like dan Votenya ya!....😘😘