Ini adalah lanjutan dari Kultivasi Raja Bayangan, jadi baca dulu jilid pertama dan kedua sebelum ke novel ini...
Liu Yuwen adalah seorang kultivator jenius yang pernah lahir di dunia, ia mencapai puncak beladiri sampai dijuluki sebagai kultivator tiada tanding karena hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Di puncak kekuatannya, Liu Yuwen tidak menyangka ia justru akan tewas oleh sebuah racun yang diberikan adiknya.
Racun itu membuat Liu Yuwen terbunuh, dalam kematianmya rasa marah dan dendam menguasai hatinya karena pengkhianat sang adik, Liu Yuwen berjanji akan membalas kejahatan adiknya jika diberi kesempatan.
Nyatanya kesempatan itu terwujud saat Liu Yuwen terbangun di tubuh seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.
Liu Yuwen yang mengerti dirinya hidup kembali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berencana membalaskan dendamnya pada sang adik, meski kekuatan kembali kesemula namun selama dirinya terus berlatih, Liu Yuwen yakin bisa mencapai puncak kekuatannya sepert
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon secrednaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 32 — Markas Rahasia
"Bukankah berarti kita bisa menang dengan mudah?" Lan Shishi menjadi semangat, ia tidak sabar untuk membunuh lawan-lawannya dimedan perang nanti.
Lan Kugu sontak langsung menggeleng pelan. "Tidak seperti itu, kita mungkin bisa menang tetapi bukan berarti itu mudah, selalu ada kerugian dari dua belah pihak saat perang berlangsung."
"Tapi Ayah, bukankah 'Mereka' kali ini akan ikut campur?"
Lan Kugu tersenyum tipis, ia mengetahui siapa yang dimaksud putrinya tersebut. "Mereka memang kuat, sangat kuat tapi karena itu Ayah sekalipun tidak mengetahui arah jalan pikirannya. Mereka bisa bertindak sesukanya disini tanpa memandang aliran hitam atau putih."
Lan Kugu memalingkan wajahnya, terlihat tidak suka membahas hal tersebut.
Lan Shishi menyadari itu, ia kemudian mengalihkan pembicaraan ke yang lain yaitu mengenai kekuatan pasukan aliran putih.
"Ada dua sosok yang harus diwaspadai dalam perang ini, satu adalah Xiao Lang dan satunya lagi Gong Lian."
"Xiao Lang, kultivator terkuat di kekaisaran kita?!" Lan Shishi terkejut dengan terbata-bata. "Bukankah dia sudah menghilang belasan tahun yang lalu."
"Tidak, dia sudah kembali. Saat turnamen beberapa tahun lalu ia muncul dan Ayah dengar sekarang dirinya bergabung dengan Sekte Nada Kehidupan karena suatu alasan."
Lan Kugu menambahkan bahwa Xiao Lang adalah lawan yang merepotkan bahkan dirinya sekalipun harus menggunakan segenap cara untuk bisa menandinginya.
Disisi lain Gong Lian, wanita yang terkenal dengan teknik ilusinya juga patut diperhitungkan dalam perang ini.
Ekspresi keraguan tampak muncul di wajah Lan Shishi, kepercayaan dirinya untuk menang dalam perang ini sedikit runtuh karena mengetahui kekuatan hebat keduanya.
Lan Kugu yang menyadari reaksi putrinya tersebut langsung tersenyum tipis, "Bukankah sudah Ayah katakan, peperangan tidak bisa dimenangkan dengan mudah."
Lan Kugu menambahkan bahwa pihak aliran hitam juga tak kalah kuat, ada beberapa kultivator tingkat tinggi yang ikut bergabung dalam perang ini.
"Tapi apakah Ayah yakin bisa menang melawan Xiao Lang?"
"Tidak, tapi itu tidak diperlu dipikirkan sebab ada yang bisa menghabisinya. Dia adalah-..." Kata-kata Lan Kugu terhenti karena mendadak ada seseorang yang mendatangi keduanya.
Seseorang tersebut langsung berlutut didepan Lan Kugu, ia menyampaikan bahwa semua para petinggi sekte diharuskan berkumpul sepuluh menit lagi di markas kedua aliran hitam.
"Apakah ini titah dari dia?"
Pelapor itu mengangguk. "Benar Senior Lan, lebih tepatnya Sang Pedang Keserakahan yang memintanya."
Lan Kugu mengangguk pelan dan mengatakan akan ke sana beberapa saat lagi, sang pelapor setelahnya langsung berpamitan untuk memberitahukan Patriark sekte yang lain.
"Sepertinya Ayah tidak menyukai 'Mereka' ya?" Lan Shishi bisa melihat ada kemarahan dari sorot mata ayahnya walau hanya sejenak.
"Selama hampir seratus tahun, tidak pernah ada orang yang berani menyuruh-nyuruh Ayah seperti ini tetapi sekarang, Ayah tidak lebih seperti yang lain. Seorang bawahan yang harus patuh pada atasannya."
Lan Kugu sudah duduk dipuncak dunia persilatan dalam waktu yang cukup lama, ia tidak pernah segan atau takut pada seseorang bahkan mungkin sudah melupakan dua emosi tersebut namun kini didepan anggota Tujuh Dosa Pedang, kekuatan yang selama ini menjadi kebanggaannya merasa tidak berguna saat berhadapan dengan mereka.
Lan Kugu kemudian meninggalkan putrinya dan pergi keluar markas, tiga menit kemudian ia mendatangi sebuah batu yang sangat besar.
Ketika Lan Kugu mengalirkan qi ke batu besar tersebut, batu yang sama perlahan bergeser dan terlihat ada sebuah terowongan yang menuju ke bawah tanah.
Inilah markas kedua yang dimaksud sekaligus markas yang dirahasiakan dari aliran putih.
Ketika Lan Kugu melangkah ke dalam, terdapat pintu yang dijaga dua kultivator. Mereka langsung menundukkan kepala saat melihat Lan Kugu dan langsung mempersilahkannya masuk.
Pemandangan dibalik pintu tidak jauh berbeda dengan markas di tempat pertama, yang membedakan suasananya yang berada di bawah tanah.
Terdapat ribuan kultivator aliran hitam yang ada di sana sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing, sebagian dari mereka tengah berlatih, mengasah senjata atau berisitirahat.
Sama seperti dua penjaga tadi, ketika melihat ke arah Lan Kugu mereka semua langsung menundukkan kepala atau memalingkan wajah. Ini menunjukkan betapa disegani dan ditakutinya Lan Kugu di aliran hitam.
Hanya saja saat ini perhatian Lan Kugu sedang tidak tertuju ke arah mereka, pikirannya sedang menebak-nebak apa yang akan dibahas dalam pertemuan nanti.
Lan Kugu akhirnya sampai di ruangan yang biasa digunakan untuk rapat, sudah ada beberapa orang yang ada di sana, tengah duduk disekeliling meja yang berukuran besar.
Orang-orang yang hadir di ruangan itu adalah para petinggi aliran hitam, semuanya berada di tingkatan Alam Kaisar.
Lan Kugu yang biasanya selalu dingin kini tampak menundukkan kepalanya pada dua orang, satu pemuda yang berwajah ramah sementara satunya adalah perempuan manis yang terlihat berusia 20-an tahun.
Dua orang itu yang tak lain adalah Lan Hua dan Nu Bai, hampir semua kultivator aliran hitam di sana tampak ketakutan pada keduanya.
"Apa semua sudah berkumpul?" Lan Hua memandang sekelilingnya, menemukan tidak ada kursi yang kosong lagi. "Bagus, aku tidak akan basa-basi, kita langsung ke inti pertemuan ini."
Lan Hua menyampaikan rencananya untuk membagi aliran hitam dalam tiga pasukan, satu pasukan dijadikan umpan agar aliran putih terpusat ke arahnya sementara dua pasukan lain harus datang dari dua sisi yang berbeda.
Secara singkatnya, Lan Hua ingin mengepung aliran putih dari tiga arah yang berbeda.
Para petinggi sekte tampak keberatan karena ini tidak sesuai dengan rencana awal mereka. Rencana ini merugikan sekte yang ditempatkan di markas pertama karena akan mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan sekte-sekte dimarkas lain meski nanti akan memenangkan peperangan sekalipun.
"Aku kesini tidak untuk bernegosiasi, aku memerintahkan kalian untuk melakukan apa yang aku perintahkan..." Lan Hua berdecak pelan pada mereka yang protes.
"Tapi Nona Lan bagaimana dengan sekteku, aku mengerahkan seluruh anggota sekteku untuk mengikuti perang ini. Jika mereka semua gugur maka secara tidak langsung sekteku sirna di dunia persilatan." Salah satu Patriark Sekte merasa keberatan, kebetulan semua anggota sektenya ada di markas pertama.
"Benar, aku juga demikian..."
"Sama, aku tidak mau sekte yang kubangun susah-susah harus hancur begitu saja."
Para petinggi sekte lain menunjukkan dukungan yang serupa dengan Patriark sekte yang pertama protes.
Alih-alih mendengarkan, Lan Hua justru mengeluarkan pedang cambuknya dan langsung mengayunkannya pada ketiga Patriark itu.
Dalam sekali ayunan, pedang cambuk itu memotong leher ketiga Patriark Sekte tersebut, memisahkan kepalanya dari badannya.
Semua yang ada di ruangan termasuk Lan Kugu menarik nafas dingin, tidak menduga gadis yang berparas manis dan imut itu bisa melakukan tindakan sekejam ini.
cerita yang satu demikian juga
lama tidak ada lanjutannya
entah ada apa dengan dirinya