Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di balik ancaman keluarga kuno
Di tengah keheningan pekat aula kuno yang tak berujung itu, sekelompok orang berpakaian serba hitam berjalan beriringan dengan langkah serempak yang teratur — bunyi langkah mereka bergema pelan di lantai batu, seolah detak jantung bangunan itu sendiri. Di barisan terdepan melangkah sosok berjubah hitam pekat yang panjangnya menyapu lantai di setiap langkahnya. Kerudung besar menutupi kepalanya, menjuntai jauh ke bawah hingga hampir menyembunyikan seluruh wajahnya — hanya terlihat samar garis hidung, bibir, dan dagunya yang tegas dan kokoh.
Ia berjalan sejajar dengan pengikutnya, langkah tegap dan mantap meski luasnya aula seolah tak berujung. Tubuhnya jangkung, bahunya lebar dan kokoh; sesekali ia menunduk hormat saat melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi ukiran kuno, seolah setiap langkahnya memikul beban tugas yang tak terbayangkan beratnya di pundak. Tiba di tempat tujuan, sosok itu berlutut dengan tenang dan tertib, menempelkan telapak tangan kanannya ke dada kiri, lalu menunduk lebih dalam, menyapa penuh hormat yang disertai getaran di udara:
“Hamba telah kembali, Yang Mulia.”
Di hadapan mereka terentang tangga batu yang lebar dan kokoh, menjulang tinggi ke atas seolah menembus langit. Di puncaknya, sosok lain duduk tenang di singgasana batu yang megah namun sedingin es abadi. Satu kakinya bersandar di atas kaki lainnya, tangan santai di sandaran lengan kursi yang lebar — seolah tak ada beban yang menekan hatinya, seolah seluruh dunia sudah berada di genggamannya.
Seluruh tubuhnya tertutup rapat jubah hitam pekat, ujungnya terhampar luas di lantai batu seolah genangan bayangan yang tak kering. Tudung jubah jatuh panjang menutupi bagian atas wajahnya, tak ada mata yang terlihat — hanya samar garis hidung, bibir, dan dagu yang tegas terukir di balik bayang gelap yang tak tertembus. Tepat di belakang singgasana, ukiran naga raksasa tampak hidup — matanya dari batu permata merah berkilau samar, seolah ikut menjaga keagungan dan kekuatan yang tersimpan dalam diri sosok itu. Hanya dengan kehadirannya sendiri, udara di seluruh ruangan menjadi makin dingin, makin berat, menekan dada siapa pun yang berani berdiri di sana.
Tak lama kemudian, sosok itu perlahan bersuara. Nadanya berat, tenang, terucap lambat — namun setiap kata terdengar jelas hingga ke sudut terjauh aula yang luas itu, menembus daging dan tulang:
“Bagaimana hasil pencarian kalian selama ini?”
Orang yang melapor tadi menjawab dengan suara gemetar penuh rasa bersalah yang mendalam: “Ampun, Yang Mulia. Hamba dan pasukan telah menyisir setiap penjuru negeri sesuai perintah. Namun hingga kini, belum ditemukan jejak yang dicari.”
Tak ada perubahan raut wajah yang terbaca — tersembunyi di balik bayang gelap itu, tak bisa dibaca sedikit pun. Hanya bibir bergerak lambat, bicara kembali dengan nada yang sedingin es dan tak tergoyahkan. Tanpa mengubah posisi duduknya sedikit pun, ia mengangkat tangan kanannya ke atas, telapak menghadap langit-langit yang gelap. Di sana terukir pola rumit yang indah — gambaran samar naga hitam pekat yang melilit satu sama lain. Perlahan tanda itu memancarkan cahaya samar, menyebarkan aura gelap yang asing, kuat, dan menakutkan — udara menegang seketika.
Tanpa peringatan, kekuatan dari telapak tangannya menyambar pelapor itu. Tubuhnya terangkat mendadak ke udara seolah dicekik oleh tangan tak kasat mata yang kuatnya tak terbayangkan. Ia meronta sekuat tenaga namun tak ada kekuatan sedikit pun untuk melawan — kakinya menendang udara kosong, napasnya makin sesak, wajahnya membiru. Tergantung di udara, suaranya pecah memohon belas kasihan: “Ampun, Yang Mulia… ampun kegagalan hamba… hamba akan lebih berusaha lagi…”
Sosok di kursi tetap tenang dan datar, seolah hal itu adalah hal yang paling biasa terjadi setiap hari: “Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Tak ada yang boleh kembali sebelum menemukan pemilik darah murni itu. Aku tak mau mendengar jawaban yang sama berulang kali. Jika masih gagal hingga batas waktu tiba, akan kulenyapkan kalian semua tanpa sisa — hingga tak ada satu pun nama yang tersisa dalam ingatan siapa pun.”
Kepalkan tangan rapat perlahan, lalu buka kembali. Seketika cengkeraman tak kasat mata itu lenyap sepenuhnya. Tubuh pelapor jatuh tergolek keras ke lantai batu dengan bunyi nyaring yang memantul ke mana-mana — napasnya terengah hebat, batuk-batuk, tubuhnya gemetar hebat karena rasa sakit dan ketakutan yang melanda sekujur tubuh.
Meski masih sakit dan lemas, ia segera bangkit dan bersujud sedalam-dalamnya, dahi menempel pada lantai batu yang dingin: “Terima kasih atas kasih sayang Yang Mulia yang masih memberi kesempatan. Hamba janji akan mencari dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga sesuai perintah — tak akan berhenti sampai ditemukan.”
Semua orang yang hadir mundur dengan tertib, berbalik keluar satu per satu dalam keheningan yang sempurna — tak ada yang berani bernapas terlalu keras. Tinggal sosok di singgasana sendirian dalam kegelapan pekat, diiringi cahaya lilin yang menari-nari di bayangannya yang tak berujung.
Ia bergumam pelan namun tegas, suaranya memecah keheningan yang dalam: “Tak mungkin… ramalan tak mungkin salah. Pasti masih ada keturunan darah murni yang selamat dan bersembunyi di tempat yang tak diketahui siapa pun. Harus kutemukan secepat mungkin… sebelum kekuatannya terbangun sendiri.”
Tangan kanannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, urat di lehernya menegang menahan amarah dan keinginan yang meluap-luap — seolah ia bisa merasakan keberadaan gadis itu di ujung jarinya, namun tak bisa menjangkaunya.
Sementara itu, jauh dari aula batu yang menakutkan itu — di tempatku berada — langit masih berwarna abu-abu lembut fajar, matahari belum muncul dari ufuk timur, namun cahayanya sudah mulai mewarnai langit dengan nuansa keemasan yang samar. Sambil mengucek mata yang masih terasa berat karena kantuk, aku meraih ponsel di tepi kasur — ternyata baru pukul enam pagi. Bangkit perlahan sambil menguap lebar, lalu merapikan seprai, selimut, dan bantal sebaik mungkin — tak ingin ada yang berantakan di ruangan ini.
Kumpulkan pakaian kemarin, bawa ke ruang cuci dan masukkan ke dalam mesin. Rambut panjangku diikat tinggi dengan jepit besar agar tak mengganggu gerakanku. Saat hendak menyiapkan sarapan, tiba-tiba teringat — aku lupa membeli bahan-bahan kemarin sore. Sedikit merasa menyesal, namun akhirnya memutuskan untuk membersihkan rumah dulu — nyalakan penyedot debu otomatis yang berjalan sendiri ke setiap sudut ruangan, lalu segera mandi dan merapikan diri.
Selesai bersiap, aku mengenakan gaun panjang berwarna biru langit yang lembut dan menenangkan. Kainnya halus dan ringan, nyaris tak terasa di kulit, dengan corak bunga samar yang berkilau keemasan saat terkena cahaya pagi yang masuk lewat jendela. Di bagian pinggang ada hiasan jumbai benang halus yang bergoyang pelan mengikuti setiap langkahku, ujung kain bertumpuk lembut hingga hampir menyentuh lantai. Bahuku dibalut selendang putih susu yang tipis dan lebar — anggun dan melindungi kulit dari udara pagi yang masih sejuk.
Sisipkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna biru muda di sisi rambutku, lalu genggam dompet kecil di tangan. Turun tangga yang luas itu — gaunku melambai lembut di setiap anak tangga, seolah membawa kesegaran pagi ke setiap ruangan yang kulalui.
Keluar ke halaman depan tempat mobil sudah menunggu dengan mesin yang menyala pelan. Namun yang berdiri dan membukakan pintu untukku adalah orang asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pria itu mengenakan seragam rapi, wajahnya tegas namun ramah, dan ia tunduk penuh hormat saat aku berhenti di hadapannya.
“Selamat pagi, Nyonya Zara. Izinkan saya melapor — mulai hari ini saya adalah sopir pribadi yang menggantikan yang lama,” ucapnya dengan nada sopan dan tenang, matanya menatap lurus ke depan dengan sikap yang sangat profesional.
Aku tertegun diam di tempat — orang baru? Ke mana sopir kemarin pergi? Apa yang sebenarnya terjadi hingga ia diganti begitu saja? Banyak pertanyaan berjejer rapi di benakku, namun aku tak berani mengucapkannya keluar — takut mendengar jawaban yang mungkin tak kuinginkan. Akhirnya hanya mengangguk perlahan tanda paham, lalu masuk dan duduk dengan tenang di dalam mobil yang nyaman itu.
Tiba di pusat perbelanjaan besar yang masih sepi, aku mengambil keranjang besi dan mendorongnya pelan ke setiap lorong. Memeriksa dengan teliti kesegaran daging — memilih beberapa potong sapi dan ayam yang terbaik, berwarna cerah dan segar. Tak lupa memasukkan cumi serta udang yang berwarna cerah dan masih basah ke dalam keranjang.
Setelah selesai memilih daging dan hasil laut, lanjut ke rak sayuran yang hijau dan segar — sawi putih, daun bawang, wortel, kentang, dan jenis lainnya terlihat baru saja datang dari pasar, masih berembun samar. Lama juga aku berhenti di bagian buah — anggur manis yang berwarna ungu pekat, apel yang renyah dan berkilau, kiwi, kesemek, buah naga yang cerah, melon yang matang sempurna, serta ceri merah yang merona seolah tersenyum padaku. Mengambil semua yang terlihat lezat dan belum pernah kucoba sebelumnya — hingga keranjang itu penuh sesak, menandakan keinginan untuk merawat diri dan menikmati hidup yang tenang. Sebelum membayar, aku juga membeli botol pengharum ruangan dengan wangi yang tenang, tak menyengat hidung — wangi bunga yang lembut, persis seperti yang Ibu sukai dulu.