Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Teror
Keheningan di dalam ruang tamu vila itu terasa begitu pekat, hanya diinterupsi oleh suara gemertak kayu bakar dari perapian dan rintik hujan yang kian deras di luar. Bramantyo Senior menatap flashdisk hitam di atas meja marmer dengan pandangan kosong. Seluruh kilat kekuasaan yang dulu terpancar dari matanya mendadak padam, digantikan oleh ketakutan nyata seorang pria tua yang sadar bahwa kekaisaran bayangannya telah runtuh.
Arkan, yang belum bisa membaca arah angin dengan jeli, mencoba meraih flashdisk tersebut. "Ayah, jangan percaya gertakannya! Dia hanya menakut-nakuti kita! Hancurkan saja reputasi jalang itu beserta Elvano Group sekalian!"
"Diam, Arkan!" bentak Bramantyo Senior, suaranya parau namun sarat akan keputusasaan. Pria tua itu menepis tangan anaknya dengan kasar, lalu mendongak menatap Devan yang masih berdiri kokoh laksana malaikat pencabut nyawa digital bagi keluarga mereka.
Bramantyo Senior mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. "Kamu... kamu benar-benar telah memperhitungkan segalanya, Devan Elvano. Kamu mengunci pergerakan kami bahkan sebelum kami sempat melangkah."
Devan menyipitkan matanya, tidak seulas pun senyum kemenangan muncul di wajah tampannya. "Aku tidak punya waktu untuk bermain catur dengan orang-orang dari masa lalu, Bramantyo. Serahkan alat perekam dan salinan asli rekaman pengakuan ayah Mentari sekarang juga. Jika tidak, draf laporan digital yang dipegang sekretarisku akan terkirim otomatis ke pusat penegak hukum dalam waktu lima menit."
Bramantyo Senior perlahan merogoh laci meja di sampingnya. Dengan tangan yang kentara gemetar, ia mengeluarkan sebuah perekam suara digital lawas berwarna perak dan selembar kartu memori kecil yang menjadi sumber ketakutan Mentari selama ini. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping flashdisk milik Devan.
"Ini yang kamu inginkan. Semua salinan digital yang tersimpan di server pribadi rumah ini sudah kuhapus. Aku tahu ketika singa sepertimu sudah mengunci mangsanya, tidak ada gunanya bernegosiasi," ujar Bramantyo Senior dengan nada pasrah.
Devan memberikan isyarat dagu kepada kepala keamanannya yang berdiri di belakang. Pria bersetelan hitam itu maju, mengamankan perekam suara dan kartu memori tersebut, lalu melakukan pengecekan cepat pada laptop jinjingnya untuk memastikan tidak ada salinan lain yang tertinggal di jaringan lokal vila. Setelah mendapatkan anggukan konfirmasi dari anak buahnya, Devan meraih kembali flashdisk-nya sendiri dari atas meja.
"Persekutuan kalian dengan Clara Wijaya sudah berakhir semalam," ujar Devan dingin, menatap Arkan yang kini mematung dengan wajah pias. "Jika aku melihat salah satu dari kalian, atau kaki tangan kalian, berada dalam jarak satu kilometer dari Mentari atau ibunya... aku tidak akan mengirim flashdisk ini ke hukum. Aku sendiri yang akan memastikan kalian lenyap dari kota ini. Mengerti?"
Tanpa menunggu jawaban, Devan berbalik. Langkah kakinya yang tegas bergaung menjauhi ruang tamu kolonial itu, meninggalkan dua pria keluarga Bramantyo yang kini harus meratapi akhir dari kejayaan masa lalu mereka yang korup.
Perjalanan kembali ke Jakarta terasa lebih cepat bagi Devan. Di dalam kabin Rolls-Royce yang senyap, ia menggenggam perekam suara perak di tangannya. Fikirannya melayang pada Mentari. Wanita yang selama sembilan tahun ini ia benci setengah mati, ternyata adalah orang yang menanggung luka paling dalam demi dirinya.
Tepat pukul satu dini hari, lift privat penthouse Devan berdenting terbuka. Begitu pintu bergeser, Devan mendapati lampu ruang tengah masih menyala temaram. Di atas sofa kulit hitam besar dekat jendela kaca raksasa, tampak sesosok wanita bertubuh ramping sedang meringkuk pelan, tertidur dengan memeluk sebuah bantal sofa. Mentari tidak pergi ke kamar atas; ia menunggu Devan dalam kecemasan hingga ketiduran.
Devan melangkah sepelan mungkin, melepaskan jaket kulitnya dan meletakkannya di kursi. Ia berjalan mendekati sofa, lalu berlutut di samping tubuh Mentari. Wajah wanita itu tampak begitu damai dalam tidurnya, meski sisa-sisa garis kecemasan masih membekas di keningnya.
Merasakan ada pergerakan dan aroma familier yang menenangkan, Mentari perlahan membuka matanya. Ketika manik matanya menangkap sosok Devan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut, Mentari langsung terduduk tegak.
"Devan..." bisik Mentari, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Matanya langsung memeriksa tubuh Devan dengan panik. "Kamu... kamu tidak apa-apa? Kamu terluka?"
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangannya, menarik Mentari ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan bidang. Ia membenamkan wajahnya di rambut hitam Mentari yang harum, menghirup aromanya sedalam mungkin untuk menenangkan sisa-sisa ketegangan di dalam kepalanya.
"Semuanya sudah selesai, Mentari," bisik Devan rendah, suaranya bergetar oleh kehangatan emosi yang tulus. "Teror itu... Bramantyo... semuanya sudah kuhancurkan malam ini. Mereka tidak akan pernah bisa mengusik hidupmu atau menyentuh masa lalu kita lagi."
Devan melepaskan pelukannya sedikit, lalu meletakkan perekam suara perak dan kartu memori kecil itu di telapak tangan Mentari.
Mentari menatap benda di tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa runtuh seketika. "Ini... rekaman Ayah?"
"Ya. Itu yang asli. Hancurkan atau simpan, itu hakmu sekarang," ujar Devan lembut. Tangan kokohnya bergerak menangkup pipi Mentari, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang kini dipenuhi oleh binar cinta yang selama sembilan tahun ini terkunci rapat.
"Aku minta maaf, Mentari," ujar Devan dengan nada yang sangat tulus, melepaskan seluruh arogansi sang CEO miliarder. "Aku minta maaf karena sempat berubah menjadi monster di depanmu. Aku minta maaf karena ego dan cemburuku menyakitimu. Mulai detik ini, kontrak kerja sama atau apa pun kertas sialan yang kita tanda tangani kemarin... tidak berlaku lagi. Kamu bebas, Mentari."
Mentari tertegun mendengar kata 'bebas' yang keluar dari mulut Devan. Ada rasa sesak yang mendadak menyerang dadanya, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa tidak rela jika harus menjauh dari pria ini lagi setelah semua kebenaran terungkap.
"Bebas?" bisik Mentari lirih. "Jadi... kamu ingin aku pergi?"
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah sembilan tahun tidak pernah dilihat oleh Mentari. Ia mendekatkan wajahnya hingga kening mereka saling bersentuhan.
"Secara kontrak, kamu bebas. Tapi secara hati..." Devan menjeda kalimatnya, cengkeramannya di pinggang Mentari mengerat, membawa tubuh mereka tanpa jarak. "...aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Mentari Ayuningtyas. Sangkar emas ini mungkin terbuka, tapi pemiliknya akan melakukan apa saja untuk membuatmu memilih tinggal di sini secara sukarela. Bukan sebagai tawanan kontrak, tapi sebagai wanita yang memiliki seluruh hidup Devan Elvano."
Di bawah gemerlap lampu kota Jakarta yang menembus dinding kaca penthouse, dua hati yang sempat terpisah oleh dinding kebohongan dan konspirasi masa lalu itu akhirnya melebur kembali, siap menghadapi lembaran baru yang bersih dari bayang-bayang teror.