Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Butiran embun masih menggantung di ujung ilalang, sementara udara dingin pegunungan menusuk diam-diam hingga ke tulang.
Jangkrik telah berdiri tegak di sana sejak lama.
Tubuhnya masih dipenuhi bilur luka. Punggungnya yang penuh bekas sabetan kini mulai mengering menjadi garis-garis hitam yang legam. Telapak tangan kirinya masih bengkak, sedangkan tangan kanannya baru sembuh sebagian. Namun, sorot matanya kini jauh berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Tak ada lagi tatapan bocah ringkih yang ketakutan. Yang tersisa hanyalah sepasang mata milik seorang pemburu yang dingin.
Pintu gubuk berderit. Sang Warok keluar melangkah mantap, memikul gulungan pecut Samandiman di pundaknya.
"Hari ini kau akan menerima pelajaran yang paling penting," ucap Sang Warok datar.
Jangkrik mengangkat dagu, menantang tatapan gurunya. "Menangkap cambukmu."
Sang Warok mengangguk pelan. "Benar."
Ia berjalan ke tengah halaman, lalu berhenti. "Cambuk bukan pedang. Bukan pula tombak. Jalurnya tidak bisa ditebak secara kasatmata. Sekali saja kau salah membaca arah lajunya, kulitmu akan terkelupas dari daging."
Sang Warok mulai membuka gulungan cambuknya. Panjang pecut itu hampir delapan depa. Kulit hitamnya tampak mengilap dan legam saat tersorot cahaya matahari pagi yang remang.
"Pegang ini." *Wus!* Sang Warok melemparkan seutas tali rotan tipis ke arah Jangkrik.
Jangkrik menangkapnya dengan sigap, lalu mengernyit. "Ini bukan cambuk."
"Memang bukan. Tapi kalau kau tidak bisa menangkap rotan ini, kau tak akan pernah punya kesempatan untuk menyentuh Samandiman." Sang Warok menggenggam ujung rotan satunya. "Kau hanya boleh menggunakan tangan kiri."
"Kenapa?"
"Karena tangan kananmu masih terlalu lemah untuk menahan entakan." Sang Warok menarik napas panjang, merendahkan kuda-kuda. "Lihat baik-baik!"
*Wus!*
Rotan itu melesat lurus bagai anak panah. Jangkrik bergerak cepat untuk menyergapnya.
*Plak!*
Tali rotan itu lolos begitu saja dari sela-sela jarinya.
"Lambat!" seru Sang Warok. Ia kembali mengayunkan rotan, kali ini memotong dari arah bawah secara tak terduga.
*Plak!* Jangkrik kembali menangkap angin kosong.
"Lagi!"
Sepanjang pagi, halaman gubuk itu dipenuhi desingan rotan yang bergerak tanpa henti. Datang dari kanan, menyambar dari kiri, menukik dari atas, hingga mematuk dari belakang. Jangkrik berkali-kali terlambat merespons. Telapak tangan kirinya memerah dan panas akibat gesekan rotan yang kasar.
Namun, perlahan tapi pasti, matanya mulai terbiasa mengikuti irama gerakan. Ia tidak lagi sekadar mengejar ujung rotan yang bergerak liar. Fokusnya bergeser; ia mulai memperhatikan lekuk bahu, tekukan siku, dan putaran pergelangan tangan Sang Warok.
Melihat perubahan itu, sebuah senyum tipis terukir di wajah pria berjanggut tersebut. "Akhirnya kau mulai mengerti."
Jangkrik menyeka peluh yang membanjiri pelipisnya. "Aku tidak lagi melihat rotannya."
"Lalu apa yang kau lihat?"
"Aku melihat tubuhmu."
Sang Warok mengangguk puas. "Itulah dasar dari membaca gerakan. Senjata selalu bisa berbohong untuk mengecoh lawan, tapi tubuh tidak akan pernah bisa ingkar."
*Bugh!* Sang Warok melempar rotan itu begitu saja ke tanah. "Cukup."
Jangkrik mengernyit bingung. "Baru begitu saja sudah selesai?"
Alih-alih menjawab, Sang Warok justru menurunkan pecut Samandiman dari pundaknya.
Seketika itu juga, suasana halaman berubah menjadi hening mencekam. Burung-burung yang semula berkicau di dahan pohon mendadak terbang tunggang-langgang meninggalkan area gubuk, seolah tahu ada bahaya besar yang mengancam.
Sang Warok menatap tajam muridnya. "Sekarang, latihan yang sebenarnya baru dimulai."
Jangkrik menelan ludah, merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak berbobot berat.
Sang Warok mengangkat pecut Samandiman tinggi-tinggi. "Ingat pesan ini. Jangan mengejar ujung cambuk. Tapi rasakan kapan niat dan gerakannya mulai lahir."
Jangkrik belum sepenuhnya memahami maksud tersirat dari kalimat itu. Namun, ia segera memasang kuda-kuda terkuatnya. Napasnya diperlambat, detak jantungnya ditenangkan, dan matanya fokus mengunci sosok di depannya.
Sang Warok tersenyum tipis. "Pintar. Tapi... kau masih akan gagal."
**Pletarrr!!**
Ledakan pertama mengguncang halaman gubuk dengan keras. Ujung cambuk melesat seperti kilat hitam yang membelah udara.
Refleks, Jangkrik mengibaskan tangan kirinya untuk mencegat.
*Srett!*
Ujung cambuk menggores punggung telapak tangannya dengan kecepatan gila. Kulitnya langsung robek seketika, meneteskan darah segar ke tanah. Jangkrik menggertakkan gigi menahan perih. "Aku hampir mendapatkannya!"
Sang Warok menggeleng dingin. "Tidak. Kau bahkan belum sempat menyentuhnya." Pria tua itu kembali mengangkat senjatanya. "Lagi!"
**Pletarrr!**
*Srett!*
Kali ini, giliran pipi kiri Jangkrik yang tergores. Garis tipis kemerahan langsung merekah di wajahnya.
Sang Warok menatap luka baru tersebut. "Lihat? Itu hanya luka kecil. Kalau tadi aku menambah sedikit saja tenaga, wajahmu sudah terbelah menjadi dua."
Jangkrik tidak membalas. Ia hanya menyeka darah di pipinya dengan lengan baju, sementara tatapannya justru semakin tajam dan berapi-api.
Melihat respons itu, Sang Warok tertawa keras. "Hahaha! Itu dia! Mata penuh tekad seperti itu yang kucari!" Ia kembali mengambil ancang-ancang. "Kita ulangi ini sampai matahari tenggelam. Kalau tanganmu putus di tengah jalan, berarti kau memang tidak pantas menjadi muridku!"
Jangkrik menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat kembali suara jangkrik di malam hari, mengingat getaran tanah yang pernah diajarkan gurunya, dan meresapi setiap rasa sakit yang telah membentuk tubuhnya.
Ia membuka telapak tangan kirinya perlahan, menghadap ke depan.
"Silakan, Warok," tantang Jangkrik dengan suara rendah namun mantap. "Kali ini... aku akan mulai menangkap bayangan cambukmu."
Di sudut bibir Sang Warok, senyum puas kembali terkembang. Ia sadar, bocah yang dahulu datang hanya dengan modal dendam buta, kini perlahan bertransformasi menjadi seorang petarung sejati.
Dan jauh di lubuk hatinya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kesunyian sebagai seorang Warok, ia merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari dadanya.
Ia mulai benar-benar menantikan hari di mana bocah di depannya ini tumbuh menjadi pria yang mampu mengancam nyawanya sendiri.