NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Pertemuan Pertama dengan Sang Tirani Dingin

Kota Megapolitan seolah kehilangan suaranya, tergantikan oleh keheningan mencekam yang mendadak tercipta di depan gerbang perumahan mewah itu.

Kehadiran Oliver yang tiba-tiba bak dewa kematian yang turun dari langit, membawa aura penindasan yang begitu pekat hingga membuat pasokan oksigen di sekitar mereka terasa menipis.

Lin, yang semenit lalu bertingkah bak raja kecil yang berkuasa di atas penderitaan Viona, kini mematung dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

Sebagai seorang pengusaha kelas menengah yang selalu bermimpi untuk menembus lingkaran sosial elite kota, Lin tentu sangat mengenali wajah pria di depannya.

Pria ini adalah Oliver. Sang tirani bisnis, pemilik tunggal Oliver Group, konglomerat yang keputusannya mampu menghancurkan atau membangkitkan sebuah perusahaan hanya dalam satu jentikan jari.

"T-Tuan... Tuan Oliver?"

suara Lin bergetar hebat, kegagahan palsunya runtuh seketika.

Payung di tangannya bahkan sedikit miring, membuat beberapa tetes air hujan mulai membasahi bahu jas mahalnya.

Cindy yang berada di sampingnya pun tak kalah terkejut.

Matanya yang dilapisi riasan tebal melebar sempurna.

Ia yang terbiasa bersikap angkuh di depan Viona, kini mendadak menciut, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap langsung sepasang mata elang Oliver yang sedingin es.

Oliver tidak memedulikan kepanikan dua orang di hadapannya.

Tatapannya yang mematikan tetap tertuju lurus pada Lin.

"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku,"

ujar Oliver, suaranya rendah dan tajam bagaikan belati yang mengiris keheningan malam.

"Siapa yang baru saja kau sebut pengemis?"

"I-ini... ini pasti kesalahpahaman, Tuan Oliver,"

Lin terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya meski cuaca sedang sangat dingin.

Ia melirik Viona yang masih berdiri gemetar di belakang tubuh tegap Oliver.

"Wanita di belakang Anda ini... dia adalah mantan istri saya. Dia menderita gangguan jiwa berat dan baru saja saya ceraikan. Saya hanya sedang memintanya pergi agar tidak mengganggu ketertiban di lingkungan ini. Saya tidak tahu kalau dia... kalau dia memiliki hubungan dengan Anda."

Mendengar kata "gangguan jiwa berat" keluar dari mulut Lin untuk kesekian kalinya, Viona memejamkan matanya erat-erat.

Jantungnya berdegup kencang, memicu kembali memori-memori kelam saat ia dikurung di kamar gelap dan dimaki sebagai wanita gila oleh keluarga Lin.

Tubuhnya yang rapuh semakin bergetar, dan payung hitam di genggamannya hampir terlepas jika saja sebuah kehangatan yang tak terduga tidak tiba-tiba melingkupinya.

Oliver, tanpa diduga, mengulurkan tangan kirinya ke belakang.

Jemarinya yang panjang dan kokoh menggenggam pergelangan tangan Viona yang dingin.

Sentuhan itu tidak kasar, melainkan penuh dengan otoritas yang protektif.

Melalui genggaman itu, Oliver seolah sedang menyalurkan kekuatan, memberi tahu Viona bahwa badai di depannya kini bukan lagi urusannya sendiri.

"Mantan istrimu?"

Oliver mendengus dingin, sebuah senyuman sarkastik yang mengerikan terukir tipis di sudut bibirnya.

"Mulai besok, dokumen pernikahan kami akan diresmikan oleh negara. Dia adalah Nyonya Oliver yang baru. Istri sah dari CEO Oliver Group."

"Deg."

Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong bagi Lin dan Cindy.

Wajah Lin berubah dari pucat menjadi seputih kertas.

Kakinya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya telah tersedot habis.

"Mantan istri yang baru saja ia buang seperti sampah, wanita yang ia cap penyakitan dan tidak berguna, kini dalam sekejap mata bertransformasi menjadi wanita paling berkuasa di kota ini? Menjadi istri dari pria yang bahkan tidak bisa didekati oleh Lin walau harus berlutut berhari-hari di depan kantornya?"

"Tuan Oliver... Anda... Anda pasti bercanda..."

Cindy memberanikan diri bersuara, suaranya melengking karena syok yang teramat sangat.

"Viona itu miskin, dia gila! Bagaimana mungkin pria terhormat seperti Anda—"

"Tutup mulutmu,"

potong Oliver tanpa emosi, namun tatapan matanya yang beralih ke Cindy seketika membungkam wanita itu hingga ia gemetar ketakutan.

"Siapa kau berani mempertanyakan keputusanku? Pak Pelayan."

"Ya, Tuan Besar,"

Pak Pelayan yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu mobil Rolls-Royce segera melangkah maju dengan payungnya.

"Catat nama pria ini dan perusahaannya,"

perintah Oliver datar, matanya kembali menatap Lin dengan pandangan merendahkan yang mutlak.

"Mulai besok pagi, aku tidak ingin melihat perusahaan mana pun di kota ini menjalin kerja sama atau menanam modal di bisnis milik keluarga Lin. Pastikan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis yang sesungguhnya."

"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan,"

jawab Pak Pelayan dengan nada formal yang tenang, seolah menghancurkan hidup seseorang adalah hal yang biasa ia lakukan sebelum sarapan.

"Tuan Oliver! Tolong jangan lakukan itu! Saya mohon!"

Lin berteriak panik, wajahnya kini dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

Perusahaannya adalah segalanya baginya. Jika Oliver Group memboikotnya, maka dalam waktu kurang dari seminggu, ia akan bangkrut total dan terlilit utang yang tak berujung.

Lin mencoba melangkah maju untuk berlutut di depan Oliver, namun dua pengawal berbadan tegap yang keluar dari mobil depan langsung menghadang jalannya dengan tatapan mengintimidasi.

Oliver tidak memedulikan raungan minta ampun dari Lin.

Ia membalikkan tubuhnya, menatap Viona yang masih terpaku dengan mata berkaca-kaca.

Wajah wanita itu tampak begitu rapuh di bawah guyuran hujan, namun ada kilatan kehangatan dan rasa tidak percaya di matanya.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menderita, ada seseorang yang berdiri di depannya dan menjadi perisai dari kekejaman Lin.

Meskipun pria ini melakukannya demi kontrak kerja, bagi Viona, tindakan Oliver saat ini telah menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang hampir hancur lebur.

"Masuk ke mobil,"

perintah Oliver, nadanya kembali dingin dan tidak terbantahkan seperti biasanya.

Genggaman tangannya di pergelangan tangan Viona terlepas secara perlahan.

Viona mengangguk patuh.

Ia tidak lagi memedulikan barang-barang lamanya yang tertinggal di pos satpam.

Barang-barang itu hanya berisi kenangan pahit yang sudah seharusnya ia tinggalkan.

Dengan langkah yang lebih mantap, ia berjalan menuju mobil Rolls-Royce dan masuk ke dalam kursi penumpang belakang yang luas dan mewah.

Oliver menyusul masuk di sampingnya.

Pintu mobil tertutup otomatis, meredam seluruh suara tangisan panik Lin dan histeria Cindy di luar sana.

Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah genangan air hujan, meninggalkan masa lalu kelam Viona di belakang.

Di dalam mobil, keheningan kembali tercipta.

Namun kali ini, atmosfernya terasa berbeda.

Viona duduk meringkuk di sudut kursi, memeluk tas ransel kainnya erat-erat.

Rambutnya agak basah karena cipratan air hujan, dan hawa dingin dari luar membuat tubuhnya sesekali gemetar kecil.

Tiba-tiba, sebuah mantel wol hitam yang tebal dan hangat mendarat di atas bahunya.

Viona menoleh dengan terkejut.

Oliver masih duduk dengan posisi bersedekap dada, pandangannya lurus menatap ke luar jendela mobil yang dibasahi air hujan, seolah tindakan memberikan mantel itu hanyalah sebuah refleks tanpa arti.

"Pakai itu. Aku tidak ingin ibu tiri putriku mati konyol karena hipotermia sebelum kontraknya dimulai,"

ujar Oliver tanpa menoleh sedikit pun.

Suaranya terdengar datar dan ketus, namun kehangatan dari mantel wol yang beraroma kayu cendana maskulin itu tidak bisa berbohong.

Viona menarik mantel itu lebih erat ke tubuhnya, merasakan kehangatan instan yang menjalar ke kulitnya.

"Terima kasih, Tuan Oliver... dan terima kasih untuk yang tadi di depan gerbang," bisik Viona tulus.

Oliver terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menoleh, menatap Viona dengan sepasang mata elangnya yang tajam.

"Jangan salah paham, Nona Viona. Apa yang kulakukan tadi bukan karena aku bersimpati padamu atau ingin menjadi pahlawanmu.

Aku hanya melindungi investasiku. Mulai besok, namamu akan bersanding dengan namaku di atas kertas hukum.

Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk mantan suamimu yang tidak berguna itu, menginjak-injak nama baik keluarga Oliver melalui dirimu."

Viona tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini membawa sedikit rasa lega.

"Saya tahu, Tuan. Dan saya sangat menghargai profesionalisme Anda. Anda tidak perlu khawatir, saya akan mendedikasikan seluruh waktu dan kemampuan saya untuk merawat Yoyo dengan baik."

Oliver mengamati wajah pucat Viona di bawah temaram lampu interior mobil.

Ada sesuatu yang ganjil dari wanita ini.

Meskipun fisiknya tampak sangat rapuh dan jiwanya terlihat seperti kaca yang retak dan hampir pecah, matanya memiliki keteguhan yang sangat langka.

Wanita-wanita lain yang mencoba mendekatinya biasanya akan langsung memamerkan pesona mereka atau bersikap manja, namun Viona justru menjaga jarak dengan sangat sopan, seolah batasan kontrak di antara mereka adalah garis suci yang tidak boleh dilanggar.

"Kudengar dari Pak Pelayan, kau menderita depresi berat,"

ujar Oliver tiba-tiba, beralih ke topik yang cukup sensitif.

Viona sedikit tersentak, namun ia tidak mencoba menyangkalnya.

"Iya, benar Tuan. Mantan suami saya dan keluarganya menempatkan saya di bawah tekanan mental yang hebat selama bertahun-tahun hingga saya didiagnosis menderita major depressive disorder.

Tapi Anda tidak perlu khawatir, obat-obatan saya selalu saya minum teratur, dan kondisi saya tidak akan mengganggu keselamatan atau kenyamanan Nona Kecil Yoyo.

Justru... karena saya tahu bagaimana rasanya terisolasi dalam kegelapan emosi, saya rasa saya bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh Yoyo saat ini."

Oliver tidak membalas.

Ia hanya menatap Viona dalam-dalam selama beberapa detik sebelum kembali membuang pandangannya ke luar jendela.

Pria itu menyembunyikan rapat-rapat kilatan emosi yang sempat melintas di matanya.

Trauma psikologis yang dialami Yoyo adalah akibat dari kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ibu kandungnya dua tahun lalu, sebuah peristiwa yang membuat Yoyo menutup diri dari dunia luar dan membenci setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibunya.

Namun sore ini, untuk pertama kalinya, Yoyo mau menerima suapan makanan dari seorang wanita asing.

Mungkinkah keputusan impulsif Oliver untuk mempekerjakan wanita berjiwa rapuh ini adalah langkah yang tepat?

Mobil Rolls-Royce akhirnya kembali memasuki gerbang mansion keluarga Oliver saat malam mulai larut dan hujan telah mereda menjadi gerimis tipis.

Begitu mobil berhenti di depan lobi utama, Pak Pelayan segera membukakan pintu untuk mereka.

"Selamat datang kembali, Tuan Besar, Nona Viona,"

sambut Pak Pelayan dengan senyum ramah yang tulus.

"Nona Kecil Yoyo baru saja tertidur setelah menanyakan keberadaan Nona Viona beberapa kali."

Mendengar hal itu, hati Viona terasa menghangat.

Rasa lelah dan ketegangan yang ia rasakan sepanjang hari seolah menguap begitu saja.

Ada seseorang, seorang anak kecil, yang menantikannya kembali.

Perasaan dibutuhkan ini adalah sesuatu yang sudah sangat lama hilang dari hidupnya.

"Pak Pelayan, antarkan dia ke kamar tamu di lantai dua, tepat di sebelah kamar Yoyo. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi,"

perintah Oliver sambil melangkah keluar dari mobil, membiarkan mantel wolnya tetap berada di bahu Viona.

"Dan siapkan dokumen pernikahannya untuk besok pagi."

"Baik, Tuan Besar."

Oliver berjalan mendahului mereka, langkah kakinya yang tegap membawanya langsung menuju lantai tiga, area pribadinya yang terlarang bagi siapa pun.

Sosoknya yang jangkung perlahan menghilang di kegelapan tangga atas, kembali menjadi sang tirani dingin yang tak tersentuh.

Viona menatap kepergian Oliver dengan pandangan penuh rasa hormat.

Pertemuan pertamanya dengan pria itu telah membuka lembaran baru yang penuh ketidakpastian dalam hidupnya.

Namun saat ia melirik ke arah kamar Yoyo di lantai dua, Viona tahu, di rumah yang megah namun sunyi ini, ia tidak hanya akan berjuang untuk menyembuhkan jiwa kecil Yoyo yang terluka—tetapi ia juga sedang memulai perjalanannya sendiri untuk menyembuhkan jiwanya yang rapuh di bawah perlindungan sang tirani dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!