NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

“Aku benar-benar tidak menyangka." Sharena datang mendekat, menatap Queen dengan ekspresi penuh arti.

Queen tidak langsung menoleh. “Tentang apa?”

“Kau menerima permintaan itu.” Sharena mengangkat alis tipis. “Kau biasanya menolak klien seperti itu. Terlalu besar. Terlalu ... merepotkan.”

Baru kali ini Queen menoleh. Senyumnya tipis, hampir tidak terlihat. “Aku hanya sedang ingin melakukan sesuatu. Menghabiskan waktu luang.”

Sharena menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Waktu luang?”

Queen mengangguk kecil. “Aku bosan di rumah.” Jawaban itu sederhana. Tapi cukup jujur.

Sharena menghela napas pelan, lalu tersenyum samar. “Kalau begitu ... kurasa itu keputusan yang bagus.”

“Semoga saja.”

“Seseorang sepertimu tidak cocok terlalu lama diam,” balas Sharena santai. “Dunia terlalu kecil kalau kau hanya bersembunyi di satu tempat.”

Queen tidak menjawab. Tapi tatapannya sedikit berubah—lebih dalam, lebih jauh. Dan saat itulah—Pintu terbuka.

Sosok tinggi dengan aura dominan langsung masuk tanpa perlu menarik perhatian.

Axel.

Tatapannya langsung menemukan dua wanita itu, lalu bergeser pada anak kecil yang kini sedang duduk di sudut sambil memainkan sesuatu.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Sharena menoleh ke arah suaminya. “Queen menerima proyek.”

Axel berhenti beberapa langkah dari mereka. “Proyek?”

“Dekorasi acara pertunangan,” lanjut Sharena. “Di luar toko.”

Ada jeda singkat.

Axel menatap Queen. Tidak lama. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membaca sesuatu. Lalu ia mengangguk pelan.

“Itu bagus,” ucapnya datar. “Kau butuh keluar sesekali. Udara baru tidak akan membunuhmu.”

Queen tertawa kecil. “Aku juga berpikir begitu.”

"Kapan kau akan mulai?" Tanya Axel.

“Besok,” jelas Queen, pelan. “Dekorasinya cukup besar, jadi—”

Belum sempat percakapan itu berlanjut—

“Besok?”

Suara kecil itu tiba-tiba menyela. Arsen.

Ia menatap Queen sekarang. Alisnya sedikit berkerut, ekspresinya berubah serius dengan cara khas anak - anak.

“Mommy Queen kan sudah janji…” lanjutnya pelan, “…mau ajak aku ke tempat Arian.”

Kalimat itu—membuat suasana langsung berubah.

Sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan.

Sharena terdiam. Tangannya yang semula memegang gelas berhenti di udara. Axel pun tidak bergerak—tatapannya sedikit mengeras, meski wajahnya tetap tenang seperti biasa.

Nama itu.

Arian.

Nama yang tidak pernah disebut dengan ringan.

Queen tidak langsung menjawab. Namun perlahan … ia meletakkan ponselnya. Tangannya terangkat.

Mengarah pada Arsen.

“Ayo sini,” ucapnya lembut.

Arsen langsung bangkit dari kursinya dan mendekat. Queen menariknya perlahan, membiarkan anak itu duduk di pangkuannya.

“Maaf…” bisiknya pelan.

Arsen menatapnya. “Jadi … tidak jadi?”

Queen tersenyum lembut. Hangat. Tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.

“Kita tetap ke sana,” jawabnya.

Mata Arsen langsung sedikit berbinar.

“Tapi…” lanjut Queen pelan, “…kita pergi setelah aku selesai bekerja, ya?”

Arsen terdiam sebentar. Mencerna. “Janji?” tanyanya.

Queen mengangguk. “Janji.”

Anak itu akhirnya tersenyum kecil. Lega. Seolah dunia kembali pada tempatnya.

Queen menariknya ke dalam pelukan singkat. Tangannya menepuk pelan punggung kecil itu.

“Kita akan mengunjungi Arian bersama,” bisiknya lirih. “Seperti biasa.”

Arsen mengangguk di bahunya.  "Aku mau hias tempat tinggal Arian lagi,” katanya polos. “Dengan tema yang baru.”

Napas Queen sempat tertahan. Namun ia tidak membiarkannya terlihat.

“Tema apa?” tanyanya pelan.

“Mungkin … yang lebih cerah,” jawab Arsen, berpikir serius. “Supaya Arian tidak bosan.”

Kalimat sederhana itu—justru terasa paling menyakitkan.

Queen tersenyum. Tipis, tapi tulus. Ia menangkup pipi Arsen dengan lembut. “Arian pasti suka,”

Sementara itu—Sharena menunduk pelan, menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Dan Axel hanya diam, menatap ke arah lain, rahangnya sedikit mengeras.

Satu minggu kemudian...

Langit Paris tampak cerah, kontras dengan udara dingin yang tetap menggigit.

Sebuah kediaman megah berdiri anggun di kawasan elite—tempat di mana acara pertunangan itu akan berlangsung. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Nial Percy menginjakkan kaki di sana.

Mobilnya berhenti tepat di depan pintu utama. Tanpa tergesa, ia keluar. Setelan hitamnya rapi, aura dinginnya masih sama—tidak berubah sedikit pun.

“Nial.” Suara itu menyambutnya lebih dulu. Elara.

Wanita itu berdiri dengan senyum hangat yang jarang ia tunjukkan. Ia langsung mendekat, meraih lengan putranya.

“Kau akhirnya datang.”

Nial hanya menatapnya sekilas. “Aku bilang aku akan datang.” Nada suaranya datar. Namun ia tidak menolak sentuhan itu.

Di belakang Elara, seorang pria paruh baya berdiri—suami barunya. Wajahnya ramah, sikapnya terbuka.

“Selamat datang, Nial,” sapanya.

Nial mengangguk tipis. Formal. Jarak tetap terjaga. Tanpa banyak basa-basi, ia melangkah masuk.

Dan—Langkahnya terhenti.

Hanya satu detik. Namun cukup. Tatapannya menangkap sesuatu yang berbeda. Dekorasi.

Bunga-bunga yang menghiasi seluruh ruangan bukan sekadar indah—tapi ... hidup. Setiap rangkaian terasa memiliki emosi. Penempatannya presisi. Warnanya lembut namun berkelas. Elegan.

Mata Nial menyipit tipis.

“Aku suka reaksimu,” suara Elara terdengar di sampingnya. “Cantik, bukan?”

Nial tidak langsung menjawab.

“Semua ini dibuat oleh seseorang yang sangat berbakat,” lanjutnya. “Seorang wanita muda, cantik–”

Nial mengalihkan pandangan. Jelas tidak tertarik.

“Aku tidak tertarik.” balasnya, dingin.

Ia kemudian melangkah lebih dalam. Matanya tanpa sadar kembali menyapu ruangan itu.

Dan di sisi lain—Di balik deretan dekorasi bunga yang sedang disusun—Queen berdiri. Anggun dalam balutan dress berwarna lembut yang jatuh sempurna di tubuhnya. Rambutnya tersusun rapi, wajahnya tenang, profesional. Namun sorot matanya fokus.

“Yang itu sedikit ke kanan,” ucapnya pelan pada salah satu staf. “Jangan terlalu dekat. Biarkan ruangnya bernapas.”

Tangannya bergerak ringan, mengoreksi satu rangkaian kecil. Sempurna. Ia mundur satu langkah. Menilai. Tidak menyadari—Bahwa di sisi lain ruangan, seseorang juga sedang berdiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah satu tahun—

Jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah.

•••

Langkah demi langkah, acara itu mulai mendekati puncaknya.

Di tengah semua itu, Queen berdiri sedikit menjauh. Tatapannya menyapu keseluruhan ruangan, memastikan tidak ada yang terlewat. Setiap detail sudah berada di tempatnya. Setiap sudut berbicara sesuai yang ia inginkan.

Sempurna.

“Nona Queen.”

Suara lembut itu membuatnya menoleh.

Elara berjalan mendekat, senyumnya hangat—jauh lebih personal dibanding sebelumnya.

“Kau benar-benar melampaui ekspektasiku,” ucapnya tulus. “Ini … luar biasa.”

Queen tersenyum tipis. Profesional, namun tetap sopan. “Saya senang Anda menyukainya.”

“Bukan hanya suka,” balas Elara cepat. “Aku jatuh cinta pada setiap detailnya.” Tanpa ragu, wanita itu meraih tangan Queen, menggenggamnya ringan.

“Ayo,” ujarnya. “Aku ingin mengantarmu.”

Queen sempat terdiam sepersekian detik, namun tidak menolak. Ia mengikuti langkah Elara menuju bagian depan kediaman.

Langit mulai berwarna keemasan, matahari perlahan turun, menciptakan cahaya hangat yang membingkai suasana. Di depan pintu utama, Elara berhenti.

“Terima kasih,” ucapnya lagi.

Queen mengangguk kecil. “Sama-sama.” Namun sebelum ia sempat melangkah pergi—Elara tiba-tiba mendekat.

Cipika cipiki.

Satu sentuhan ringan di pipi kanan. Lalu kiri.

Gestur yang sederhana. Namun cukup untuk menunjukkan—Queen bukan lagi sekadar vendor di matanya. Dan tepat di momen itu—

Di lantai tiga. Tepatnya di balkon yang menghadap langsung ke halaman depan. Seorang pria berdiri dengan postur tegak, satu tangan bertumpu pada pagar besi hitam. Setelan hitamnya menyatu dengan bayangan senja, namun sorot matanya—tajam.

Nial.

Awalnya, ia hanya berniat mencari udara. Namun kemudian—Tatapannya menangkap sesuatu.

Seorang wanita. Anggun. Berdiri di bawah cahaya senja, dengan siluet yang … terasa familiar.

Matanya menyipit. Cara wanita itu berdiri. Cara ia sedikit menunduk saat Elara menyentuh pipinya. Bahkan … garis bahunya. Nial tidak sadar kapan tepatnya napasnya berubah lebih berat.

“…”

Tidak mungkin.

Pikirannya langsung menolak.

Terlalu jauh. Terlalu tidak masuk akal. Namun matanya tidak bisa berpaling. Ia melangkah sedikit maju, mencoba melihat lebih jelas.

Bayangan wajah itu masih samar dari jarak ini, tertutup sudut dan cahaya. Satu langkah lagi—Namun di bawah sana, Queen sudah lebih dulu bergerak. Ia tersenyum tipis pada Elara. Membungkuk sopan. Lalu berbalik.

Langkahnya tenang. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.

Pintu mobil terbuka. Dan dalam hitungan detik—Ia menghilang di dalamnya.

Tatapan Nial tetap terkunci ke arah gerbang yang kini perlahan tertutup. Rahangnya mengeras.

Ada sesuatu yang … mengganggu. Sangat.

“…Siapa dia?” gumamnya pelan.

"Nial."

Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.

Suara itu ringan, jauh lebih santai dibanding atmosfer yang selalu dibawa Nial ke mana pun ia berdiri.

Pria itu tidak langsung menoleh. Tatapannya masih terpaku pada gerbang yang kini telah tertutup rapat.

“Sejak kapan kau suka memperhatikan vendor dekorasi?” lanjut suara itu, kali ini disertai tawa kecil.

Baru kali ini Nial bergerak. Ia menoleh perlahan. Nael.

Adik tirinya berdiri di sana, setelan formalnya rapi, namun sikapnya jauh lebih santai. Senyum tipis terukir di wajahnya—seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

“Wanita tadi,” ucap Nial singkat. “Siapa dia?”

Nael mengangkat alis. “Yang barusan pergi?”

Tidak ada jawaban. Namun tatapan Nial cukup jelas.

Nael terkekeh pelan. “Tenang saja, bukan siapa-siapa yang perlu kau khawatirkan.” Ia melangkah mendekat, ikut bersandar di pagar balkon. “Dia yang mendesain semua ini,” lanjutnya santai. “Dekorasi. Bunga. Semua yang kau lihat di bawah sana.”

Tatapan Nial kembali turun ke halaman. Namun kali ini bukan pada bunga-bunga itu.

“Namanya Queen, kalau tidak salah,” tambah Nael, seolah baru mengingat. “Mommy benar-benar terobsesi dengan hasil kerjanya.”

Deg.

Satu detik. Hanya satu detik—namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Nial berhenti.

“…S—siapa?”

Nael tidak menyadari perubahan itu. Ia hanya mengangkat bahu. “Queen. Aku juga baru dengar hari ini. Katanya cukup terkenal di kalangan tertentu.”

Angin sore berhembus pelan, namun tidak cukup untuk meredakan ketegangan yang tiba-tiba memenuhi udara di sekitar Nial.

Queen.

Nama itu … terlalu familiar.

“Sudahlah,” ujar Nael santai, menepuk bahu Nial ringan. “Acara akan dimulai. Kau tidak mau jadi satu-satunya yang tidak muncul di pertunanganku, kan?”

Nial tidak menjawab. Tapi kali ini—ia tidak lagi melihat ke bawah. Tatapannya kosong. Namun pikirannya—tidak lagi di tempat itu.

•••

Acara pertunangan berlangsung dengan megah.

Lampu-lampu gantung menyala hangat, memantulkan kilau elegan di setiap sudut ruangan. Tamu-tamu dari kalangan elit memenuhi area, suara percakapan bercampur dengan dentingan gelas kristal.

Semuanya berjalan sempurna. Setidaknya—di permukaan. Hingga—Ponsel Queen bergetar. Ia baru saja sampai di rumah ketika panggilan itu masuk.

“Ya?” jawabnya singkat.

“Nona, maaf mengganggu,” suara stafnya terdengar gugup. “Ada sedikit masalah dengan dekorasi di lokasi. Bagian tengah—susunan utamanya bergeser. Sepertinya pemasangannya tidak stabil.”

Queen menutup mata sejenak. Ia sudah tahu—ini bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.

“Aku akan ke sana,” ucapnya akhirnya.

Beberapa puluh menit kemudian—Queen kembali berdiri di kediaman itu. Namun kali ini—suasananya berbeda. Ramai. Penuh.

Langkahnya tetap tenang saat ia masuk, meski matanya langsung bekerja cepat—mencari sumber masalah.

Ia menemukan stafnya di tengah ruangan, tepat di dekat dekorasi utama.

“Bagian ini,” ujar staf itu pelan.

Queen tidak banyak bicara. Tangannya langsung bergerak, memperbaiki posisi, mengatur ulang komposisi, memastikan setiap detail kembali pada tempatnya. Hingga ia menghela napas pelan saat rangkaian bunga di hadapannya akhirnya kembali sempurna.

Simetris. Hidup. Tepat seperti yang ia inginkan.

Ia mundur satu langkah, menilai sekali lagi dengan mata tajamnya—lalu mengangguk kecil.

Selesai.

“Nona … maaf.” Suara stafnya terdengar penuh rasa bersalah. “Kami tidak bermaksud merepotkan Anda sampai harus kembali ke sini.”

Queen menoleh. Wajahnya tetap tenang, profesional seperti biasa. “Tidak apa,” jawabnya singkat. “Pastikan setelah ini tidak ada yang bergeser lagi. Bagian ini adalah pusat perhatian.”

“Baik, Nona. Terima kasih.”

Queen hanya mengangguk. Tanpa berlama-lama, ia merapikan sedikit ujung dress-nya, lalu berbalik.

Ia ingin pergi. Segera. Tempat ini—terlalu ramai.

Langkahnya baru beberapa meter menuju pintu keluar ketika—

“Perhatian.”

Suara dari pengeras terdengar tiba-tiba. Jernih. Tegas. Membelah seluruh ruangan. Percakapan para tamu langsung mereda. Queen otomatis berhenti.

“Dimohon kepada seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna soft ivory dengan detail bunga tangan di sisi kanan—”

Langkah Queen membeku.

“—Untuk tidak meninggalkan ruangan.”

Sunyi. Benar-benar sunyi.

Queen perlahan menunduk. Matanya jatuh pada dress yang ia kenakan.

Soft ivory.

Detail bunga di sisi kanan.

Tidak. Tidak mungkin. Napasnya tertahan.

“Dimohon tetap berada di tempat. Terima kasih.”

Klik.

Pengumuman selesai. Namun efeknya—tidak.

Queen berdiri diam. Tubuhnya kaku, meski ia berusaha terlihat biasa saja. Namun perlahan … ia mulai merasakan sesuatu yang lain.

Tatapan. Satu. Dua. Puluhan. Semua mata—mulai beralih. Ke arahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“…ini pasti kebetulan,” bisiknya pelan, hampir tanpa suara. Namun saat ia mengangkat wajah—

Orang-orang benar-benar menatapnya.

Beberapa berbisik. Beberapa jelas memperhatikannya dengan rasa ingin tahu. Dan itu—cukup untuk membuat sesuatu dalam dirinya mulai tidak tenang.

Queen mengatupkan rahang.

Tidak. Ia tidak akan diam di sini seperti objek tontonan. Ia melangkah. Satu langkah. Namun—

“Berhenti.”

Suara itu. Rendah. Dalam. Dan terlalu … familiar.

Langkah Queen terhenti seketika. Seluruh tubuhnya menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu. Namun tetap saja—perlahan … ia berbalik. Dan di sanalah dia.

Nial.

Berdiri beberapa meter darinya, di antara kerumunan yang secara tidak sadar memberi jalan.

Setelan hitamnya sempurna seperti biasa. Wajahnya tenang—terlalu tenang. Namun matanya …

tajam. Terkunci hanya pada satu titik.

Queen.

Untuk beberapa detik—tidak ada yang bergerak.

Seolah dunia berhenti hanya untuk mereka.

Queen memaksakan ekspresi datar. Dingin. Seolah tidak ada apa-apa.

“Maaf, Tuan,” ucapnya lebih dulu. Suaranya stabil. Terlatih. “Sepertinya Anda salah orang.”

Nial tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap. Dalam. Seolah sedang menguliti setiap lapisan yang berusaha Queen bangun. Lalu—ia mengangguk samar. Senyum tipis terukir di bibirnya.

Senyum yang tidak bisa diterjemahkan dengan mudah.

“Bisa jadi,” balasnya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja menghentikan seluruh ruangan hanya untuk satu orang.

Queen mengerutkan kening tipis. Ada yang tidak beres. Sangat tidak beres.

Kenapa pria ini bisa ada di sini?

Ia melirik sekilas ke sekeliling—lalu tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu. Sebuah papan besar. Nama pasangan yang bertunangan malam ini.

Nael & Emma.

Queen membeku. Matanya langsung kembali ke Nial.

Deg!

Kesimpulan itu datang terlalu cepat.

Jadi ini … pertunangan Nial?

Dadanya terasa sesak. Namun wajahnya—tetap tenang.

"Aku ingin bicara." ucap Nial.

“Maaf, tapi aku sedang terburu-buru,” balas Queen akhirnya, berusaha mengakhiri. “Lagipula … ini acara penting Anda.” Tatapannya tajam, namun dingin. “Tidak seharusnya Anda berbicara dengan wanita lain di acara pertunangan Anda sendiri.”

Ada jeda.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—Nial tersenyum. Samar. Seolah baru saja memahami sesuatu yang lucu.

“Oh … begitu.” Ia tidak membantah. Tidak menjelaskan. Justru membiarkan kesalahpahaman itu hidup.

Queen semakin kesal. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—

“Aku tetap ingin bicara,” lanjut Nial. “Untuk terakhir kalinya.”

Kalimat itu terdengar aneh, mengganggu.

Dan entah kenapa … membuat dada Queen terasa tidak nyaman.

“Apa?” balasnya ketus. Tidak lagi berusaha menyembunyikan emosinya.

Nial melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menipis. Terlalu dekat untuk sekadar percakapan biasa.

“Kau yakin ingin membicarakannya di sini?”

Queen menoleh sekilas. Benar saja.

Beberapa tamu mulai memperhatikan lebih jelas sekarang. Bahkan Elara—ibu Nial terlihat seperti ingin menghampiri mereka.

Namun—Queen sudah terlalu kesal untuk mundur.

“Katakan saja. Di sini.”

Nial menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk.

Baik. Kalau itu yang dia mau.

Ia sedikit membungkuk. Mendekatkan wajahnya ke arah Queen, cukup untuk membuat napas mereka hampir bersentuhan. Dan dengan suara yang cukup jelas untuk didengar orang terdekat. Nial berbicara.

“Kembalikan parfum dan kemejaku yang kau curi.”

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!