Ray... Seorang pria dengan masa lalu percintaan yang kelam karena harus ditinggalkan oleh wanita yang dicintainya untuk selama-lamanya, karena demi melindunginya, Bella kekasihnya rela mengorbankan nyawa sendiri untuk melindunginya, dan kini hadir Anna, wanita cantik yatim-piatu yang dijodohkan dengan nya oleh orang tuanya... bagaimana perjalanan kisah cinta mereka, dan bagaimana Anna menarik Ray dari kegelapan hati Ray yang sudah menguasai seluruh dunianya...?
Yuk ikuti kisahnya...😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
32
Ray berhenti di rumah sakit milik keluarganya, dia ingin menemui ibunya dulu agar bisa membantunya.
"Mom, bantu Ray mom, Ray mohon..." Pinta Ray dengan sangat memelas, namun Luna sama sekali tidak bergeming dan bahkan tidak menganggap jika Ray ada dihadapannya, dia masih fokus pada catatan yang ada di depannya.
"Mom...Ray tahu Ray sudah salah mom.... Ray batu saja mengetahui semuanya mom...tolong bantu Ray mom...?" Ucap Ray lagi.
Luna menarik nafasnya dan kemudian menatap wajah putranya yang terlihat begitu kacau.
"Untuk apa Ray? Kamu tidak takut jika Anna akan mengambil alih semua kekayaan kita?" Sindir Luna pada putranya.
"Mom...aku tahu aku salah, itu hanya alasan pendukung saja saat itu, alasan yang sebenarnya adalah karena aku merasa cemburu mom....dan aku marah karena cemburu" tangis Ray yang mulai pecah.
"Cemburu?! Jangan bercanda Ray...? Untuk apa kamu cemburu, biarkan saja dia bahagia dengan kehidupannya sekarang, jangan mengusiknya lagi dengan alasan yang begitu buruk" jawab Luna yang masih sangat marah pada Ray, karena kesalahannya, Anna sama sekali tidak ingin bertemu dengannya sampai saat ini.
"Tidak mom... Aku serius aku cemburu, aku cemburu mom...aku... Aku mencintainya saat itu, dan karena Indah memprovokasi ku,aku termakan omongannya dan aku membencinya, tapi yang sebenarnya adalah aku selalu mencintainya mom, percayalah pada ku mom, Ray mohon mom...bantu Ray kali ini saja" Ray bergerak dan bersimpuh di kaki ibunya dan menangis di pangkuannya.
Luna ikut meneteskan air matanya walau bagaimanapun dia tetaplah putranya dan dia melakukan semua kesalahan itu karena dia mencintai Anna dan cemburu padanya.
Luna mengusap lembut rambut putranya yang ada di pangkuannya.
"Bangun Ray, kita kerumah Anna sekarang, kita jemput dia untuk kembali ke pada kita" ajak Luna sembari mengusap air matanya.
"Mommy, terimakasih"
"Iya sayang, ayo kita berangkat sekarang" ajak Luna yang sudah kembali bersemangat.
"Tapi mom... Dia sudah memiliki suami baru, dan dia juga sedang hamil dan perutnya juga sudah besar.
"Sudahlah serahkan semuanya pada mommy"
Luna menarik lengan putranya untuk segera mengikutinya ke rumah Anna, walaupun dia yakin tidak akan semudah bayangannya.
Sesampainya di rumah Damara, Luna meminta asisten rumah tangga di sana untuk mengijinkan dirinya menemui Anna, dia bersyukur karena damara tidak ada dirumah.
Tidak perlu menunggu lama, Anna sudah datang untuk menemui dirinya.
"Anna..." Ray menghambur ke pelukan Anna begitu Ray melihat Anna.
Anna masih belum sadar dengan apa yang terjadi, jiwanya seolah pergi dari raganya.
"Lepas tuan Ray...!!!"
Anna berusaha keras untuk mendorong tubuh Ray yang terus saja memeluknya tanpa mau melepaskannya.
"Anna maafkan aku, aku tahu aku salah, aku sudah menghinamu, menyakiti mu, merendahkan mu, dan juga tidak percaya padamu, Anna... Beri aku kesempatan kedua Anna, maafkan aku" ucap Ray dengan air matanya yang membanjiri wajahnya.
"Lepas tuan Ray...!!!" Teriak Anna lagi.
Luna hanya bisa melihatnya, dia belum bisa mengatakan apapun.
"Anna aku mohon..."
"Kenapa Ray?" Tanya Anna pada Ray, dan membuat Ray bingung dengan pertanyaan dari Anna.
"Maksud kamu apa ana?"
"Kenapa baru sekarang Ray? Kamu melakukan ini?" Tanya Anna mencoba sedingin mungkin.
"Maaf Anna, aku baru tahu semuanya, semua kebenarannya Anna...maafkan aku"
"Jika kamu tidak mengetahui kebenarannya, apa kamu tidak akan meminta maaf pada ku?" Tanya Anna lagi.
Luna yang mengerti maksud Anna hanya bisa mengusap air matanya yang sudah mengaliri wajahnya.
"Maksud kamu Anna?" Tanya Ray yang masih belum mengerti apa maksud dari pertanyaan dari Anna.
"Apa kamu hanya menunggu kebenaran membuktikan padaku jika aku tidak bersalah? Tidak adakah sedikit saja rasa kepercayaan mu padaku? Jika aku tidak seperti yang mereka katakan?" jelas Anna.
Ray tidak bisa menjawab pertanyaan dari Anna yang sama sekali tidak bisa dia jawab, karena memang dia ada di posisi yang sangat salah dan tidak bisa membela diri lagi.
"Maaf Anna..." Hanya kata itu yang bisa Ray ucapkan.
Anna mengusap air matanya yang mengalir ke pipinya, dan segera memutar badannya untuk kembali ke kamarnya.
"Aku sudah memaafkanmu Ray... Dan sekarang pergilah, sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi" ucap Anna seraya melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamarnya.
"Anna tunggu...setidaknya biarkan Ray bertanggung jawab atas anaknya... lagipula kalian belum bercerai." Ucapan Luna menghentikanya langkah Anna, dan segera berbalik menatap Luna.
Begitu juga dengan Ray yang masih belum mengerti dari ucapan ibunya yang mengatakan jika dirinya harus bertanggung jawab atas kehamilan Anna.
"Apa maksudmu Nyonya Darma?" tanya Anna yang mulai gugup.
"Anna, berapa usia kandungan mu?" Tanya Luna.
"8 bulanan hampir 9 bulan" jawab Anna.
"Jadi benar jika itu adalah anak dari putraku, cucuku, bukan begitu Anna?" Tanya Luna lagi.
"Apa maksudmu Nyonya Darma? Saya sudah memiliki suami lagi, dan ini anak kami" kilah Anna, dia tidak ingin jika Ray mengetahui jika anak yang di kandungnya adalah anaknya.
"Anna... Kamu pergi dari apartemen Ray sekitar 8 bulan yang lalu, kalaupun kamu sudah menikah lagi dan memiliki anak, mungkin usianya baru menginjak bulan ke 6 atau bahkan 7, tapi tidak 8 dan bahkan hampir 9 bulan, itu berarti pada saat kamu pergi dari apartemen Ray kamu sedang mengandung anaknya yang mungkin usia kandungan mu sekitar 3 sampai 4 Minggu apa aku benar?" Tanya Luna lagi.
Anna menelan ludahnya sendiri yang terasa susah, dan berusaha untuk tetap tenang. Bagaimanapun caranya, dia tidak ingin Ray dan Luna tahu jika anak yang dikandungnya saat ini adalah anaknya.
"A-apa yang anda maksud?" Tanya Anna dengan gemetar.
Ray menatap wajah Anna yang segera memalingkannya saat mengetahui Ray sedang melihat padanya, tersungging senyuman di sudut bibir Ray mengetahui satu kebenaran lagi.
Ray mendekati Anna yang berada tidak jauh darinya, dan menggenggam tangannya.
"Bagaimana jika kita melakukan tes DNA? jaman sekarang sangat canggih, bahkan bisa melakukan tes DNA sebelum bayi lahir. bagaimana?" Tanya Ray pada Anna.
Anna menghempaskan tangan Ray dan segera menjauh dari Ray.
"i-itu tidak perlu, untuk apa aku melakukan itu, aku sudah bilang ini anak dari suamiku" kilah Anna lagi.
"Suamimu? Mana cincin pernikahan kalian? Dan mana foto-foto pernikahan kalian? Atau buku nikah kalian?" Tanya Ray yang kini sudah mengerti jika Anna hanya sedang berbohong padanya agar dirinya menjauh darinya.
"Untuk apa aku menunjukkan semua itu, lagi pula itu bukan urusan mu, dan lagi kita sudah bukan suami istri, karena aku akan segera meminta cerai darimu" jawab Anna yang masih tidak mau jika Ray menemukan kebenarannya.
"Anna... Jika memang kamu sedang hamil dan terbukti jika itu adalah anak dari Ray, kamu tidak bisa melakukan itu Anna" kata Luna yang juga tidak akan membiarkan Anna menghindar dari semua kebenarannya.
"A-a-ku tidak..."
"Cukup Anna, jangan mengelak lagi, ayo kita lakukan tes DNA" pinta Ray yang kini sangat yakin jika dirinya akan bisa membawa Anna kembali ke sisinya lagi.
Anna merasa tersudut dan tertekan, dia merasa sangat takut saat ini, keringatnya mulai membanjiri wajahnya dan tubuhnya, dia juga sudah mulai terlihat pucat, dan entah kenapa kepalanya terasa begitu sakit.
Anna memegangi kepalanya yang mulai berdenyut sakit dan pandangannya yang mulai kabur.
"Anna kamu baik-baik saja Anna?" Tanya Luna yang mulai khawatir.
"Anna..." Panggil Ray, namun Anna merasa jika tubuhnya sangat lemas dan dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga dia terjatuh dan tidak sadarkan diri, namun dengan cepat Ray menangkapnya.
"Anna, apa yang terjadi Anna?" Tanya Ray khawatir.
"Tenang Ray, kita bawa Anna ke rumah sakit sekarang!" Perintah Luna yang langsung Ray lakukan.
Ray membopong tubuh Anna dan memasukkannya ke dalam mobilnya, dia dan juga Luna segera masuk kedalam mobil dan Ray bergegas membawa mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya disana Ray dan Luna langsung membawa Anna ke ruang instalasi gawat darurat untuk diperiksa.
Ray masih menunggu diluar bersama dengan Luna dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Mommy, apa Anna dan anakku akan baik-baik saja?" Tanya Ray pada Luna.
"Tenang saja, dia akan baik-baik saja, percayalah"
Setelah beberapa saat, pintu ruangan itu terbuka dan dokter keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya Ray dengan wajah yang terlihat begitu cemas.
"Tenang saja, dia baik-baik saja, hanya saja dia merasakan tekanan pikiran yang berlebihan, jadi dia merasa stress dan jadi seperti ini, tolong kedepannya jaga emosinya agar tetap stabil, jangan biarkan dia berfikir terlalu keras, karena itu akan sangat berbahaya bagi calon anaknya" jelas dokter itu.
"Apa dia bisa pulang hari ini dokter?" Tanya Ray lagi
"Iya, asalkan jangan biarkan dia merasakan stress yang berat lagi" jelas dokter lagi.
"Iya dok terimakasih" ucap Ray lagi.
"Apa kami sudah bisa menemuinya dok?" Tanya Luna
"Sudah Nyonya Luna, silahkan, kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter tadi seraya melangkah pergi kembali ke ruangannya.
Ray dan Luna bergegas memasuki ruangan itu, dan melihat Anna terbaring lemah di ranjang pasien. Ray mendekati Anna dan segera memeluknya.
"Maafkan aku sayang...aku terlalu egois, kedepannya aku janji aku bakalan selalu menjaga kalian berdua" ucap Ray yang masih memeluk tubuh Anna yang masih berbaring.
"Anna, jangan berfikir terlalu keras nak, kasihan anak kalian, kamu juga tidak mau jika dia kenapa-napa kan nak?" Tanya Luna pada Anna yang hanya mengangguk dengan air matanya yang sudah mengaliri wajahnya.
Ray melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata Anna yang membasahi pipinya.
"Jangan menangis, kamu hanya perlu memukulku jika kamu marah padaku" ucap Ray dengan sangat lembut.
Anna hanya mengangguk pada Ray yang masih terus menggenggam tangannya.
"Jadi benar dia anakku kan? Dan kamu tidak pernah menikah dengan pria blasteran itu?" Tanya Ray pada Anna yang sudah mulai terlihat santai.
"Iya..." Jawab Anna singkat.
"Huh?!! Kamu mau membohongiku, kamu tidak pintar dalam hal itu Anna, IQ mu kurang tinggi" ejek Ray yang hanya ingin melihat senyum diwajah Anna.
"Apa? Kamu pikir kamu pintar, kamu bahkan bisa dibodohi dengan mudah oleh Indah, dasar...!!! Aku tahu jika bodoh itu gratis, tapi setidaknya jangan diborong semuanya..." Ejek Anna balik.
"Kamu...!!"
"Apa?!! Bodoh!!!" Ejek Anna lagi dengan senyuman yang kini terukir di wajahnya.
Ray dan Luna merasa sangat bahagia kali ini, melihat Anna sudah mau tersenyum padanya.
...
MATAMU🤣
Rey...rey