Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Perayaan
...Nurhalina...
...────୨ৎ────...
Setelah mengirim video klarifikasi itu kepada Bobbi, Ndaru keluar meninggalkanku di kamar ini sendirian. Kepalaku masih panas dingin akibat ulahnya tadi dan perih kembali menjalar di sekeliling pinggangku.
Kali ini Ndaru memberikanku gamis berwarna cream dan hijab berwarna cokelat tua. Kainnya lembut dan hangat. Akhirnya, setelah beberapa hari aku meninggalkan ibadah, kali ini bisa melaksanakannya lagi.
Aku mengambil air wudlu kemudian menuju jendela yang sempat dihinggapi matahari sore kemarin, dari situ aku dapat mengingat arah kiblat.
Setelah beribadah dan berdo'a, Ndaru tiba-tiba sudah di atas ranjang dengan pakaian rapi. Kemeja hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna merah muda dan celana bahan abu-abu. Rambutnya disisir kebelakang.
"Udah siap, kan, cantik?" ucapnya sambil bangkit dari ranjang, "Waktu kita nggak banyak, ayo!"
Kami melewati beberapa pintu sampai akhirnya kita berada di dalam mobil. Mobil yang sama waktu pertama kali Ndaru membawaku ke sini. Bedanya, kini dia yang ada di sebelah kananku, sibuk menyetir. Kami tak banyak bicara, mungkin Ndaru paham apa yang terjadi padaku.
"Kamu, keren!" ujarnya tak henti memandangiku. "Bahkan, kamu tadi sama sekali nggak pake make-up! Gila, sih!"
Aku hanya mengeryit pelan.
"Kita ke pesta pelantikannya Papa," katanya, sesekali melirik. "Tenang, gak bakal ada Bobbi, dia masih di UGD berkat, kamu!"
Aku ingat jalan ini, jalan menuju lapangan sepak bola. Kali ini sangat ramai, banyak pedagang kaki lima dan motor berlalu-lalang. Sedangkan mobil kami, diarahkan menuju parkiran belakang. Suara musik begitu riuh di angkasa serta Banner seorang Kyai terkenal. Tampaknya ini acara pengajian akbar.
Ndaru menuntunku dengan percaya diri, duduk di tenda paling depan bersama tamu-tamu undangan lainnya, di sebelah Bahlil dan Puan.
"Bagus, kamu datang, Nak!" sapa Bahlil. "Tapi, kenapa kamu bawa—"
"Sstttt... Udah, Papa tenang aja!" potong Ndaru sambil tersenyum tenang.
"Pacar kamu, mana? Masak kamu—"
"Duh, Mama, diam, deh!" potong Ndaru lagi, dan dibalas dengan gelengan kepala sang suami istri.
Ndaru menggenggam tanganku erat, aku bisa merasakan denyutnya yang berdetak lebih kencang. Kami menyaksikan dakwah yang disampaikan oleh kyai terkenal itu, sesekali menahan tawa karena leluconnya.
Kalau kalian mengira kyai yang sedang berceramah di panggung adalah orang tua, kalian salah. Dari tampang dan gaya bicaranya sepertinya kita seumuran, bahkan mungkin lebih muda dari Ndaru. Saatku melemparkan mata ke sekeliling, aku baru sadar kalau kebanyakan yang hadir di pengajian akbar ini adalah kaum hawa.
Ya, mungkin gara-gara wajah penceramahnya yang Baby-face dan sedikit kearab-araban dan pastinya ganteng habis.
Stop Nurhalina.
Kamu itu lagi diculik.
Tapi kalau diculik sama kyai tampan seperti dia, rasanya aku rela-rela saja. Setidaknya aku akan dijanjikan surga, bukan neraka.
Aku menoleh ke wajah Ndaru, membandingkan mereka berdua. Mengingat semua yang telah Ndaru lakukan padaku.
"Ayo, cantik!" ucap Ndaru menarik tanganku. "Sekarang waktunya!"
Bahlil dan Puan sudah di atas panggung, entah kapan mereka naik, tiba-tiba saja ada di sana menyalami pembawa acara dan kyai. Mereka sedang menerima bingkai-bingkai penghargaan dan karangan bunga yang bertuliskan "Selamat Atas Kemenagannya."
Penonton yang didominasi kaum hawa bersorak-sorai, ribuan tepuk tangan meramaikan langit malam ini.
Sedangkan aku dan Ndaru pelan-pelan naik ke atas panggung setelah pembawa acara mengucapkan, "Selamat juga untuk putra tunggal Pak Bahlil yang berhasil menjadi Lulusan Terbaik Fakultas Hukum tahun ini, mudah-mudahan kesuksesan beliau membawa kontribusi baik untuk desa kita yang tercinta ini, tepuk tangan!"
Lulusan terbaik?
Hukum?
Nggak mungkin.