NovelToon NovelToon
CANDUNYA SANG CASANOVA, MALIKAKU

CANDUNYA SANG CASANOVA, MALIKAKU

Status: tamat
Genre:Pernikahan rahasia / Pembantu / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:566.9k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Sean, seorang Casanova yang mencintai kebebasan. Sean memiliki standar tinggi untuk setiap wanita yang ditidurinya. Namun, ia harus terikat pernikahan untuk sebuah warisan dari orang tuanya. Nanda Ayunda seorang gadis yatim piatu, berkulit hitam manis, dan menutup tubuhnya dengan jilbab, terpaksa menyanggupi tuntutan Sean karena ulah licik dari sang Casanova.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

"Kalian!"

Mata Maura mendelik sempurna, menatap dengan sangat tajam pada dua gadis dihadapan yang sedari tadi melontarkan kalimat ejekan.

"Beraninya gadis rendah sepertimu merendahkan ku!" tunjuk ya pada Nanda, berteriak penuh emosi.

Hampir saja gawai ditangan jadi korban jika Febi tak cepat merebutnya. Ponsel mahal itu sayang jika hanya beradu dengan lantai mal. Cepat-cepat Febi menyimpannya di tas.

"Sudahlah, ayo. Ngapain sih kamu mempermalukan diri sendiri?" tegur Febi berusaha menarik tangan Maura, tapi di tepis. Masih belum puas rupanya ia.

"Nggak bisa! Aku harus kasih mereka pelajaran. Terutama babu itu!"

"Maura! Udahlah! Kita jadi tontonan," cegah Febi kembali menarik tangan Maura.

"Iya mbak, udahlah. Mau kasih pelajaran apa juga? Kita mah udah lulus, nggak perlu lagi," timpal Eni.

"Sudah En. Kita pergi saja," ajak Nanda menggandeng Eni.

"Berhenti kalian!" Seru Maura nggak terima, tangannya masih ditahan oleh Febi. Ia berusaha melepaskan karena masih menahan dongkol.

"Maura! Mau ngapain lagi sih?" Febi sudah jengah dengan sikap Maura yang bar-bar ini. Ia sudah menahan malu sedari tadi.

Maura berhasil lepas, dengan langkah lebar mengejar Nanda dan Eni yang sudah menjauh beberapa langkah. Tangannya menarik kasar lengan Nanda, hingga gadis itu menghadapnya.

"Dasar babu rendahan! Beraninya mempermalukan ku!" umpatnya mendelik tajam pada Nanda yang tampak kaget itu. Tangannya terangkat ke udara, dan secepat kilat mendarat di pipi Nanda.

"Hei! Mbak! Apa-apaan ini!?" Eni berseru tak terima."Main pukul aja!"

"Apa?" tantang Maura mengangkat tangannya lagi,"Kau mau juga?"

"Sini! Dikiranya aku takut?" Eni maju menyingsingkan lengan bajunya.

Melihat Eni yang tersulut, Nanda cepat menahannya.

"Jangan, En!" Cegah Nanda. Ia tau Maura pastilah bukan wanita sembarangan, tak mungkin ia melawan wanita kaya dengan kekerasan. Sudah pasti malah mereka yang miskin ini yang mendapat masalah.

"Kamu udah dipukul loh! Dikira dipukul nnggak sakit?"

Nanda menatap Eni memohon sambil menggeleng. Jika hanya dirinya, tak masalah, tapi ia tak mau melibatkan teman yang udah sangat baik padanya. Meskipun terlihat jelas Eni yang masih tak terima.

"Rupanya sadar diri juga kamu! Orang miskin memang seharusnya sadar. Mau melawan orang kaya sepertiku. Jelas kalah." Maura mencemooh, melipat tangan di dada.

"Aku hanya tidak ingin teman baikku yang menanggungnya." Nanda berjalan mendekat sampai ke hadapan Maura.

Mengangkat tangannya tinggi, seketika membuat Maura terhenyak. Berpikir jika Nanda akan memukulnya. Namun, tangan itu hanya tertahan di udara. Maura yang sempat mendelik, semakin melotot keluar matanya. Kenapa Nanda tak jadi menamparnya.

"Aku pikir, sayang tanganku jika dikotori. Hanya untuk membalas pada wanita sepertimu," ucap Nanda sangat halus, namun menusuk. Menurunkan tangannya.

"Apa maksudmu?"

"Kamu pasti tau," sindir Nanda menatap Maura menyeluruh dari atas ke bawah, bawah ke atas lagi.

Merasa terhina dengan tatapan dan ucapan gadis yang ia anggap babu itu. Maura mengangkat tangannya ke udara. Namun, belum sempat mengenai pipi Nanda lagi, tangan itu sudah tertahan oleh tangan lain.

.

.

Sean menyimpan gawainya di saku celananya setelah percakapannya dengan Maura berakhir. Melihat di bawah sana sekumpulan orang yang sedang bersitegang. Ya, Sean memang udah di mal itu, mal yang sama dengan tempat Maura mencegat istrinya. Lebih tepatnya di lantai dua bersandar pada pinggiran pembatas setinggi satu meter. Berjalan menuruni tangga, setelah cukup lama hanya jadi penonton. Kini ia merasa harus turun tangan langsung. Setelah satu tamparan mendarat di pipi gadis hitam manis itu.

Mendekat dari sisi yang kedua pihak tak menyadarinya, melihat tangan Maura yang sudah terangkat lagi ke udara, ia mempercepat langkah. Menahan tangan itu sebelum sempat menyentuh wajah Malika-nya untuk kedua kalinya. Mata elang Sean menatap tajam pada wanita yang sudah ia buang dari hidupnya.

Raut wajah Maura seketika berubah. Bagaimana bisa Sean kini berada di sana. Menahan tangannya dengan sangat kuat.

"Se-Sean!"

Dengan dingin, Sean melepas tangan wanita yang terlihat tegang dengan sedikit dorongan. Sampai Maura terhuyun ke belakang.

Sean berganti menatap Nanda, melihat pipi gadis berkulit hitam itu sedikit memerah. Ia tau itu ulah Maura. Lalu berganti menatap ke arah berlawanan. Maura tampak semakin tegang. Namun, wanita cepat mencair merangkul lengan Sean.

"Sean, syukurlah kamu di sini. Ini nih, pembantumu, tak tau diri banget. Udah mempermalukan ku di depan umum. Pecat dia, ya?" ucapnya manja.

"Apa aku masih kurang tegas padamu?" Sean menarik tangannya.

"Mak-maksud nya?" Wajah Maura kembali menegang.

"Dengar wanita, menjauhlah dariku atau orang-orang yang terhubung denganku. Aku tidak suka, kau mengusiknya seperti ini." Sean menunjuk Nanda, "Hanya karena kau tak bisa menyentuhku lagi," sambungnya berganti menunjukkan wajah Maura kasar.

Tega kamu, Sean!" Mata Maura memerah, dan mengembun. "Kamu lebih membela pembantu rendahan itu dari padaku?"

"Tentu saja, dia milikku."

Deg!

Ada yang desir kala Sean menyebut milikku. Getaran halus yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.

'Sadar, Nanda! Dia seorang pemain. Mulutnya penuh bisa.' Nanda membatin, menyadarkan dirinya sendiri.

"Milikku?" Maura mengulang tak percaya."Jadi kamu menurunkan levelmu dengan wanita rendahan seperti ini? Dia pembantumu kan Sean? Bagaimana bisa seleramu serendah ini?" tuntutnya.

Sean tertawa, mengusap rambutnya ke belakang.

"Aah, sepertinya kau terluka sekali ya."

Sean kini malah menarik dan merangkul bahu Nanda, tersenyum mengejek pada Maura. Nanda mendongak menatap protes.

"Singkirkan tanganmu!" bisik Nanda penuh tekanan.

"Biar saja begini, biar dia makin kesal," balas Sean berbisik."Tenang saja, aku pasti bayar."

Nanda jadi jengkel, mencubit perut samping Sean dari balik punggung. Mata lelaki itu mendelik, mulutnya ternganga menahan sakit. Ia tak boleh menjerit karena cubitan diam-diam Nanda, bisa membuat yang lain curiga.

Wajah Maura berubah merah menahan kesal malu. Bisa-bisa wanita cantik sepertinya kalah dengan gadis seperti Nanda.

"Se-Sean, kamu hanya ingin membuatku kesal saja kan? Karena itu kamu sengaja berbuat seperti ini kan? Kamu sengaja membela pembantu mu ini kan?"

Sean tertawa tanpa suara. Maura terus menolak.

"Maura, aku sudah tidak butuh kamu. Kupikir kamu sudah mengerti."

Sean melepas pelukannya. Mengangkat tangannya, dan menunjukkan cincin nikahnya.

"Ini, lihatlah."

Tepat di depan wajah Maura menunjukkan cincin di jari manisnya.

"Aku sudah menikah."

"Appa?"

Baik Maura, dan juga Febi tersentak. Menatap Sean.

"Benarkah?" Febi bergerak maju sampai tepat di samping Maura. Melihat lebih dekat cincin di jari manis Sean.

"Iya, tanya saja padanya," ucap Sean enteng sekali lagi menunjuk Nanda.

Gadis yang tiba-tiba menjadi perhatian itu malah gelagapan.

"Benar Sean sudah menikah?" Tanya Febi tak sabar.

"A- i- iya." Nanda menjawab gugup.

"Nah, benar, kan?" Sean tersenyum puas, kedua wanita yang pernah menjadi teman kencannya itu melongo gak percaya."Jadi kalian sebaiknya menyingkir. Karna aku sangat mencintai istriku. Kami akan hidup bahagia, jadi mundurlah!" sambung Sean lagi mengibaskan tangan mengusir ke arah dua wanita cantik dihadapan.

Dengan senyum yang masih mengembang, lelaki tampan itu memutar tubuhnya.

"Ayo!" ajaknya pada dua wanita yang juga mematung. Menarik tangan Nanda, dan menatap penuh perintah pada Eni agar mengikutinya.

"Si-siapa?"

Febi berteriak, masih dalam mode tak percaya jika Sean sudah menikah. Karena memang gak ada kabar apapun.

"Siapa wanita yang menjadi istrimu?"

Sean menghentikan langkahnya. Menoleh sedikit, mengembangkan senyuman lagi.

"Malika!"

"Namanya Malika. Dan jangan mengganggu dia lagi," ucap Sean menunjuk Nanda. "Hanya aku yang boleh menyuruh-nyuruh dan menyusahkannya. Jika kalian macam-macam dengannya, aku tak akan tinggal diam."

Sean melanjutkan lagi langkah mendahului. Nanda masih mematung dalam kebekuan, pun dengan Eni yang tak tau harus bagaimana.

"Siapa Malika?" Febi bergumam. Pun dengan Maura yang kini lemas.

1
Yunita Asep
serru banget ceritnya buaaguus.. deh trimksh thor, sehat dan suxes slalu I LOVE YOU..
Cinta_manis: sama2. makasih kak, udah baca sampai bab akhir😍🙏
total 1 replies
Yunita Asep
syukurin.. penyakit mematikan... kamu Rendra...
Yunita Asep
lanjuutt..
Yunita Asep
boleh dong.., ayo tengok biar Nanda tk sedih lagi...
Yunita Asep
mega, ya thorr...
Yunita Asep
serruu..! lanjut thorr..
Yunita Asep
kalo di dunia nyata mna ad kya gitu, ih... nyebelin...
Yunita Asep
lanjut thorr...
Yunita Asep
kalau benar Nanda menemui clarisa, dia sangat bodoh, lanjut thorr...
Yunita Asep
lanjuuttt...
Yunita Asep
keseldeh bcnya...
Yunita Asep
masa iya sih hitam banget... thorr...
Cinta_manis: /Facepalm/
total 1 replies
Yunita Asep
ketauan aj deh gk PP.. lanjut thorr...
Yunita Asep
lanjut thorr serru ceritnya...
Cinta_manis: hehehe, terima kasih Kak
total 1 replies
Yunita Asep
item banget kah thorr.. Nanda?...
Yunita Asep
Nanda pakai pembersih muka dong biar agak putian gitu...
Yunita Asep
huh.. ktanya bukan seleranya... dasar.. pria...
Yunita Asep
syukurin...
Yunita Asep
betul.. betul.. betuulll..,
Yunita Asep
lanjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!