(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Selanjutnya
Ini diluar dugaanku, kalau pada akhirnya aku benar-benar tidur dengan Kin, secara sadar dan dalam kendali. Sungguh perasaan nyaman yang sudah lama tidak kurasakan, membuat candu, menantikan sesi bersamanya lagi.
Kin masih di sampingku, dia tidur lebih cepat. Aku menatap wajahnya, sangat damai dan tenang, berbeda dari biasanya. Hidung yang mancung, kulit yang bersih, bibir yang tebal, dan alis hitam yang lebat. Dia sangat tampan, tapi mengapa hatiku masih sulit untuk menumbuhkan perasaan cinta padanya?
Sebenarnya perasaan mengganjal apa ini?
Aku bergegas memakai baju, hendak mengendap keluar untuk kembali ke kamarku. Tanpa diduga handphone Kin bergetar membuat kebisingan di meja. Aku lekas berbaring, pura-pura masih tidur saat Kin terbangun. Matanya menatap layar handphone, sebuah panggilan masuk.
Wajahnya tegang dan serius selama mendengar pembicaraan. Tak berapa lama setelah komunikasi berakhir, Kin memegang pundak perempuan di sampingnya lembut.
"Kea,"
Aku pura-pura tak mendengar.
"Papa masuk ICU."
Perkataan Kin sontak membuatku terkejut. Aku bangun, membelalakkan mata, masih tak percaya dengan apa yang baru kudengar.
"Kita ke rumah sakit sekarang!", ucapnya sambil menarik tanganku, mengajak bersiap.
Aku dan Kin tiba di rumah sakit. Di lobby kami bertemu dengan Rania, dia memandang dengan wajah pucat.
Aku memandang Rania dengan mata yang tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi?" aku bertanya, suaraku dingin dan tajam seperti pisau.
"Kin, Kea, aku senang kalian bisa datang," Rania berkata, suaranya pelan. "Papa tiba-tiba pingsan sehabis main golf. Aku tidak tahu apa yang terjadi."
"Kamu yakin tidak tahu sesuatu? Atau kamu yang sengaja membuatnya drop sampai seperti ini?"
Kin menarik nafas panjang, tidak ingin aku dan Rania bertengkar. "Cukup, kita harus fokus pada papa."
Tapi aku tidak peduli. Aku terus memandang Rania dengan mata yang tajam, merasa curiga dan benci. "Aku tidak percaya pada kamu, Rania. Jika terjadi sesuatu pada papa, kamulah orang yang pertama ku salahkan!."
Tiba-tiba Luisa datang berlari dan memeluk Kin.
"Kin, aku takut," Luisa berkata, suaranya bergetar. "Aku takut papa tidak akan baik-baik saja."
Kin bingung harus bersikap apa, terlihat ekspresinya bercampur antara bingung dan tidak nyaman. Ia mengelus punggung Luisa. "Papa will be fine."
Aku tidak suka melihatnya, tapi aku malas untuk membuat drama dalam situasi seperti ini. Aku berjalan menjauh dari mereka, mencari tempat yang lebih damai untuk aku berdoa agar papa baik-baik saja.
Tiba-tiba handphone ku bergetar, notifikasi satu pesan masuk.
Ketika keheningan berbicara
Bayangan maut, menghampiri
Tanpa suara
Siapa yang menggaris kematian?
Di tempat yang sunyi, kebenaran bersembunyi
Jariku bergetar, dia kembali lagi dengan pesan terrornya.
Isi pesan menunjukkan kalau peneror tau tentang suasana saat ini di rumah sakit. Refleks aku berdiri, segera berlari ke tempat papa berada, ruang ICU.
Waktu menunjukkan jam dua pagi. Suasana malam ini sangat sunyi, hampir tidak ada aktivitas. Aku berlari dengan napas terengah-engah melalui koridor rumah sakit yang sunyi. Tiba di depan ruang ICU, aku membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, aku melihat papa terbaring di ranjang, wajahnya pucat dan lemah. Aku mendekat ke sampingnya, memegang tangannya.
"Papa?" tanyaku gemetar. Tak ada sahutan, dia hanya terbaring diam dengan mata tertutup. Kekhawatiran dan ketakutanku meningkat seketika. Aku memanggil perawat yang sedang berjaga di ruangan.
Tiba-tiba, suara monitor jantung yang terpasang di dinding berubah dari "bip-bip" teratur menjadi "bip" yang panjang dan kencang.
"Suster! Apa yang terjadi dengan papa saya?".
Seorang dokter dan dua perawat melihat keadaan pasien itu. Mereka menoleh ke arah monitor, membuat beberapa tindakan di tubuhnya, berusaha maksimal untuk meningkatkan kesadaran papa. Seketika wajah mereka pucat.
"Apa yang terjadi?" tanyaku dengan suara parau, hampir tidak terdengar
"Maaf, papa Anda... telah meninggal."
***
Tubuhku terjatuh ke lantai, lututku tidak bisa menopang tubuhku lagi. Rasanya duniaku sudah runtuh. Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau orang yang aku cintai telah pergi.
"Papa..."
Aku berteriak mencari Kin, Rania, dan Luisa, tapi mereka tidak ada. Kemana orang-orang itu disaat genting seperti ini?
Papa hanya satu-satunya yang kumiliki, jika dia tidak ada, lantas bagaimana hidupku?
Aku akan sendirian di dunia ini. Tidak, ini hanya mimpi kan? Aku hanya sedang bermimpi, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang tidak bisa dibangunkan.
Aku melihat sekelilingku, tapi semua yang aku lihat adalah kekosongan. Saat ini aku tidak bisa berpikir dengan jernih, hanya bisa merasa sakit dan sedih.
Tiba-tiba, ada suara panggilan masuk. Aku berharap itu Kin, mencariku. Tapi ternyata dari nomor tidak diketahui. Aku takut dan ragu untuk mengangkatnya, tapi aku akhirnya memutuskan untuk menjawab.
Aku mendengar tawa yang bergelak. "Aku harap kamu suka kejutan kali ini,"
Suara di ujung telepon bertanya dengan nada yang menakutkan.
"Siapa kamu? Apa maumu?" aku bertanya dengan suara yang semakin gemetar.
"Aku hanya seseorang yang ingin membalas dendam," suara itu menjawab. "Aku hanya membalas apa yang orang itu pernah lakukan terhadap hidupku."
"Membalas...dendam?"
"Aku akan membuat kamu merasakan penderitaan seperti apa yang pernah kalian berikan," suara itu menjawab dengan nada yang semakin mengintimidasi. "Kamu harus merasakan sakit dan kesedihan yang sangat dalam. Hahaha.".
Percakapan terhenti.
Aku bertanya-tanya, apakah aku orang jahat? Apa yang telah aku lakukan sehingga seseorang menyiksaku seperti ini? Aku tidak bisa mengingat apa pun yang bisa membuat seseorang membenciku dengan begitu dalam. Rasanya semua tragedi yang terjadi akhir-akhir ini adalah rangkaian hukuman atas kesalahan yang tidak aku ketahui.
Takut, sedih, dan bingung. Apa yang harus kulakukan? Aku hanya bisa duduk di lantai, menangis, dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sedang terjebak dalam teka-teki yang tidak bisa aku pecahkan.
***