NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua

Menjadi Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Selingkuh
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anasta_syia

Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Elena bersiap dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Wanita itu membuka gorden dan membiarkan sinar mentari masuk ke dalam kamar dan memberikan suasana hangat. "Semoga hari ini tidak terjadi sesuatu yang buruk" Elena memegang dadanya dan merasakan degup jantungnya yang begitu cepat berpacu. Ia cemas untuk masuk sekolah pagi ini karena ia bisa memastikan jika satu sekolah pasti sudah tau bahwa dirinya sudah menikah dengan Rafael.

Ketukan di pintu membuat Elena menoleh dengan cepat. Ia melangkah untuk membuka pintu kayu yang begitu menjulang tinggi. "Ada apa, Retha?" tanya Elena saat melihat Margaretha lah yang mengetuk pintu kamarnya.

"Tuan besar dan nyonya besar sudah menunggu nyonya muda di bawah untuk sarapan bersama" ucap Retha dengan senyum manisnya.

"Aku akan turun sebentar lagi" Elena kembali menutup pintunya namun ia urungkan sesaat setelah ia mengingat tentang Rafael. "Retha" panggil Elena membuat Margaretha kembali menoleh.

"Iya?"

"Apa Rafael sudah kembali?" tanya Elena.

"Tuan muda sudah berada di meja makan dan bergabung dengan tuan dan nyonya besar" ucap Margaretha membuat Elena dapat menghembuskan nafas lega.

"Huftt syukurlah" Elena kembali menutup pintu kamarnya dan melanjutkan bersiap-siap. Ia memasang sepatu putih di kakinya dan menyambar tas miliknya lalu melangkah keluar kamar. Ia masuk ke dalam lift untuk bisa sampai di lantai dasar.

"Pagi semuanya" sapa Elena dengan senyuman di wajahnya.

"Pagi sayang" ucap Rachel

"Kau akan sekolah?" tanya Arthur.

"I-iya karena aku kemarin dua hari sudah tidak masuk sekolah jadi aku pikir lebih baik hari ini aku sekolah" ucap Elena dan duduk di samping Rafael.

"Ternyata aku benar-benar menikahi bocah" lirih Rafael dan dapat di dengar oleh Elena.

"Apa katamu?" bisik Elena namun tatapannya penuh dengan tanda tak terima jika dibilang bocah.

"Bocah" ulang Rafael membuat Elena semakin kesal.

"Bukan aku yang bocah tapi kau saja yang sudah tua" balas Elena tak mau kalah.

"Hah? Aku bukan tua tapi pria matang" elak Rafael. Bagaimana mungkin ia dibilang tua sedangkan usianya baru 25 tahun? Ia tak terima dengan hal itu.

"Iya sudah matang dan sebentar lagi gosong" ucap Elena asal.

"Ekhem" Deheman Arthur menghentikan perdebatan suami istri itu. Keduanya seketika menutup mulut. "Kalian mau sarapan atau mau berdebat?"

"Dia yang mulai" ucap Rafael santai.

"Aku? Kenapa aku yang mulai? Bukannya tadi kau sendiri yang bilang bocah duluan ke aku" ucap Elena tak terima.

"Tuh ngakuin kalau bocah" Rafael menggigit rotinya dan mengabaikan ocehan Elena yang begitu nyaring di telinganya.

"Aku bukan bocah" Rafael menatap Elena dan memoet hati aku sekujur tubuh Elena yang berbalut seragam. "Seragam yang kamu pakai itu sudah menunjukkan kalau kamu bocah" ucap Rafael santai.

"Ekhem" Kini giliran Rachel yang berdehem untuk menghentikan perdebatan itu. "Lihat saja ma menantumu ini yang masih bocah pikirannya masih kaya anak-anak"

"Umur tidak menjamin pola pikir seseorang. Contohnya kaya kamu yang udah tua tapi pikirannya masih bayi" balas Elena.

"Apa katamu?"

"Sudah!!" Arthur menatap tajam keduanya yang tidak berhenti berdebat.

"Berhenti berdebat dan makan" ucap Rachel. Elena mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Ia melirik Rafael dengan tatapan penuh permusuhan.

"Dasar tua" gumam Elena

"Bocah!!"

"Tua!!"

"Kalian masih mau lanjut?" ucap Arthur penuh penekanan di setiap ucapannya. Ia melirik Rafael dan Elena secara bergantian sedangkan yang dilirik hanya bisa memasang senyum palsu.

"Makanya pemikiran jangan kaya bayi" Rafael menatap wajah Elena dengan tatapan sengit. "Kamu yang kaya bayi" balas Rafael tak mau kalah.

"Sudah!! Sekarang kalian berdua berangkat sana. Rafael, antar Elena pergi ke sekolahnya" ucap Rachel

Elena menggendong tas nya dengan gerakan kasar sembari menatap Rafael seolah binatang buas yang tak akan meloloskan mangsanya. Begitupun dengan Rafael yang menggigit rotinya dengan gerakan kasar.

"Lihat mereka ma" Arthur menggelengkan kepala melihat tingkah Rafael dan Elena.

"Sepertinya mama harus beli obat sakit kepala" ucap Rachel dengan memijit pelipisnya yang terasa pening.

Rafael dan Elena berjalan beriringan namun tatapan keduanya tidak tertuju ke depan. Mereka saling menatap satu sama lain namun bukan tatapan penuh cinta melainkan tatapan permusuhan.

"Bukannya kau sudah diberi papa mobil? Apa perlu aku belikan mobil lagi? Mau berapa? 10? 20? Jadi kau bisa pergi ke sekolah sendiri" ucap Rafael.

"Apa gunanya punya suami?" tantang Elena.

"Jadi kamu bilang aku gak berguna?" tanya Rafael memastikan.

"Sepertinya begitu. Karena baru saja suamiku bilang kalau aku harus berangkat sendiri ke sekolah padahal kan dia masih hidup yang bisa mengantar jemput aku ke sekolah" ucap Elena dengan memainkan jari-jemarinya.

"Oke kalau begitu mulai sekarang aku yang akan antar jemput kamu. Jangan bilang aku tidak berguna lagi atau jika tidak.... "

"Jika tidak apa?"

"Aku akan melakban mulutmu" ucap Rafael kesal sedangkan Elena hanya tertawa puas.

1
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
jgn ngelamun fokuss
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
felik cemangat ngedekeyin gebetan 😄😄😄
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
nah bener tuhh udah gede jgn males waktu nya belajar untuk mandiri... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!