"Oh my God, kamu ganteng banget, pokoknya kamu harus jadi pacar aku titik!!"
"Apaan sih gak jelas"
❄️❄️❄️
"Kak Ken, Caca cinta sama kakak kapan sih mau jadi pacar Caca"
"Sampai kapan pun gue gak bakal mau jadi pacar Lo"
❄️❄️❄️
Hicca Elenza, sering di panggil Caca yang cinta mati pada pandangan pertama kepada teman dari kakak sepupunya, Kenan Alaska cowok ganteng tapi sayangnya kegantengan tertutup dengan wajah datarnya. Tetapi itu tidak menjadi halangan bagi Caca untuk mencintai seorang Kenan
Kepo gak? Kepo gak? Baca lah kalau kepo masa cuman di buka doang, rugi dong kalau ga baca
anjirrr bercanda hehehe terserah kalian mau baca atau engga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitriishn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
HAPPY READING
Malam hari pulang bekerja Kenan segera pulang ke apartemennya, sesampainya ia disana, tak sengaja ia melihat kearah pintu apartemen milik Jelita yang terbuka, ia bisa melihat mamah Jelita dan juga Jelita yang sedang duduk di sofa apartemen tersebut.
Dengan tulus hati Kenan menghampiri ibu dan anak itu. "Gimana udah sembuh, Tante?" Tanya Kenan melihat wanita paruh baya itu dengan iba.
"Syukur udah membaik, kata dokter hanya perlu perawatan dirumah saja." Ujar Jelita menjelaskan.
"Dia pacar kamu kan nak?" Tanya mamah Jelita tiba tiba, keduanya saling menatap kebingungan mencari jawaban.
"Enggak mah, ini teman aku dia yang selalu temanin Jelita dan jaga mamah." Ucap Jelita dengan tutur kata yang sangat lembut.
"Nama kamu siapa?" Tanya mamahnya lagi dan lagi.
"Nama saya Kenan Tante." Ujar Kenan memperkenalkan dirinya dan sedikit membungkuk.
"Kamu selalu temani Jelita kapanpun yah, jangan biarkan dia sendiri." Nasehat mamahnya dan hanya dibalas anggukan oleh Kenan.
Mamah Jelita terus bercengkrama panjang lebar.
"Iya Tante saya akan berusaha untuk menjaga Jelita kapanpun."
"Kamu janji?"
Kenan terdiam sebentar lalu menjawab. "Saya gak bisa janji Tante, tapi saya akan berusaha sebisa saya."
"Iya seharusnya begitu, dan blalalaa."
Setelah mendengar ocehan mamah Jelita, Kenan berpamitan untuk pulang.
Di apartemennya Kenan mencek ponselnya melihat notifikasi dari Caca.
Caca.
Kak kenn.
Panggilan video/tak terjawab3X.
Yah udah kalau gak diangkat.
Caca mau tau aja besok berangkat sama Caca gak?
Soalnya kak Andrew ngajak berangkat ke sekolah bareng.
Kalau kakak setuju, Caca mauin kalau enggak Caca gak bakal iyain.
^^^Anda.^^^
^^^Gak usah di iyain.^^^
Caca.
Tapi Caca udah iyain.
Kakak sih kelamaan balasnya keburu Caca balas deh.
Jangan marah yah kak kenn.
Cuman sekali doang kok.
^^^Anda.^^^
^^^Yah udah gakpapa, tapi ingat jaga jarak.^^^
Caca.
Siappp kakk.
Setelah membaca pesan Caca, Kenan segera pergi menuju kamar mandi.
❄️❄️❄️
Pagi ini Kenan bersiap siap berangkat ke sekolah, seperti biasa ia akan melewati apartemen milik Jelita, didepan pintu terdapat mamah Jelita yang sedang berdiri.
"Kamu cowok semalam kan?" Tanya mamah Jelita
"Iya Tante."
"Kamu berangkat bareng sama Jelita yah kasihan dia." Bujuk mamah Jelita
"Mah aku bisa baik pesan taksi kok, gak usah repotin Kenan lagi."
"Kamu mau kan nak?" Tanya beliau lagi dan lagi.
Kenan tak bisa menolak permintaan beliau dan ia hanya mengangguk menjawab.
"Tuh dia aja mau, sana kamu berangkat, hati hati dijalan."
Keduanya berpamitan dan pergi. "Maaf nyokap gue ngerepotin." Ujar Jelita.
"Gakpapa." Ucap Kenan singkat dan terus berjalan.
Jelita tak berani memulai percakapan lagi, ia takut sama Kenan.
❄️❄️❄️
Sedangkan dirumah Caca, Andrew sudah bersiap duduk diatas motornya menunggu Caca keluar.
Beberapa detik berikutnya Caca keluar terbirit-birit. "Aduhh maaf yah kak Drew, aku lama." Ucap Caca.
"Gak usah minta maaf kali ca, sloww aja lagian ini belum terlambat." Ucap Andrew.
"Iya sih, yah udah yok kak berangkat." Ucap Caca naik kejok belakang milik Andrew dan menepuk pundaknya dua kali.
Saat di lampu merah tak sengaja Caca melihat Kenan yang berboncengan dengan perempuan yang tak di kenalnya.
Keduanya tampak mesra walau perempuan itu hanya memegang ujung jaket kenan, tapi Caca cemburu walau cuman gitu aja.
"Itu kak Ken kan? Caca gak salah lihat?" Tanya Caca pada Andrew, ia melihat kearah yang ditunjukkan oleh Caca.
"Iya, dia sama siapa?"
"Caca juga gak tau kak."
Detik berikutnya lampu berubah menjadi hijau, Kenan pergi berlawanan arah dengan mereka.
"Itu serius kak Ken gak sih? Kok sakit banget yah." Keluh Caca.
"Positif thinking aja, mungkin dia pacar keduanya hahah." Tawa Andrew garing.
"Gak lucu tau." Kesal Caca.
Sesampainya disekolah Caca segera pergi tanpa berpamitan kepada Andrew, dengan cepat Andrew mengejar Caca yang masih kesal.
"Yah elah ca, gitu aja ngambek, jangan masukin hati." Ujar Andrew.
"Gak masuk hati, masuk ginjal yang ada huh." Kesal Caca melangkah dengan cepat.
Andrew tertawa melihat tingkah lucu Caca. "Gitu aja lo cantik ca." Ucapnya pelan dan tersenyum sembari berjalan.
"Dorrr." Ucap Dika yang tiba tiba datang menghentikannya senyum Andrew.
"Ngagetin Lo."
"Kan emang niatnya gitu."
"Terserah." Ucap Andrew berjalan diikuti oleh Dika
"Idih kayak cewek Lo begitu."
"Biarin."
"Lo kenapa dah, aneh banget."
"Urusan gue kok Lo yang sewot."
"Yakan gue teman Lo, gimana sih."
Andrew tak lagi menjawab perkataan Dika ia masuk ke kelasnya segera menuju meja miliknya.
Tak lama kemudian bel pertanda masuk berbunyi, semua murid berbondong bondong masuk kedalam kelas.
Kelas Andrew saat les ini adalah pelajaran pjoka, sama dengan kelas Caca.
Semua murid disuruh ganti baju dan segera menuju lapangan.
Lapangan kelas X dan kelas Xll tidak terlalu jauh maka kedua guru olahraga itu memutuskan untuk menyatukan kegiatan kedua kelas itu, yaitu dengan bermain basket.
Caca suka akan hal itu, sebab ia lumayan mahir dalam bermain basket.
Awalnya hanya bermain begitu saja tetapi ia diajak oleh Andrew untuk main basket berdua saja.
Seolah tertantang Caca menyetujui ajakannya itu. "Kalau kalah apa hukumannya?" Tanya Caca
"Hmm, hukumannya jadi babu yang menang." Ucap Andrew.
"Okee." Ujar Caca siap dan langsung berjalan ketengah lapangan, begitu juga dengan Andrew.
Keduanya menjadi tontonan dua kelas tersebut. "Siap?" Tanya Andrew.
"Selalu." Ujar Caca mengambil ancang ancang.
Dika yang menjadi wasitnya melempar bola, keduanya saling berlari hingga Caca mendapatkan bola itu, Caca mendribbling bola dengan mahir dan berlari menuju keranjang milik Andrew.
Dengan siap siaga pula Andrew merebut bola itu dari Caca, dan tak memberi cela untuk Caca merebut kembali bola tersebut.
Tetapi tak tinggal diam Caca melakukan teknik defense agar Andrew tidak bisa memasukkan bola tersebut kedalam keranjangnya.
Tetapi Andrew berhasil melakukan shooting dan yap, masuk kedalam keranjang milik Caca.
"1-0" teriak Dika.
"Lumayan." Ucap Caca dan segera mengambil bola yang terjatuh.
Dengan cepat ia berlari ke keranjang milik Andrew dan melakukan shooting dari luar garis, hal yang sama Caca mendapatkan skor tetapi skornya 3 poin, sama seperti Andrew tetapi Andrew hanya satu saja.
"Aku juga bisa." Remeh Caca.
"Keren." Bangga Andrew memberi jempol kepada Caca.
Permainan berlanjut hingga bel istirahat berbunyi. Tetapi belum ada yang menang, skor keduanya sama yaitu 5:5.
Lapangan full dengan orang orang yang menonton keduanya. Hingga pada akhirnya Caca yang memenangkan permainan itu. "Aku menanggg, aku menangg, sekarang kamu babu akuuuuuu." Ucap Caca dengan gembira tak peduli dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Banyak suara sorakan dari siswa siswi menatap kagum pada Caca.
Tak peduli dengan itu, Caca berjalan menuju pinggir lapangan dan duduk disana dan ia segera menyuruh Andrew untuk melap keringatnya. "Babuuu tolong dong keringat aku dilap, trus bawain minum untuk kanjeng ratumu ini."
Terpaksa Andrew mengangguk dan mengambil sebotol mineral dan handuk kecil.
Andrew datang dan memberikan sebotol air mineral itu kepada Caca dan melap keringat yang ada di pipi Caca. "Serius ca Lo hoki banget pokoknya gue suka."
"Bukan hoki, Caca tuh udah keren dari dulu."
"Ya ya ya, gue akui kehebatan Lo."
Caca tersenyum penuh kemenangan, hingga Kenan dan kedua temannya datang menghampiri mereka.
"Kamu hebat, aku suka." Bangga Kenan dengan senyum tipisnya.
"Iya dong pacar kamu ini." Bangga Caca memukul dadanya bangga.
"Sumpell ca Lo belajar dari mana kok jago sih?" Tanya Rendi kepo.
"Keknya bukan karena belajar deh, keturunan keknya dari papah aku jago main basket."
"Wahh Spil bapaknya dong, gue juga mau." Ujar Rendi hanya bercanda.
"Apa sih kak gj loh."
"Ganteng juga." Ujar Rendi menaik turunkan alisnya.
"Udah lah kantin yuk lapar gue." Ucap Aksel dianggukki mereka.
"Ehh tunggu dulu." Ucap Caca tiba tiba dan mereka menatap heran pada Caca.
"Babuu, ratumu ini lagi capek jadi kamu harus gendong sampai kantin." Ucap Caca menyebalkan.
"Yaelah ca gue juga capek kali."
"Gak peduli, bodo amat, yang penting ratu lagi capek." Ujar Caca.
Dengan perasaan yang dongkol Andrew berjongkok dihadapan Caca, dengan senang hati Caca naik ke punggung milik Andrew. "Jalan babu." Ujar Caca senang.
.