Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Langit sore itu membentang teduh, angin berembus lembut menyapu wajah Jihan, membawa aroma tanah dan rerumputan basah. Rumput di tepi jalan setapak bergoyang ringan, sementara kicauan burung dari balik pepohonan terdengar merdu, seolah alam sendiri tengah merestui langkahnya. Dalam benaknya, kata-kata Kepala Desa terus menggema, menyalakan bara yang kini telah menyala menjadi api.
Langkahnya menuju gubuk kini terasa berbeda. Gerakannya mantap dan berirama, seakan setiap pijakan adalah penegasan atas keputusan barunya. Sebuah kontras yang begitu tajam dibanding langkah gontai penuh keputusasaan yang ia jalani beberapa hari lalu.
Beberapa penduduk desa yang melihatnya dari kejauhan tampak kebingungan. Tatapan mereka masih menyimpan kebencian, namun kali ini ada rasa jengkel dan gusar melihat anak yang mereka kira sudah hancur justru berjalan dengan dagu terangkat, seolah dunia tak lagi mampu membebaninya.
Jihan merasakan semua tatapan itu. Kemarin, cemoohan itu menusuk hingga ke relung hati, tapi kini rasanya tak lebih dari gema kosong di kejauhan… berisik, namun tak sanggup menyentuhnya.
Akhirnya, langkahnya berhenti tepat di ambang pintu gubuknya yang reot. Ia berhenti sejenak, menatap pintu kayu yang beberapa hari lalu terasa seperti dinding yang tak bisa ia tembus. Kali ini, tidak ada keraguan. Tangannya terulur mantap, mendorong pintu itu hingga terbuka dengan suara derit yang familier.
Di dalam, Wulandari, ibunya, masih terbaring lemah di pembaringan sederhananya.
Dengan langkah yang mantap dan penuh tujuan, Jihan menghampirinya. Ia berlutut di sisi pembaringan, menatap wajah ibunya yang terlelap, lalu menyentuh lengannya dengan lembut.
“Ibu... Jihan pulang.”
Mendengar suara putranya, kelopak mata Wulandari perlahan terbuka. Pandangannya yang semula samar akhirnya berhasil fokus pada wajah Jihan yang berdiri di dekatnya.
Wulandari tertegun sejenak. Anak laki-laki yang berdiri di hadapannya kini terasa begitu berbeda dari sosok putus asa yang ia lihat kemarin. Wajah muram itu telah lenyap, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan penuh dengan api tekad yang baru.
Sebuah senyum tulus dan lega akhirnya terukir di bibirnya yang pucat.
“Syukurlah…” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.
Ia menatap Jihan lagi, matanya yang sayu kini memancarkan kehangatan yang tulus.
“Anak Ibu yang kemarin hanya bisa meringkuk di sudut gelap…hari ini pulang dengan membawa matahari di matanya.”
“Apa yang telah kau temukan di luar sana, sayang, hingga bisa membawa kembali api di matamu?”
Pertanyaan lembut itu menggantung di udara gubuk yang hening. Jihan tidak langsung menjawab, ia menarik napas dalam-dalam.
Selama ini, ia selalu menanggung bebannya sendirian, menyembunyikan rahasianya rapat-rapat, berpikir bahwa itu adalah cara terbaik untuk melindungi ibunya dari kekhawatiran.
Namun kini, menatap mata ibunya yang penuh cinta, ia sadar. Melindungi ibunya bukan berarti bersembunyi di balik kebohongan, melainkan memercayainya dengan seluruh kebenaran.
Maka, ia memutuskan untuk menceritakan segalanya.
“Jalan yang selama ini aku cari, Bu…” ucapnya pelan, matanya menatap lekat-lekat pada ibunya.
“Ternyata… ada di dalam diriku sendiri.”
Wulandari mengernyitkan dahi, ekspresinya yang penasaran seolah meminta penjelasan lebih.
“Ingat saat aku menghilang di Hutan Timur?”
Jihan memulai ceritanya, suaranya pelan dan hati-hati.
“Sebenarnya… aku sedang melindungi seorang gadis dari terkaman binatang buas.”
“Saat itulah, Bu… saat aku terdesak dan nyaris kehabisan napas karena berlari… aku menyadari sesuatu. Ada kemampuan aneh di dalam tubuhku. Semakin aku lelah, semakin napasku memburu, justru ada energi baru yang mengalir.”
“Energi itulah yang memberiku kekuatan untuk melompati pohon besar yang tumbang menghalangi jalanku.”
Ia berhenti sejenak, sebuah pemahaman baru yang ia temukan beberapa waktu yang lalu, menerangi matanya.
“Dan semua pekerjaan kasar untuk Kepala Desa… Mungkin selama ini aku sudah menggunakan kemampuan ini tanpa sadar. Mungkin itulah mengapa fisikku begitu kuat, Bu.”
Setelah mengungkapkan semua itu, napas Jihan terasa memberat. Ia menunduk, tidak berani menatap ibunya, nadanya penuh penyesalan saat ia melanjutkan,
"Maafkan aku ...."
"Maaf karena telah berbohong dan menyembunyikan semua ini darimu."
Wulandari tertegun mendengarnya. Tatapannya tertuju penuh pada anak lelakinya, menimbang setiap kata. Ia tahu, memang benar Jihan memiliki kekuatan fisik yang jauh melampaui anak seusianya. Namun, dalam diam pikirannya melayang pada masa lalu, kenangan pahit yang seharusnya tetap terkubur.
‘Apa ini… mungkin ada hubungannya dengan itu?’
Ia menggeleng pelan, seakan berusaha menepis bayangan itu. Namun kesadarannya kembali saat suara Jihan kembali terdengar, menembus hatinya.
“Ibu… tolong, jangan khawatir.”
Jihan menangkap perubahan ekspresi pada wajah ibunya itu sebagai beban yang kini seolah ia lemparkan begitu saja. Mungkin ia telah mengungkap terlalu banyak, atau mungkin ia salah memilih kata.
Rasa bersalah kini kian membuncah di dalam dirinya.
Melihat penyesalan yang terpancar di mata putranya, Wulandari tersadar dari lamunannya. Alih-alih melepaskan, ia justru membalas dengan menggenggam tangan Jihan yang mungil namun sudah terasa sedikit kasar. Genggaman itu tidak kuat, tubuhnya terlalu rapuh untuk itu, namun tetap mantap dan hangat, seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa terbebani oleh apa pun yang dikatakan putranya.
“Sayang… Ibu tidak pernah merasa keberatan. Setiap orang pastilah punya rahasia yang mereka pikul sendiri. Ibu percaya kau punya alasan yang baik.”
Ia berhenti sejenak, senyumnya yang lembut seolah memberi Jihan kekuatan.
“Bagiku, itu bukan kebohongan, Nak. Itu adalah tanda bahwa kau berusaha melindungiku, tanda bahwa kau sudah tumbuh dewasa.”
Setelah membiarkan kata-kata itu meresap, barulah ia bertanya, nadanya kini beralih, penuh dengan harapan baru.
“Jadi… apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Jihan menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangannya, seolah ingin menyalurkan keyakinan yang baru saja ia temukan. Tatapannya kini lurus dan mantap, tak ada lagi keraguan di sana.
Dengan suara yang bulat dan tegas, ia berkata,
“Aku akan memulai pelatihanku sendiri, Ibu!”
Wulandari tidak tampak terkejut, hanya menatapnya dengan sorot mata yang meminta penjelasan lebih lanjut.
“Bagaimana kau akan memulainya, Nak?”
“Aku akan mulai dengan apa yang kumiliki,”
“Aku akan melatih fisikku hingga ke batasnya. Aku akan melatih pernapasanku, seperti yang tanpa sadar kulakukan di hutan.”
“Setiap sore hingga malam, setelah pulang kerja dari rumah kepala desa aku akan pergi ke Sungai Batu, tempat di mana mungkin aku bisa merasakan energi yang mengalir didalam diriku.”
Napasnya sedikit memburu karena antusiasme.
“Aku akan melewati batasku, Ibu! Aku akan membuktikan bahwa mereka semua salah!”
Pernyataan itu menggantung di udara, membawa serta tekad yang membara ke dalam gubuk kecil itu. Keheningan menyelimuti, namun bukannya menyesakkan, justru melahirkan harapan yang mulai tumbuh.
Wulandari menatap anaknya, mencoba mencari keraguan di balik tatapannya. Tapi ia tak menemukan apa pun selain keyakinan yang utuh. Ia pun menghela napas, lega sekaligus terharu. Anak itu… tetaplah Jihan yang ia kenal.
“Bagus nak! Jadi kapan kamu akan memulainya?”
“Hari ini juga bu!”
“Eh?”
Wulandari tertegun, tak menyangka jawabannya akan begitu cepat.
‘Hari ini juga? Tapi tubuhnya pasti masih lelah,’
Pikirnya cemas. Namun, lamunannya terputus oleh suara Jihan yang kembali terdengar, nadanya tegas namun lembut.
“Karena itu, aku di sini untuk berpamitan. Ibu tidak perlu mencemaskanku.”
Ia kembali menggenggam tangan ibunya, sebuah genggaman terakhir yang erat dan penuh keyakinan, sebelum akhirnya bangkit berdiri. Lantai tanah di bawah kakinya berderit pelan, satu-satunya suara dalam keheningan itu. Jihan tahu, jika ia tetap tinggal lebih lama, hatinya hanya akan semakin bimbang. Jadi, ia melangkah menuju ambang pintu.
Dari belakang, Wulandari menatap punggung putranya, punggung yang kini tegak, menyiratkan keteguhan hati yang bahkan ia sendiri tak akan mampu goyahkan. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan doa, Wulandari akhirnya bersuara.
“Hati-hati di jalan, Nak. Malam di sungai sangatlah dingin. Jika kau menemukan bahaya, berjanjilah untuk segera kembali.”
Di ambang pintu, Jihan hanya mengangguk tanpa menoleh. Langkahnya mantap saat ia melangkah keluar, dan suara pintu berderit menutup di belakangnya terasa seperti sebuah titik akhir, meninggalkan Wulandari seorang diri di dalam gubuk.
Namun, Jihan tidak menyadari apa yang terjadi sesaat setelah ia pergi.
Kehangatan di mata Wulandari lenyap. Wajahnya yang tadi tersenyum kini mengeras menahan sakit. Ia terbungkuk, dan suara batuk yang kering dan kasar meledak dari mulutnya, mengguncang seluruh pembaringan.
Dan saat batuk itu mereda, perlahan, sesuatu yang ganjil mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Bukan keringat, melainkan aura tipis berwarna hitam pekat, berputar-putar seperti asap jelaga. Itu adalah hawa yang dingin, dan penuh kejahatan.
Hawa Iblis.