Nana Ayunda adalah gadis cantik yang ceria dan selalu mengutamakan kebahagian orang terdekatnya. Terutama Mama dan Abangnya.
Ia juga selalu menyingkat nama orang sesuka hatinya.
Nana menyukai sahabat kakaknya yang hanya dianggap adik olehnya, akankah Nana bisa mendapatkan cintanya yang penuh perjuangan itu? Atau akan dianggap seorang adik untuk selamanya?
ikuti kisah Nana Ayunda dengan penuh canda dan air mata.
Selamat membaca Terima kasih
mohon dukungannya🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kak meyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Apa aku menelponnya sekarang dan mengatakan aku tidak bisa bersamanya lagi, dengan kata lain aku menarik kata-kata ku tadi jika aku ingin berjuang bersamanya, tapi pasti dia akan kecewa." Gumamnya pelan. Sehingga Nana berpikir cukup keras apa yang harus dia katakan kepada Zaidan nantinya, apa Nana harus berterus terang saja.
Tak lama ponsel yang di pegangnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, dia kemudian melihat ponsel itu dan betapa terkejutnya saat membaca pesannya. "Aku tunggu di bawah, ayo kita kabur bersama."
Nana hanya membaca pesan dari Zaidan, dia tak ada niatan untuk membalasnya sama sekali, sehingga sesaat ponsel yang di pegangnya berdering. Awalnya dia tak ingin mengangkat ponselnya, tapi ponsel itu kembali berdering sehingga mau tak mau dia terpaksa mengangkatnya.
Nana kemudian masuk ke dalam kamar mandi takut jika Keri mendengarnya di balik pintu karena ruangan Nana tidak kedap suara.
"Halo..." Nana mencoba menguatkan hatinya, kali ini dia harus tegas terhadap Zaidan.
"Mas tunggu di bawah sayang, ayo kita pergi bersama." Jawab Zaidan di luar rumah Nana dengan grasak-grusuk seperti yang Nana dengar.
"Aku tidak mau, Mas aja yang pergi sendiri." Zaidan yang mendengarkan perkataan Nana menjadi terkejut.
"Maksud kamu apa Na?"
"Aku tak ingin ikut denganmu Mas, apa lagi kamu ingin mengajakku kabur, kamu seperti pria pengecut saja, bukannya menyelesaikan masalah tapi malah memilih untuk menghindarinya dan ini akan menambah masalah nantinya."
"Tapi sayang Mas_" Belum juga Zaidan melanjutkan perkataannya, tapi Nana malah dengan cepat memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Mas, sepertinya aku berubah pikiran, aku tak mau lagi kembali denganmu, jika kamu mau bersamaku maka kamu harus berjuang sendiri demi membuktikan kepada Abang dan Mama Puspa jika kamu sudah berubah. Tapi kalau kamu tidak sanggup lebih baik kita pisah saja." Nana mematikan ponselnya, tanpa menunggu jawaban dari Zaidan.
"Saatnya kamu yang berjuang mas, bukan aku lagi, tapi jika kamu tak mampu maka aku ikhlas jika kita harus berpisah." Lirihnya dengan tersenyum getir.
Sedangkan Zaidan menjadi bingung terhadap sikap Nana yang tiba-tiba berubah dalam waktu singkat, walau dia bingung tapi Zaidan tetap memilih pergi dari tempat itu, takut Keri akan melihatnya dan menjadi panjang nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengambil berkas yang tertinggal di rumahnya, Keri kemudian kembali ke kantor karena hari ini pekerjaannya cukup banyak, dia mengesampingkan permasalahan adiknya, demi agar bisa fokus bekerja.
Tak lama ada yang mengetuk pintu ruangan kerjanya dan Keri menyuruhnya untuk masuk.
"Maaf Pak menganggu, di luar ada seseorang wanita yang ingin bertemu dengan bapak." Keri yang merasa tak punya tamu hari ini mengernyitkan dahinya bingung, siapa yang ingin bertemu dengannya batinnya.
"Suruh saja dia masuk."
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Keri hanya menganggukkan kepala, sedangkan karyawannya itu segera keluar dari ruangannya dan mempersilahkan wanita itu masuk.
Keri yang tak ingin kembali pusing memikirkan siapa yang datang berkunjung ke kantornya, kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tak lama orang itu mengetuk pintu dan Keri segera menyuruhnya untuk masuk.
"Masuk." Ujar Keri dari dalam.
Wanita itu pun masuk dengan langkah pelan seperti gugup saja. "Keri... Apa aku mengganggu?" Tanya wanita dengan pakaian casual yang terlihat sangat cantik, agar Keri beralih menatapnya bukan malah sibuk bekerja setelah menyuruhnya untuk masuk.
Setelah mendengar seseorang memanggil namanya, Keri kemudian menoleh kepada suara tersebut, dan betapa terkejutnya yang datang ternyata adalah Nadia, mantan ke kasihnya.
Keri hanya terdiam terpaku di meja kerjanya tanpa mengatakan apapun, setelah sekian lama Keri bisa bertemu dengan Nadia, terakhir kali saat resepsi pernikahannya.
"Apa aku boleh duduk?" Tanya Nadia dengan memecah keheningan yang ada. Keri yang yang terpaku menatap Nadia seketika tersadar dari lamunannya.
"Silahkan duduk." Jawab Keri yang mempersilahkan Nadia duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya.
"Bagaimana kabarmu Keri," Tanya Nadia enggan untuk berkedip setelah melihat wajah Keri yang begitu dia rindukan selama ini.
"Aku sangat baik Nad...! Ada apa kamu datang ke sini dan di mana suamimu.?" Tanya Keri menatap intens Nadia dengan beranjak duduk di dekatnya.
Nadia tiba-tiba saja menundukkan wajahnya, dia seketika sedih karena Keri tiba-tiba saja membahas Riyan.
"Aku sudah berpisah dengannya." Jawab Nadia dengan lirih, sesaat Keri melihat di wajah ayu Nadia terdapat luka yang begitu dalam saat dirinya bertanya tentang Riyan.
Keri seketika terkejut bukan main, dia tak menyangka jika Nadia dan Riyan akan berpisah, padahal pernikahan mereka baru seumur jagung, ini sangat di luar perkiraannya, dulu Keri mengira mereka akan bahagia tapi ternyata sebaliknya.
Setelah berbincang-bincang dengan Nadia cukup lama, akhirnya Nadia pamit untuk pulang, sebenarnya dia ingin di antar oleh Keri tapi ternyata Keri tak menawarkan kepadanya, sehingga dengan berat hati terpaksa dia pulang sendiri.
Setelah Nadia keluar dari ruangannya, keri memijit pangkal hidungnya, cerita Nadia membuatnya kasian, tapi mengapa getaran cinta dulu yang selalu dia rasakan bersama Nadia sudah tidak ada lagi, Keri membiarkan Nadia bercerita untuk menghilangkan sedikit beban yang ada di dalam hatinya .
"Dulu aku sangat mencintai Nadia sampai aku rela melakukan apapun untuknya, tapi dia malah memilih menikah dengan Riyan sahabatku sendiri yang aku suruh menjaganya. Tapi sekarang Nadia dan Riyan bercerai padahal pernikahannya baru beberapa bulan, dan apa tadi katanya... Dia menyesali keputusannya menikah dengan Riyan, Nadia bahkan berniat kembali lagi kepadaku." Keri tersenyum kecut ketika mengingat perkataan Nadia.
"Memangnya aku ini apa, bisa di buang dan di pungut sesuka hatinya." Keri tertawa sumbang.
Nadia bercerita jika Riyan selama ini tak mencintainya, Riyan hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang di lakukannya dulu saat di luar negeri, sehingga Riyan menikahi Nadia. Riyan ternyata mempunyai wanita lain yang Keri yakini adalah Aisyah sepupu dari Zaidan.
Keri beberapa kali bertemu dengan Aisyah di rumah sakit tempatnya bekerja, dan di situlah dia mulai dekat dengan Aisyah.
Keri mengha nafasnya berat, dia tak menyangka perjalanan cintanya serumit ini, Hufff... sepertinya aku sudah mulai gila Gerutunya.
...****************...
"Apa aku harus menikahi Aisyah dengan begitu sakit hatiku bisa aku balaskan kepada Riyan dan Zaidan sekaligus. Aku tau Riyan begitu sangat mencintai Aisyah sedangkan Aisyah sendiri adalah sepupu dari Zaidan, Adil bukan..." Batinnya bertanya-tanya.
🌹🌹 buat kakak author biar semakin semangat update 💪🥰🥳🥳
malah bakal bikin bang Keri tambah marah itu mah . 🤦♀️
maaf ya, Kaka author. ikut esmosi baca nya 🙏