[REVISI]
.
.
.
Akibat masyarakat yang memiliki tradisi kolot, mereka terpaksa melakukan pernikahan di bawah tangan hanya karena berteduh dari hujan disebuah pos kampling. Dua orang yang tidak saling mengenal itu diikat dalam ikatan yang sakral secara tiba-tiba.
Qiana Nadhifa, gadis yang dikenal pendiam dan jarang keluar rumah itu pun seketika menjadi hujatan masyarakat. Tidak ada yang mempercayainya, bahkan Ibunya sendiri memojokkannya sehingga ia menikah dengan laki-laki yang tidak dikenalnya.
"Kamu istriku. Aku akan menerima kekurangan mu dan terimalah kekurangan ku sebagai seorang suami." Abhaya Chandra.
Apakah pernikahan keduanya berujung keberkahan Allah? Bagaimana keduanya bersatu dengan perbedaan dan masa lalu mereka?
Author Note: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh dan setting cerita, semua murni kebetulan. Semoga pembaca suka dengan karya keempat saya...
Terimakasih atas dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Sebelum Hari H
Qiana dan Chandra masing-masing memegang surat hasil pemeriksaan yang menyatakan mereka sehat dan tidak ada masalah dengan kesehatan mereka. Hanya saja, Kata-kata yang diucapkan Dokter Didik berulang-ulang masih terngiang di kepala keduanya.
"Jika berhubungan intim gunakanlah pelindung minimal sampai 2 bulan."
Yang ada dipikiran Chandra adalah mencari pelindung yang aman, tetapi sebelum itu ia harus membiasakan Qiana dengan sentuhannya. Sedangkan yang ada dipikiran Qiana adalah bagaimana mengatasi trauma nya untuk bisa melangkah kesana. Ia tidak mungkin terus seperti ini, bisa-bisa suaminya akan mencari yang lain. Naudzubillah...
"Kalian tidak pulang?" tanya perawat yang kebetulan lewat didepan mereka.
"Iya, sebentar lagi." jawab Qiana asal.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berdua keluar dari Puskesmas dan menuju parkiran mobil. Baik Qiana maupun Chandra masih diam tanpa mengucapkan apa-apa sampai mobil keluar dari area Puskesmas.
"Mas..." "Dek..." ucap keduanya bersamaan. Chandra menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan meminta Qiana dulu yang memulai.
“Aku lapar, Mas.” Qiana menunjuk warung mie ayam yang ada di seberang jalan. Chandra menganggukkan kepala dan mengarahkan mobilnya ke sana.
"Mas tadi mau ngomong apa?" tanya Qiana sebelum turun dari mobil.
"Nanti saja, Dek." Keduanya pun turun dan memesan mie ayam serta es teh.
Selesai makan, mereka pun kembali ke rumah. Rumah sudah padat dengan orang-orang yang membantu menyebarkan hantaran dan Bapak-bapak yang mendirikan tenda serta membuat "Tarub". Qiana menyapa beberapa saudara dari pihak Ayahnya diikuti Chandra yang ia kenalkan kepada mereka.
Chandra diminta untuk tetap tinggal agar mereka bisa mengobrol, sedangkan Qiana masuk ke dalam rumah untuk menanyakan apakah kue untuk hantaran kurang. Kue sudah diantarkan pihak penjual kemarin malam, semuanya disimpan di kamar belakang sesuai instruksi Ibu Ningsih dan hari ini merupakan hari distribusi.
"Kue ne luwih sekitar sekhetan. Jare Bulek arep di enngo oleh-oleh besan sesok." kata Mbak Yuli.
(Kuenya lebih sekitar 50-an. Kata Bulek (Ibu Ningsih) akan digunakan sebagai oleh-oleh keluarga dari pihak Chandra.)
"Kok saget taseh semonten, kadose kulo wingi namung ngluwihi 20-an?" tanya Qiana bingung.
(Kenapa bisa lebih segitu, bukannya kemarin cuma aku lebihkan 20 kue?)
"Karo Bulek ono ater-ater sek nganggo sego pepek, makane luwih semono." Qiana menganggukkan kepalanya.
(Ada beberapa hantaran yang diberikan nasi dan lauk lengkap sama Bulek, makanya lebih segitu.)
Qiana meminta Mbak Yuli yang mengingatkan oleh-oleh tersebut jikalau dirinya tidak ingat. Mbak Yuli menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan Qiana untuk membeli plastik guna membungkus hantaran yang menggunakan bakul nasi.
Sekitar pukul 11 siang, hantaran kue telah selesai disebar. Yang tersisa hanya bagian hantaran nasi dengan lauk lengkap yang dikirim ke beberapa orang kenalan. Qiana membantu membungkus hantaran di ruang tamu lantaran dirinya tidak diperbolehkan ke dapur. Hal ini dikarenakan banyak yang mengatakan jika "pamali" pengantin masuk ke dapur. Ada yang mengatakan jika cahaya pengantin akan menghilang nantinya, ada pula yang mengatakan jika hal tersebut akan membuat riasan pengantin tidak maksimal.
Qiana tidak percaya dengan mitos yang diucapkan oleh orang-orang, ia menurut semata-mata untuk menghormati mereka. Beberapa hantaran yang sudah dibungkus segera diantarkan ke alamat tujuan. Qiana pamit kepada yang lain untuk menyiapkan makan siang sang suami. Tetapi salah satu Ibu-ibu mengatakan jika sebaiknya suaminya makan siang bersama Bapak-bapak yang ada didepan. Qiana pun membantu menyiapkan makan siang tersebut bersama Ibu-ibu yang ada di ruang makan.
Chandra makan siang lesehan bersama Bapak-bapak di bawah tenda yang baru saja mereka dirikan. Qiana sendiri setelah menyiapkan makan siang hanya minum tanpa berkeinginan untuk makan. Baginya melihat banyak makanan sudah membuatnya kenyang.
Semakin malam, suasana rumah Qiana semakin ramai. Bahkan Bapak-bapak sudah mulai menyalakan sound system untuk memeriahkan malam. Malam sebelum hari H merupakan malam begadang atau sering dibilang "lek-lek-an". Setelah hajatan yang diadakan bakda maghrib, Bapak-bapak akan kembali bakda isya' untuk begadang bersama sambil bermain kartu, catur atau mengobrol sambil minum kopi. Sedangkan Ibu-ibu akan menyiapkan masakan untuk acara besok.
Sekitar pukul 9 malam, Qiana sudah disuruh beristirahat oleh salah satu sepupunya yang bertanggungjawab untuk riasannya, karena takutnya kantung mata Qiana akan menghitam besok jika ia ikut begadang. Qiana menurut dan masuk ke dalam kamar. Sebenarnya ia susah tidur karena suasana yang ramai, setelah mematikan lampu ia menutup telinganya dengan guling agar bisa meredam suara di luar. Sejak menikah, ia sudah mulai terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Tak lama kemudian, ia pun terlelap.
Chandra sendiri masuk ke kamar ketika Kang Badi mengingatkannya untuk beristirahat karena sudah pukul 11. Memasuki kamar yang remang-remang, ia melihat Qiana yang tidur dengan guling di pelukannya. Perlahan ia melepaskan guling tersebut dan memeluk Qiana sebagai gantinya. Tetapi ketika ia akan memejamkan matanya, ponselnya berdering. Bapak yang menghubungi.
“Rombongan wes mangkat iki. Kira-kira tekan Rembang jam pituan.” Bapak mengabarkan.
(Rombongan sudah berangkat dari Jogja ini. Sekitar pukul 7 sampai Rembang.)
“Iyo, Pak. Ra usah kesusu, acarane mulai jam songoan.”
(Iya, pak. Tidak perlu buru-buru, acara dimulai pukul 9.)
“Iyo, sesok awakmu sek mapak ning ngarep gang yo? Ora kenal sopo-sopo ning kono dadi ra kepenak.”
(Iya, besok Bapak dijemput di depan gang ya? Tidak kenal siapa-siapa di sana, jadi tidak enak.)
“Iyo. Sesok tak papak, Pak.” Setelah mengakhiri panggilan, Chandra kembali memeluk Qiana dan ikut menjemput mimpi.
(Iya. Besok saya jemput, Pak.)
Ketika adzan subuh berkumandang, Qiana membuka matanya dan menemukan dirinya ada dalam pelukan sang suami. Ia tidak tahu kapan suaminya menyusul, Ia juga tidak merasakan pelukan suaminya. Mungkinkah efek lelahnya?Entahlah, ia pun perlahan membangunkan sang suami untuk sholat subuh. Bukannya bangun, Chandra justru mengeratkan pelukannya yang membuat Qiana mencubit pinggang sang suami.
"Aduh.." Chandra mengaduh dengan mata masih terpejam tanpa berniat melepaskan pelukan.
Hingga cubitan kedua, barulah ia membuka matanya. Dengan wajah tersenyum, Chandra dengan cepat mendaratkan ciuman di kening Qiana.
“Pagi, sayangku..” ucap Chandra dengan suara berbisik.
“Pagi, Mas.” Balas Qiana, sembari mengecup dagu Chandra. Tentu saja hal tersebut memancing sesuatu yang dengan alami bergerak di pagi hari. Tetapi karena Chandra ingat masih banyak orang di rumah sekarang, ia pun menekannya dengan sekuat tenaga dan perlahan melepaskan pelukannya. Ia pun mengajak Qiana untuk mengambil wudhu.
Berhubung banyak orang di rumah, tentu saja kamar mandi yang hanya 1 buah itu membuat beberapa orang mengantre untuk berwudhu. Qiana pun mengajak sang suami untuk berwudhu di luar rumah. Di samping rumah ada keran yang diperuntukkan menyiram tanaman. Setelah wudhu, keduanya masuk kembali ke kamar dan melaksanakan sholat berjamaah.
Klo di rasa lbh membawa kebaikan ya lakukan Perceraian..
#)
Bahasa yg di pke Chandra ke ortunya knp "ngoko".. Bukan "kromo"...
Bertolak belakang dg sifat Chandra yg santun..