🥈 Juara 2 YAAW priode 1 2024 Genre Pria
"Tolong aku mas...Aakkh sakit sekali."
Jeritan itu terus andrew dengar ketika ia pulang kerumah ayah nya yang di kampung, Semenjak adik tiri nya hilang dan sudah satu tahun tidak di temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
####
Setelah berhasil melewati kejaran nya Juragan, Lukas memang selamat membawa Nae kembali pada raga nya. Abah pun menyusul mereka juga, Juragan masih tidak tahu bahwa tadi Abah lah yang menahan diri nya agar tidak bisa mengejar Lukas dan Nae.
"Eegghh."
Nae melenguh panjang ketika sudah sadar dari pingsan nya, Tubuh gadis ini terasa sakit semua setelah di hajar oleh Juragan dan juga Kuncoro.
"Alhamdulilah nak, Ya Allah Nae." Bu Winar memeluk putri nya.
"Punggung ku sakit Bu." Keluh Nae meringis ngilu.
"Nanti kita obati ya nak, Ucap kan terima kasih dulu buat Abah." Pinta bu Winar.
Nae mengucap kan terima kasih pada Abah dan juga Lukas. Mata nya kini menatap Andrew yang sama sekali tidak melihat nya. Andrew baru bisa melihat lagi keberadaan nya Maharani, Air mata mengambang di pelupuk mata Andrew.
"Rani....Ibu kita sudah tiada." Ujar Andrew.
Jika orang yang tidak paham, Andrew bagai kan orang gila sekarang. Berbicara pada tempat kosong di sudut rumah, Bahkan Andrew juga membuat gerakan seperti sedang memeluk.
"Mereka pasti membunuh Ibu kita Rani...Aku harus bisa menghabisi Adi dan Kuncoro." Tekad Andrew.
"Ku harap kamu bisa melakukan nya Mas, Balas kan dendam ku pada nya." Pinta Maharani.
"Kamu tenang saja, Mas pasti menghabisi dua orang itu." Geram Andrew.
"Jangan hasut Mas mu Maharani." Bentakan suara Abah membuat Andrew kaget.
Abah tidak ingin jika keponakan nya semakin larut dalam masalah ini, Walau ia juga menaruh dendam kepada Adi dan Kuncoro. Tapi Abah mau di selesai kan secara hukum saja.
"Tanya kan di mana mereka membuang jasad nya, Abah akan mengebumi kan secara baik." Suruh Abah.
"Pura Mas! Mereka membuang jasad ku di sana." Maharani menjawab pertanyaan Abah yang di dengar nya.
"Mereka membuang nya di Pura Abah, Selama ini Adi meminta warga menaruh sesajen di sana. Bukan kah berarti hanya untuk memperkuat pagar yang dia tanam." Seru Andrew.
Nae mengeluar kan bungkusan yang Maharani maksud kan, Lukas menatap heran pada bungkusan yang gadis ini bawa.
"Ini kah pagar yang di maksud kan? Aku sudah mengambil nya." Nae menunjukan bungkusan.
Abah menerima bungkusan yang menimbul kan aroma tak sedap, Betapa kaget nya mereka setelah melihat isi dalam bungkusan. Seperti tulang manusia yang di beri bunga dan juga kertas mantra.
"Kau sungguh menjauhi tuhan ternyata, Namun kau pandai berpura pura taat." Abah berkata lirih karena merasa tertipu dengan muslihat nya Juragan.
Siapa yang tidak tertipu pada kebaikan Juragan padi itu, Dia mendiri kan masjid tanpa bantuan biaya dari siapa pun. Juragan juga sering memberi sumbangan di padepokan Abah, Bahkan ia menjanjikan akan membangun pesantren yang bagus.
Namun semua itu ternyata hanya kedok belaka, Ia menyimpan sifat busuk yang sangat nista. Mereka semua sudah tertipu pada kebaikan palsu pria jahanam.
"Aku ingin tenang Mas, Temukan jasad ku dan tolong kubur kan." Pinta Maharani.
"Jika sudah di kubur, Apa kah kau masih bisa datang pada Mas dik?" Andrew ternyata takut kehilangan adik nya lagi.
"Aku akan datang dalam mimpi mu." Jawab Maharani.
"Lalu bagai mana dengan mereka? Apa kau tidak ingin membalas nya?!" Andrew mulai menaik kan suara.
"Tidak kuat aku Mas merasakan sakit setiap saat, Selama jasad ku belum di kubur kan secara baik baik. Maka aku terus merasa kesakitan." Cerita Maharani dengan berurai air mata.
Abah mendekati Andrew yang nampak frustasi, Ia ingin seluruh pemerkosa mati semua. Jika Maharani sudah di kubur kan, Maka adik nya tidak akan gentayangan lagi.
"Adik mu sudah tersiksa di akhir hidup nya, Apa kamu masih ingin melihat dia terus tersiksa walau sudah tiada." Ucap Abah.
"Bagai mana dengan mereka Abah! Pria hina itu belum mendapat kan balasan." Andrew berteriak keras.
"Kita cari bukti nya sama sama ya Mas, Aku akan ikut membantu juga." Nae mengaju kan diri karena merasa bersalah, Sebab sang Ayah juga ikut menyebab kan Maharani tiada.
Andrew luruh kelantai sambil menangis tersedu sedu, Membayang kan nanti tidak akan bisa bertemu lagi dengan adik nya. Ia merasa hidup sendirian tanpa keluarga.
"Kasihani adik mu Mas, Kita bisa membalas mereka dengan sadis juga." Bisik Nae mendekat.
Semua orang menatap Nae yang sedang berbisik pada Andrew, Terutama Abah. Namun Nae mengedip kan mata pertanda mereka diam saja dulu.
"Benarkah?" Andrew bertanya memastikan.
"Iya! Besok kita harus cari jasad nya Maharani, Mas ndak kasihan to melihat Rani terus tinggal di dalam Pura dingin itu." Ujar Nae.
Akhir nya pria ini mengangguk setuju dengan saran Abah tadi, Mereka berpamitan untuk pulang karena hari sudah mau menjelang subuh. Tinggal Nae dan Ibu nya, Serta Nino yang dari tadi hanya mencerna percakapan mereka.
"Kenapa kamu memberi nya harapan Nak?" Nino bertanya pada Nae.
"Paklek!"
Nae kaget karena Nino malah tahu apa yang tadi ia bisik kan kepada Andrew, Namun hanya ini jalan satu satu nya agar Andrew mau jasad adik nya di suci kan.
"Kasihan Rani, Dia pasti meninggal dalam keadaan kotor Paklek! Di tambah di juga menderita terus menerus walau sudah meninggal." Ujar Nae pedih.
"Ya sudah kalau gitu, Kamu hati hati saja kedepan nya." Nasihat Nino.
Tak lama Nino juga pulang meninggal kan rumah Nae, Sebelum pulang ia sempat berkomat kamit depan pintu untuk memberi kan pagar rumah ini.
...****************...
Pagi hari mereka di kejut kan dengan kematian nya Doli dan Risma, Mereka bergunjing karena mereka mati dalam keadaan hina. Di tambah mereka seperti nya di bunuh oleh seseorang, Anak panah yang menancap itu menjadi bukti nya.
Polisi datang mengaman kan tempat kejadian, Para warga yang penasaran pun sangat sulit untuk di bubar kan. Mengaman kan anak panah untuk melihat sidik jari yang tertinggal.
Pak Mus menatap nanar pada putra nya yang kini sudah tiada, Tinggal Diki saja yang tersisa. Itu pun keadaan nya sudah tidak normal, Denis entah kemana rimba nya.
Pria tua ini merasa sendirian dan mulai di hinggapi rasa takut, Diri nya adalah sasaran empuk jika Maharani akan membalas dendam. Namun ia yakin bahwa bukan Maharani yang membunuh Doli dan Risma.
Cara kematian nya sangat berbeda dengan Delon dan Dery, Kedua putra nya itu hancur tercabik cabik dan kemaluan nya juga hilang.
"Yang kuat yang Pak Mus." Juragan datang untuk menunjukan bela sungkawa.
Pria tua ini hanya menatap Juragan sesaat dan kembali meratapi putra nya, Risma dan Doli sudah di bawa kerumah masing masing.