Sekuel Novel Cincin yang Tertinggal
Kisah seorang laki-laki yang mengejar cinta wanita berhijab namun tak pernah berbalas. Hanya karena sesuatu yang terjadi akhirnya laki-laki itu mau menikahi wanita tersebut walaupun terpaksa.
Menikah dengan orang yang sangat dicintai adalah
impiannya namun menjadi pengantin pengganti bukanlah keinginannya.
Akankah rumah tangganya langgeng?
Yuk ikuti kisah mereka yang seru, menarik dan inspiratif hanya di Bukan Aku yang Kau Cinta.
Like, komeng and subcribe Terima kasih💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Keputusan Kasdun
Kasdun mengusap tengkuknya dengan satu tangan. Ia belum cukup berani untuk melamar Keira karena status sosialnya yang kurang mumpuni. Masih minder itulah yang dirasakan Kasdun saat ini. Untuk Keira mungkin akan menerima apa adanya namun bagaimana dengan keluarganya? Ia mendengus kesal karena terhambat oleh perekonomian yang minim dan juga statusnya sekarang. Tunggu dulu bukankah papa Keira tahu semua tentang Kasdun? Amplop itu, Ya ampun di mana Kasdun menyimpannya?
"Dun....kamu kok melamun?" Tegur Ibunya membuyarkan lamunannya.
"Eh anu Mak engga apa-apa kok. Emmh Mak maaf untuk melamar Kiera tidak bisa secepat itu. Kasdun butuh waktu."
"Waktu untuk apa lagi sih?"
"Kasdun belum punya uang lebih untuk lamaran Mak." Ujar Kasdun jujur. Apalagi melamar anak pejabat tentunya tidak sedikit yang akan ia keluarkan.
"Dun Emak harap uang jangan dijadikan hambatan untuk menikah. Bukankah yang akan kau nikahi hanya seorang sopir? Memang dia minta biaya berapa buat nikah? Kalau dia nuntut pesta yang mewah dan meriah lebih baik kamu cari cewek yang lain saja, Emak yakin banyak cewek yang mau sama kamu tanpa embel-embel harta. Emak engga suka cewek matre yang hanya bisa menghabiskan harta suaminya saja." Pesan Ibu pada anak semata wayangnya.
"Emak maaf Keira itu bukan sopirnya Meira. Kemarin ia nyetir mobilnya sendiri. Dia anak pejabat. Anak anggota dewan. Emak kenal dengan bapak Aiman Rizki seorang anggota dewan propinsi? Dia papanya Keira. Jadi Keira bukan wanita sembarangan Mak." Jelas Kasdun yang membuat Ibunya terhenyak.
"Ya ampun Dun, kenapa kamu engga kasih tahu kemarin?" Ibunya tampak malu sudah salah menilai Keira.
"Keira yang minta, Mak. Dia tidak ingin profilnya diekspos pada siapa pun. Kasdun saja belum lama ini tahu kebenaran tentang dia."
"Loh kan Emak ini calon mertuanya?"
"Dia hanya tidak mau keluarga calon suaminya melihatnya karena ia anak pejabat. Ia ingin mendapatkan suami yang tulus mencintainya bukan karena hartanya atau orang tuanya."
"Ini yang Emak suka dari seorang wanita. Jadi kemarin Emak salah dong, Dun. Kalau begitu Emak mau ikut ke rumah singgah sekarang. Emak mau minta maaf langsung sama calon mantu."
"Minta maaf sama Meira, Mak?"
"Kok sama Meira sih. Calon mantu Emak yang sekarang kan Keira, kamu gimana sih Dun!" Kasdun tertawa melihat tingkah Ibunya yang antusias untuk ikut ke rumah singgah.
Kasdun merasa bahagia sejak kemarin. Setidaknya Ibunya sudah memberikan lampu hijau pada hubungannya dengan Keira. Walaupun tidak berstatus pacaran namun dalam diam mereka banyak orang yang menafsirkan mereka saling cinta, saling sayang, saling empati. Semoga saja bisa selamanya bahagia.
...****************...
Rumah singgah tampak begitu ramai. Kegiatannya tidak hanya calistung atau kejar paket A, B dan C saja, namun ada kegiatan tataboga yang dipelopori Keira secara langsung. Sudah banyak ibu-ibu yang bekerja di rumah singgah, selain membuat cilok mereka dibekali untuk bisa berkarya dari bahan bekas sehingga ibu- ibu yang biasa jadi pemulung kini lebih produktif lagi.
Setiap sebulan sekali diadakan pembekalan pada aspek agama, sosial dan perdagangan. Di rumah singgah tidak hanya mencerdaskan anak bangsa namun para orang tuanya pun ikut dibekali dengan kegiatan parenting.
"Emaaak Ya Allah akhirnya datang ke sini juga!" Seru Rina dengan wajah berbinar. Seraya bersalaman dengan Emaknya Kasdun.
"Belum seminggu Emak sudah kangen aja nih sama Trio Cilok." Rina tertawa renyah. Emak tersenyum.
"Ngomong-ngomong yang lainnya mana?" Mata Emak mengedar ke setiap sudut ruangan orang yang ia cari tidak ada di tempat.
"Yang engga ada jangan dicari Mak. Bang tadi Keira telepon katanya engga bisa masuk hari ini mendadak disuruh pulang sama orang tuanya terus Meira juga sama ga bisa masuk hari ini. Tapi untuk Meira kayaknya bisa beberapa hari ke depan karena sekarang dia kerja di tempat kakak sepupunya Keira."
"Oooh begitu mengapa mereka tidak izin langsung pada saya? Lain kali siapa pun kalian, kalau tidak masuk kerja izin dulu ke saya agar saya bisa cari pengganti untuk mendampingi anak-anak dan ibu-ibu di sini, paham!"
"Sudah Dun tidak usah marah-marah begitu biar Emak yang menggantikan mereka. Rina kasih tahu Emak siapa saja yang harus Emak dampingi!" Emak Kasdun menengahi agar anaknya tidak membuat keributan hanya karena hal sepele.
"I...iya Mak." Rina sedikit tergagap karena baru kali ini Kasdun marah seolah kecewa dengan dua karyawannya yang tidak masuk. Apalagi begitu mendengar nama Keira disebut seolah ia tidak terima wanitanya tidak datang hari ini ke rumah singgah.
Sore hari para pekerja di rumah singgah satu persatu pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya Uqie yang masih setia tinggal di rumah singgah tersebut. Kadang-kadang ia ditemani Kasdun.
Kasdun mengeluarkan benda pipihnya dari saku celananya. Ia menekan nama NengKi sebuah nama yang sudah berhasil menempati relung hatinya.
"Halo bang maaf beberapa hari ke depan aku dilarang papa untuk masuk ke rumah singgah, kebetulan kampus juga libur. Bang, aku...." Suara Keira dari seberang sana terdengar tercekat.
"Kenapa?" Tanya Kasdun datar. Kasdun kesal keira tidak ada di sampingnya seharian ini.
"Bang aku....aku mau dilamar minggu depan oleh laki-laki pilihan papa. Bang bawa aku pergi! Aku tidak mau dijodohkan, apalagi laki-laki itu tidak aku kenal. Bang aku harus gimana?" Kasdun memejamkan matanya. Tangannya bergetar, ia tidak menyangka orang yang baru saja mengisi ruang hatinya kini harus pergi juga.
"Terima saja perjodohan itu demi orang tuamu. Aku mundur."
"Bang, semudah itu? Tidak adakah keinginan untuk memperjuangkan aku, bang." Keira tidak percaya dengan keputusan Kasdun yang terlalu cepat.
"Aku hanya tau diri saja, Kei. Kita memang jauh berbeda. Keadaan kita memang berbeda. Semoga kamu bahagia......" Kasdun menutup teleponnya.
Tidak mudah memutuskan masa depan yang ingin ia bangun. Hatinya kembali retak. Ia melangkah gontai. Sekelebat pembicaraan dari papanya Keira beberapa bulan yang lalu singgah dalam pikirannya.
Reward? Amplop putih? Semakin penasaran dengan isinya, Kasdun dengan cepat melangkahkan kakinya setelah berpamitan pada Uqie.
"Mak kita ke rumah Kasdun dulu ya! Ada yang mau kuambil di sana."
Emak Kasdun hanya mengangguk mengikuti anaknya melangkah dengan cepat menuju parkiran.
Kasdun bersama Ibunya melesat menuju rumah masa depannya. Di sana sudah ada seorang wanita yang tengah duduk di teras. Kasdun merasa heran dengan keberadaan wanita itu di rumahnya.
"Ah Kasdun akhirnya kamu datang juga." Ia melirik wanita yang ada di samping Kasdun. Sudut bibir kanannya ditarik ke atas.
"Mau apa kamu kemari?
hadeuhh gmn nnti saat si tiara tau blu akhir nya meminang meira yng si tiara tau meira dulu perawat nya blu saat sakit, jg si tiara saat itu udah ada cembokur kan?