NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : Jembatan Menuju Esok

“Breaking News: Tuan Doherty, CEO Doherty & Associates, resmi ditahan di markas kepolisian Dublin atas dugaan suap sistematis dan perusakan lingkungan dalam proyek dermaga Shannonbridge.”

​"Dia benar-benar jatuh, Elara," bisik Fionn. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca menatap layar televisi itu. "Ayahku... akhirnya dia bisa beristirahat dengan tenang."

​Elara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghambur ke pelukan Fionn, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Bahunya bergetar hebat. Segala ketegangan, ancaman, dan ketakutan yang ia pendam selama berminggu-minggu akhirnya pecah menjadi tangisan syukur.

​"Kita melakukannya, Fionn. Kita benar-benar melakukannya," isak Elara.

​Fionn mendekapnya sangat erat, seolah tak ingin melepaskan wanita yang telah mempertaruhkan segalanya demi desanya. "Bukan 'kita', Sayang. Kau. Kau yang menjadi cahayanya."

...****************...

Kemenangan di balai kota kemarin masih menyisakan dengung di telinga Elara. Pagi ini, udara Shannonbridge terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang sempat mengancam desa ini telah menguap bersama kabut sungai. Namun, bagi Elara, ini bukanlah akhir. Ini adalah halaman kosong pertama dari sebuah buku yang baru saja ia tulis judulnya.

Di dalam kedai The Crooked Spoon, suasana sangat sibuk. Fionn sedang menyiapkan pesanan kopi untuk warga desa yang kini datang bukan hanya untuk kafein, tapi untuk merayakan kemerdekaan desa mereka.

"Elara! Berhenti melamun di depan kertas kosong itu!" suara Bibi O’Malley memecah konsentrasi Elara. Wanita tua itu datang membawa sepiring besar scone yang masih mengepul, aroma mentega dan kismisnya memenuhi ruangan. "Kau sudah memegang pensil itu selama satu jam tapi belum ada satu garis pun yang muncul."

Elara tertawa kecil, ia meletakkan pensil arsiteknya. "Aku sedang berpikir, Bibi. Merusak itu mudah, tapi membangun kembali sesuatu yang memiliki jiwa... itu yang membuatku takut."

"Kau sudah meruntuhkan menara kesombongan Julian O'Neill, Nak. Apa lagi yang kau takutkan?" Moira menimpali sambil mengelap meja di samping Elara. Matanya berbinar haru setiap kali menatap Elara—wanita yang kini ia anggap sebagai malaikat penjaga keluarganya.

"Aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi warga," bisik Elara jujur.

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat dan berbulu menyenggol kaki Elara. Biscotti, si kesayangan Fionn, menggonggong pelan sambil membawa sebuah gulungan kertas tua di mulutnya.

"Biscotti? Apa yang kau bawa itu?" Fionn mendekat, melepaskan celemeknya dan mengambil gulungan itu dari mulut Biscotti. "Hei, ini sketsa tambahan milik Ayah yang sempat hilang di gudang bawah tanah!"

Elara segera membukanya. Itu adalah denah detail tentang fondasi dermaga. Di sudut kertas, ada tulisan tangan Liam Gallagher yang memudar: "Bangunlah dengan cinta, maka air takkan pernah bisa meruntuhkannya."

"Lihat?" Fionn merangkul bahu Elara, mencium pelipisnya dengan lembut. "Bahkan Biscotti tahu kau butuh inspirasi. Ayahku sudah memberikan kuncinya, sekarang giliranmu memberikan nyawanya."

...****************...

Sepanjang siang, Elara tenggelam dalam dunianya. Ia memindahkan mejanya ke teras kedai agar bisa melihat langsung dermaga tua itu. Biscotti setia menemani di bawah mejanya, sesekali meletakkan kepalanya di atas kaki Elara, memberikan kehangatan yang menenangkan.

"Aku tidak ingin menggunakan beton massal," gumam Elara sambil menggoreskan garis-garis halus. "Kita akan gunakan kayu ek lokal yang sudah diawetkan secara alami, dipadu dengan batu kapur Shannon. Bagian tengahnya akan menjadi area terbuka, tempat warga bisa berdansa atau sekadar melihat matahari terbenam."

"Dan jangan lupa tempat untuk kopi," suara Fionn terdengar dari belakang. Ia membawa segelas latte dengan hiasan bentuk hati di atas busanya. "Aku ingin sebuah anjungan kecil di ujung dermaga. Tempat di mana aku bisa melayani pelanggan sambil mereka mendengarkan suara air."

"Itu manis, Fionn. Sangat manis," Elara mendongak, matanya beradu dengan mata biru Fionn yang penuh pemujaan.

"Kau tahu apa yang lebih manis?" Fionn berlutut di samping kursi Elara, mengabaikan beberapa pelanggan yang melirik mereka dengan senyum menggemaskan. "Melihatmu memakai gaun putih di atas dermaga yang kau rancang sendiri ini nanti."

Pipi Elara merona merah. "Fionn! Fokuslah pada proyeknya dulu!"

"Aku sangat fokus, Elara. Fokus pada masa depanku," balas Fionn nakal, membuat Elara tidak bisa menahan tawa bahagianya.

Namun, tak lama berselang. Suasana hangat itu tiba-tiba berubah tegang saat sebuah mobil SUV perak yang tampak sangat formal berhenti di depan kedai. Semua orang di kedai menahan napas. Apakah pengacara Doherty datang lagi? Atau polisi yang mencari keterangan tambahan?

​Seorang wanita paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat elegan keluar dari mobil. Wajahnya tegas namun memiliki kehangatan yang berbeda dari Tuan Doherty yang dingin. Ia memegang sebuah koper kecil dan berjalan menuju teras.

​Fionn berdiri, insting pelindungnya kembali bangkit. "Jika Anda dari pihak Doherty untuk menuntut balik, saya sarankan Anda pergi sekarang."

​Wanita itu tersenyum tenang, lalu mengulurkan tangannya. "Saya Martha Vance. Saya baru saja ditunjuk oleh dewan direksi sebagai CEO sementara Doherty & Associates untuk menggantikan... mantan atasan kalian."

​Elara berdiri, merapikan rambutnya. "Nyonya Vance? Apa yang membawa Anda ke desa sekecil ini?"

​"Integritas, Nona O'Connell," jawab Martha tulus. "Saya telah membaca seluruh laporan audit yang Anda kirimkan. Saya juga telah melihat video konfrontasi di balai kota kemarin. Saya ke sini bukan untuk menuntut, tapi untuk membereskan kekacauan yang ditinggalkan oleh pendahulu saya."

​Martha membuka kopernya dan mengeluarkan beberapa dokumen resmi bersegel emas.

​"Perusahaan secara resmi mencabut seluruh klaim atas dermaga Shannonbridge. Kami menyerahkan kepemilikan lahan tersebut sepenuhnya kepada yayasan desa. Dan..." Martha menjeda, menatap Elara dengan kagum. "Kami ingin mendanai seluruh pembangunan dermaga ini sesuai rancangan Anda, Elara. Tanpa syarat, tanpa campur tangan komersial. Ini adalah bentuk kompensasi atas kerugian moral yang diderita desa ini."

​Elara dan Fionn tertegun. Mulut Elara sedikit terbuka karena tidak percaya.

​"Berapa anggarannya, Nyonya Vance?" tanya Elara lirih.

​"Gunakan kreativitasmu tanpa batas, Elara. Perusahaan akan menanggung semuanya. Kami ingin dermaga ini menjadi monumen kejujuran. Dan satu hal lagi..." Martha mengeluarkan sebuah amplop kecil. "Ini adalah surat pembersihan nama baik untukmu. Kau tidak dipecat. Kau mengundurkan diri dengan hormat dan kami memberikan rekomendasi tertinggi jika kau ingin membuka firmanmu sendiri."

Setelah merasa tujuannya kemari telah tersampaikan, Martha Vance pergi, suasana kedai meledak dalam kegembiraan. Bibi O’Malley bahkan keluar membawa botol sampanye tua yang ia simpan sejak lama.

​"Hari ini kita tidak minum kopi! Hari ini kita minum kebebasan!" serunya riang.

​Elara masih mematung di tempatnya, menatap cek dan dokumen di atas meja. Fionn mendekatinya, memutar kursi Elara agar menghadapnya. Ia berlutut di depan Elara, memegang kedua tangan wanita itu.

​"Elara, lihat aku," bisik Fionn.

​Elara menunduk, air mata kebahagiaan kembali jatuh. "Fionn, ini terlalu indah. Aku merasa seperti sedang bermimpi."

​"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah buah dari keberanianmu," Fionn mencium punggung tangan Elara dengan penuh pemujaan. "Sekarang, tidak ada lagi Julian, tidak ada lagi Doherty. Hanya ada kau, aku, dan desain dermaga yang akan menyatukan desa ini selamanya."

​Biscotti, seolah merasakan momen emosional itu, berdiri dan menyelipkan kepalanya di antara tangan Fionn dan Elara. Ia menggoyangkan ekornya dengan kencang, menabrak kaki meja hingga menimbulkan bunyi berisik yang justru membuat mereka tertawa.

​"Kau lihat? Biscotti pun setuju kalau kau adalah pahlawan sesungguhnya," goda Fionn sambil menghapus air mata di pipi Elara.

​"Aku bukan pahlawan, Fionn. Aku hanya seorang wanita yang tidak ingin kehilangan rumahnya," balas Elara sambil memeluk leher Fionn.

...****************...

Sore itu, Elara dan Fionn berjalan menuju dermaga tua yang kini sudah resmi milik desa. Mereka berdiri di ujung kayu yang lapuk, namun kini kayu itu tidak lagi terasa rapuh—ia terasa seperti fondasi yang kuat untuk masa depan.

​Biscotti berlarian di sekitar mereka, mengejar burung-burung yang hinggap di tiang dermaga. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma air tawar dan harapan yang baru mekar.

​"Kapan kau akan mulai membangun?" tanya Fionn, merangkul pinggang Elara dari belakang.

​"Besok pagi. Aku sudah menghubungi Seamus dan para tukang kayu di desa. Kita akan membangun ini bersama-sama. Aku ingin setiap orang di desa ini meletakkan satu paku atau satu batu di dermaga ini agar mereka merasa memilikinya," Elara menyandarkan kepalanya di bahu Fionn.

​"Itu ide yang sangat 'Elara'," Fionn tersenyum, mencium pelipisnya. "Lalu, setelah dermaga ini selesai... apa rencana selanjutnya untuk kita?"

​Elara menoleh, menatap mata biru Fionn yang kini tampak begitu damai. "Rencana selanjutnya? Aku sedang berpikir untuk merancang sebuah paviliun kecil di samping kedaimu. Tempat di mana kita bisa duduk saat hujan, menyesap kopi, dan melihat anak-anak kita nanti berlarian bersama cucu-cucu Biscotti di dermaga ini."

​Fionn tertegun, hatinya bergetar mendengar kata 'anak-anak kita'. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya, menciumnya dengan penuh gairah dan janji di bawah langit yang berubah menjadi warna ungu keemasan.

​Di Shannonbridge, badai telah benar-benar berlalu. Yang tersisa hanyalah cinta yang semakin kuat, persahabatan desa yang tak terpatahkan, dan seorang arsitek wanita yang akhirnya menyadari bahwa mahakarya terbaiknya bukanlah sebuah gedung pencakar langit, melainkan sebuah dermaga kayu kecil yang dibangun dengan kejujuran dan cinta.

​Biscotti duduk tenang di ujung dermaga, menatap cakrawala seolah ikut mengawasi awal yang baru bagi keluarga kecilnya. Di tepi sungai Shannon, kehidupan baru saja dimulai kembali, dan kali ini, tidak akan ada raksasa mana pun yang bisa meruntuhkannya.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!