NovelToon NovelToon
DINIKAHI PRIA KEJAM

DINIKAHI PRIA KEJAM

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:106.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: poppy susan

Stevi memutuskan untuk melupakan cintanya kepada Alex dengan menerima lamaran dari Thomas, yang tidak lain adalah adik Alex.
Tapi di saat Stevi dan Thomas akan menikah, prahara datang. Stevi di fitnah dan itu membuat Thomas pergi dan meninggalkan Stevi.
Orang tua Thomas yang malu akan kelakuan anak bungsunya, meminta Alex untuk menggantikan adiknya menikahi Stevi.
Alex tidak bisa menolak, namun dalam hatinya Alex sangat marah karena saat ini Alex sudah mempunyai kekasih.

Akankah Stevi bertahan dengan pernikahannya ataukah Stevi memilih untuk pergi dan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 Kehilangan

Alex merebahkan tubuh Maya di atas tempat tidur dan setelah itu, Alex pun pergi keluar dan masuk ke dalam kamar hotelnya.

Alex kaget saat melihat di dalam kamar tampak kosong.

"Stev, Stevi!"

Alex mencari keberadaan Stevi tapi Stevi tidak ada di mana-mana, bahkan Alex semakin terkejut saat melihat ternyata kopernya sudah tidak ada.

"Stevi ke mana?" gumam Alex panik.

Alex menghubungi nomor Stevi tapi nomornya sama sekali tidak aktif, Alex semakin panik dia pun berlari keluar dan menggedor pintu kamar Thomas.

"Apaan sih? baru saja aku mau tidur," kesal Thomas.

"Kamu lihat Stevi?" tanya Alex panik.

"Stevi, bukannya Stevi sama kamu Kak?"

"Iya, di dalam kamar tidak ada bahkan kopernya pun sudah tidak ada," sahut Alex.

"Apa? Kakak sudah hubungi nomornya?" tanya Thomas kembali.

"Sudah, tapi tidak aktif."

"Astaga, terus dia ke mana?"

Malam itu perasaan Alex dan Thomas sangat khawatir takut Stevi kenapa-napa, lalu Alex pun mengecek mengenai keberangkatan atas nama Stevi dan ternyata nama Stevi ada di sana.

"Thom, Stevi sudah kembali ke Indonesia," seru Alex kaget.

"Apa? kok bisa? kenapa dia gak bilang ke kita kalau mau pulang duluan? terus, sekarang bagaimana?" seru Thomas.

"Kita gak bisa pulang sekarang karena pesawat yang Stevi tumpangi merupakan pesawat terakhir dan tidak ada penerbangan lagi, paling ada besok jam tujuh pagi," sahut Alex.

"Ah, kok perasaan aku gak enak ya," seru Thomas.

"Sial, ponselku mati lagi," gumam Alex.

"Ponsel aku juga lagi di cars itu," sahut Thomas.

"Ya sudah, aku Cars ponsel aku dulu mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Stevi."

"Amin."

Alex pun masuk kembali ke dalam kamar hotelnya, perasaan Alex sama sekali tidak tenang.

Sementara itu di dalam pesawat, Stevi tidak henti-hentinya menangis karena mamanya tadi menghubungi Stevi kalau papinya masuk rumah sakit.

"Ya Allah, mudah-mudahan papi baik-baik saja," batin Stevi dengan deraian air matanya.

Di samping Stevi ada seorang pria yang dari kemarin menguntit Stevi dan yang lainnya. Ternyata pria itu adalah anak buah Heri yang tidak lain dan tidak bukan papinya Stevi.

Papi Stevi meminta anak buahnya untuk mengikuti Stevi dan melaporkan apa saja yang mereka lakukan di Singapura karena Heri sudah mempunyai firasat tidak enak semenjak Stevi menikah dengan Alex.

Kurang lebih dua jam Stevi dan anak buah Heri melakukan perjalanan dari Singapura ke Indonesia, saat ini di Indonesia sudah menunjukan jam dua belas malam dan Stevi langsung menuju rumah sakit tempat papanya dirawat.

"Pak, tolong kebut ya," seru Stevi kepada supir taksi yang dia tumpangi.

"Baik, Nona."

Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Stevi pun sampai di rumah sakit, Stevi berlari mencari keberadaan ruangan rawat papanya. Sementara itu anak buah Heri mengikuti Stevi dari belakang sembari menggeret koper milik Stevi.

Stevi bisa mendengar suara tangisan mamanya, Stevi semakin panik dia mempercepat langkahnya. Hingga di saat Stevi sampai di ambang pintu, betapa terkejutnya dia melihat mamanya menangis meraung memeluk tubuh kaku yang saat ini tertutup kain putih.

"Stevi," lirih Mama Linda.

Linda dan Bobby memang sudah berada di sana, Stevi terdiam mematung dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

"Mami," seru Stevi.

Nia menoleh ke belakang, ia bangkit dan langsung memeluk putrinya itu.

"Pa-pi ke-na-pa, Mi?" tanya Stevi tergagap.

"Papimu sudah meninggal sayang, Papi kena serangan jantung," sahut Mami Nia dengan deraian air matanya.

Deg...

Tubuh Stevi lemas, hatinya begitu sangat sakit, dan jantungnya terasa sangat sesak. Stevi serasa tertimpa batu besar mendengar berita mengerikan yang sangat Stevi hindari itu.

"Pa-pi."

Nia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah putrinya itu.

"Kita harus sabar Nak, kita harus ikhlas, Papi sudah tenang karena Allah lebih menyayangi Papi," seru Mami Nia dengan deraian air matanya.

Perlahan Stevi menghampiri tubuh yang sudah terbujur kaku itu, tangannya bergetar saat membuka penutup kain putih yang menutup seluruh tubuh papinya itu.

Stevi membuka penutup wajah papanya, air matanya semakin deras tubuhnya bergetar hebat melihat orang yang sangat dia sayangi akhirnya harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

"Papi, bangun Pi. Kenapa Papi tinggalkan Stevi, Papi sudah janji akan menemani Stevi," seru Stevi dengan bibir yang bergetar.

Linda memeluk menantunya itu dengan deraian air mata. "Kamu yang sabar sayang, kamu masih punya kami yang akan menjaga kamu," seru Mama Linda.

Stevi memeluk Papinya itu dan menangis sejadi-jadinya.

"Papi bangun, jangan tinggalkan Stevi."

Linda dan Nia berusaha menenangkan Stevi yang saat ini terlihat histeris itu, sedangkan Bobby sangat kesal karena Alex dan Thomas sama sekali tidak bisa dihubungi.

"Mereka ke mana? bisa-bisanya di saat penting seperti ini ponsel mereka tidak aktif," geram Papa Bobby.

"Pa, Papa!" teriak Mama Linda.

Bobby segera berlari ke dalam. "Ada apa?"

"Pa, tolong Stevi pingsan."

Bobby menggendong Stevi dan membawa Stevi ke dalam ruangan sebelahnya untuk mendapatkan pemeriksaan.

Setengah jam kemudian, Stevi pun siuman. Stevi mulai membuka matanya dan melihat Nia menggenggam tangan Stevi dengan senyumannya.

"Kamu sudah sadar, sayang?"

"Mami."

Stevi kembali menangis tapi Nia segera menghapus air mata putrinya itu.

"Kita harus kuat Nak, apalagi kamu yang saat ini sedang mengandung," seru Mami Nia dengan senyumannya.

"Mami tahu dari mana Stevi sedang mengandung?" tanya Stevi kaget.

"Tadi, dokter yang bilang sama Mami."

"Apa Mama Linda dan Papa Bobby tahu?" tanya Stevi panik.

"Belum, mereka belum tahu."

"Stevi mohon, Mami jangan kasih tahu mereka mengenai kehamilan Stevi."

"Kenapa sayang?" tanya Mami Nia bingung.

"Stevi tidak mau memberitahu mereka, pokoknya Mami jangan bilang-bilang kalau saat ini Stevi sedang hamil, please."

Nia mengusap kepala Stevi. "Baiklah, Mami tidak akan memberitahukannya kepada mereka."

"Terima kasih, Mami."

Sehabis adzan subuh, jenazah Heri dibawa pulang ke rumah duka. Stevi tidak henti-hentinya menangis, sungguh saat ini Stevi belum siap untuk kehilangan Papinya.

Linda dan Bobby ikut ke rumah Stevi dan menemani Stevi, pemakaman sudah selesai dan jenazah Heri pun langsung dimakamkan pagi itu juga.

"Pi, maafkan Stevi karena selama ini Stevi belum bisa membuat Papi bangga, Papi pergilah dengan tenang jangan memikirkan Stevi karena Stevi bisa menjaga diri Stevi sendiri dan Stevi juga berjanji akan menjaga Mami," seru Stevi dengan deraian air mata sembari mengusap batu nisan Papinya itu.

"Sayang, kita pulang wajahmu sudah pucat seperti itu, mama takut kamu sakit," seru Mama Linda.

Stevi menganggukkan kepalanya, mereka pun akhirnya pulang ke rumah. Stevi masuk ke dalam kamarnya dan melihat foto dirinya bersama sang Papi.

Air mata Stevi kembali menetes bahkan mata Stevi sudah bengkak dikarenakan semalaman menangis.

"Sayang."

"Mami."

Nia masuk ke dalam kamar Stevi dan duduk di samping Stevi.

"Sayang, kemarin papi kamu sempat menerima sesuatu ke ponselnya hingga akhirnya papi kamu terkena serangan jantung," seru Mami Nia.

"Apa? mana ponsel Papi?"

Nia memberikan ponsel milik suaminya kepada Stevi dan dengan cepat Stevi mengotak-ngatik ponsel itu. Ternyata kemarin papinya menerima laporan dari anak buahnya, hingga Stevi pun membelalakkan matanya saat melihat foto yang terakhir dikirimkan anak buah papinya itu.

Stevi melihat foto saat Alex dan Maya sedang berciuman di sebuah bar.

"Brengsek kamu Kak, belum puaskah kamu menyakiti hatiku?" batin Stevi dengan geramnya.

Stevi mengepalkan tangannya, saat ini Stevi benar-benar sangat marah dan benci kepada Alex.

1
Tigih Rivanti
bagus
Vitha Vivi
Luar biasa
Ji Gong
bagus dan berkesan
Ji Gong
kapan karya barunya kak. di tunggu ya?
Nunung Chaniago
Luar biasa
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
akhirnya bahagia juga,trimakasih banyak kk author karyamu sangat bagus🙏🤗
𝙿𝙾𝙿𝙿𝚈 𝚂𝚄𝚂𝙰𝙽: Sama-sama, Terima kasih juga sudah mampir di karya receh ku🙏😊
total 1 replies
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
terharu bacanya perjuangan alex tidak sia sia/Cry/
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
tenang saja alex stevi pasti nerima kamu,tuhan author sudah mengatur jodohmu dengan stevi🤗
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
astaga ternyata jhon laki laki bejat,semoga stevi mau balik lagi sama aleks
Santi Rizal
suka ceritanya ga ngebosenin...thanks othor
Santi Rizal
semoga Maya benar-benar insyaf
Santi Rizal
Karena banyak kesedihan dan penderitaan menjadikan Stevi super woman... keren deh
Santi Rizal
biar kerasa tuh Alex... karena telah menyia-nyiakan Stevi
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
uhuy alex ayo Pepet terus stevinya
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
jangan menyerah alex aku bantu doa dari sini
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
aduh lana jangan ketinggin cinta sama alex segala,dia itu udah jadi batu es bukan kulkas lagi cintanya ga akan tergoyahkan
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
jelas aja laris yang jualannya arjuna semua
Oma Said
ah...perempuan kaya tapi bloon
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
kalo begini ceritanya kasian juga ya si alex
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
rasain karma tak semanis kurma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!