Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suasana lorong rumah sakit terasa begitu dingin dengan aroma obat-obatan dan suara ritmis mesin pendeteksi jantung dari dalam ruang ICU menjadi musik latar yang menyayat hati selama tujuh hari terakhir.
Rani, gadis yang biasanya tak bisa diam dan selalu memacu adrenalin di sirkuit, kini tampak begitu rapuh dan tenang dalam komanya.
Yudiz baru saja menyelesaikan bacaan surat Ar-Rahman di samping tempat tidur Rani.
Wajahnya tampak lebih tirus, ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan betapa kurangnya ia beristirahat.
Baginya, melantunkan ayat suci adalah satu-satunya jembatan komunikasi yang ia punya untuk memanggil jiwa Rani agar kembali.
Saat ia melangkah keluar ruangan, ia mendapati Haji Husein dan Umi Siti berdiri di sana membawa beberapa rantang makanan.
“Abi, Umi, kenapa repot-repot kemari lagi? Seharusnya Abi istirahat di rumah saja,” ucap Yudiz sambil menyalami kedua mertuanya dengan takzim.
Umi Siti mengusap lengan menantunya itu dengan mata berkaca-kaca.
“Bagaimana Umi bisa tenang di rumah, Yudiz? Kamu juga butuh tenaga. Kamu sudah beberapa hari ini hampir tidak meninggalkan kursi itu. Makanlah sedikit, Nak.”
Haji Husein menepuk bahu Yudiz, memberikan kekuatan laki-laki ke laki-laki.
“Sabar ya, Le. Rani itu anak yang kuat. Dia hanya sedang beristirahat sejenak dari bisingnya dunia.”
Yudiz hanya bisa mengangguk lemah dan tersenyum tipis.
“Terima kasih, Abi, Umi. Doakan Rani segera bangun.”
Tak lama berselang, suara langkah kaki yang gaduh terdengar dari ujung lorong.
Galang datang bersama gerombolan anak sirkuit. Kali ini tak ada jaket kulit yang mentereng atau tawa keras.
Mereka datang dengan wajah lesu, beberapa membawa bunga dan buah-buahan.
Galang berhenti di depan kaca besar ruang ICU dan menatap Rani yang dipasangi berbagai selang, pemandangan yang sangat kontras dengan Rani yang ia kenal sebagai "Ratu Sirkuit".
“Gus..” Galang menyapa Yudiz dengan nada canggung. Ia masih merasa bersalah karena balapan terakhir itulah yang memicu semua ini.
“Bagaimana keadaannya?”
“Masih sama, Galang. Belum ada perkembangan,” jawab Yudiz tenang, tanpa ada nada menyalahkan.
Galang mengepalkan tangannya, matanya memerah.
“Ran, bangun dong. Motor kamu sudah aku bersihin. Anak-anak nggak asik kalau nggak ada kamu yang teriak-teriak di garis start. Bangun, Ran...” bisiknya pelan ke arah kaca.
Teman-teman sirkuit yang lain tertunduk diam. Di depan ruang ICU itu, dua dunia yang berbeda dimana dunia pesantren Yudiz dan dunia sirkuit Galang bersatu dalam satu doa yang sama: menginginkan Rani kembali.
Tiba-tiba, dari dalam ruangan, mesin monitor jantung mengeluarkan bunyi yang berbeda.
Yudiz langsung menempelkan wajahnya ke kaca, matanya menangkap sesuatu yang sudah seminggu ini ia tunggu-tunggu.
Jari telunjuk tangan kiri Rani yang tidak diperban tampak bergerak sedikit. Sangat pelan, namun cukup untuk membuat jantung Yudiz berdegup kencang.
“Dokter! Suster!” panggil Yudiz dengan suara bergetar.
Dokter dan perawat segera berlari masuk ke dalam ruang ICU.
Yudiz, Haji Husein, Umi Siti, dan gerombolan anak sirkuit tertahan di balik kaca dengan napas tertahan.
Di dalam sana, tim medis melakukan pemeriksaan reflek dan pupil.
Perlahan-lahan Rani membuka matanya dan ia melihat cahaya lampu rumah sakit menyapa netranya.
Rani mengerang pelan, tenggorokannya terasa kering dan kaku.
"Di... mana... Ma-mario?" bisik Rani, suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup jelas di telinga dokter yang sedang memeriksa detak jantungnya.
Dokter mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah kaca, menatap Yudiz yang tampak sangat berharap, lalu pandangannya beralih ke seluruh kerumunan di luar. Dokter itu keluar dengan wajah serius.
"Pasien sudah sadar. Ini sebuah keajaiban," ucap Dokter.
"Tapi, dia terus memanggil satu nama. Di antara kalian, siapa yang bernama Mario?"
Yudiz membeku mendengar nama asing di telinganya.
Ia menatap mertuanya, namun Haji Husein dan Umi Siti tampak memucat.
"Saya, Dok," ucap Galang tiba-tiba sambil melangkah maju.
Yudiz menoleh cepat, emosi yang campur aduk meledak di matanya.
"Galang? Apa maksudnya ini? Kenapa Rani memanggil namamu dengan sebutan Mario? Dan siapa Mario?!"
Galang menunduk dalam, ia tampak sangat terpukul.
"Nanti aku akan menjelaskan semuanya, Mas. Aku bukan Mario, tapi aku adalah alasan kenapa Rani merasa Mario masih ada."
"Duduklah dulu, Yudiz," suara Haji Husein terdengar berat dan bergetar.
Beliau menuntun menantunya ke kursi tunggu di lorong yang sepi. Umi Siti hanya bisa menutup mulutnya sambil terisak.
Haji Husein menghela napas panjang sebelum memulai rahasia yang selama ini terkunci rapat.
"Dua tahun lalu, sebelum kami mengenalmu, Rani punya kekasih bernama Mario. Dia adalah pembalap berbakat, sahabat sekaligus mentor Rani di sirkuit. Mario adalah segalanya bagi Rani," ujar Haji Husein.
Yudiz mendengarkan dengan dada sesak. "Lalu, apa hubungannya dengan Galang?"
"Mario meninggal dalam kecelakaan tragis di lintasan tepat di depan mata Rani, Yudiz. Sejak saat itu, jiwa Rani seolah ikut mati. Dan yang tidak kamu tahu..." Haji Husein menatap Galang yang berdiri mematung di sudut lorong.
"Galang adalah adik kembar Mario. Wajah mereka sangat mirip, hanya sifatnya yang berbeda."
"Rani nggak pernah bisa terima kematian Kakaku Mario. Dia ikut balapan terus-menerus hanya untuk mencari 'bayangan' Mario. Dan setiap kali dia melihat aku, dia sering berhalusinasi kalau aku adalah Mario yang kembali hidup. Itu sebabnya dia sangat dekat denganku di sirkuit."
Yudiz terdiam seribu bahasa sambil menatap pintu ICU tempat istrinya berada.
Ternyata, selama ini ia tidak hanya bersaing dengan hobi balap Rani, tapi ia bersaing dengan hantu masa lalu yang sangat dicintai istrinya.
"Saat kecelakaan kemarin, mungkin otaknya mengalami trauma yang menariknya kembali ke masa itu," tambah Dokter yang masih berdiri di sana.
"Dia mengalami disorientasi. Saat ini, dia pikir dia masih berada di masa dua tahun lalu, di mana Mario masih hidup."
Yudiz merasa dunianya runtuh. Istrinya sudah bangun, namun ia bangun di dunia di mana Yudiz bahkan belum pernah ada di dalamnya.
Suasana di dalam ruang ICU mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang memilukan. Yudiz hanya bisa terpaku di balik kaca, melihat laki-laki lain melangkah masuk mendekati istrinya.
Dadanya terasa seperti dihantam godam besar, namun ia menahan diri demi keselamatan mental Rani.
Galang berjalan dengan langkah berat. Setiap langkahnya terasa seperti pengkhianatan terhadap Yudiz, namun ia tak punya pilihan.
Begitu sampai di samping ranjang, ia melihat mata Rani yang sayu namun penuh binar kerinduan.
"Ma-mario..." suara Rani serak, tangannya yang lemah mencoba meraih lengan Galang.
Galang menarik napas panjang, menekan rasa bersalahnya dalam-dalam.
Ia duduk di kursi tempat Yudiz biasa duduk seminggu ini.
Dengan ragu, ia menyambut tangan Rani dan memeluk tubuh rapuh itu dengan hati-hati agar tidak mengganggu selang-selang yang terpasang.
"Iya, Ran. Aku di sini," bisik Galang, suaranya bergetar.
Rani melepaskan pelukan itu sedikit, jemarinya menyentuh wajah Galang, menelusuri garis wajah yang begitu mirip dengan almarhum kekasihnya. Air mata menetes dari sudut mata Rani.
"Bagaimana lukamu? Kamu tidak apa-apa?" tanya Rani dengan nada penuh kecemasan yang tulus.
"Waktu motormu jatuh, aku takut sekali kamu nggak bangun lagi, Yo."
Galang terdiam saat Ia sadar Rani sedang membicarakan kecelakaan maut dua tahun lalu, namun dalam ingatan Rani, kejadian itu baru saja terjadi atau bahkan dialami oleh "Mario" yang berdiri di depannya.
"Aku nggak apa-apa, Ran. Lihat, aku sehat," jawab Galang terpaksa berbohong.
"Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa nekat sekali di lintasan?"
Rani tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak pernah ia berikan pada Yudiz selama pernikahan singkat mereka.
"Kan aku mau pamer ke kamu kalau aku sudah lebih cepat. Jangan pergi lagi ya, Mario. Aku takut kalau sendirian."
Di balik kaca, Yudiz memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia meneteskan air matanya saat mendengar setiap kata, setiap nada cinta yang keluar dari mulut istrinya untuk pria lain.
Padahal beberapa hari ini, Yudiz lah yang membacakan Al-Qur'an hingga suaranya serak, Yudiz yang tidak tidur, dan Yudiz yang mencium keningnya setiap malam sambil memohon pada Allah.
Umi Siti menangis sesenggukan di sampingnya.
"Maafkan Rani, Yudiz. Maafkan dia, Nak."
Yudiz menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketabahan.
"Tidak apa-apa, Umi. Rani belum sadar sepenuhnya. Jiwanya masih terjebak di tempat yang paling membuatnya terluka."
Dokter kemudian menghampiri Yudiz yang berwajah sedih.
"Yudiz, untuk sementara waktu, tolong jangan lakukan konfrontasi. Pasien masih sangat labil. Jika kita paksa dia mengingat kenyataan bahwa Mario sudah meninggal, itu bisa memicu trauma hebat atau pendarahan di otaknya kembali. Biarkan Galang membantunya stabil lebih dulu."
Yudiz mengangguk getir. "Lalu sampai kapan saya harus menjadi orang asing bagi istri saya sendiri, Dok?"
"Kita pantau perkembangannya. Begitu kondisi fisiknya menguat, kita akan mulai terapi kognitif untuk membawanya kembali ke masa sekarang."
Rani di dalam sana kembali memejamkan mata karena kelelahan, namun tangannya tetap menggenggam erat tangan Galang.
Ia tertidur dengan senyum tenang, merasa dunianya sudah kembali utuh karena ada "Mario" di sampingnya.
Yudiz berbalik, menjauh dari kaca ICU. Ia butuh udara segar.
Ia berjalan menuju musholla rumah sakit, menjatuhkan dirinya di atas sajadah.
Di sana, di hadapan Tuhannya, pertahanan pria tegar itu runtuh. Ia menangis dalam sujudnya.
"Ya Allah, Aku ikhlas jika ia harus lupa padaku, tapi jangan biarkan ia hidup dalam bayang-bayang semu. Tuntun dia kembali, meski ia harus membenciku saat menyadari kenyataan yang sebenarnya."