NovelToon NovelToon
BEAUTY

BEAUTY

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:73.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.

Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

"Huhu... kepala mama rasanya ingin pecah, Surya. Setiap hari kami ditagih oleh debt collector bertubuh besar dan terus mengancam kami. Kami juga tidak punya tempat tinggal, pemilik kontrakan tempat kami tinggal sudah memberi peringatan untuk mengosongkan rumah sebab kami tidak membayar kontrakan selam tiga bulan." Mentari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Aku juga terpaksa berhenti kuliah dan berjualan kue menitip di warung-warung. Tapi itu hanya cukup untuk makan, tidak cukup untuk membayar kontrakan," sambung Bintang. "Aku tidak bisa bekerja di perkantoran atau toko sebab aku harus menjaga ketiga anak-anak kak Senja."

Hati Surya merasa iba namun masih jelas dalam ingatannya ketika ibundanya mengusir dirinya dan Cindy dari rumah, bahkan ibundanya pernah mengusir Cindy ketika hendak meminta bantuan saat dirinya baru saja mengalami kecelakaan. "Memangnya Senja kemana? Kenapa tidak mengurus anak-anaknya sendiri?"

Tangis Mentari semakin kencang. "S-senja terpaksa kami masukan ke rumah sakit jiwa karena terus mengamuk. Dia stres karena tumpukan hutang suaminya."

Cindy membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Lalu sekarang anak-anak di mana?" sejak tadi ia hanya melihat ibu mertuanya datang hanya bersama Bintang.

"Kami tidak ada ongkos untuk mengajak mereka, jarak dari Bekasi kemari cukup jauh jadi terpaksa kami titip di tetangga sebelah rumah," jawab Bintang.

"Tolonglah Mama, Surya. Bantu Mama membayar kontrakan, karena jika tidak kami semua di usir dan tidak ada tempat tinggal," Mentari memohon bukan hanya kepada Surya tapi juga kepada Cindy.

"Memangnya berapa tunggakan kontrakan mama?" Cindy memang tak memiliki banyak uang, tapi sepertinya ia masih memiliki modal usaha untuk ia berikan kepada ibu mertuanya.

"Sebulan satu juta, kalau tiga bulan berarti tiga juta," jawab Bintang.

"Kami tidak punya uang sebanyak itu, kalau kalian mau tempat tinggal, tinggal-lah di sini bersama kami," ucap Surya dengan tegas sebelum istrinya mengeluarkan uang modal usahanya.

"D-Di sini?" ucap Mentari terbata-bata sembari melihat keadaan sekeliling kediaman Surya yang begitu sempit.

"Kalau Mama tidak mau silahkan cari tempat tinggal lain, karena kami tidak punya uang sebanyak itu," Surya menatap ibundanya dengan tajam hingga membuat Cindy pun tak bisa membantahnya.

Mentari menghela napas beratnya, ia betul-betul tak memiliki pilhan lain selain menerima tawaran Surya. "Baiklah, Mama dan Bintang akan mengemasi barang-barang kami. Besok kami akan ke sini lagi."

Sebelum Mentari dan Bintang pergi, Cindy memberi bungkusan makanan serta uang transport untuk ibu mertuanya. "Maaf, kami tidak bisa membantu banyak," Cindy merasa bersalah tapi ia tidak punya pilihan lain selain patuh pada suaminya.

"Tidak apa-apa, Cindy. Kami mengerti, terima kasih kau sudah mau membantu." Mentari dan Bintang melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Surya.

Setelah mengantar ibu mertua serta adik iparnya sampai keluar dari pintu, Cindy kembali menghampiri Surya. "Mas, mengapa seperti itu kepada Mama? Kalau hanya tiga juta. Uang warung cukup kok untuk membayar kontrakan Mama."

"Kau simpan saja uang itu untuk modal usaha, biarkan mereka tinggal di sini dan merasakan apa arti kerja keras."

"Maksud Mas Surya, Mas mau memperkerjakan Mama dan Bintang?"

Surya mengangguk. "Bukankah tadi kau bilang butuh tenaga tambahan untuk membatu mengurus pesanan sop buntut Nadi? Kita sudah mendapatkannya."

"Tapi mas...?"

"Percaya-lah padaku!"

...****************...

Keesokan harinya, Mentari berserta anak dan cucunya kembali lagi ke rumah Surya. Sebetulnya ia malu pada Surya dan Cindy tapi dia tidak punya pilihan lain, pemilik kontrakan tempatnya mengontrak sudah mengusirnya karena ia tak mampu membayar uang sewa.

"Ada beberapa hal yang perlu kalian pahami sebelum tinggal di rumah ini," Surya menatap ibu, adik dan ketiga keponakannya secara bergantian. "Karena dana kami terbatas. Embun, Langit, dan Bumi. Kalian bertiga uncle pindahkan ke sekolah negeri di dekat sini bersama dengan Alin."

Ketiganya terkejut mendengar akan pindah sekolah, terutama Embun yang sangat menentang keputusan itu. "Aku tidak mau sekolah di sekolah negeri, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan jumlah murid yang begitu banyak, di tambah fasilitasnya tidak selengkap di sekolahku."

"Uncle tidak punya uang untuk membayar sekolahmu, jika kau tetap sekolah di situ," ucap Surya dengan tegas, Embun sudah kelas enam SD seharusnya dia mengerti dengan kondisi orang tuanya.

"Surya, kau tidak bisa seperti itu kepada keponakanmu!" protes Mentari, ia tak sampai hati jika ketiga cucunya harus pindah sekolah ke sekolah negeri.

"Mah," tatapannya beralih ke ibundanya. "Realitanya saat ini adalah kita tidak punya banyak uang untuk membayar sekolah Embun, Langit, dan Bumi. Aku tidak ingin seperti Mama yang gali lubang, tutup lubang. Ini tidak akan selesai, semuanya harus berkorban agar kita bisa lepas dari jeratan hutang-hutang Gading."

Mentari menghembuskan napas berat. 'Dasar menantu kurang ajar,' gumamnya. "Terserah kau saja-lah Surya," Mentari sudah tidak bisa lagi berkutik, yang bisa ia lakukan sekarang hanya-lah pasrah.

Surya tak lagi memperdulikan protes Embun, meski bocah itu masih terus menggerutu. "Seperti yang kalian ketahui semua, Cindy memiliki warung makan sop buntut. Aku mau kita semua membantu Cindy berjualan, bukankah berat sama dipikul ringan sama dijinjing?" Surya meminta Cindy untuk membacakan apa saja yang menjadi tugas merka masing-masing.

Cindy berdiri dengan selembar kertas di genggamannya, ia merasa tak enak untuk membacanya tapi ini semua hasil discus panjangnya semalaman bersama suaminya dan ini untuk kebaikan mereka semua. Ia berdeham sebelum mulai membacanya. "Yang pertama Bintang," mata Cindy tertuju pada adik iparnya. "Kau menemaniku belanja ke pasar setiap hari mulai pukul 04.00 pagi, setelah itu melayani pembeli di warung bersama Mba Caca."

Tak ada protes dari mulut Bintang, ia sudah terbiasa belanja ke pasar dan berjualan jadi bukan hal yang sulit baginya. Melihat Bintang nampak menerima tugasnya Cindy kembali melanjutkan. "Mama, membantu di dapur."

"Hah? Kau berani menyuruh Mama masak di dapur? Menantu kurang ajar kau ini."

"Mama.." tegur Surya. "Di sini semua sama, kita semua harus bergotong royong agar bisa bertahan hidup. Kalau Mama tidak mau di dapur mama bisa beres-beres rumah dan menjaga Lisa."

Lagi-lagi Mentari hanya bisa terdiam ketika Surya menegurnya. "Lanjut, Cin!" perintah Surya.

"Embun, Langit, dan Bumi. Sebelum sekolah kalian membersihkan warung, merapihkan meja, kursi dan memastikan botol saus, kecap, sambal, tisu dan sendok terisi penuh."

"Hah? Kami ikut berkerja juga?" sahut Langit.

"Bagaimana dengan Alin dan uncle? Apa tugas mereka berdua?" tanya Embun dengan sinis.

"Uncle mencuci piring dan menjaga Lisa, bergantian dengan Alin," jawab Cindy. "Selain itu Alin pun menyapu halaman, mengangkat jemuran dan melipat pakaian." Cindy mendekat ke arah ketiga keponakannya. "Ayo kita bekerja sama agar semua ini terasa ringan!"

1
Yunerty Blessa
Nadi bertemu dengan Aaron.. sungguh pilihan yang tepat..
Yunerty Blessa
akhirnya semua bahagia.... sungguh sebuah karya yang mantap walaupun singkat... makasih banyak kak thor 😘❤️
Yunerty Blessa
tahniah buat kehamilan Nadi dan Sofia
Yunerty Blessa
Nadi belum percaya kalo dia hamil..
Yunerty Blessa
semoga Nadi cepat hamil....biar dia buktikan bukan Nadi yang mandul melainkan Surya....
Yunerty Blessa
bahagia selalu Aaron dan Nadi
Yunerty Blessa
benar apa yang dikatakan oleh Cindy
Yunerty Blessa
syukur Surya bagi tumpangan kalo tidak tidur di bawah kolong jembatan
Yunerty Blessa
aduh gagal lagi... apakah kejutan buat Nadi setelah menikah dengan Aaron
Yunerty Blessa
syukur lah hati Nadi terbuka kembali untuk menerima Aaron dan Alyssa
Yunerty Blessa
Alyssa sakit kerana merindukan mu Nadi
Yunerty Blessa
kasian sekali nasib mu Cindy... apakah Surya dan Cindy sudah berpisah
Yunerty Blessa
kau kan bisa berbicara berdua tentang diri mu.... jangan terus putuskan..
Yunerty Blessa
balasan buat keluarga kalian....
Yunerty Blessa
sabarlah Aaron....bagi Nadi waktu
Yunerty Blessa
terima lah hakikat nya..
Yunerty Blessa
tapi Nadi tidak semua lelaki seperti Surya
Yunerty Blessa
percaya saja Aaron....Nadi bisa menyelesaikan masalahnya dengan Surya
Yunerty Blessa
kena kau Surya.... rasakan 🤣😏
Yunerty Blessa
seperti nya Aaron mulai bucin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!