WARNING!!! Harap bijak membaca ya karena bikin panas dingin juga, hehehe
Hans seorang pria biasa yang masih memiliki seorang istri, terpaksa menerima tawaran seorang CEO cantik untuk menjadi suami kontraknya. Ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan putri kecilnya yang menderita penyakit kanker, sekaligus untuk memenuhi gaya hidup istrinya yang hedon.
Lantas, bagaimana Hans akan menjalani semua ini? Lalu kenapa sang Nona Ceo memilih Hans sebagai suami kontraknya? Padahal di luar sana banyak pria yang lebih hebat dari Hans.
Yukkkkk ikuti kisahnya yang nano-nano, hehehehe
IG @dydyailee536
FB Dydy Ailee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Cemburu
"Raina, aku sudah pernah bilang jangan memakai heels terlalu tinggi dan runcing. Tidak baik untuk kesehatan kaki kamu juga." Jelas Hans sembari mengompres kaki Raina. Raina hanya diam sambil memandangi Hans yang begitu perhatian padanya.
"Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?" tawar Hans.
"Boleh tapi nanti setelah makan ya." Ucap Raina. Hans mengangguk.
"Nona Raina!" suara Gita terdengar di luar sana sambil mengetuk pintu.
"Aku buka pintu dulu ya."
"Iya Hans." Hans kemudian meninggalkan kamar untuk membukakan Gita pintu.
"Pak Hans, ini makan malamnya."
"Terima kasih Nona Gita. Oh ya aku minta salep untuk kulit iritasi ya."
"Siapa yang iritasi Pak?"
"Raina."
"Oh baik, Pak. Kalau begitu saya ambilkan dulu."
"Iya, terima kasih." Gita pun pergi tanpa masuk ke dalam. Hans kemudian meletakkan makanan di meja. Raina menyusul keluar kamar.
"Kamu kok keluar? Baru saja mau aku bantu jalan." Ucap Hans seraya mendekat kearah Raina.
"Hans, aku ini masih bisa jalan. Bukan orang cacat."
"Maaf." Hans merasa serba salah. Raina lalu duduk disofa dan siap menyantap makanan yang di bawa oleh Gita.
"Duduk Hans, kita makan sama-sama." Pinta Raina. Hans mengangguk lalu duduk di samping Raina.
"Nona Raina!" teriak Gita.
Raina mendesah kesal. "Ada apa lagi si Gita?"
"Dia pasti membawa salep. Biar aku saja yang buka pintunya." Hans beranjak dari duduknya, membuka pintu untuk Gita.
"Pak Hans, ini salepnya."
"Terima kasih ya."
"Sama-sama, saya permisi." Gita berlalu begitu saja. Ia tidak mau menganggu kesenangan bosnya.
"Aku obati ya."
"Nanti saja Hans, setelah mandi. Lebih baik kita makan dulu."
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, pesta malam ini jadi?"
"Jadi Hans. Itu peresmian klub salah satu temanku. Jadi aku harus menghadirinya."
"Oh..." Hans tidak tahu harus berkata apalagi. Hans sendiri tidak tahu bahkan merasa insecure masuk dalam dunia Raina. Dunia yang sangat jauh dengan dunianya yang sederhana. Hans melihat ponselnya, Citra sama sekali tidak membalas pesannya namun pesan itu sudah dibaca.
"Maaf, aku mau menelepon istriku dulu." Hans beranjak dari duduknya menuju teras belakang. Raina mengangguk namun ada rasa nyeri di ulu hatinya kala Hans mengucapkan kata 'istriku'. Tapi Raina kembali sadar kalau dirinya dan Hans hanya suami istri diatas kertas. Bercinta pun berdasarkan surat kontrak.
"Halo Citra, bagaimana kabarmu?" Hans senang sekali karena akhirnya Citra bisa dihubungi.
"Aku baik, Mas. Kamu bagaimana? Kapan pulang?"
"Besok aku pulang, sayang. Kamu tidak kerja lagi kan?"
"Tidak Mas. Aku seharian ini yang menjaga Mika. Aku menyuruh Ayah dan Ibu pulang untuk istirahat."
"Mika sedang apa sayang?"
"Dia sudah tidur Mas. Dia sangat merindukanmu."
"Kenapa kamu tidak menelponku?"
"Aku khawatir menganggumu, Mas."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah. Kamu bagaimana Mas?"
"Aku kebetulan sedang makan malam jadi bisa meneleponmu. Kamu juga sudah dapat kabar tentang operasi Mika kan?"
"Iya aku sudah mendengarnya. Terima kasih Mas sudah mengusahakan sejauh ini. Dan maaf kemarin aku tidak menghubungimu lagi. Batreku lowbat dan aku capek banget."
"Iya tidak apa-apa. Ya sudah kamu baik-baik ya. Kalau ada apa segera hubungi aku."
"Kamu juga Mas, hati-hati pulangnya."
"Iya." Panggilan telepon berakhir dengan suara Raina membanting itu kamar. Hans kaget dengan sikap Raina. Dada Raina tiba-tiba terasa sesak dan panas saat Hans bicara dengan istrinya dengan sangat lembut. Apalagi saat Hans memanggil Citra dengan panggilan 'sayang'. Raina lalu merendam tubuhnya di dalam bath up dan memilih mengunci kamar mandi.
"Kenapa aku marah? Kenapa aku cemburu? Hans memang suamiku tapi suami bayaranku. Aku menginginkannya jadi aku membayarnya. Seharusnya aku tidak boleh marah. Tapi rasanya sesak saja. Hans pasti sangat mencintai istrinya. Tidak mungkin dia dengan mudah membuka hati untukku. Dia bahkan belum pernah mengucapkan kata cinta padaku. Dia melayani ku atas perintah ku. Bahkan dia menyentuhku atas perintahku. Jangan lemah Raina! Tapi aku ingin Hans melakukan semua itu tanpa menunggu perintahku." Raina bermonolog dengan perasaannya yang berkecamuk tidak karuan.
"Raina! Kamu baik-baik saja kan?" panggil Hans sambil menggedor pintu.
"Aku mandi Hans. Lanjutkan saja makanmu!" jawab Raina dari dalam.
"Ya sudah kalau begitu." Hans kembali melanjutkan makannya sambil menunggu Raina selesai mandi. Dua puluh menit kemudian, Raina keluar dari kamar mandi. Sementara Hans, sedang dudu menyendiri di gazebo. Tiba-tiba rasa rindunya pada Citra menyeruak. Terlintas semua kenangan indahnya bersama Citra. Namun kini Hans merasa bersalah telah menghianati Citra. Hans tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Citra jika rahasia ini terbongkar, terlebih putrinya, Mikayla. Akan tetapi, disisi lain Hans mulai menaruh hati pada Raina. Semua itu membuat Hans merasa bingung dan gamang. Dan ketiga hal itu selalu berputar-putar di otaknya, Citra, Raina dan Mikayla. Tiga wanita yang menganggu pikirannya.
"Hans," suara Raina memecah lamunannya.
"Eh-iya. Kamu sudah selesai?" begitu menoleh, Hans dibuat terpesona oleh penampilan Raina malam itu. Mini dress clubwear yang sangat seksi, menunjukkan lekuk indah tubuh Raina. Membuat bagian punggungnya tereskpose sangat jelas, ditambah payudara besar yang tampak menyembul. GLEK! Hans dibuat menelan ludah melihat apa yang Raina kenakan malam itu.
"Iya sudah."
"Kamu yakin mau pakai baju seperti ini Raina?"
"Iya Hans, memangnya kenapa? Apa aku jelek?"
"Kamu sangat cantik dan seksi malam ini. Tapi untuk diluar, itu kurang pas Raina. Apalagi kamu sudah menjadi istriku. Pakai baju seksi dirumah saja ya." Naluri Hans sebagai seorang suami saat melihat istri berpakaian seksi keluar begitu saja. Raina senang mendengarnya karena ia dianggap istri oleh Hans. Tapi bukan Raina namanya kalau tidak suka tantangan.
"Aku akan tetap memakai ini Hans. Ini Bali, Hans. Lagi pula kita hanya suami istri hitam diatas putih kan? Jadi nasihatmu hanya berlaku untuk istri mu itu. Sebaiknya kamu mandi sana, aku tunggu sepuluh menit lagi." Ucapan Raina begitu pedas bagi Hans. Tapi kembali lagi apa yang dikatan oleh Raina ada benarnya juga.
"Maaf kalau kamu tersinggung. Aku siap-siap dulu." Hans pun berlalu melewati Raina begitu saja.
"Aku hanya ingin melindungimu dari mata laki-laki kurang ajar, Raina. Meskipun kita hanya pasangan kontrak, aku merasa wajib menjaga dan melindungimu. Kamu boleh berpakaian seperti itu hanya di depanku, bukan untuk mata banyak pria diluaran sana." Semua ucapan itu hanya bisa Hans ucapkan dalam hati saja. Selesai mandi dan siap-siap, Hans langsung menyusl Raina yang duduk diteras belakang sembari membawa salep. Raina pun dibuat terpukau dengan penampilan Hans yang gagah dengan pakaian casual.
"Oh ya aku obati kakimu dulu." Hans lalu berlutut dihadapan Raina yang tengah duduk. Dengan lembut Hans mengoleskan salep pada pergelangan kaki bagian belakangnya.
"Untuk sementara heelsnya jangan tinggi ya. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."
"Iya baiklah." Kali ini Raina menurut karena memang terasa sakit. Dan mereka berdua pun segera pergi ke klub malam untuk berpesta.