Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Nandikara
"Dia hanya bertanya tentang keadaanku, Bu."
Ucapan Elisa membuat Suri dan Nyonya Winter saling berpandangan. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat.
"Kau baik-baik saja, kan, Kara?" tanya Nyonya Winter dengan suara yang jauh lebih lembut. Tatapan perempuan itu dipenuhi rasa heran. Putrinya benar-benar bersikap di luar kebiasaan.
Biasanya, begitu melihat wajah Suri, Nandikara pasti langsung meledak, melontarkan kata-kata tajam, bahkan berusaha mengusir gadis itu dari hadapannya.
Elisa terlihat mulai merasa gugup ketika menyadari kedua perempuan itu terus menatapnya dengan ekspresi aneh.
Apa aku salah bicara?
"Aku baik-baik saja, Bu. Bisakah aku beristirahat sekarang? Badanku masih terasa lemas." Elisa sengaja mencari alasan agar Nyonya Winter segera meninggalkan kamarnya. Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan penyamarannya terbongkar.
"Baiklah. Ibu akan membiarkanmu beristirahat." Nyonya Winter mengangguk pelan, lalu menoleh tajam ke arah Suri."Dan kau, cepat keluar dari kamar ini." Nada bicaranya begitu dingin hingga membuat suasana kembali menegang. Sangat jelas terlihat bahwa Nyonya Winter tidak menyukai Suri.
Mendengar ucapan tersebut, Elisa tiba-tiba teringat jalan cerita novel yang pernah dibacanya.
Benar juga. Suri memiliki ibu dan adik tiri yang selalu memperlakukannya dengan buruk. Berarti adik tiri yang dimaksud adalah Nandikara, sedangkan ibu tirinya adalah Nyonya Winter.
"Biarkan Suri tetap di sini, Bu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."
Permintaan itu membuat Nyonya Winter kembali mengernyit."Berbicara dengan Suri? Kau yakin, Kara?"
Elisa hanya mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu." Meski masih dipenuhi tanda tanya, Nyonya Winter akhirnya melangkah keluar. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, ia sempat menoleh ke arah Suri."Suri, jangan macam-macam." Setelah mengucapkan peringatan itu, barulah ia pergi.
Pintu kamar tertutup rapat. Suri mengembuskan napas panjang sambil memasang wajah datar."Memangnya aku ini monster?"
Elisa diam-diam memperhatikan gadis berwajah jutek di depannya. Kalau benar dia adalah Suri Winter, maka langkah pertama yang harus ia lakukan agar bisa bertahan hidup di dunia novel ini adalah menjadikan Suri sebagai sahabatnya.
Kalau Suri berpihak padanya, besar kemungkinan Agnes juga akan menerimanya. Dan jika Agnes sudah menjadi temannya, Putra Mahkota Erlan tentu tidak akan mencelakainya. Bagaimanapun juga, Agnes adalah gadis yang sangat dicintai sang putra mahkota.
Membayangkan rencana indah itu membuat sudut bibir Elisa terangkat membentuk senyum tipis.
"Kau kenapa?" Suri semakin dibuat bingung oleh tingkah adik tirinya.
Pertama, Nandikara sama sekali tidak mengamuk saat melihatnya, padahal kecelakaan beberapa hari lalu terjadi karena ia tidak sengaja mendorong Nandikara hingga gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
Karena rasa bersalah itulah Suri diam-diam datang ke kamar ini untuk meminta maaf. Ia bahkan sudah siap dilempari vas bunga atau diusir dengan makian, seperti biasanya. Namun, tidak satu pun dari semua itu terjadi. Yang lebih aneh lagi, Nandikara tampak begitu normal.
Biasanya gadis itu selalu berdandan mencolok dengan riasan tebal dan perhiasan berlebihan, lalu mengomel tanpa henti seperti nenek sihir dalam cerita dongeng. Hari ini semuanya berbeda.
Sangat berbeda.
Elisa tersenyum cerah."Aku tidak apa-apa, Suri. Dan apa pun yang pernah terjadi, aku sudah memaafkanmu. Jadi santai saja. Aku tidak akan marah."
Suri menatapnya seolah sedang melihat orang asing."Apa kepalamu terbentur lebih keras dari yang kukira? Kenapa tiba-tiba kau bersikap semanis ini?"
Elisa terkekeh pelan."Dunia ini terlalu indah untuk dikotori oleh kebencian. Bukankah akan lebih baik kalau kita saling bersikap baik? Apa pun yang terjadi di masa lalu, mari kita lupakan. Mulai hari ini kita akan menjadi sahabat yang tidak terpisahkan."
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Suri hanya bisa menatap Nandikara tanpa berkedip. Kini ia benar-benar yakin. Kepala adik tirinya itu pasti terbentur sesuatu saat jatuh. Kalau tidak, mana mungkin Nandikara mengucapkan kata-kata seaneh itu?
***
"Cani, nanti temui koki yang memasak hari ini. Katakan padanya kalau aku sangat puas dengan hidangan yang dia sajikan," ujar Elisa dengan senyum puas yang sejak tadi tak lepas dari wajahnya.
Makan malam itu benar-benar melampaui ekspektasinya.
Sepotong daging sapi panggang yang empuk disiram saus tomat bercita rasa manis dan pedas, disajikan bersama aneka sayuran segar serta roti hangat. Setiap suapan terasa begitu sempurna hingga membuat Elisa nyaris lupa menjaga citra anggunnya sebagai seorang putri bangsawan.
Di kehidupan lamanya, hidangan semewah ini hanyalah kemewahan yang sesekali bisa ia nikmati. Dengan gajinya yang pas-pasan, ia harus menabung berbulan-bulan hanya untuk mencicipi steak di restoran. Namun kini, makanan seperti ini justru menjadi santapan sehari-hari.
Jadi beginilah rasanya hidup sebagai orang kaya, batin Elisa. Senyum di bibirnya semakin lebar.
"Baik, Nona," jawab Cani dengan wajah yang tak kalah sumringah.
Melihat perubahan sang majikan membuat hati pelayan muda itu dipenuhi rasa syukur. Beberapa hari terakhir, Lady Nandikara seolah menjadi orang yang berbeda. Tidak ada lagi bentakan, makian, ataupun amarah yang membuat para pelayan gemetar ketakutan. Sebaliknya, sang nona kini kerap mengucapkan terima kasih, bahkan tak segan memberikan pujian atas pekerjaan mereka.
Tak heran jika menurut Cani, kecantikan majikannya kini semakin terpancar. Wajah yang dahulu hampir selalu dipenuhi kekesalan kini terlihat jauh lebih lembut karena jarang dihiasi amarah.
"Apa jadwalku setelah ini, Cani?" tanya Elisa sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet.
Selama beberapa hari berada di tubuh Nandikara, Elisa perlahan mulai membaur dengan keluarga Winter. Semuanya berjalan lebih lancar daripada yang ia bayangkan. Bahkan hubungannya dengan Suri pun mulai membaik.
Langkah pertamanya cukup berhasil. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah bersikap manis, makan enak, tidur nyenyak, dan menjalani kehidupan seorang bangsawan. Hidup seperti itu benar-benar terasa sempurna.
"Tidak ada, Nona. Setelah makan malam, Anda bisa langsung beristirahat agar tubuh Anda tetap bugar untuk kegiatan besok. Bukankah anda dan nona Suri akan pergi ke pusat kota."
Elisa mengangguk pelan."Sungguh kehidupan yang sempurna," gumamnya sambil tersenyum puas. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih sudah menemaniku makan malam, Cani. Sekarang aku ingin menikmati pelukan kasur empukku. Kau juga boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat."
"Baik, Nona." Cani menundukkan kepala dengan hormat sebelum melangkah keluar dari ruang makan.
Di sepanjang perjalanan menuju kamar para pelayan, senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Ia benar-benar menyukai perubahan Lady Nandikara. Memang sempat beredar desas-desus bahwa sang nona berubah drastis setelah kepalanya terbentur saat mengalami kecelakaan. Namun bagi Cani, apa pun penyebabnya sama sekali tidak penting.
Selama Lady Nandikara tetap menjadi sosok yang baik seperti sekarang, itu sudah lebih dari cukup baginya.