Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Matahari pagi bersinar cerah menyinari gedung-gedung pencakar langit.
Anton melangkah keluar dari lift khusus menuju kantor sementara Star Technology yang menempati satu lantai penuh di gedung perkantoran elit, tak jauh dari apartemennya.
Suasana kantor sudah sangat sibuk. Puluhan karyawan baru berlalu-lalang dengan wajah serius namun penuh semangat.
"Selamat pagi, Pak Anton," sapa beberapa karyawan serentak saat melihat CEO muda mereka tiba.
Anton hanya mengangguk pelan sambil membalas senyuman mereka, langkah kakinya tidak berhenti hingga ia mencapai ruangan direktur utama.
Cklek.
Pintu terbuka. Siska yang sedang sibuk membolak-balik dokumen di meja langsung mendongak. Wajah cantiknya seketika berbinar cerah.
"Pak Anton! Anda sudah kembali dari ibu kota," sambut Siska sambil berdiri dari kursinya.
Kemeja kerjanya yang pas badan dan rok selutut membuatnya terlihat sangat profesional dan mempesona.
"Ya, perjalanannya cukup melelahkan tapi sangat sepadan," jawab Anton santai, menjatuhkan dirinya di sofa kulit yang empuk. "Bagaimana perkembangan di sini selama aku pergi?"
Siska mengambil sebuah tablet dan berjalan menghampiri Anton. Dia duduk di sofa seberang dengan tatapan penuh kebanggaan.
"Kabar sangat luar biasa, Pak. Tim riset kita telah berhasil menyelesaikan purwarupa chip generasi baru kita, Star-Core 1!" lapor Siska dengan suara sedikit bergetar karena antusias.
Siska menyodorkan tablet itu, menampilkan grafik performa yang melonjak tajam.
"Suhu operasional stabil di bawah 40 derajat celcius, efisiensi daya meningkat tiga ratus persen dibanding Nexus Alpha, dan sama sekali tidak ada cacat sirkuit. Investor sangat puas!"
Anton mengangguk puas. Uang puluhan miliar dari investor benar-benar dimanfaatkan Siska dengan sangat maksimal.
"Kerja bagus, Siska. Kau memang tangan kananku yang paling bisa diandalkan," puji Anton dengan tulus.
Pujian sederhana itu langsung membuat pipi Siska merona merah.
"T-terima kasih, Pak Anton. Semua ini juga berkat arahan Anda."
Belum sempat percakapan berlanjut, suara pembawa acara berita dari televisi layar datar di sudut ruangan menarik perhatian mereka berdua.
"Breaking News: Raksasa bisnis ibu kota, Grup Kusuma, pagi ini secara resmi dinyatakan berstatus pailit setelah gagal bayar hutang senilai ratusan miliar rupiah."
Layar televisi menampilkan rekaman gedung megah Grup Kusuma yang kini disegel oleh pihak kepolisian dan bank.
"Aset utama perusahaan, termasuk anak perusahaannya, Nexus Technology, telah dibekukan. Pihak berwenang juga tengah menyelidiki keterlibatan dua pewaris utama keluarga Kusuma, Rendy Kusuma dan Kevin Kusuma, dalam skandal penipuan lelang ilegal dan penggelapan dana pemegang saham."
Siska melebarkan matanya menatap layar televisi itu dengan mulut setengah terbuka.
Grup Kusuma adalah raksasa bisnis yang sangat ditakuti. Bagaimana mungkin kerajaan bisnis sebesar itu runtuh hanya dalam waktu kurang dari 24 jam?
Siska perlahan menoleh ke arah Anton. CEO mudanya itu sedang menyeruput kopi hitam yang baru saja dibuatkan oleh sekretaris, wajahnya setenang air danau tanpa riak sedikit pun.
"P-Pak Anton... apakah ini... apakah Anda yang melakukan semua ini di ibu kota?" tanya Siska terbata-bata, nyaris tidak percaya dengan intuisinya sendiri.
Anton meletakkan cangkir kopinya lalu tersenyum tipis.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Siska. Rendy Kusuma sendirilah yang menggali kuburan untuk keluarganya. Aku hanya membantunya mengubur diri lebih dalam," jawab Anton misterius.
Tubuh Siska merinding. Di balik wajah tampan dan sikap santai bosnya, terdapat kecerdasan taktik yang sangat mengerikan. Siapa pun yang berani menjadi musuh Anton dipastikan tidak akan memiliki akhir yang baik.
"Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Pak?" tanya Siska yang kini menaruh rasa hormat dan kepatuhan mutlak pada Anton.
Anton menatap lurus ke arah Siska. "Siapkan tim akuisisi hukum dan finansial siang ini juga."
"Nexus Technology punya pabrik semikonduktor senilai puluhan miliar yang sudah beroperasi penuh. Daripada kita membangun pabrik Star-Core 1 dari nol dan memakan waktu berbulan-bulan, kita beli saja pabrik Nexus yang sedang disita bank."
Siska terbelalak, namun detik berikutnya senyum cerdas tersungging di bibirnya.
"Membeli aset musuh yang bangkrut dengan harga rongsokan... Itu ide yang sangat brilian! Bank pasti sedang panik mencari likuiditas, kita bisa menekan harganya hingga tujuh puluh persen lebih murah!"
"Tepat sekali. Urus semuanya secepat mungkin sebelum perusahaan raksasa lain mencium darah," perintah Anton tegas.
"Baik, Pak Anton! Saya akan segera melaksanakannya!" Siska berdiri dan setengah membungkuk sebelum bergegas keluar ruangan dengan penuh semangat juang.
Setelah Siska keluar, ruangan kembali hening.
Anton menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata. Tiba-tiba, suara mekanis yang familiar bergema di dalam kepalanya.
Ting.
[Sistem Log: Misi tersembunyi 'Kehancuran Sang Penindas' telah selesai.]
[Musuh utama Keluarga Kusuma telah dilumpuhkan secara permanen.]
[Menghitung hadiah pencapaian...]
[Selamat! Tuan mendapatkan peningkatan kemampuan: Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2.]
Anton membuka matanya dengan cepat.
"Tingkat dua? Apa bedanya dengan yang pertama?" batin Anton penasaran.
[Fungsi Baru Terbuka: Analisis Struktur Digital dan Jaringan.]
[Deskripsi: Selain menembus struktur fisik benda mati, mata tuan kini mampu melihat aliran data sirkuit elektronik, mendeteksi cacat pada kode program software, serta melihat celah keamanan bug pada perangkat digital apa pun hanya dengan pandangan mata.]
Senyum Anton mengembang sangat lebar.
Jika Penglihatan Tingkat 1 membuatnya menjadi dewa di pasar barang antik dan lelang fisik, maka Tingkat 2 akan membuatnya menjadi raja mutlak di era teknologi digital modern ini.
"Sempurna," gumam Anton pelan.
Drrt. Drrt.
Ponsel di saku Anton bergetar. Sebuah pesan masuk dari Elena.
"Anton, aku sudah menyiapkan draf pendirian perusahaan farmasi 'Aegis Medica' dengan pembagian saham 60-40 sesuai kesepakatan kita. Para ahli lab-ku juga terkejut melihat resep yang kau berikan semalam; mereka bilang itu revolusioner. Kapan kau bisa meninjaunya?"
Anton mengetik balasan dengan cepat.
"Lanjutkan ke tahap produksi awal. Aku akan ke ibu kota minggu depan setelah pabrik teknologiku selesai diakuisisi."
Anton berdiri dan berjalan menuju jendela kaca besar di ruangannya, menatap hamparan kota dari ketinggian.
Dua pilar kerajaan bisnisnya telah mulai berdiri tegak: Teknologi dan Medis. Uang akan segera mengalir masuk bukan lagi dalam hitungan miliar, melainkan triliunan.
"Dunia ini terlalu kecil," ucapnya pada diri sendiri, siap menelan segala peluang yang ada di depannya.