NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:238.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan pengacara : 14

Terlalu lama duduk dengan lutut tertekuk, kala menurunkan kaki malah kesemutan.

Setiap hentakan maka ia akan meringis, melangkah merayap menempel di dinding sampai ruang depan, diambilnya remote control pagar lalu pintu rumah dibuka.

Sepeda motor berbodi bongsor memasuki halaman luas. Jarak ke teras sekitar lima belas meter, lalu berhenti di area parkir terbuka beratap galvalum.

Dua sosok pria mengenakan helm hitam dan putih turun dari kendaraan. Sang pengendara melepaskan sarung tangan, meletakkan di tempat penyimpanan botol minum pada bagian stang.

Tanpa melepaskan jaket, mereka berjalan ke teras, sewaktu hendak menyapa wanita yang berdiri bersandar pada dinding sebelah pintu, salah seorang berseru dikarenakan rasa terkejut.

“Loh, Ibu yang semalam di warung makan pecel lele pak Amat, kan?” Kaca helm dinaikkan.

Helya lupa-lupa ingat, waktu itu dalam keadaan panik, pikiran tak fokus, terlebih malam hari. Kala pria baru saja menyapa membuka helm, baru dia mengenali.

“Pak, eh mas Yudis, ya?” katanya tergagap. Menaikan satu kaki, lalu bergantian dengan sebelahnya. Rasa kesemutan sudah tidak separah tadi.

“Sebaiknya kita masuk, bicara di dalam,” ucap sang rekan masih belum melepaskan helm.

“Ayo silahkan masuk, Pak.” Helyara menekan tombol remote, dan pintu pagar segera tertutup.

Dia berpegangan pada kusen, sedikit memaksakan diri melangkah cepat. Memahami makna lain kalimat barusan — jangan sampai menarik kecurigaan orang lain.

Yudis melepaskan sepatu olahraga, dan masuk sambil menenteng helm.

Helya membimbing tamunya ke ruang santai, sedikit jauh dari pintu utama.

Kedua pria tersebut melepaskan jaket, dan salah satu dari mereka juga melepaskan helm.

“Apa hunian ini bebas dari kamera cctv?” tanya pria bersuara sedang, jernih seraya menaruh jaket pada sandaran sofa jaguar warna maroon.

“Hem, tidak ada,” jawab Helya.

Sang pria menoleh, memandang tepat pada netra terdapat semburat urat kemerahan. “Sepertinya Anda ragu jika hunian ini tak dipasangi kamera.”

“Dulu, sewaktu masih ada orang tua saya, setiap sudut dipasang kamera pengawas, namun semenjak lima tahun lalu dicopot,” jelasnya dan segera memutuskan kontak mata.

“Alasannya?” tanyanya ingin lebih banyak mengetahui tentang calon klien.

Helyara sedikit tak nyaman, terlihat dari caranya menyelipkan anak rambut, sorot mata bergerak tak fokus.

Kata-kata Prayoga terngiang-ngiang, harus jujur.

“Suami saya memiliki fantasi bercinta sedikit liar, suka mencoba tempat baru,” ucapnya sambil memandang dinding kosong.

Yudis dan temannya langsung paham, mereka tak lagi bertanya.

“Kami belum memperkenalkan diri secara resmi. Saya Yudistra. Sarjana hukum, dan sudah bergelar resmi profesi atau lisensi sah advokat.” Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA), diperlihatkan.

Helyara menerima dan membaca sekilas, kemudian menyambut uluran tangan. Mereka bersalaman. “Helyara Utomo.”

Pria satunya lagi melakukan hal sama, mengeluarkan kartu tanda pengenal bukti jika dia seorang pengacara resmi, sudah diambil sumpahnya di Pengadilan Tinggi.

“Abi Sakta Haujan.” Tangannya terulur, menunggu disambut. “Saya juga seorang detektif swasta.”

Tangan dingin, lembab Helya menempel, dan dia langsung merasakan kehangatan pada genggaman formal. “Helyara Utomo.”

Hanya sepersekian detik, lalu mereka sama-sama menyudahi jabat tangan.

“Sebelum kita melakukan sesi tanya jawab, lanjut berdiskusi mencari jalan keluar, izinkan kami memeriksa hunian ini benar-benar bebas dari cctv tersembunyi atau tidak. Bolehkah, Bu?” tanya Abi Sakta Haujan.

Helya menatap kedua pengacaranya secara bergantian lalu mengangguk memperbolehkan. “Mari saya temani sambil menunjukkan setiap ruangan.”

Kedua pria belum sempat duduk, mengambil alat Detektor Frekuensi Radio (RF Detector), kegunaannya menangkap sinyal nirkabel (Wi-Fi atau Bluetooth) yang dipancarkan oleh kamera pengintai untuk mengirim data.

Pemeriksaan dimulai dari pagar rumah, lanjut masuk ke dalam hunian, dan memasuki kamar tamu yang ditiduri Ganira serta lainnya.

Kala tiba di kamar ibu dan ayahnya Helya, Sakta memperhatikan lekat kekacauan di atas lantai.

Helya langsung gugup, tidak mudah baginya menceritakan apa yang dirasa, dialami kepada orang asing, sedangkan dengan sosok sudah dikenal saja dirinya sangat jarang berbagi informasi.

“Hem … tadi saya mengamuk. Ini kamar almarhum orang tuaku, ternyata dipakai untuk berbuat mesum Alandi dengan wanita bernama Siska, berprofesi sebagai pembantu rumah tangga disini,” ungkapnya seraya menunduk memainkan jari-jari gemuk.

“Bu, santai saja … kami disini berniat membantu bukan menghakimi. Anda boleh menceritakan apa saja tanpa perlu merasa takut akan rahasia bocor ke publik,” Yudis membantu menenangkan wanita sedari tadi terlihat tidak nyaman.

“Terima kasih,” suaranya sedikit bergetar.

Pemeriksaan dilanjutkan ke tempat lainnya tanpa terlewati, dan hasilnya memang tidak ada cctv.

Sembari memeriksa, Sakta dan Yudis mengambil foto, merekam, mereka juga memotret gambar Alan bersama Siska.

Sehabis berkeliling, Helya dan kedua tamunya duduk di ruang santai. Di atas meja ada minuman soda kaleng, dan botol air mineral, tadi diambil dari dalam kulkas.

Sesi tanya jawab dimulai, Sakta meletakkan alat perekam suara di atas meja sehingga dapat menangkap suara dengan sempurna.

Sedangkan Yudis memotret kartu tanda pengenal Helyara.

“Sudah berapa lama Anda menikah dengan Alandi? Tolong ceritakan sedikit dari proses perkenalan, bagaimana sikap kesehariannya.” Sakta memilih memperhatikan bantal sofa daripada menatap wanita yang gelisah apabila dipandangi langsung.

“Enam tahun lebih. Tiga bulan setelah kepergian orang tua dan adik saya, kami memutuskan untuk menikah.” Helya mengatur napas.

Bokongnya bergerak maju agar duduknya tegak. “Saya sempat depresi karena kehilangan yang tiba-tiba, dan Alandi bisa dibilang sebagai penyembuh, selalu ada. Tak membiarkanku sendirian melewati duka.”

“Sikapnya selama kami berumah tangga selalu hangat, tidak pernah sekalipun main tangan, melakukan kekerasan fisik. Sesekali memang ada dia berbicara dengan nada lantang, membentak,” sambungnya dengan suara lebih tenang.

Pelan-pelan perasaannya mulai nyaman, sebab Sakta dan Yudis memberikan dia ruang untuk bercerita, tak memandang netranya, dan tidak menyela.

“Menurut pengakuan Anda tadi, bi Mirma masuk ke rumah ini bekerja sebagai pembantu, satu tahun setelah pernikahan. Lantas, awal menikah apa kalian tinggal berdua saja?” Sakta tak sengaja bertemu pandang dengan netra berangsur-angsur jernih.

Helya menggeleng. “Tahun pertama pernikahan, orang tuanya Alandi tinggal disini. Mereka pulang kampung setelah mengetahui kalau saya kecil kemungkinan bisa hamil. Dari sanalah sifat mereka berubah termasuk sikap. Suka menyindir, mencibir, mencaci maki saya.”

“Pernyataan itu hanya secara lisan, atau ada bukti konkret semisal diagnosis dari dokter?” ia masih mengunci mata klien nya.

“Saya dibawa ke klinik bersalin, dan disanalah pemeriksaan dilakukan. Beberapa jam setelahnya surat keterangan dokter keluar,” perasaannya mulai melankolis.

“Apa Ibu masih menyimpan bukti surat dari dokter?” Yudis mengambil alih pertanyaan.

Sakta memerhatikan sekitar. Hunian ini memang besar, berdiri di tanah luas dan memiliki halaman bisa dibangun tiga buah rumah lagi.

“Ada. Saya ambilkan sebentar. Pak, silahkan diminum airnya.” Helya beranjak, melangkah normal lalu masuk ke dalam ruang kerja.

Yudis menyeletuk. “Sepertinya kasus ini sangat kompleks, dan kalau tidak cepat dicegah, kita tahu arahnya kemana dan akan berakhir seperti apa.”

.

.

Bersambung.

1
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
Teh Qurrotha
sebel deh si Sapto yang songong bin sombong
Teh Qurrotha
pokonya puasss,
dewi rofiqoh
Tak kirain yang krna injak pusakanya... Eh ternyata perut yang kena 🤔
Teh Qurrotha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
sakta gak sadar lampu dh hijau akibat terpesona dg senyum helya 😀
Teh Qurrotha
bisa bersilat lidah dia, atau pura2 ngelindur🤣
Teh Qurrotha
apa kamu menggoda bapa mertuaku sis🤣
Tamia Akhildadanwidyan
babat habis si Siska helya,,,enak aja sok Sokan jadi nyonya rumah??coba ngaca deh,,,mau hidup enak kok yg instan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
hajar hel hajar 🤮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!