Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Mereka hanya ada satu mata kuliah hari itu. Di dalam kelas pun suasana terlihat semakin nyantai. Emily duduk bersebelahan dengan Ziva, sedangkan Rey memang satu kelas, hanya saja duduknya agak sedikit berjauhan.
“Ily, lo nggak gerah apa siang-siang gini pakai trunek?” tanya Ziva sambil melirik heran.
“Enggak, kan ini lengannya buntung. Crop top juga,” jawab Emily santai.
“Bibir lo kenapa gede abis? Piler loh… apa digigit tawon?” Ziva menahan tawa.
“Tawon gede? Hahaha… nggak lah, biasa gue sariawan,” elak Emily cepat.
“Lo mencurigakan banget. Habis mesum lo ya sama Alex?”
“Anjir, pikiran lo kotor banget. Nggak ya! Nggak tahu, gue lagi nggak mood mikirin laki-laki itu,” jawab Emily sebal.
“Lagian kan udah gue bilang, Alex itu mokondo. Udah jelas dia cuma manfaatin lo. Masuk geng Sport Queen juga nggak ada gunanya, Ily. Lebih baik keluarin aja deh. Bukan apa-apa, gue cuma kasihan sama lo… cuma dimanfaatin doang sama dia,” ujar Ziva serius.
“Pusing gue juga. Dia tuh pinjem duit mulu sama gue, digantiin nggak pernah. Ada aja alasannya. Cuman ya, selain tampan, dia juga modal setia.”
“Setia seseorang itu nggak bisa dibaca, Ily. Kalau lo nggak tahu, kan di belakang lo dia kayak gimana. Lo tuh kecintaan banget sama dia, udah kayak dibego-begoin.”
“Nggak tahu gue, pusing Ziv…” Emily memijit pelipisnya.
“Kenapa nggak lo putusin aja sih?”
“Nggak mudah… tapi ya nanti gue coba deh.”
“Iyalah. Masih banyak di dunia ini. Jangankan di dunia, di kelas kita aja banyak cowok-cowok tampan yang jauh lebih tampan daripada si Alex. Lo udah diapain sih sama dia sampai nggak mau lepas?”
“Gila anjir pikiran lo! Gue nggak ngapa-ngapain ya sama dia tuh. Paling pelukan aja, kadang malah geli.”
“Bohong lo.”
“Ih, bodo amat kalau nggak percaya.”
“Masalahnya si Alex itu udah kayak cowok mesum banget. Lo nggak tahu kan kalau tiap kali habis balapan, dia ke klub. Ujung-ujungnya bukan cuma pesta sama kita, tapi dia sewa LC. Lo juga udah pernah lihat kan?”
“Itu karena gue nggak mau dia sentuh.”
“Nah sekarang kenapa lo masih bertahan?”
“Ya nggak tahu… mungkin setelah ini juga udah gue buang tuh cowok. Ah males banget.”
“Gue kasih tau ya, lo cinta boleh, tapi bego jangan.”
“Heeyyy kalian…!!! Habis kelas mau nonton latihan basket nggak?” timpal Nara dari bangku belakang.
“Basket siapa, kelas mana?” tanya Emily.
“No geng si Rey. Gue mau nonton Gio, ah si paling ganteng,” timpal Nara girang.
“Bara lebih mempesona kali,” ucap Caca.
“Kalian ini mau nonton basket apa mau nonton cogan, itu?” ucap Emily mencibir.
“Dua-duanya deh,” timpal Nara terkekeh.
“Ya udah nanti abis kelas kita nonton ke lapangan. Lagian nggak ada kelas lagi kan setelah ini. Sekarang juga dosennya belum datang,” ucap Ziva.
“Iya, iihhh… nanti udah lama datang, ngasih tugas nggak kira-kira,” cemberut Caca.
Setelah dosen selesai menjelaskan materi, ia langsung memberikan sebuah tugas kelompok kepada mahasiswa di kelas itu.
“Untuk minggu depan kalian saya beri tugas membuat presentasi analisis strategi bisnis. Kelompok dibagi tujuh orang, topik boleh pilih sendiri, tetapi harus ada data nyata dari perusahaan yang kalian ambil. Saya beri waktu seminggu, jadi minggu depan kita presentasi,” ucap dosen tegas.
Semua mahasiswa mulai berisik mencari kelompok. Emily sempat melirik kanan kiri, lalu akhirnya terbentuk satu kelompok berisi: Rey, Ezra, Bara, Emily, Nara, Ziva, dan Nael.
“Woy, kita resmi sekelompok nih,” ucap Ezra santai.
“Wah, rame juga tujuh orang, lumayan lah,” timpuk Bara sambil nyengir.
“Yaudah topiknya apa? Jangan lama-lama debat, deadline cuma seminggu,” potong Ziva heran.
Mereka akhirnya duduk melingkar membicarakan rencana.
“Menurut gue, kita ambil perusahaan besar aja yang gampang cari datanya. Misalnya Indomie atau Starbucks,” usul Nara.
“Setuju, tapi kalo Indomie udah terlalu mainstream. Starbucks lebih menarik,” jawab Nael serius.
“Starbucks boleh tuh. Banyak strategi marketing dan bisnisnya,” timpal Emily mantap.
Rey hanya mengangguk lalu berkata singkat, “Oke, Starbucks. Sekarang pembagian tugas.”
Mereka pun menyusun pembagian kerja:
Rey: bikin kerangka slide + desain presentasi.
Ezra: cari data keuangan dasar.
Bara: analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat).
Emily: analisis strategi marketing.
Nara: bikin latar belakang perusahaan.
Ziva: bikin kesimpulan + rekomendasi.
Nael: bagian presentasi akhir dan koordinasi.
“Deadline pribadi 3 hari ya, biar nanti 2 hari sebelum presentasi kita bisa gabungin semua hasil,” ucap Ezra tegas.
“Setuju. Kita bikin grup WhatsApp aja biar gampang koordinasi,” tambah Bara.
“Yaudah, nanti aku yang bikin grupnya,” sahut Ziva.
Mereka semua mengangguk. Meski ribut-ribut kecil sempat muncul, akhirnya tugas ke
lompok itu mulai terencana dengan baik.
Sore itu kelas selesai. Geng Rey langsung bersiap untuk latihan basket, sementara Nara, Emily, Ziva, Caca, dan juga Dion yg akan ikut latihan berjalan menuju lapangan. Mereka memang berniat menonton, bukan hanya karena pemainnya tampan, tapi juga karena Rey bagian dari kelas mereka. Jadi wajar saja kalau mereka ingin mendukung.
Baru saja melangkah, tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang.
“Emilyyyyyy!!!” teriak Alex.
“Apa sih lo? Teriak-teriak mulu,” sahut Emily sinis.
“Beb, kenapa lo susah banget dihubungin dari kemarin!” tanya Alex sewot.
“Mau ngapain hubungin gue? Mau pinjem duit lagi? Nggak adaaa,” jawab Emily ketus.
“Ngga gitu, Beb! Lo kenapa sih malu-maluin gue,” sergah Alex kesal.
“Yaelah, nggak usah dimalu-maluin. Emang lo udah malu-maluin,” celetuk Caca nyeletuk.
“Eh, gue ke sini mau nyamperin cewek gue, kok malah dibilang mau pinjem duit,” bela Alex.
“Itu karena kebiasaan lo! Suka minjem duit sama Emily,” timpal Dion santai.
“Ikut campur aja lo, Beti!” ketus Alex sinis.
“Ribet banget lo! Mau ngapain? Cepetan, gue mau nonton basket,” sahut Emily jutek.
“Lu mau nonton basket apa mau caper sama cowok-cowok yang main?” tuduh Alex.
“Kenapa ribet banget sih! Hak gue dong. Yang mau tanding itu kelas gue, teman satu fakultas gue. Salah kalau gue nonton?” balas Emily sewot.
“Iya, takutnya aja lo tebar pesona. Giliran gue chat, lo nggak bales-bales,” dengus Alex.
“Ya udah, sekarang lo bilang mau apa teriak-teriak panggil gue. Gue lagi males buka HP, lagi males chatting. Emang kenapa sih lo ribet banget jadi orang,” sahut Emily kesal.
“Ya gue cuma mau tanya, ily. Kenapa lo nggak bales chat gue,” tanya Alex.
“Karena gue lagi nggak mood! Lo ngerti nggak sih? Udah, gue males,” jawab Emily marah.
Emily langsung pergi begitu saja, meninggalkan Alex yang melongo.
“Ilyyyyyy! Bebbb! Emilyyyy!!!” teriak Alex histeris.
“Nohhh, rasain! Makanya jadi cowok jangan mokondo. Ditinggalin kan lo, hahaha!” timpal Caca ngakak.
“Dasar sialan emang!” umpat Alex kesal.