Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sinar mentari pagi mulai mengintip dari balik cakrawala, menembus kaca jendela besar ruang keluarga kediaman Herman. Sisa-sisa gerimis semalam masih meninggalkan embun yang menetes perlahan di dedaunan taman.
Di dalam ruangan yang mewah itu, Clara duduk meringkuk di atas sofa besar sambil memeluk kedua lututnya. Gadis itu menolak untuk tidur walau sedetik pun. Kantung matanya sedikit menghitam, dan wajahnya pucat karena kecemasan yang menggerogoti hatinya sepanjang malam.
Pak Herman yang duduk tak jauh darinya hanya bisa menghela napas panjang. Secangkir kopi di mejanya sudah dingin tak tersentuh.
"Clara sayang, tidurlah sejenak. Jika Nak Bima pulang dan melihatmu sakit karena kurang tidur, dia pasti akan merasa bersalah," bujuk Pak Herman dengan nada lembut.
Clara menggelengkan kepalanya pelan namun tegas. "Aku tidak akan menutup mataku sebelum melihat dia masuk dari pintu itu, Pa. Aku sudah berjanji untuk menunggunya."
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, terdengar suara derit halus dari arah pintu utama yang dibuka.
Cklek.
Sosok pemuda jangkung berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan tenang. Pakaiannya sedikit lembap oleh air hujan, namun posturnya tetap tegap sempurna. Wajahnya yang biasa sedingin es kini memancarkan aura kelelahan yang samar, namun matanya tetap setajam elang.
Itu Bima.
Napas Clara seakan terhenti. Detik berikutnya, tanpa memedulikan statusnya sebagai putri miliarder, Clara melempar selimutnya dan berlari sekuat tenaga melintasi ruangan.
"Bima!"
Gadis itu menabrak dada bidang Bima, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di leher pemuda itu. Pertahanannya hancur seketika. Air mata yang sejak semalam ia tahan akhirnya tumpah membasahi kemeja hitam Bima. Clara menangis tersedu-sedu, memeluknya seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja.
Bima sedikit tersentak oleh hantaman tubuh mungil itu, namun dengan cepat ia menyesuaikan keseimbangannya. Lengan kokohnya perlahan membalas pelukan Clara, menepuk punggung gadis itu dengan ritme yang menenangkan.
"Saya sudah kembali, Clara. Sesuai janji," bisik Bima lembut. Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya, memperlihatkan gelang benang merah berbatu giok yang masih melingkar sempurna di sana. "Tanpa luka gores sedikit pun."
Clara mendongak, menatap wajah Bima dengan mata sembabnya, lalu tersenyum sangat lebar di sela-sela tangisnya. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Bima, menghirup aroma pemuda itu dalam-dalam, merasa menjadi wanita paling aman di seluruh dunia.
Di sudut ruangan, Pak Herman berdiri dan mengusap sudut matanya yang ikut berair. Ia membiarkan putrinya melepaskan seluruh emosinya selama beberapa menit, sebelum akhirnya berdehem pelan.
"Syukurlah kau kembali dengan selamat, Nak Bima," ucap Pak Herman, suaranya penuh dengan rasa hormat yang mendalam.
Tiba-tiba, ponsel satelit di saku jas Pak Herman berdering keras. Pak Herman mengangkatnya dan mendengarkan dengan saksama. Raut wajahnya perlahan berubah dari lega menjadi sangat terkejut, lalu memucat, dan akhirnya memancarkan kekaguman yang luar biasa.
"B-baik. Tutup areanya. Pastikan media tidak mencium berita ini. Biarkan polisi khusus yang mengurus sisanya," perintah Pak Herman sebelum menutup telepon.
Ia menatap Bima dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Nak Bima... informanku di kepolisian baru saja melaporkan dari pelabuhan," ucap Pak Herman dengan suara bergetar. "Tiga puluh lima anggota elit Serigala Malam lumpuh total dengan titik saraf yang ditusuk jarum. Dan Bos Besar mereka... ditemukan dalam kondisi meridian hancur berkeping-keping. Dunia bawah tanah ibukota saat ini sedang gempar luar biasa. Mereka menyebut pelaku penyerangan ini sebagai Dewa Kematian Tanpa Bayangan."
Bima melepaskan pelukannya dari Clara secara perlahan, lalu menatap Pak Herman dengan ekspresi datar.
"Serigala Malam tidak akan pernah berani mendekati keluarga Herman lagi. Masalah ini sudah selesai secara permanen," jawab Bima tenang. "Namun, dunia bisnis ibukota pasti akan mencoba mencari tahu siapa yang berada di balik kejatuhan organisasi itu. Anda harus bersiap, Pak Herman."
Pak Herman mengangguk mantap. Matanya memancarkan ketegasan seorang miliarder penguasa bisnis.
"Kau benar. Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi atau bersikap defensif. Sudah saatnya keluarga Herman menunjukkan taringnya di depan publik," Pak Herman berjalan mendekati Bima dan menepuk bahu pemuda itu. "Minggu depan, aku akan menggelar pesta perayaan terbesar di ibukota. Secara resmi, pesta itu untuk merayakan kesembuhan total Clara. Namun tujuan utamanya... aku ingin memperkenalkanmu kepada dunia, Nak Bima."
Clara menatap ayahnya dengan mata berbinar, lalu beralih menatap Bima dengan penuh harap.
"Pesta perayaan?" Bima sedikit mengerutkan kening, ia tidak terlalu menyukai keramaian.
"Tolonglah, Bima?" Clara menarik ujung lengan baju Bima dan memasang wajah memelas andalannya. "Anggap saja ini sebagai hadiah karena kau sudah berjanji pulang dengan selamat. Aku... aku ingin berdansa denganmu di pesta itu."
Melihat tatapan memohon dari gadis yang baru saja menangis mengkhawatirkannya semalaman penuh, pertahanan Bima pun runtuh. Pemuda berhati dingin itu menghela napas tipis dan mengangguk pelan.
"Baiklah. Jika itu yang Anda inginkan, saya akan hadir."
Sorak gembira Clara langsung menggema di pagi itu, menandai akhir dari malam yang gelap dan awal dari babak baru yang jauh lebih megah.