Rayya, gadis cantik super ceria ini begitu mengidolakan pegawai ayahnya. Bahkan ia ingin sekali mendapatkan cinta pemuda matang yang bernama Alam.
"aku pikir dengan diamnya om saat aku berualng kali mengatakan cinta, om juga menyukaiku.
Aku pikir om akan menungguku sampai aku dewasa. Tapi ternyata aku salah.
Om jahat! om tega menyakitiku.
Harusnya om bilang sejak awal kalau om tak mau menerimaku! Janfan memberi harapan palsu seperti itu!
Apa om tau? hatiku benar benar hancur!"
"maaf nona" Hanya dua buah kata yang keluar dari bibir Alam, kemudian pergi meninggalkan Rayya begitu saja
Akankah Rayya kembali berjuang?
Lalu bagaimana nasib pernikahan Alam dan istrinya?
Terus ikuti kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riya_Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Suamiku
Penyatuan bibir yang hampir beberapa menit itu akhirnya harus terlepas kala pasokan udara dalam rongga dada mereka mulai menipis
Alam dan Rayya sama sama terengah, kedua terlihat saling meraup oksigen sebanyak banyaknya. Deruan nafas keduanya pun terdengar saling bersahutan
Alam mengusap bibir tipis Rayya dengan ibu jarinya. Sungguh Rayya tak menyangka bahwa malam ini akan terjadi. Malam dimana dirinya resmi mejadi seorang kekasih dari laki laki yang sangat ia inginkan sejak kecil.
Dalam posisi tertidur, Alam kembali mendekap tubuh Rayya, Tangan yang tak sengaja menyentuh area boko** rayya tiba tiba terhenti.
Alam mendekatkan wajahnya kembali. Hal itu pastinya mampu membuat jantung Rayya kembali terpompa saat wajah Alam sudah tak berjarak lagi dengannya. Dan kini Alam mulai mengecup telinga Rayya.
"nona, celana anda basah" bisik Alam
Seketika itu juga Rayya bangkit dari tidurnya dan memegang celana bagian belakangnya. Dan benar saja, ternyata celana yang ia pakai basah sejak di pantai tadi.
"gara gara om Alam nih! Rayya jadi lupa ganti baju kan"
"jangan menggerutu, nona akan semakin cantik kalau cemberut seperti itu" Alam mulai berani menggoda majikan cantiknya itu. Ia bahkan sesekali mentoel hidung dan pipi Rayya tanpa permisi
Rayya meninggalkan Alam yang masih setia duduk di ranjangnya.
Tak berapa lama kemudian, Rayya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe. Niat hati ingin mengganti bajunya tapi baju yang ia bawa malah basah karena terjatuh di lantai kamar mandi.
Alam yang sedang melamun menatap langit langit kamar itu tiba tiba saja terbangun saat mendengar suara lemari tengah terbuka.
Mata Alam membulat sempurna saat menatap pemandangan yang ada di depannya. Ya, Rayya yang hanya menggunakan bathrobe diatas lutut ternyata sedang mencari sesuatu di lemari bajunya.
Bukan itu yang membuat Alam melongo, tapi saat Rayya sibuk mencari baju, tanpa sadar, bagian bawah bathrobe itu malah semakin naik ke atas, bahkan sangat naik hingga sebatas pantat, dan jelas saja nampaklah paha putih mulus Rayya terpampang nyata di depannya.
Alam menelan ludahnya dengan susah, ia yang lama tak merasakan kehangatan seorang wanita pun tentu darahnya langsung berdesir hebat menyaksikan itu semua.
Perlahan Alam mulai mendekat, semakin dekat, hingga ia pun kembali memeluk tubuh Rayya dari belakang, mengecup leher mulus itu sekilas lalu mengecup telinganya.
"om!" sentak Rayy
"om ini mulai nakal ya!" Rayya melotot tajam sembari mengusap telinganya yang basah karena di jilat oleh om kesayangannya itu.
"iya.. om ini mulai nakal karena nona kecilnya sengaja menggoda"
"maksut om Alam apa?"
"nona sengaja menggodaku ya dengan berpakaian seperti ini?"
"menggoda? maksutnya?
Alam menatap ke bawah dan diikuti oleh Rayya.Rayya pun sangat terkejut saat melihat salah satu ujung handuknya ternyata masih tersangkut pada ujung meja. Dan mungkin karena itulah yang menyebabkan handuk bagian bawah milik rasa tersikap keatas.
Dengan segera Rayya menutupi area sensitif bagian depan dengan kedua telapak tangannya.
Alam tersenyum, ia menyusuri setiap detail wajah cantik Rayya hanya dengan jari telunjuknya. Perlahan namun pasti, Alam kembali mengecup setiap inci wajah itu, hingga kecupan itu berakhir di bibir tipis milik Rayya.
Lama. Kecupan yang berlangsung cukup lama itu akhirnya berubah menjadi sebuah sesapan dan decapan. Keduanya benar benar mengeksplor rongga mulut satu sama lain.
Keduanya benar benar hanyut dalam suasana romantis yang tercipta. Hingga tanpa di sadari, tangan Alam sudah menelusup masuk ke dalam bathrobe tersebut.
Ya, Alam mulai meremas gunung yang padat kenyal dan berisi itu. Ia terlihat begitu menikmatinya hingga Alam sudah membuat beberapa tanda merah di atas gunung itu.
Namun saat tangannya hampir menarik bathrobe yang Rayya pakai, tiba tiba aksinya dihentikan oleh Rayya. Ia menggenggam erat tangan Alam agar tak lagi meneruskan aksinya.
Rayya menggeleng pelan menatap wajah yang masih terlihat tampan diusia yang hampir kepala empat itu.
"maaf" lirih Alam sembari merapikan penampilan Rayya
"aku tak bisa memberikannya pada sembarang orang. Aku menjaga ini untuk suamiku nanti"
"saya akan menjadi suami anda nona, sabar dan tunggu saya menyelesaikan semuanya"
"soal ayah?"
"anda tak perlu hawatir, saya akan berbicara dengan tuan secepatnya"
Rayya hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya Alam memutuskan untuk pulang, ia ingin secepatnya mengurus perceraiannya dengan Nadia.
*
Beberapa minggu kemudian,
Perceraian Alam dan Nadia benar benar sudah diputuskan. Kini keduanya bukanlah sepasang suami istri lagi.
Dan sesuai janjinya, Alam akan berbicara dengan tuannya. Ia tak peduli apa yang akan di lakukan oleh tuannya nanti. Entah akan di terima atau di tolak, Alam akan berusaha untuk meyakinkan tuannya itu bahwa dialah yang terbaik untuk putrinya.
Dan disinilah pasangan kekasih berbeda usia itu tengah berada. Disebuah ruangan sepi dan rapi, dimana tempat Dante sering menghabiskan hari hari yang melelahkan karena pekerjaannya.
"ada apa?" ucap Dante dengan suara yang terdengar dingin dan menakutkan
"kami__"
.
.