Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ki Benggol Sang Pengacau
Lelaki berkepala plontos itu langsung memutar pedang besar nya dan menancapkan ujungnya di ubin yang ada di bawah pintu warung makan. Ubin yang terbuat dari batu pipih ini langsung pecah yang membuat semua mata langsung tertuju pada lelaki berkepala plontos itu.
"Kecuali yang duduk di pojokan ruangan, silahkan keluar dari warung makan ini. Jika tidak, kepala kalian semua akan bernasib sama seperti ubin itu..!! "
Ancaman lelaki berkepala plontos yang di panggil dengan sebutan Ki Benggol ini berhasil membuat para penikmat hidangan di warung makan itu ketakutan. Mereka buru-buru melarikan diri dari tempat itu, takut menjadi korban serangan nyasar. Termasuk sang pemilik warung makan yang segera berlari ke arah kediaman Rakai Bagelen.
Kini dalam ruangan warung makan itu kini tinggal Jenar Karana dan kelompoknya serta dua orang yang duduk di meja pojokan yang berlawanan arah dengan tempat duduk Jenar Karana.
"Kau kenapa belum keluar hah?! Mau cari mampus?! ", teriak Ki Benggol sambil menunjuk ke arah kelompok Jenar Karana.
" Hei kau tadi kan cuma bilang kecuali yang di sudut ruangan warung makan ini harus keluar. Lah kami kebetulan duduk di pojokan ruangan, tentu saja kami tidak keluar.
Makanya kalau ngomong itu yang jelas, jangan cuma sepotong-sepotong begitu ", jawab Si Kundu sambil terus menggerogoti ayam bakar nya.
" Si kantong beras itu memang benar Kang Benggol..
Harusnya kau tadi mengatakan orang yang duduk di sudut ruangan yang utara tidak boleh keluar. Begitu yang benar.. ", tukas si lelaki yang wajahnya penuh memar itu segera.
Ki Benggol mendengus keras mendengar omongan anak buah nya itu. Dan..
PLLAAAAAKKKK!!
AAUUUUUUGGGGGHHH...!!!
Lelaki yang wajahnya penuh lebam itu langsung meraung saat telapak tangan Ki Benggol menampar nya dengan keras. Dia langsung tersungkur ke lantai warung makan dengan wajah memerah dan bibir pecah.
"Sialan..!! Kau berani mengatur ku hah?!! Mau ku bunuh kau? ", maki Ki Benggol sambil melotot kereng pada anak buahnya ini.
" Ampun Kang ampun..
Aku tidak berani lagi. Ampuni aku... ", hiba si lelaki berwajah lebam ini sambil berusaha menjauh dari Ki Benggol.
" Lain kali kau berani bicara kurang ajar lagi pada ku, akan ku cabut semua gigi mu itu..!!
Hei kau kantong beras, sekarang cepat menyingkir dari sini. Kalau kau menolak, aku tidak keberatan mengempiskan perut buncit mu itu!! ", bentak Ki Benggol ke arah kelompok Jenar Karana.
" Kami sedang makan disini, tidak ada urusannya dengan orang yang kau cari. Kami sudah menghabiskan banyak uang disini. Kalau mau berurusan, silahkan saja. Tapi kalau kau berani mengganggu ketenangan makan ku, siap-siap saja kami melawan..", jawab Jenar Karana tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Kau... "
"Hei urusan mu dengan kami, jangan libatkan orang tak bersalah!! "
Teriakan keras dari salah seorang diantara dua lelaki yang duduk di seberang meja makan Jenar Karana itu sontak membuat Jenar Karana dan kawan-kawan serta Ki Benggol beserta komplotan nya menoleh ke arah mereka.
Seorang lelaki muda kira-kira sepantaran dengan Jenar Karana dengan badan kekar dengan kumis tipis dan tatapan mata tajam berdiri sambil menatap tajam ke arah Ki Benggol. Pakaian nya cukup rapi dengan beberapa perhiasan yang menunjukkan setidaknya ia adalah anak bangsawan atau anak pejabat negara.
"Iya, orang itu Ki.. Orang itu yang memukuli ku", adu si wajah lebam sembari menunjuk ke arah dua orang itu.
"Jadi kau orang yang menganiaya Si Gelo hah?!!
Besar juga nyali mu mengganggu anak buah Ki Benggol, jagoan Watak Bagelen heh. Kau harus mendapatkan pelajaran yang pasti akan kau ingat seumur hidup mu! "
Usai menggembor buas demikian, Ki Benggol langsung menendang bangku warung makan sekuat tenaga. Bangku ini langsung melayang ke arah dua pemuda berpakaian bangsawan itu.
Whhuuuuuuuttttt!!
Dengan gesit dua pemuda berpakaian bangsawan ini menghindar hingga bangku itu menimpa dinding warung makan yang terbuat dari anyaman bambu. Akibatnya dinding anyaman bambu itu langsung jebol dan jatuh di halaman warung makan.
Melihat serangannya bisa dihindari hanya dengan bergerak ke samping kiri dan kanan, Ki Benggol murka. Dia langsung memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang. Sepuluh orang anak buah Ki Benggol langsung menerjang ke arah dua pemuda berpakaian bangsawan ini. Pertarungan sengit antara mereka pun tak terelakkan lagi.
"Kita tidak membantu mereka, Jenar? ", bisik Si Kundu sambil terus menggerogoti ayam bakar nya.
Ya, Jenar Karana, Limbu Jati maupun Si Kundu memang tak berbuat apa-apa selain waspada terhadap pertarungan itu. Mereka sedikit menepi ke pinggiran ruangan warung makan seolah-olah memberi ruang untuk mereka berkelahi.
"Tidak perlu ikut campur sesuatu yang bukan urusan kita, jika tidak terpaksa. Kita tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, lebih baik menahan diri untuk menghindari masalah yang tidak perlu", jawab Jenar Karana dengan santainya. Sedangkan Limbu Jati hanya manggut-manggut mengerti apa yang dimaksudkan oleh adik seperguruannya ini.
Melihat anak buah nya satu persatu dibuat terkapar oleh dua pemuda berpakaian bangsawan ini, Ki Benggol geram bukan main.
Dia segera memutar-mutar pedang besarnya sebelum melesat ke arah pemuda berkumis tipis itu sambil mengayunkan pedang besarnya.
"Pecah kepala mu, bajingan..!!
Chhiiiiiyyyyyyaaaaaatttttttt....!!!!! "
Shhrreeeeeeeeettttttt.....
Si pemuda berkumis tipis yang melihat serangan Ki Benggol dengan sigap menangkis tebasan pedang besar lelaki berkepala plontos itu.
Thhrrraaaaaaannnngggg!!!
Kuatnya tenaga yang di miliki oleh Ki Benggol membuat si pemuda berkumis tipis ini sampai harus berlutut dengan satu dengkul menyentuh lantai warung makan.
Menyaksikan lawan nya dalam kondisi terjepit, Ki Benggol dengan cepat melayangkan tendangan keras ke arah dada si pemuda berkumis tipis.
Dhhiiieeeeeeessssss...
Oooouuuuuuuugggghhhhh!!!
Si pemuda berkumis tipis itu meraung keras ketika tendangan keras kaki kanan Ki Benggol menghajar dada nya. Tubuhnya terpental ke belakang menabrak meja makan dan baru berhenti setelah Jenar Karana dengan cekatan menahannya.
Saat itulah Ki Benggol yang bernafsu ingin membunuh pemuda bangsawan berkumis tipis itu meloncat ke arah mereka sambil mengayunkan pedang besarnya.
Whhuuuuuuugggggggg...!
Kekuatan tinggi yang dimiliki oleh Ki Benggol membuat si pemuda berkumis tipis itu memejamkan mata, pasrah menerima ajal yang sebentar lagi datang. Namun...
Chhrrreeeeeeepppp...!!
Saat pemuda bangsawan berkumis tipis itu membuka mata, ia terkejut.
Bilah pedang besar Ki Benggol yang hampir mengenai kepalanya, dicengkeram erat oleh Jenar Karana. Yang lebih mengejutkan lagi adalah sekalipun Ki Benggol berusaha keras untuk melepaskan cengkeraman pedang besar nya namun usahanya tidak membuahkan hasil. Bahkan keringat nya sampai berjatuhan berusaha untuk melepaskan pedang nya.
"Ba-bajingan!!!
Lepaskan pedang ku..!! ", teriak Ki Benggol sembari terus berusaha untuk melepaskan pedang besar nya dari cengkeraman tangan Jenar Karana.
Tetapi pemuda kekar dengan kulit kuning ini sama sekali tidak menggubris permintaan Ki Benggol. Dan...
Ia malah tersenyum tipis!
Inilah kekuatan cengkeraman Ilmu Silat Rajawali Pesisir Selatan. Latihan keras menguatkan jari jemari tangan yang dijalani Jenar Karana benar-benar menunjukkan hasilnya, kekuatan jari jemari tangan nya sekuat cengkeraman seekor burung rajawali.
Lalu dengan sekali sentak, Jenar Karana menarik pedang besar Ki Benggol. Ini menyebabkan tubuh besar lelaki berkepala plontos itu ikut tertarik ke arah Jenar Karana. Dengan secepat kilat, Jenar Karana melayangkan tendangan keras ke arah perut Ki Benggol.
Dhhiiieeeeeeessssss..
Aaaaaaaarrrrggghhhhhhhh!!
Gagang pedang besar lepas dari genggaman tangan Ki Benggol dan tubuhnya terpental hingga jatuh di depan pintu masuk warung makan. Lalu Jenar Karana melemparkan pedang besar itu tepat sejengkal di depan pangkal paha Ki Benggol yang membuat lelaki berkepala plontos itu pucat pasi.
Saat Jenar Karana hendak melangkah maju, tiba-tiba terdengar suara pantang menghentikan langkah nya.
"Berhenti..!! Jangan lanjutkan pertengkaran kalian! "
lam