Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kredit Mobil
Aroma "kemewahan baru" memiliki bau yang sangat spesifik. Itu adalah perpaduan antara aroma kulit jok premium, semir ban silikon, dan dinginnya pendingin ruangan sentral yang disetel di suhu terendah.
Sore itu, showroom mobil di bilangan Jakarta Selatan tampak berkilauan di bawah sorotan lampu LED putih yang menyilaukan. Lantai keramiknya begitu bersih hingga bisa dijadikan cermin, memantulkan deretan kendaraan besi yang berjejer rapi bak prajurit siap tempur.
Di tengah ruangan, berdiri sebuah monster hitam mengkilap: Mitsubishi Pajero Sport Dakar Ultimate. Mobil SUV besar yang menjadi simbol status bagi pria-pria ibu kota yang ingin terlihat sukses, berwibawa, dan sedikit mengintimidasi di jalan raya.
Arga berdiri di depan mobil itu dengan mulut sedikit terbuka, matanya tidak berkedip. Tangannya mengelus kap mesin yang dingin dan licin itu dengan gerakan sensual, seolah ia sedang membelai kulit wanita cantik. Matanya berbinar memancarkan hasrat yang telanjang—hasrat untuk memiliki, hasrat untuk pamer.
"Ganteng banget kan, Pak?" seru Kevin, salesman muda dengan rambut klimis dan setelan jas yang sedikit terlalu ketat. Kevin memiliki insting hiu; dia bisa mencium bau ego yang haus validasi dari jarak satu kilometer.
"Ini unit facelift terbaru, Pak. Fiturnya lengkap. Sunroof, active cornering lamp, sensor keselamatan canggih. Pokoknya kalau Bapak turun dari mobil ini, wibawanya langsung naik sepuluh level."
Arga mengangguk-angguk, terhipnotis oleh kilauan cat hitam itu. "Gagah ya. Hitamnya sangar."
"Sangat sangar, Pak," Kevin menimpali cepat, tidak memberi celah Arga untuk berpikir rasional.
"Cocok banget sama postur Bapak yang tinggi tegap. Kelihatan executive-nya. Maaf kalau boleh tahu, Bapak kerja di mana?"
Arga membusungkan dadanya sedikit, merapikan kerah kemejanya dengan bangga. "Saya di Lumina Group. Divisi Pemasaran."
"Wuih, Lumina!" Kevin bertepuk tangan kecil, ekspresinya dibuat kagum berlebihan. "Perusahaan bonafide itu, Pak. Pantesan auranya beda. Mobil ini emang jodohnya para bos, Pak. Kemarin manajer bank swasta juga baru ambil unit yang sama persis."
Nadinta berdiri selangkah di belakang Arga, mengamati pertukaran kalimat itu dengan senyum tipis yang tak terbaca. Dia melihat betapa mudahnya Arga dimanipulasi hanya dengan pujian murahan dari orang asing. Kevin sedang melemparkan umpan, dan Arga melahapnya bulat-bulat beserta kailnya.
"Mas, coba duduk di dalam deh," bujuk Nadinta lembut, suaranya terdengar sangat suportif. "Biar kerasa feeling-nya. Kan sayang kalau cuma dilihat dari luar."
Arga menurut tanpa bantahan. Dia membuka pintu pengemudi yang berat dan kokoh, lalu memanjat masuk ke kabin yang tinggi. Begitu dia duduk di jok kulit elektrik itu dan menggenggam setir palang empat yang tebal, wajah Arga berubah.
Dia bukan lagi Arga si Supervisor pas-pasan yang naik Honda City tua dengan AC bocor. Detik ini, di dalam kepalanya, dia adalah Raja Jalanan. Dia membayangkan tatapan iri Bambang si Sales saat melihatnya parkir besok pagi. Dia membayangkan wajah terkejut Pak Rudi. Dan yang paling parah, dia membayangkan betapa bangganya Maya saat duduk di kursi penumpang ini.
"Gimana, Mas?" tanya Nadinta, melongok dari jendela yang terbuka, memasang wajah antusias.
"Enak banget, Din," bisik Arga, matanya menyapu panel instrumen digital yang futuristik. "Tinggi banget pandangannya. Berasa penguasa jalanan."
"Cocok banget sama kamu, Mas," puji Nadinta, menuangkan bensin ke dalam api ego Arga. "Kamu kelihatan kayak Direktur Muda. Pak Mahendra pasti minder kalau lihat kamu naik ini."
Nama Mahendra menjadi pemicu terakhir. Arga mencengkeram setir lebih erat, membayangkan dirinya sejajar dengan bos besarnya.
"Saya ambil," kata Arga tiba-tiba kepada Kevin yang berdiri di samping pintu dengan senyum lebar.
Kevin bersorak dalam hati, matanya berkilat menghitung komisi. "Pilihan tepat, Pak! Mari kita ke meja administrasi untuk hitungan simulasinya. Kebetulan unitnya ready stock."
Mereka berpindah ke meja bundar kaca di sudut ruangan yang lebih tenang. Kevin mengeluarkan kalkulator dan lembar simulasi kredit dengan cekatan. Bunyi tombol kalkulator yang ditekan cepat mengisi keheningan sesaat.
"Nah, Pak Arga," Kevin menyodorkan kertas coretan angka setelah beberapa menit. "Untuk tenor 5 tahun biar cicilannya agak ringan, jatuhnya di angka 12 juta per bulan. Tapi DP-nya harus masuk minimal 150 juta. Itu sudah all in asuransi dan administrasi."
Wajah Arga sedikit memucat saat melihat angka itu. Angka itu besar. Sangat besar.
150 juta uang muka. Dan 12 juta cicilan per bulan. Gaji pokok Arga sebagai Supervisor Senior hanya di kisaran 15 juta. Jika ditambah tunjangan, mungkin menyentuh 20 juta. Tapi dengan cicilan sebesar itu, sisa gajinya hanya tinggal remah-remah untuk hidup sebulan. Belum lagi biaya bensin mobil boros ini dan gaya hidup Maya yang menuntut.
Arga menelan ludah, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Realitas finansial mencoba menamparnya bangun dari mimpi indahnya.
"Waduh... DP-nya tinggi juga ya," gumam Arga, suaranya kehilangan sedikit kepercayaan diri. "Nggak bisa diringanin lagi, Mas Kevin? Ada promo DP minim nggak?"
Kevin memasang wajah prihatin yang terlatih. "Wah, kalau unit CBU begini agak susah main DP minim, Pak. Paling saya bisa bantu diskon 10 juta, jadi DP-nya 140 juta. Itu udah mentok banget, potong komisi saya demi Bapak."
Arga terdiam, jarinya mengetuk meja dengan gelisah. Dia melirik Nadinta, mencari jalan keluar. Di dalam hatinya, dia berharap Nadinta akan melarangnya, memberinya alasan logis untuk mundur tanpa kehilangan muka di depan sales ini.
Namun, Nadinta justru melakukan hal sebaliknya. Dia memainkan peran "pendukung" yang mematikan.
Nadinta meletakkan tangannya di atas tangan Arga yang terkepal di meja, meremasnya pelan.
"Mas," panggil Nadinta lembut. "Tabungan kita di rekening bersama ada 80 juta kan? Itu uang katering dan gedung yang sudah kita kumpulin."
Arga menatap Nadinta kaget. "I-iya. Tapi kan itu buat resepsi bulan depan, Din. Kalau dipake..."
"Mas, resepsi itu cuma pesta satu hari," potong Nadinta dengan nada bijak yang mematikan logika. "Mobil ini buat masa depan karir kamu bertahun-tahun. Mana yang lebih penting? Pesta hura-hura satu malam atau wibawa kamu sebagai calon manajer?"
Nadinta menatap Arga lekat-lekat, matanya memancarkan keyakinan palsu. "Aku rela kok pestanya kita undur atau kita kecilin skalanya. Yang penting kamu happy, Mas. Yang penting kamu nggak diremehin lagi sama orang-orang kayak Bambang atau Pak Rudi. Aku mau suamiku dihormati."
Kalimat 'Aku mau suamiku dihormati' dan 'diremehkan orang' adalah kunci pamungkas. Arga tidak bisa menolak wanita yang memujanya setinggi itu. Itu adalah bahan bakar egonya.
"Kamu beneran nggak keberatan kalau uang katering dipake dulu buat DP?" tanya Arga, matanya mencari validasi terakhir.
"Sama sekali nggak, Sayang," bohong Nadinta tanpa kedip. "Justru aku yang saranin. Demi masa depan kita. Demi wibawa kamu. Uang pesta bisa dicari lagi nanti."
Arga tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan semu. Dia merasa didukung, merasa hebat, dan merasa memiliki pasangan yang 'pengertian'. Dia tidak sadar bahwa Nadinta baru saja mengalungkan batu pemberat di lehernya dan mendorongnya ke laut dalam.
"Terus sisa DP-nya?" tanya Arga pelan, kembali ke masalah teknis. "Masih kurang 60 juta lagi."
"Kamu kan punya kartu kredit limit besar yang jarang dipake?" usul Nadinta dengan polos. "Gesek tunai aja dulu buat nutupin kekurangannya. Nanti kan bulan depan kamu pasti dapat bonus proyek Lumina Green. Bisa langsung ditutup. Gampang kan?"
Bonus proyek yang bahkan belum tentu berhasil itu sudah dijadikan jaminan. Nadinta sedang mendorong Arga ke tepi jurang, dan Arga dengan sukarela melompat.
Arga tampak berpikir keras selama lima detik—lima detik yang menentukan nasibnya selama lima tahun ke depan. Bayangan wajah kagum teman-temannya mengalahkan logika matematikanya.
"Oke," Arga menggebrak meja pelan. "Kita ambil. Saya gesek sekarang."
Kevin bersorak dalam hati, buru-buru menyodorkan mesin EDC. "Mantap, Pak! Keputusan laki-laki sejati! Boleh saya pinjam KTP dan NPWP-nya, Pak? Kita proses SPK sekarang biar unitnya nggak diambil orang."
Arga mengeluarkan dompetnya, menyerahkan kartu identitasnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin. Lalu, dia membuka aplikasi mobile banking.
Nadinta melihat dengan jelas saat jemari Arga menekan angka PIN, memindahkan dana sebesar 80 juta rupiah—uang hasil tabungan Nadinta selama tiga tahun yang dia masukkan ke rekening bersama—ke rekening dealer.
Uang darah dan keringatnya. Uang yang dulu dia kumpulkan dengan menahan lapar dan tidak membeli baju baru.
Saat notifikasi "Transfer Berhasil" muncul di layar ponsel Arga, Nadinta merasakan kepuasan yang aneh. Uang itu hilang, ya. Tapi uang itu tidak hilang sia-sia. Uang itu baru saja membeli tiket kehancuran Arga.
"Sudah masuk ya, Mas Kevin," kata Arga, berusaha terdengar santai, padahal saldo rekeningnya kini nyaris nol.
"Siap, Pak! Sudah saya terima buktinya," Kevin menyodorkan setumpuk dokumen kontrak tebal. "Silakan tanda tangan di sini, di sini, dan di sini. Materainya sudah saya tempel."
Arga mengambil pena mahal yang disodorkan Kevin. Dia membungkuk di atas kertas perjanjian hutang itu.
Nadinta mengamati ujung pena yang menyentuh kertas.
Tanda tangani, Mas, bisik Nadinta dalam hati, sorot matanya dingin menusuk punggung Arga. Tanda tangani surat kematianmu. Ikat lehermu dengan bunga cicilan yang mencekik. Gadaikan masa depanmu demi besi berjalan ini.
Srrrt.
Tanda tangan Arga tergores mantap di atas materai 10.000.
Selesai sudah.
Perjanjian iblis telah disepakati. Arga kini resmi memiliki hutang ratusan juta dengan kewajiban bayar yang akan memakan lebih dari separuh napas kehidupannya setiap bulan.
"Selamat, Pak Arga!" Kevin menyalami Arga dengan guncangan tangan yang kuat. "Unitnya lusa sudah bisa diantar ke rumah. Atau mau diambil sendiri biar sekalian test drive?"
"Antar ke kantor saja," jawab Arga cepat, senyum sombong mulai terbit di wajahnya. "Ke Gedung Lumina Group. Biar... praktis."
Nadinta tahu alasannya. Arga ingin pamer. Dia ingin mobil itu datang di jam makan siang saat lobi sedang ramai, agar semua orang melihatnya menerima kunci mobil baru.
"Baik, Pak. Akan kami atur pengiriman VIP ke kantor Bapak."
Arga membusungkan dada, tampak menyombongkan dirinya. Dengan kehadiran mobil baru ini, dia akan merasa naik kasta, egonya semakin terpuaskan.
Nadinta menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri, dia tersenyum tipis.
Pada saat bersamaan, ponsel Nadinta berdering, menandakan bahwa ada pesan masuk dari seseorang.
Maya
Beb, aku udah nyampe di bandara! Nggak sabar banget ketemu kamu lagii🩷
Panjang umur.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/