NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koma

Waktu seolah membeku di sayap VVIP rumah sakit itu. Di dalam ruangan bernomor 701, hanya ada suara ritmis dari mesin ventilator yang memompa oksigen dan bunyi 'bip' monoton dari monitor jantung yang memetakan kehidupan Shabiya dalam garis-garis hijau yang rapuh. Bau mawar putih yang segar —yang diganti setiap pagi oleh Arsen— bercampur dengan aroma tajam cairan antiseptik, menciptakan suasana yang mencekam sekaligus melankolis.

Shabiya terbaring di sana, tenggelam dalam lautan seprai putih. Wajahnya yang dulu penuh gairah kini pucat pasi, nyaris transparan di bawah sinar lampu neon yang redup. Kepalanya dibalut perban putih, dan selang-selang plastik menusuk tubuhnya di berbagai tempat, menghubungkannya pada dunia yang sebenarnya ingin ia tinggalkan.

Di sisi tempat tidur, seolah telah menjadi bagian dari furnitur ruangan yang kaku, duduk seorang Galen Gemilar.

Pria itu tidak beranjak selama tiga hari terakhir. Jas mahalnya sudah tanggal, menyisakan kemeja putih yang kini kusut dan terbuka kancing atasnya. Janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya yang tegas, dan lingkaran hitam di bawah matanya cukup menjelaskan tentang malam-malam yang tanpa tidur. Tangannya yang besar dan kuat kini hanya mampu menggenggam jemari Shabiya yang lemas dengan kelembutan yang menyakitkan.

"Kau dengar aku, Shabiya?" bisik Galen, suaranya parau, pecah oleh kelelahan dan keputusasaan. "Dokter bilang kau hanya sedang istirahat. Tapi istirahatmu terlalu lama. Bangunlah... aku sudah menyiapkan kamar untuk bayi kita. Semuanya berwarna putih, seperti yang kau suka."

Galen mengusap punggung tangan Shabiya dengan ibu jarinya. Ia hidup dalam kebohongan yang diciptakan Arsen. Bahwa anak mereka selamat di ruang isolasi. Kebohongan itu adalah satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh ke dalam jurang kegilaan total. Baginya, koma Shabiya hanyalah sebuah jeda panjang sebelum mereka memulai hidup baru sebagai keluarga sempurna yang ia impikan.

Dan meski pria itu tidak mengurus semua bisnisnya selama beberapa hari terakhir, semuanya tetap berada dalam genggamannya. Galen memiliki banyak tangan kanan untuk mengurus bisnisnya dari berbagai cabang. Baik musuh ataupun rekan kerjanya tidak ada yang tahu jika sang pemilik kegelapan sedang dalam keadaan rapuh.

Pria itu pun tidak mengerti, mengapa dia sebegitu rapuhnya ketika mendapati wanita yang menjadi pengganti seseorang di masa lalunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit? Jika yang menimpa kejadian ini adalah Thana, sangat wajar jika dia merasa rapuh dan sangat sedih. Tapi yang berada di hadapannya sekarang ini adalah Shabiya, wanita pengganti seseorang yang berasal dari masa lalunya dan hanya dia gunakan sebagai kebutuhan untuk mencapai tujuannya.

Mungkinkah sudah tumbuh rasa simpati di dalam hati pria tersebut? Atau mungkin bahkan rasa cinta yang dia rasakan dulu? Atau ... Tetap rasa obsesi yang besar karena keinginan pria itu benar-benar belum berada dalam genggamannya?

"Kau berkata ingin merawat anak bersama-sama dengan penuh kasih sayang, bukan? Maka bangunlah, jika kau mengatakan itu sekali lagi kepadaku, akan ku turuti maumu. Kau tidak bisa pergi begitu saja, sebentar lagi semuanya akan tercapai. Apa yang aku inginkan akan berada dalam genggaman ku." Meski dengan suara yang lirih, tetap terdengar nada paksaan dan perintah mutlak dari pria tersebut.

Arsen berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya. Setiap kali Galen bertanya tentang bayinya yang berada di inkubator, Arsen harus mengarang detail-detail palsu seperti berat badannya, warna rambutnya, hingga detak jantungnya.

Tapi dia juga tidak bisa apa-apa selain ikut dalam skenario untuk menghancurkan tuannya. Mungkin nanti ... setelah dia memastikan dan mencari tempat aman untuk semua anggota keluarganya aman, dia akan menebus dosa itu sendiri di hadapan tuannya. Apapun caranya atau permintaan tuannya, akan dia lakukan.

"Tuan, Anda harus makan. Anda belum menyentuh apa pun sejak kemarin," ucap Arsen pelan.

Galen tidak menoleh. Matanya terpaku pada kelopak mata Shabiya yang tertutup rapat. "Bagaimana aku bisa makan, Arsen, sementara dia bahkan tidak bisa menelan air? Bagaimana aku bisa tidur sementara dia terjebak di tempat gelap yang tidak bisa kujangkau?"

Galen mencium jemari Shabiya, lama dan dalam. "Aku adalah penguasa, Arsen. Aku bisa membangun kekuasaan tertinggi, aku bisa menguasai apapun. Tapi kenapa aku tidak bisa membangun jalan agar dia kembali padaku? Kenapa aku tidak bisa meruntuhkan dinding yang memisahkannya dari kesadaran?"

Di dalam kegelapan komanya, Shabiya tidak berada di rumah sakit. Dalam benaknya, ia sedang berdiri di sebuah dermaga yang diselimuti kabut. Di sana, seorang wanita cantik dengan gaun merah —Thana— berdiri membelakanginya, menatap samudera luas yang tenang.

Shabiya ingin memanggilnya, ingin bertanya mengapa mereka memiliki wajah yang sama, namun suaranya hilang. Di samping Thana, ada seorang anak kecil yang memegang tangannya. Anak itu menoleh ke arah Shabiya, tersenyum sedih, lalu perlahan menghilang ke dalam kabut bersama sang wanita.

Shabiya mencoba mengejar, namun kakinya terasa berat, seolah terikat oleh ribuan kabel yang menariknya kembali ke dasar laut yang dingin. Kabel-kabel itu adalah suara Galen. Suara yang terus memanggilnya, memohon padanya, dan menahannya untuk tidak menyerah pada kedamaian abadi.

"Jangan pergi..." suara Galen bergema di alam bawah sadarnya, terdengar seperti guntur yang memecah keheningan kabut. "Jangan tinggalkan aku sendirian, Shabiya."

Malam semakin larut. Galen akhirnya jatuh tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar di lengan tempat tidur Shabiya, tangannya masih tetap menggenggam tangan istrinya. Dalam tidurnya, ia mengigaukan nama Shabiya dan Thana secara bergantian, sebuah simfoni kekacauan mental yang tidak pernah berakhir.

Arsen masuk dengan sangat hati-hati, menyelimuti bahu tuannya dengan jas hitam. Ia menatap Shabiya, lalu bergumam tanpa suara, *"Maafkan aku, Nyonya. Maafkan aku karena membiarkan Tuan mencintaimu dalam kebohongan ini. Tapi jika dia tahu bayi itu sudah mati, dia akan membunuh semua orang di ruangan ini, termasuk dirinya sendiri."*

Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip, tidak peduli pada drama kehidupan dan kematian yang sedang berlangsung di lantai tujuh itu. Galen Gemilar, sang penguasa yang ditakuti, kini hanyalah seorang pria kecil yang sedang memohon pada keajaiban.

Ia tidak sadar bahwa di dalam komanya, Shabiya sedang bertarung untuk menentukan identitasnya. Apakah ia akan bangun sebagai Shabiya yang penuh dendam, ataukah ia akan bangun sebagai "Thana" yang akhirnya menyerah pada delusi Galen demi bertahan hidup?

Keheningan malam itu hanya dipecah oleh bunyi 'bip' jantung Shabiya, satu-satunya bukti bahwa harapan Galen, betapapun palsunya, masih memiliki tempat untuk bersandar. Sang penguasa akan terus menunggu, menjaga wanita-nya sampai nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya, tanpa tahu bahwa yang ia jaga hanyalah tubuh yang jiwanya sedang mencari jalan untuk benar-benar pergi.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!