Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Gue Cemburu? Oh No!
Nada mengerjapkan kedua matanya, dia menggeliat pelan. Matanya sontak terbuka ketika tidak merasakan keberadaan suami berondongnya disampingnya, perlahan-lahan dia mendudukan dirinya. Tubuhnya terasa pegal dan kaku sekali sehabis percintaan panas mereka tadi malam, ya mereka melakukannya lagi setelah makan malam. Astaga remuk sudah tubuh Nada, enak sih enak pas diawal melakukannya namun imbasnya ya saat ia bangun tidur.
"Kemana tuh bocah? Tumben dia bangun lebih dulu dari gue?" Gumam Nada heran, biasanya kan dialah yang lebih dulu bangun daripada si bocah itu. Makanya tidak dia sampai heran begitu.
Wanita itu memilih beranjak menuju kamar mandi, tak lupa mengambil handuk putih yang tergantung didekat kamar mandi. Setelah membersihkan diri, dia menyisir rambut basahnya dengan memakai pakaian seksinya yaitu celana jeans sepaha dan tank top hitam yang memperlihatkan bagian-bagian tertentu lekuk tubuhnya. Dia merasa sangat lapar, akhirnya dia akan memutuskan untuk keluar kamar hotel menuju restoran. Namun belum sampai itu terjadi, dari arah balkon kamarnya yang memperlihatkan pemandangan indah dipantai dia melihat dua sosok manusia tengah berpelukan mesra disana. Matanya mengernyit ketika menyadari siapa dua orang itu, Danu dan si Permen?
"Ngapain mereka berdua pelukan segala?" Gumamnya kesal.
Nada mengambil langkah cepat keluar dari kamar hotelnya tak lupa menguncinya, ditaruhnya kunci kamar itu didalam saku celana jeans-nya. Saat dia akan memasuki lift dia berpapasan dengan James yang akan masuk kedalam lift, Nada menatap bocah genit itu dengan sengit. Bisa-bisanya dia membiarkan pacarnya sendiri berduaan dengan Danu, otaknya ditaruh dimana sih?
"Eh lo tau gak pacar lo kemana?" Tanya Nada membuka pembicaraan diantara mereka.
"Taulah Mbak, orang dia tadi minta izin sama gue." Ucap James santai.
"Lo tau gak dia sama siapa saat ini?"
"Sama Danu." Balasnya dengan santai membuat Nada ingin sekali menabok kepala James keras, sepertinya Nada saat ini dikelilingi oleh orang-orang berotak dangkal seperti James. Sudah tau pacarnya bersama pria lain masa dia membiarkan sih? Memangnya dia gak cemburu apa? Terus lo cemburu gitu Nad kalau Danu sama cewek lain? Batinnya bertanya-tanya. Gue cemburu? Oh no! Gue gak cemburu, gue hanya-..
"Mbak? Gak mau keluar?" Nada langsung tersadar ketika mendengar ucapan James, ternyata lift-nya sudah terbuka.
"Ayo lo ikut gue." Nada menarik tangan James.
"Eh mau dibawa kemana Mbak?"
"Kita samperin pacar lo yang kegenitan itu."
"Pacar gue gak kegenitan Mbak." Protes James tak rela kalau si Permen dia ejek begitu.
"Terus apa kalau bukan kegenitan? Udah tau dia udah punya pacar dan si Danu udah punya istri, masih aja nempelin. Tadi gue lihat mereka pelukan gitu, lo gak cemburu apa?" Cerocos Nada tanpa sadar.
"Jangan-jangan Mbak ya yang cemburu?" Tuduh James membuat Nada refleks melepaskan pegangan tangannya pada tangan James.
"Gue cemburu? Gak ya!!" Elak Nada.
"Terus apa namanya kalau bukan cemburu? Ngaku aja sih Mbak, Danu pasti senang Mbak cemburu gini." Nada mendelik mendengar ucapan James.
"Udah ayo ah, kita samperin mereka. Gue udah laper nih." Nada kembali menarik tangan James.
"Kalau laper ke restoran Mbak, kenapa malah ngajakin gue ke pantai?" Ya Nada mau labrak si Permen dan suami bocahnya itu lah.
"Diem aja lo!!" Nada menarik paksa tangan James agar mengikuti langkahnya, akhirnya mereka telah sampai pada dua orang yang tengah memunggungi mereka.
"Ehmm..." Deham Nada membuat dua orang itu menoleh.
"Sayang, kamu kok megang-megang tangan James sih? Sama aku aja kamu gak pernah begitu." Ucap Danu cemburu, Nada langsung tersadar kalau sedari tadi dia belum melepaskan cekalannya pada tangan James.
"Terus kalian berdua ngapain disini?" Tanya Nada pura-pura tak tau, dia bersedekap dada menatap Danu dan si Permen secara bergantian.
"Tadi aku gak sengaja ketemu Candy, dia kelihatan sedih gitu makanya aku ajak kesini buat nenangin pikirannya." Jawab Danu jujur, dia tadi memang tak sengaja melihat Candy yang terlihat sedih makanya dia berinisiatif mengajak gadis itu kesini sekadar menghiburnya.
"Oh ya? Terus kenapa pake peluk-pelukan segala kayak teletubbies?"
"Aku gak meluk dia kok yang." Nada tak percaya ucapan Danu, bagaimana dia mau percaya coba orang tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau mereka berpelukan.
"Tadi gue ngelihat kalian pelukan kayak gini loh." Nada menarik James agar memeluknya, James yang terkejut sontak memeluk pinggang Nada. Nada tersenyum miring melihat Danu yang tengah mengetatkan rahangnya, memangnya dia saja yang bisa membuat hati Nada panas? Nada juga bisa kok, bahkan lebih dari itu.
Cup
Nada sengaja mencium pipi James membuat Danu semakin panas saja dibuatnya, Nada terkikik dalam hati. Rasakan, salah siapa yang memulainya duluan. Nada juga bisa membalasnya dengan tak kalah kejamnya.
"Kita pergi yuk James, biarkan kalau mereka mau pelukan lagi. Lebih baik kita jalan-jalan mengelilingi pesisir pantai ya kan?" Nada mengedipkan matanya genit, James akan menolak namun Nada dengan segera membisik.
"Kalau lo gak mau gue ajak, gue sunat itu lo. Mau lo?" James merinding mendengarnya, akhirnya dia memilih mengangguk daripada Nada benar akan melakukan apa yang tadi dia bisikkan.
BUGHHH
"DANU? LO APA-APAAN SIH!!?" Nada berteriak ketika sebuah pukulan melayang dirahang James.
"Aduh James, lo gak apa-apakan?" Nada membantu James berdiri dan itu membuat hati Danu semakin panas.
"Sayang, kok kamu jadi perhatian gitu sama dia? Biasanya juga kamu gak suka dekat-dekat dia." Ucap Danu, tangannya berusaha menarik tangan Nada namun wanita itu menepisnya.
"Iya, itu sebelum gue lihat kelakuan lo." Sengit Nada, tangannya menopang tubuh James yang sedikit lemas karena tadi ditinju oleh Danu hingga tersungkur.
"Mending kita pergi dari sini, males banget ngelihat orang kasar kayak dia. Bikin enek aja." Sinis Nada membawa James pergi.
Nada memilih membawa James kebawah pohon kelapa, wanita itu meringis ketika melihat rahang James yang membiru. Biasanya dia sebal melihat wajah James, tapi sekarang dia jadi kasihan.
"Lo gak apa-apakan?"
"Gak apa-apa gimana sih Mbak? Nih lihat muka gue jadi bonyok gini gara-gara Danu. Lo sih pake ngelibatin gue segala, kalau cemburu bilang aja. Malah gue yang jadi sasaran tonjokannya Danu." Cerocos James sambil meringis.
"Emangnya lo gak cemburu lihat pacar lo nempel gitu sama Danu?" Tanya Nada mengabaikan omelan James.
"Gak, gue udah biasa. Bukanya gue juga sering ya nempel sama Danu?" Nada mendengus mendengarnya.
"Oh iya ya gue lupa kalau lo emang gak waras dan normal, sama kayak cewek lo."
"Gue normal kali Mbak." Kesal James, dia tak terima ya dikatai tidak normal.
"Terus kenapa lo suka nempel gitu sama Danu?"
"Gak apa-apa, udah kebiasaan dari kecil gue gitu. Kami udah temenan dari kecil Mbak, makanya gue terkesan kayak gitu sama Danu. Danu udah gue anggap Kakak gue sendiri, orangtua kita itu sama-sama sibuk Mbak." Cerita James membuat Nada terdiam.
"Kalau lo gak percaya gue itu normal lo mau bukti?" Tanya James sambil tersenyum menyeringai.
"Mau ngapain lo?"
"Bercanda Mbak, serius amat sih." Cengir James membuat Nada mendengus kesal.
"Lo gak cemburu gitu cewek lo tadi gue lihat pelukan sama Danu."
"Gak, udah biasa Mbak. Gue udah tau dari awal kalau dia emang sukanya sama Danu, bukan sama gue." Ucap James membuat Nada terdiam.