Tak disangka, awal pertemuan nya yg buruk merubah jalan hidup gadis ini. Awal dimana ia mengenali seorang preman nan berandal yang membawanya masuk ke dalam dunianya, dunia yang penuh warna. Membawanya mengenal dan belajar sebuah kata yg disebut orang, dari mata turun ke hati dari benci menjadi---cinta.
Cinta masa remaja yang terkadang manis kaya permen kapas, kadang asin bagai air garam, dan asam-asam pedes mirip rujak.
Season ke 2 CINTAKU DIPALAK PREMAN PASAR SHOLEH, menceritakan kisah cinta para penghuni MIPA 3.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAMA-NARA : SUSAH SENANG BERSAMA
Nara masuk ke dalam kamar mama, sebagai anak perempuan ia tergerak untuk menyiapkan segala perlengkapan mama dan papa, dimasukkannya pakaian bersih, peralatan mandi dan make-up mama ke dalam satu tas kain.
"Bi, makanannya dipisah aja--antara nasi sama temennya, ya!" ucapnya sambil menutup pintu kamar mama.
"Iya neng."
"Ra, buruan nanti telat!" Akhsan turun dari kamar atas dengan mencangklok tasnya di punggung. Sebelum berangkat ke sekolah dan kampus keduanya hendak mampir terlebih dahulu ke rumah sakit.
"Ya--ya---gerbangnya udah di tutup!" keluh Nara frustasi sekaligus panik turun dari motor, pasalnya ia baru pertama kali merasakan yang namanya terlambat.
"Ya udah teriakin aja satpamnya. Toh, baru telat 10 menit--bilang aja sama gurunya barusan macet di jalan, abis dari rumah sakit dulu," Akhsan pamit, ia pun tak kalah ngebut menjalankan motornya memburu waktu.
"Mang Uyung!!" teriak Nara dari balik gerbang. Mang Uyung yang baru saja menutup pintu gerbang kembali berbalik demi melihat Nara.
"Mang! Bukain dong mang, Nara barusan harus ke rumah sakit dulu nemuin mama sama papa," ujarnya.
"Ya Allah neng, ngga biasanya telat nih neng Nara?"
"Iya mang, tadi Nara harus ke rumah sakit dulu, papa sakit!"
"Ya udah deh, masuk neng! Kesian sampe telat!" ia segera membuka kembali pagar membiarkan Nara masuk. Untung saja mang Uyung masih berbaik hati kali ini.
"Makasih banyak mang," balasnya dengan mata berbinar.
"Buruan neng, udah masuk tuh dari tadi," pesannya.
"Iya, makasih ya mang!" Nara berlari, ia tau jika pak Asep orangnya tegas, sedikit galak dan disiplin, baginya waktu adalah uang, 1 menit saja begitu berharga. Nara sempat tersandung dan jatuh saat berlari menuju kelasnya, terlihat lutunya yang lecet, tapi tak ia indahkan karena suasana sudah sepi, itu artinya pelajaran sudah dimulai sejak tadi.
"Ram, Nara mana? Dia ngga masuk?" tanya Mita berbisik menoleh ke belakang saat menyadari bangku di sampingnya kosong.
"Abis diapelin langsung sakit kayanya!" kekeh Gilang yang dihadiahi sikutan oleh Rama dan tawa geli Ridwan dan Bayu yang berada di bangku samping mereka.
"Iya. Kayanya nyesel nerima Rama, jadinya hari ini ngga masuk--" tambah Ridwan.
Tuk!
"Aw! Njirrr---" pulpen yang Rama pegang mendarat kasar di kepala Ridwan.
Pfft! Mita, Gilang dan Bayu melipat bibirnya.
"Peje Ram---peje!" ucap Bayu berbisik kaya bisikan ghoib.
"Sip!" singkatnya.
"Assalamualaikum!"
Wa'alaikumsalam.
Nara masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, panjang umur gadis itu sekarang berada di ambang pintu, mengejutkan mereka yang sedang memperhatikan pak Asep di depan.
"Nara?"
"Eh, mama! Tumben telat ma, di rumah belum ada nasi buat ma'em dedek ya ma?!" teriak Yusuf.
"Nasi--nasi, biasanya juga makan dedak!" sahut Rifal ditertawai yang lain. Pak Asep menatap ke arah kelas yang sontak menghentikkan tawa mereka.
Dengan keringat yang keluar dari pori-pori, Nara masuk dan menghampiri pak Asep, gadis itu menyeka buliran keringat di pelipis dan membawa anak rambutnya ke belakang telinga, "maaf saya telat, barusan dari rumah sakit dulu, jadi kejebak macet di jalan." Nara menatap wajah tua pak Asep.
"Apapun alasannya kamu tetap terlambat Narasheila, jadi bapak tetap akan menghukum," balasnya tanpa toleransi. Nara mengangguk memang salahnya yang tidak sejak subuh saja ia berangkat, "iya pak."
"Silahkan kamu melakukan sikap hormat bendera selama satu jam pelajaran saya. Tugas kamu silahkan kumpulkan dulu---" pintanya. Gadis itu kembali mengangguk, menaruh dahulu tasnya ke bangku lalu merogoh tas mencari buku, tapi sesuatu ikut terjatuh saat buku tugas ia ambil, Rama tersenyum melihat benda itu adalah permen kaki darinya, ternyata se spesial itu permen kaki darinya, sampai-sampai Nara selalu membawanya ke sekolah.
"Ra, kok bisa ?" tanya Mita.
"Mama, mau dedek temenin?" tanya Yusuf, jika tentang solidaritas MIPA 3 tak perlu ditanyakan lagi.
"Eh, ngga usah Yusuf, makasih---" ia tersenyum manis.
"Ya Allah mama nya dedek, jadi sedih mama dihukum!" ujar Yusuf so imut.
"Cupid so imut ih kaya anak
Anak jeng lot!" tandas Tian.
"Berisik cup!" sergah Mutia. Nara memungut dan mengantongi permen itu.
"Ra," lirih Rama.
Ia menyunggingkan senyuman, "aku ngga apa-apa. Lagian mau nyoba nakal sekali-kali, gimana rasanya dihukum kaya kamu!" jawab Nara menatap sekilas Rama lalu kembali ke depan dan memberikan tugasnya.
"Silahkan keluar," pinta pak Asep.
"Pak, kalo gitu Nara bakal ketinggalan pelajaran?" Rama berdiri dari tempatnya membuat semuanya menoleh.
"Terus apa urusannya sama kamu ?" tanya pak Asep membetulkan letak kacamatanya.
"Jadi urusan saya dong pak, Nara kan pacar saya, calon mama-nya anak-anak saya nanti," jawabnya, bukan Rama yang malu melainkan Nara yang belum sempat keluar dari kelas.
"Woahhhhh!" sorakan MIPA 3 untuk couple goals MIPA 3, mama--papa nya MIPA 3.
"Ya Allah, jantung gue lemahhhh!" Rio memegang dadanya.
"Mati sono lu!" ujar Vian.
Wajah Nara begitu horor menatap Rama, "ngga tau malu ih!" desisnya pelan malah terkekeh.
Pak Asep menggeleng prihatin," kamu itu. Pacar--pacar, masih kecil juga sudah pacar-pacaran! Kalau memang Nara calonmu, terus kamu mau apa? Mau gantiin dia buat dihukum?" tanya pak Asep berkacak pinggang.
"Oke pak!" Rama menutup bukunya.
"Biar saya saja yang dihukum," Rama keluar dari bangku.
Nara melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan Rama, "Ram, ih! Apa-apaan ai kamu?"
Nara menginterupsi, "jangan pak, ngga apa-apa biar saya aja! Kan saya yang salah!" tukas Nara menukikkan alisnya pada Rama.
"Engga pak saya aja!" ucap Rama tak mau kalah.
"Beuhhh pusing! Udah lah pak saya aja!" Andy ikut bersuara.
"Udah weh semuanya!" ucap Tasya. Benar saja para murid laki-laki malah menutup bukunya, "Hayu atuh ah! Hayukkk!" bukannya takut mereka malah bersorak gembira dan merdeka dengan hukuman.
Pak Asep sampai menthesah pusing dan memijat pangkal hidung dengan kelas ini, "maunya kalian itu mah!"
"Sudah---sudah! Malah jadi ribut! Ini biang keroknya kamu, Rama! Kalian berdua saya hukum!" imbuh pak Asep.
Rama malah berseru senang, dengan senang hati ia ikut keluar.
"Pa! Titip keripik sama teh gelas!" teriak Fajar.
Rama berjalan beriringan bersama Nara menuju lapang.
"Kamu ngapain pake ikut-ikutan segala, jadi kan ikut kena juga!" sembur Nara.
Rama tersenyum, "ngga apa-apa, biar susah senang bersama. Buatku dihukum begini mah kecil," ucapnya santai.
"Malah, kan jadi bisa berduaan sama kamu," ia memiringkan badannya agar bisa menyenggol Nara.
Tiang bendera sudah terlihat berdiri tegap di tengah lapang sana, Nara dan Rama mengambil posisi sikap hormat tepat di depan tiang bercat putih itu.
Rama angkat bicara setelah terjadi moment diam selama 10 menit, "papa apa kabar?" tanya nya dengan posisi tegap menghormati bendera merah putih, sesekali ia mendongak sambil mengernyitkan dahi mengingat matahari sudah tak malu-malu lagi menampakkan sinarnya.
Nara menoleh ke samping sedikit mendongak, Rama sengaja mengambil posisi di sebelah kanan Nara demi menghalangi gadis itu dari sinar matahari yang menyorot.
.
.
.
.
.
gak diapa"in sama Willy cs
nyaman dong di treat kaya princes juga