Sama sama mencari keberadaan satu sama lain, akankah mereka bertemu??
Malam panas itu telah merenggut kesucian sang gadis yang dikira perempuan bayaran. Saat pria itu keluar sebentar dari kamarnya, gadis itu melarikan diri dengan membawa uang dari dompetnya. Beberapa bulan berlalu, seorang bayi mungkin nan tampan dititip di dalam kardus kertas HVS, Richard yang belum memiliki pengaruh penting kala itu langsung menyadari bahwa anak itu adalah putranya, dia diusir dari rumah keluarga nya dan bertekad mencari keberadaan ibu kandung anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPB : Irene Aneh
Irene dan Putri mendengar kabar tentang kebakaran rumah yang ditinggali oleh Rara. Sontak kedua gadis itu panik dan pergi ke rumah yang sudah hangus jadi debu itu.
Irene terlihat syok wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar, beberapa jam yang lalu dia meninggalkan Rara setelah menghina wanita itu hanya karena perasaannya pada Richard yang terlihat dekat dengan Rara.
Brakkk....
"Sialan!!" umpat gadis itu sambil memukul kencang kemudi mobilnya.
Air matanya lolos begitu saja, ada penyesalan yang sangat besar di dalam hati gadis itu ketika mengingat kembali apa yang dia katakan pada Rara hanya karena perempuan itu dekat dengan beberapa orang pria.
"Bodoh kau Irene... hiks hiks hiks.... kenapa kau tega melakukan itu hanya karena rasa suka yang bahkan tidak diketahui oleh Richard, kenapa kau sampai melukai sahabatmu sendiri, seseorang yang menerimamu apa adanya tidak peduli dengan keadaanmu waktu itu, ahhhkkk betapa gilanya diriku!!!!" Dia merutuki dirinya habis-habisan.
Penyesalan selalu datang terlambat, hal itu berlaku pada Irene.
Plakkk... Plakkk... Plakkk...
Gadis itu memukuli wajahnya sendiri sambil menangis. Entah apa yang merasuki pikirannya, sampai dia tega berkata kasar pada sahabatnya sendiri.
Irene berangkat menuju rumah kontrakan, sedang Putri menyusul dia di belakang.
Keduanya tiba di rumah yang sudah tinggal arang hitam. Api yang besar membabat habis rumah itu.
" Ya Tuhan!!!!" Putri tak bisa berkata-kata ketika dia melihat rumah itu hangus. Dan beberapa tim bangunan sedang membereskan rumah itu.
" Astaga, hangus semua!!?" Irene terkejut bukan main. Rumah ini adalah rumah kecil yang dia beli untuk menambah asetnya, tetapi hangus terbakar dan melalap semuanya..
"Irene ada kabar dari Rara!??" tanya Putri dengan wajah panik.
Irene menggelengkan kepalanya," Bagaimana aku bisa dapat kabarnya sedangkan aku menghinanya, akhhh... sialan!!!" gadis itu mengumpat di dalam hati.
Putri mendekati beberapa pekerja yang ada disana," Pak apa bapak tau dimana gadis yang tinggal di rumah ini!?? apa dia selamat? sekarang dia dibawa kemana!??" tanya gadis itu dengan nada lirih.
" Ahh... nona yang diselamatkan tadi, sudah dilarikan ke rumah sakit, " jawab pekerja itu.
"Apa bapak tau rumah sakit mana?" tanya Putri.
" Maaf non, bapak hanya dengar dari orang saja, bapak juga nggak lihat langsung," jawabnya lagi.
"Ahh baiklah Pak, terimakasih," ucap Putri.
Kedua perempuan itu sangat khawatir saat ini, apalagi Rara sama sekali tidak bisa dihubungi karena ponselnya ikut terbakar disana.
"Irene gimana dong??" tanya Putri.
" Aku juga nggak tau Put, akhh sialan... Rumahku terbakar, dan Rara gak disini, terus yang ganti rugi siapa!??" kesal Gadis itu.
Putri membulatkan matanya dengan sempurna saat mendengar ucapan Irene. Sahabatnya aneh belakangan ini, dia banyak berubah dan jadi orang yang menyebalkan.
" Kau masih memikirkan rumahmu dibanding dengan kondisi sahabatmu!? kau gila Ren!??" Tanya Putri kesal..
"Loh ya seharusnya dong aku mengkhawatirkan rumahku, ini rumah yang kubeli dengan uang ku sendiri, kalau terbakar ya jadi tanggung jawab Rara, jangan jangan dia yang membakar rumah ini!!!" ketus Irene. Dia kesal dan marah.
Putri benar benar tidak paham dengan sikap Irene saat ini, sebentar terlihat baik, sebentar lagi berubah jadi jahat, seperti pasien yang memiliki gangguan kejiwaan.
"Kau gila Ren, kau banyak berubah, ada apa denganmu!? kenapa kau jadi aneh begini!? aku yakin kau bertengkar dengan Rara saat di rumah sakit iya kan!??" Putri menatapnya dengan tajam.
Irene terdiam, wajahnya berubah datar dan dingin. Ada yang aneh dengan gadis itu, dia tidak seperti dirinya yang biasa. Kepribadiannya seolah berganti-ganti.
Irene pergi begitu saja meninggalkan putri tanpa mengucapkan apa pun pada sahabatnya itu.
" Semakin hari dia semakin aneh, ada apa sebenarnya!?? kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini!??" Batin Putri seraya menyerngitkan keningnya menatap mobil Irene yang sudah melaju jauh dari rumah itu.
Keesokan harinya,
"Apa barangmu sudah dikemas semua!?" Richard menatap Rara.
Wanita itu menaikkan sebelah alisnya," Memangnya ada satu barang pun disini yang merupakan milikku? Semua barang milikku sudah terbakar, bahkan tempat tinggalku," jawab Rara dengan nada menyindir pria itu.
"ahh kau ternyata tau diri, ya sudah ayo!" ajak Richard acuh.
Rara nanap dengan ucapan pria itu. Benar benar manusia tebal telinga yang berlaku semaunya dan berucap seenaknya.
Wanita itu mengikuti di belakangnya, sambil bergumam wanita itu berjalan mengikuti Richard.
" Dasar pria dingin, seorang wanita baru keluar rumah sakit sudah di buat jengkel karena sikap arogannya, kudoakan kau tersandung kaki meja!" kesal wanita itu.
" Aku mendengar itu Rara, istriku!" goda pria itu dengan nada jahilnya .
Mulut wanita itu terbuka lebar-lebar kala mendengar ucapan gaib dari manusia setengah robot di depannya itu.
" i... istri!??" Rara termangu mendengar ucapan Richard.
" menurutmu? dokumen beberapa hari lalu menyatakan apa nyonya?" Richard berhenti dan menatap wanita itu dengan senyuman licik dan liar bak serigala yang bersiap menyerang mangsanya.
Entah kenapa Rara malah merasa kalau dia telah masuk ke dalam kandang Harimau bisa dipastikan tidak ada jalan keluar dari kandang itu.
" Ya Tuhan, apa aku salah pilih jalan!??" batin Rara.
" Kemari berjalan di sampingku!" ucap Richard tanpa segan menarik tangan Rara dan membiarkan wanita itu berjalan beriringan dengannya.
Rara tentu saja bingung dengan situasi ini, padahal pembicaraan mereka beberapa hari lalu tentang pernikahan hanyalah Raa menjadi ibu bagi Gege bukan berarti menjadi istri sesungguhnya bagi Richard.
Tetapi cara pria itu menggenggam tangannya dan menatapnya seolah memperlakukannya seperti seorang istri sungguhan.
" Tuan, apa anda sakit!??" Celetuk Rara sambil memegang kening pria itu.
" Ahh suhu badanmu normal, tapi kenapa.kau jadi tidak normal? apa systemmu rusak atau kurang baterai??" tanya wanita itu sambil mengangkat tangannya yang dipegang Richard.
Pria itu hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke langkahnya," Kita suami istri, para perawat taunya begitu, akan aneh kalah kita tidak terlihat mesra, jadi lakukan saja sebaik mungkin, ada diskon perawatan untuk pasutri, kan lumayan!" ucap Richard.
"Ahhh begitu ya... ya sudah, sekalian saja!" ucap Rara sambil menarik tangan Richard dan melingkarkan nya di bahu lalu tangan wanita itu melingkar di pinggang Richard.
Richard tersentak kala tangan Rara merangkul pinggangnya dengan erat. Sontak jantung pria itu berdegup kencang seolah dia sedang berdiri di samping orang yang dia sukai diam diam.
"Ekhmm... tidak perlu!" Tiba-tiba dengan nada dingin, Richard melepaskan tangannya dari Rara dan berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu wanita itu.
" Eh? bukannya dia yang bilang ada diskon? kan bagus buat mengirit?" gumam Rara.
Richard berjalan dengan cepat sambil mengontrol jantungnya.
"Sialan, aku sepertinya punya penyakit jantung!!" umpat pria itu.
.
.
like, vote dan komen 🤗