NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)

Di Balik Cadar (Istriku Orang Kedua)

Status: tamat
Genre:Persaingan Mafia / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: aulia rysa

Anisa seperti terkena tembakan pistol yang telak mengenai hati nya. Entah kenapa rasa nya sesak mendengar ungkapan Bara yang mencintai wanita lain hingga saat ini.


"Kamu tidak keberatan bukan? kita menikah tanpa cinta dan saya yakin belum ada cinta di hati mu, karena kita baru pertama bertemu. Saya harap ini bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk ke depan nya jangan pernah membiarkan hati mu mencintai saya, karena sampai kapan pun saya tidak akan bisa membalas perasaan mu. kita bisa menjadi teman, tapi tidak lebih, meski ada ikatan suci di antara kita," lanjut Bara menatap anisa yang masih terdiam.


"Ya Allah, jika ini jalan takdir yang Engkau garis kan untuk ku lewati, bismilah aku akan jalani," batin Anisa berdoa menyerahkan semua pada sang kuasa.

"Iya Mas, aku tidak keberatan, kita bisa menjadi teman seperti yang Mas katakan, tapi jika suatu saat Mas ingin bersama dengan cinta pertama Mas, katakan saja padaku, aku akan mundur karena aku tidak ingin menjadi penghalang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Seperti lomba debat

H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻

🌹✨💞✨🌹

Rini menatap Anisa dengan penuh kebencian, Rini berjanji akan menyingkirkan Anisa bagaimana pun cara nya.

Berbeda dengan Anisa, dia membalas tatapan Rini dengan senyum mengembang di ujung bibir nya.

Rini melihat itu nampak tak suka, senyum Anisa menurut nya adalah ejekan yang di berikan Anisa secara tak langsung.

"Kakak ipar, kau benar sekali. Penjahat selalu bersikap seperti itu, tapi satu yang perlu kakak ipar tau. Biasa orang yang merasa bersih tak melakukan kesalahan, dia lah penjahat sesungguh nya yang sebenarnya. Apa kakak ipar mau tau kenapa bisa seperti itu?" Rini menatap Anisa dengan senyum mengejek, penuh percaya diri, dia yakin akan mengalahkan Anisa.

"Silakan, jika kau tidak keberatan. Saya ingin mendengar seperti nya menarik," jawab Anisa.

"Baiklah jika kakak ipar memaksa dan tertarik saya akan mengatakan," ucap Rini.

"Semua yang saya katakan ini bukan sebuah karangan palsu, tapi semua ini adalah kebenaran. Saya pun sama seperti kakak ipar sebelum nya ingin minta maaf terlebih dahulu. Saya tidak bermaksud menyinggung atau apa itu. Karena niat saya hanya menceritakan pengalaman saya sama seperti kakak ipar dari pengalaman kehidupan yang berada di lingkungan kakak ipar," ujar Rini panjang lebar.

"Ya, saya paham itu, tidak masalah. Langsung saja pada intinya."

Bara melihat dan mendengar itu memilih diam, dia tak ingin ikut campur. Bara yakin Anisa dapat menyelesaikan semua ini.

Bara kembali melakukan tugas pertama nya, membantu Anisa mencari pengawai untuk toko yang baru di buka.

Obrolan Rini dan Anisa sudah seperti lomba debat, di antara kedua tak ada yang saling mengalah. Kedua nya bahkan sama-sama tangguh.

"Oke. Karena sebelum nya saya sudah minta maaf, jadi saya akan bicara pada intinya. Entah kakak ipar menjadi salah satu dari hal ini, saya tidak tau, tapi saya yakin kakak ipar bukan salah satu dari apa yang akan saya katakan. Wanita bercadar, tidak semua bersih tidak semua menutup dan menjaga aurat karena ingin lebih dekat dengan sang pencipta. Bahkan bukan juga karena mereka ingin terhindar dari pandangan lawan jenis yang menonjol. Tapi tepat nya itu ingin menyembunyikan kebusukan mereka di balik cadar. Karena menurut mereka cadar adalah cara yang ampuh," ujar Rini panjang lebar.

Anisa tersenyum mendengar semua itu, dia sama sekali tak merasa tersinggung karena dia bukan lah salah satu dari wanita seperti apa yang di cerita Rini. Jadi menurut Anisa tidak lah penting.

"Apa hanya itu? tidak ada yang lain?" tanya Anisa dan sontak saja Rini terkejut, dia tak percaya reaksi Anisa santai seolah tak penting perkataan panjang lebar nya ini.

"Istriku, memang the best. Aku salut sama mu sayang, kamu sama sekali tidak terpancing sama omongan ular seperti Rini," batin Bara senang dengan sikap tenang Anisa dalam menghadapi Rini.

"Sial! kenapa reaksi nya seperti ini? apa dia tak marah, atau apa gitu setidak nya memberi reaksi, ini malah tenang. Apa perkataan ku saja yang kurang penekanan? tapi aku rasa tidak, semua yang katakan tadi sudah penuh penekanan," marah Rini dalam batin kesal semua yang di rencanakan akan berhasil ternyata gagal total.

"Baiklah karena kamu tak menjawab, ku simpulkan saja diam mu itu emang iya, tak ada yang lain," kata Anisa memutuskan, pandangan nya masih tertuju lekat menatap Rini.

"Oh iya jika tidak ada hal lain lagi yang ingin kamu bicarakan pada ku atau Mas Bara. Silakan kembali bekerja. Lihat lah ke samping mu, Mas Bara begitu sibuk, sama dengan ku, jadi kita tidak bisa meladeni mu untuk sekarang," ucap Anisa, secara tak langsung mengusir Rini.

"Iya, ini juga saya mau pergi, Kak Bara saya keluar dulu, semangat kerja nya, jika perlu sesuatu jangan sungkan beritahu ku," Rini menoleh pada Bara yang tadi fokus pada layar laptop kini berpindah menatap nya.

"Tidak perlu Rini, seperti nya besok saya akan pergi dengan mobil sendiri. Dan Anisa juga akan menemani saya, jadi nanti kamu bersama yang lain saja," tolak Bara.

"Ya sudah kalau seperti itu. Saya pamit dulu."

"Mas, kamu kenapa bicara seperti tadi, kamu kan tau, aku tidak bisa ikut untuk sekarang," protes Anisa, dia kaget tadi mendengar perkataan Bara yang langsung memutuskan semua tanpa tanya terlebih pendapat nya bagaimana.

"Sayang, emang nya kamu mau Rini dekati aku? kamu gak takut apa, kalau Rini lakuin sesuatu padaku seperti di novel, seorang wanita yang mampu melakukan apa saja demi mendapat apa yang di ingin kan, bahkan rela memasuki obat bius, obat per***sang atau apapun itu jenis obat ke dalam gelas minuman pria demi tercapai nya keinginan mereka," ujar Bara, menatap Anisa yang menjadi kepikiran dengan perkataan Bara.

"Kamu benar Mas, Rini bisa saja melakukan hal nekat, lalu apa yang harus ku lakukan?" tanya Anisa.

"Ikutlah dengan ku," Bara memeluk Anisa dari samping. Membenamkan kepala di tengkuk Anisa.

Bara mengangkat kerudung yang di kenakan Anisa, dan memasukan kepala ke dalam, menghirup aroma tubuh yang selalu mampu membuat nya ketagihan.

"Mas geli tau, jangan seperti itu," aduh Anisa, Bara bermain di tengkuk nya, pria itu bahkan menj**ati.

Anisa tidak bisa menahan rasa itu, semakin dia berucap, Bara semakin bertingkah.

"Mas hentikan, pintu belum di kunci, bagaimana kalau ada yang masuk tiba-tiba," Anisa memperingati Bara. Dan seketika itu Bara menghentikan aktivitas nya, menatap lekat wajah istri cantik nya itu.

"Baiklah, aku akan mengunci pintu terlebih dahulu, setelah itu kita lanjutkan lagi," ucap Bara, lalu beranjak dari sofa berjalan mendekat pintu dan mengunci, setelah itu kembali lagi duduk di dekat Anisa.

"Ayo kita ke ruang istirahat biar bebas lakuin nya," ajak Bara mengandeng tangan Anisa.

"Sabar Mas, sebelum itu kita selesai kan dulu karyawan ku, bukan nya kata mu ingin membantu ku?" cegah Anisa menahan Bara yang mengajak nya ke ruang istirahat.

"Masalah itu tidak perlu di pikirkan lagi sayang, semua sudah beres. Sekarang waktu nya kita senang-senang," jawab Bara, menenangkan Anisa untuk tidak kepikiran.

"Maksud nya kamu sudah kerjakan semua? kapan? lalu kriteria apa yang kamu cantumkan di sana?" tanya Anisa beruntun. Dia benar-benar penasaran dengan hasil kerja Bara, yang lagi dan lagi memutuskan semua sendiri, tanpa berdiskusi.

"Lihat saja sendiri, tapi aku rasa semua sudah cocok," Bara mengarahkan layar laptop pada Anisa, agar dapat melihat hasil kerja nya.

Anisa membaca semua satu persatu tanpa ada kelewat. Hal yang membuat nya kaget adalah dari semua kriteria yang di cantumkan Bara, semua kriteria itu adalah perempuan, tidak ada pria.

"Mas kenapa semua yang kamu rekrut perempuan? kenapa tidak kamu cantumkan 1 atau 2 pengawai pria, bagaimana juga nanti aku akan membutuhkan tenaga pria."

...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......

...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

1
Ruzita Ismail
Luar biasa
Ma Em
Bara cuma janji2 doang tanpa bukti setiap minta maaf selalu bilang tdk akan kubiarkan airmata ini menghiasi wajah cantikmu tapi diulang lagi diulang lagi menyakiti Anisa dasar Bara suami plin plan angin2an
Ma Em
Ceritanya tarik ulur sebentar baik sebentar tdk lagian Anisa juga gampang banget memaafkan Bara orang plin plan seperti Bara jgn terlalu dipercaya kalau tdk nanti Anisa sendiri yg sakit hati
Ma Em
Luar biasa
Ma Em
Bara kamu pasti akan menyesal setelah Anisa pergi tdk kembali lagi itulah dgn teguh pendirian Anisa semoga Anisa bisa menemukan kebahagiaannya kembali dgn mendapatkan suami yg sayang dan cinta pada Anisa
Ma Em
Bara pasti kamu akan menyesali keputusanmu yg tdk ingin Anisa mencintai kamu karena telah menyia nyiakan cinta tulus Anisa dan setelah kamu tau kebenarannya bahwa yg meracuni Rina adalah adiknya si Rini semoga Bara tdk terlambat untuk mencintai Anisa
Ma Em
Rini sdh terobsesi dgn Bara hingga tdk memikirkan lagi benar apa salah tindakannya seorang adik tega membunuh kakaknya sendiri demi untuk tercapai tujuannya semoga terbongkar semua kejahatan Rini yg tlh membunuh kakaknya
Madelina Puis
aku kecewa dengan penulis ..
Surati
bagus
Mega Ratnawati
ceritanya felix dan rini menikah
Mega Ratnawati
masa ceritnya cuma sedik bagaiman dengan felix dan rini
Mega Ratnawati
lanjut dong ceritanya aisha
Leni Anggraeni
Luar biasa
Yus Warkop
mau menyatu terhalang roti sabaar bara , kalau sudah waktunya pasti
Yus Warkop
iih bener"bego si bara yah
Yus Warkop
😭😭😭begitu ceritanya bara
Yus Warkop
aneh dama si bara benar" dungu
Yus Warkop
setujuuuuu bagus nis greget sama s bara yg bodoh
Yus Warkop
bara laki"bodoh ,gak bisa ngebedain mana perempuan tulus mana perempuan licik
Yus Warkop
oh iya, aku ingat sekarang ,aku pernah baca kubaca ulsng ah biar jelas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!