"Tubuhmu milikku. Waktumu milikku. Tapi ingat satu aturan mutlak, jangan pernah berharap aku menanam benih di rahimmu."
Bagi dunia, Ryu Dirgantara adalah definisi kesempurnaan. CEO muda yang dingin, tangan besi di dunia bisnis, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Namun, di balik setelan Armani dan tatapan arogannya, ia menyimpan rahasia yang menghancurkan egonya sebagai laki-laki, Ia divonis tidak bisa memberikan keturunan.
Lelah dengan tuntutan keluarga soal ahli waris, ia menutup hati dan memilih jalan pintas. Ia tidak butuh istri. Ia butuh pelarian.
Sedangkan Naomi Darmawan tidak pernah bermimpi menjual kebebasannya. Namun, jeratan hutang peninggalan sang ayah memaksanya menandatangani kontrak itu. Menjadi Sugar Baby bagi bos besar yang tak tersentuh. Tugasnya sederhana, yaitu menjadi boneka cantik yang siap sedia kapan pun sang Tuan membutuhkan kehangatan. Tanpa ikatan, tanpa perasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca Penthouse B, memantul di atas lantai marmer yang kini tidak lagi sesunyi dulu. Suara tawa kecil Athala Rafka memecah keheningan, diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.
Ryu Dirgantara, pria yang biasanya hanya peduli pada pergerakan saham dan laporan kuartalan, kini berdiri di tengah ruang keluarga dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Di tangannya bukan lagi tablet berisi data keuangan, melainkan sebuah botol susu hangat.
"Naomi, suhunya sudah pas. Aku sudah mengeceknya tiga kali dengan termometer digital," seru Ryu, suaranya terdengar agak panik sekaligus bersemangat.
Naomi muncul dari arah dapur, mengeringkan tangannya dengan serbet. Ia terpaku sejenak melihat pemandangan itu. Ryu, sang penguasa Dirgantara Holdings, terlihat begitu canggung sekaligus menggemaskan saat mencoba menenangkan Athala yang mulai merengek.
"Ryu, Anda tidak perlu menggunakan termometer laboratorium hanya untuk sebotol susu," goda Naomi sambil mendekat. Ia mengambil botol itu dan memberikannya kepada Athala yang langsung menghisapnya dengan rakus.
"Aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna, Naomi. Dia tidak boleh mendapatkan sesuatu yang kurang dari standar terbaik," jawab Ryu, matanya tidak lepas dari putranya. Ia kemudian menatap Naomi, dan ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Tentang Bimo... aku sudah meminta tim hukum pribadiku untuk memeriksa setiap celah dalam kontrak itu. Kita tidak akan membiarkan dia menggunakan pasal wali itu untuk menyentuh Athala."
Naomi mengangguk, namun kecemasan masih membayangi wajahnya. "Dia bilang pernikahan kita harus didasari perasaan yang sah secara hukum. Bagaimana cara membuktikan sesuatu yang abstrak seperti perasaan di depan Dewan Direksi yang dingin itu?"
Ryu melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Naomi. "Kita akan membuktikannya dengan cara yang mereka mengerti. Mulai hari ini, kita akan tampil sebagai pasangan yang paling harmonis yang pernah mereka lihat. Tidak ada lagi kamar terpisah, tidak ada lagi interaksi formal di depan publik. Kita akan membuat mereka percaya bahwa kontrak itu hanyalah formalitas untuk sesuatu yang sudah ada sejak awal."
Naomi menatap mata Ryu, mencari tanda-tanda sandiwara di sana. Namun, yang ia temukan adalah rasa posesif yang mendalam. Ryu tidak hanya ingin melindungi Athala, ia mulai merasa tidak rela jika ada orang lain yang meragukan posisinya di samping Naomi.
Pagi yang damai itu terusik ketika bel pintu berbunyi. Bukan Helena, melainkan Pengacara Bimo yang datang dengan gaya perlente dan tas kerja kulitnya yang mahal. Ryu mengizinkannya masuk, namun tatapannya seolah ingin mengusir pria itu saat itu juga.
"Hanya kunjungan singkat untuk menindaklanjuti pembicaraan kita semalam, Tuan Dirgantara," kata Bimo sambil duduk tanpa dipersilakan. Matanya melirik ke arah Naomi yang sedang menggendong Athala. "Ah, Nyonya Naomi. Anda terlihat sangat cocok menjadi bagian dari rumah ini. Sayang sekali, hukum seringkali tidak peduli dengan kecocokan."
"Apa maumu, Bimo? Jika kau ingin uang, sebutkan angkanya dan pergilah," desis Ryu tajam.
Bimo tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Uang? Saya sudah punya cukup banyak dari melayani Ibu Anda selama bertahun-tahun. Yang saya inginkan adalah ketertiban hukum. Kontrak yang Anda tanda tangani menyatakan bahwa jika dalam dua tahun pernikahan ini terbukti hanya manipulasi untuk mengamankan saham, maka perwalian Athala Rafka akan diserahkan kepada komite independen bentukan Dewan Direksi. Dan menurut laporan yang saya terima... Anda berdua masih tidur di kamar yang berbeda."
Wajah Naomi memucat. Bagaimana Bimo bisa tahu detail seperti itu? Apakah ada mata-mata di antara staf rumah tangga?
Ryu mengepalkan tangannya. "Itu urusan pribadi kami. Kami memiliki bayi, wajar jika pengaturan tidur kami berubah-ubah."
"Tentu, tentu," sahut Bimo sambil bangkit berdiri. "Namun, Dewan Direksi akan mengadakan kunjungan mendadak minggu depan. Mereka ingin melihat kehidupan rumah tangga yang harmonis itu secara langsung. Saya sarankan Anda mulai merapikan sandiwara Anda, karena jika mereka menemukan bukti bahwa ini hanya pernikahan kontrak, mereka akan segera mengajukan gugatan hak asuh."
Setelah Bimo pergi, suasana di penthouse menjadi sangat tegang. Ryu berbalik menatap Naomi.
"Kita harus memindahkan barang-barangmu ke kamarku sekarang," kata Ryu. Kalimatnya terdengar seperti perintah, namun ada nada urgensi yang tulus.
"Ryu, ini..."
"Naomi, ini demi Athala," potong Ryu. "Dan demi kita. Aku tidak akan membiarkan pria itu menghancurkan apa yang sudah kita bangun. Kita harus menjadi pasangan sungguhan, setidaknya di depan mereka. Dan mungkin... kita harus mulai belajar bagaimana caranya menjadi pasangan sungguhan tanpa ada kamera atau mata-mata di sekitar kita."
Proses pemindahan barang-barang Naomi ke kamar utama menjadi momen yang aneh. Ryu, yang biasanya memiliki asisten untuk segala hal, bersikeras untuk membantu sendiri. Ia membawakan koper-koper Naomi dan menata gaun-gaunnya di dalam lemari besarnya yang didominasi warna gelap.
"Anda tidak perlu melakukan ini sendiri, Ryu," kata Naomi sambil membawa keranjang perlengkapan bayi.
"Aku ingin tahu di mana letak barang-barangmu. Jadi jika mereka bertanya, aku tidak terlihat seperti orang asing di rumahku sendiri," jawab Ryu. Ia memegang sebuah syal rajutan milik Naomi. "Ini buatanmu sendiri?"
"Ya. Saya suka merajut saat merasa cemas," jawab Naomi pendek.
Ryu menatap syal itu, lalu menatap Naomi. Ia menyadari betapa sedikitnya ia tahu tentang wanita yang telah memberinya seorang putra ini. Naomi bukan berasal dari lingkaran sosialnya, ia tidak punya koneksi dengan Dirgantara di masa lalu, ia hanyalah seorang penulis yang terjebak dalam pusaran ambisi Helena. Dan entah mengapa, kesederhanaan Naomi justru membuat Ryu merasa lebih tenang daripada semua kemewahan yang ia miliki.
Malam itu, mereka duduk di meja makan yang sama. Biasanya, Ryu akan makan sambil menatap layar ponselnya, namun kali ini ia meletakkan ponselnya jauh-jauh.
"Ceritakan padaku tentang masa kecilmu, Naomi," pinta Ryu tiba-tiba.
Naomi tertegun. "Masa kecil saya? Tidak ada yang menarik. Saya tumbuh di kota kecil. Hidup saya sangat... biasa."
Ryu mendengarkan dengan seksama. "Terdengar sangat damai. Aku iri padamu."
"Jangan iri, Ryu. Setiap orang punya beban masing-masing. Hanya saja, beban saya tidak seberat beban Anda yang harus memikul nama Dirgantara," sahut Naomi lembut.
Obrolan itu berlanjut hingga larut malam. Untuk pertama kalinya, mereka tidak bicara tentang kontrak, tidak bicara tentang Helena, dan tidak bicara tentang musuh-musuh mereka. Mereka bicara tentang buku favorit, makanan yang mereka benci, dan impian-impian kecil yang terkubur.
Namun, di tengah kehangatan itu, rasa posesif Ryu kembali muncul. Saat Naomi tertawa karena ceritanya, Ryu merasakan dorongan kuat untuk memastikan bahwa tawa itu hanya miliknya. Ia meraih tangan Naomi di atas meja.
"Naomi," bisik Ryu, suaranya dalam. "Aku tahu ini dimulai dengan cara yang salah. Tapi aku bersumpah, siapapun yang mencoba memisahkan kita, entah itu Bimo atau Dewan Direksi, mereka harus melaluiku terlebih dahulu. Kau dan Athala adalah milikku."
Naomi merasakan desiran aneh di hatinya. Kata milikku biasanya terdengar seperti ancaman, tapi dari mulut Ryu malam ini, itu terdengar seperti janji perlindungan yang sangat ia butuhkan.
Minggu berikutnya, kunjungan yang ditakuti itu terjadi. Tiga anggota Dewan Direksi yang paling senior, pria-pria tua yang sudah mengabdi sejak zaman kakek Ryu datang ke penthouse untuk minum teh sore.
Ryu dan Naomi sudah bersiap. Mereka mengenakan pakaian yang senada, terlihat santai namun elegan. Athala berada di gendongan Ryu, yang tampak sangat bangga menunjukkan kemajuan putranya.
"Kami dengar ada beberapa ketegangan di pernikahan kalian baru-baru ini," kata salah satu direktur, Tuan Subrata, sambil menyesap tehnya. "Pengacara Bimo menyebutkan bahwa ini hanya aliansi strategis."
Ryu tersenyum, sebuah senyum yang terlihat sangat natural. Ia merangkul pinggang Naomi dan menariknya mendekat. "Bimo seringkali terlalu terjebak dalam dokumen hukum hingga lupa melihat kenyataan manusia, Tuan Subrata. Pernikahan kami mungkin dimulai dengan cepat, tapi cinta tidak mengenal jadwal, bukan?"
Naomi menimpali dengan tenang, "Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Athala. Dan itu berarti menjaga privasi kami dari rumor-rumor yang tidak berdasar."
Interaksi mereka terlihat sangat meyakinkan. Ryu sesekali mencium pelipis Naomi, dan Naomi menatap Ryu dengan binar mata yang entah mengapa terasa bukan lagi sekadar akting. Mereka berbagi cerita tentang bagaimana Athala menangis di tengah malam dan bagaimana mereka bangun bersama untuk menenangkannya.
Namun, ujian sesungguhnya datang ketika Tuan Subrata bertanya, "Jika ini memang pernikahan yang nyata, apakah kalian berencana untuk memiliki anak lagi? Sebagai jaminan stabilitas garis keturunan?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening. Ryu merasakan Naomi menegang di sampingnya. Namun, sebelum Naomi bisa menjawab, Ryu berkata dengan nada yang sangat posesif dan tegas.
"Athala adalah pusat semesta kami saat ini. Kami tidak memperlakukan anak-anak kami sebagai jaminan stabilitas. Kami akan menambah anggota keluarga ketika kami merasa saatnya tepat, bukan karena tuntutan Dewan Direksi. Dan saya harap, Anda semua menghormati batasan pribadi kami sebagai suami istri."
Jawaban berani itu mengejutkan para direktur. Mereka tidak menyangka Ryu akan bersikap sefrontal itu demi melindungi Naomi dan Athala.
Setelah para direktur pergi, Naomi menghela napas lega. Ia hampir terduduk di sofa jika Ryu tidak menangkapnya.
"Kita berhasil," bisik Naomi.
"Kita baru saja memenangkan satu pertempuran, Naomi. Tapi Bimo tidak akan menyerah sesederhana itu," sahut Ryu. Ia masih belum melepaskan rangkulannya pada pinggang Naomi. "Tapi kau hebat tadi. Kau terlihat seperti Nyonya Dirgantara yang sesungguhnya."
"Mungkin karena saya mulai merasa bahwa ini bukan lagi sekadar sandiwara, Ryu," jawab Naomi jujur, menatap mata suaminya.
.
.
Malam itu, ketika seluruh penthouse sudah gelap, Ryu berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota. Ia memegang ponselnya, mendengarkan rekaman suara dari tim keamanannya.
"Tuan, kami menemukan bahwa Pengacara Bimo sering bertemu dengan salah satu sepupu jauh Anda, yang merasa berhak atas posisi CEO jika Anda dinyatakan gagal memenuhi syarat perwalian."
Ryu mematikan ponselnya. Ia menyadari bahwa ancaman terhadap rumah tangganya bukan hanya berasal dari luar, tapi dari dalam keluarganya sendiri. Rasa posesifnya kini mencapai puncaknya. Ia masuk kembali ke dalam kamar, melihat Naomi yang tertidur lelap di sisi tempat tidur yang lain, dengan Athala yang mendengkur halus di boks bayinya.
Ryu duduk di tepi tempat tidur, mengamati wajah Naomi. Wanita ini, yang tidak memiliki hubungan masa lalu dengan dunianya yang kotor, kini menjadi satu-satunya alasan ia ingin menjadi pria yang lebih baik.
"Aku akan menghancurkan siapapun yang mencoba mengganggu ketenangan ini," gumam Ryu pelan.
Ia lalu berbaring di samping Naomi, menarik selimut untuk menutupi istrinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryu Dirgantara tidak memikirkan tentang kekuasaan. Ia hanya memikirkan bagaimana cara menjaga agar wanita dan anak di sampingnya tidak pernah merasa takut lagi.
Namun, di luar sana, Bimo sedang mempersiapkan dokumen terakhir. Bukan tentang masa lalu Naomi, karena memang tidak ada apa-apa di sana. Tapi tentang ibu kandung Ryu sendiri, Helena. Bimo tahu sebuah rahasia besar tentang bagaimana Helena memalsukan dokumen pernikahan Ryu dan Naomi di kantor catatan sipil, sebuah celah teknis yang bisa membatalkan pernikahan mereka secara hukum dalam sekejap.
Perang rumah tangga ini baru saja memasuki tahap yang paling berbahaya, di mana musuh terbesarnya adalah orang yang paling dekat dengan mereka.