Kisah Bianca Abraham dan Selome Josepin.
Kedua insan yang sudah berpacaran selama empat tahun dan memutuskan untuk menikah. Namun, ketika detik demi detik pernikahan itu terjadi, Selo berubah.
Dia seolah tidak menginginkan pernikahan ini membuat Bianca kebingungan. Namun, dengan segala ketulusan dan rasa cinta Bianca pada Selo, Bianca berhasil meyakinkan Sello untuk tetap bertahan hingga akhirnya pernikahan pun terjadi.
Setelah menikah, seiring berjalannya waktu, Bianca pikir, Sello akan kembali menghangat seperti semula. Tapi ternyata tidak. Hingga pada akhirnya, Bianca menemukan suatu fakta dan ia sadar, ia tidak akan bisa merubah Selo seperti dulu.
Pernikahan mereka begitu hambar, bahkan kehadiran sang buah hati tidak mampu merubah pernikahan mereka. Hingga suatu hari, tanpa sengaja Bianca bertemu lagi dengan Roland, teman kuliahnya dulu.
Roland mampu memberikan apa yang tak Bianca dapat dari Sello. Lalu haruskah Bianca menyerah dengan pernikahannya atau terus bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa sempurna
Jantung Bianca berdegup sangat kencang saat roland memegang bibirnya, ia menatap Roland dengan bingung. Taapan mata keduanya saling mengunci. Namun tak lama, Bianca tersadar kemudian menjauhkan wajahnya dari tangan Roland.
“Maaf, Bi. aku hanya refleks!” kata Roland yang mengerti perasaan Bianca.
“Tidak apa-apa, Roland,” jawabnya. Seketika kecanggungan menerpa keduanya. Bianca meneruskan makannya, sedangkan Roland menata makanan yang akan di makan oleh Bianca.
“ Roland terima kasih sudah sudah menjengukku di sini!” ucap Roland, saat Roland akan kembali pergi, karena Roland harus berangkat ke kantor. Roland tersenyum, kemudian mengangguk.
“Sama-sama, Bi. Aku senang jika bisa membantumu!” Roland terdiam, kemudian ia menatap Bianca.
“Bianca kau cantik sekali. Jangan sia-siakan dirimu hanya untuk lelaki yang tidak berguna, karena banyak sekali lelaki yang pasti bisa membahagiakanmu, termasuk aku. Kau terlalu sempurna untuknya Bianca.”
Kata-kata terakhir Roland, begitu menyihir Bianca hingga mata Bianca memanas. “Terima kasih, Roland,” ucap Bianca.
“Aku pergi!” Roland berbalik, lalu keluar dari ruang rawat yang ditempati oleh Bianca, dan setelah Roland pergi, Bianca mendudukkan dirinya di sofa. Ia termenung dalam waktu yang cukup lama.
Rupanya, ucapan Roland barusan menamparnya, ucapan Roland barusan menyadarkan sesuatu, Bianca mengangkat tangannya, kemudian meraba wajahnya. “Kau terlalu sempurna untuk lelaki itu!” tiba-tiba ucapan Roland melintas di otaknya.
Ia mengingat semua luka yang ia alami selama 5 tahun ini, tiba-tiba tangis Bianca luruh. “Benar, aku terlalu sempurna untuknya,” gumam Bianca, dengan suara pelan.
Ia seperti mendadak mempunyai kekuatan. Cukup, ia tidak mau lagi terus bertahan dengan menyakitkan ia tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi ia ingin hidupnya kembali sempurna seperti dulu
“Kau mau kemana?” tiba-tiba Celine datang saat Bianca sudah bangkit dan bersiap untuk pergi. Bukannya membalas, Bianca malah memeluk Celine dan kali ini Bianca meluapkan tangisannya, sedangkan Celine hanya terdiam ia mengerti dengan apa yang dirasakan Bianca, karena ia menguping pembicaraan antara Bianca dan Roland.
“Pergilah, Bianca. Ambil surat cerai yang kau sudah siapkan, dan daftarkan ke pengadilan sudah saatnya kau bahagia!” kata Celine.
Bianca melepaskan pelukannya, kemudian mengangguk, ia langsung keluar dari ruang rawat yang ditempatinya. Bianca keluar dari rumah sakit, untuk pertama kalinya ia merasakan bisa bernafas dengan lega.
Ucapan Roland barusan, benar-benar membuka pintu hati Bianca dan sekarang, dia merasa cantik, dia merasa istimewa, dan dia merasa sempurna. Ucapan Roland memang sederhana. Namun, mampu memberikan dampak yang luar biasa hebat pada Bianca.
Bianca berjalan ke arah mobilnya, kemudian Ia menyalakannya. Lalu menjalankannya untuk pulang ke apartemennya. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bianca sampai di basement apartemen.
Biasanya, Bianca malas sekali untuk pulang ke apartemen. Tapi, entah kenapa hari ini berbeda. Ia semangat sekali hari ini, mungkin karena kata-kata Roland memberikan penyemangat untuknya, dan memberikan keyakinan bahwa memang saatnya dia harus berpisah dengan Sello dan tidak harus menunggu apapun lagi.
“Dari mana saja kau?” ucap Selo saat Bianca masuk ke dalam apartemen. Bianca yang baru saja membuka pintu langsung terkejut saat mendengar ucapan Sello.
“Kau mengagetkanku!” kata Bianca.
“Kau dari mana?” tanya Sello lagi, sedari kemarin dia kebingungan mencari Bianca. Ponsel Bianca juga tidak bisa dihubungi, sedangkan Bianca tidak ada di rumah mertuanya, ia mencari Bianca karena Gabriel dan Amelia menyuruh mereka untuk datang.
Bianca tersenyum saat mendengar ucapan Sello membuat Sello terpaku, tumben sekali wanita di depan ini tersenyum. Mungkin senyuman Bianca kali ini adalah senyuman keikhlasan, di mana dia sudah menganggap Sello adalah kisah kelam dan Bianca sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
•••
“Bianca kau kenapa?” tanya Sello saat melihat Bianca begitu aneh, ia refleks bertanya. Bianca mengangkat bahunya acuh.
“Kau sudah makan?” Bianca malah bertanya hal lain, membuat Sello semakin kebingungan.
“Sebenarnya ada apa denganmu? apa kau sakit?” tanya Sello dengan ketus, sedangkan Bianca tidak memperdulikan lagi ucapan Sello, dia langsung masuk lalu berjalan begitu saja melewati tubuh Sello membuat Selo menggaruk tengkuknya, karena bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya.
Bianca masuk ke dalam kamar, kemudian ia melihat seluruh kamarnya. Ada rasa sesak yang ia rasakan, kamar Ini adalah kamar tempat dia bersembunyi dari kejamnya dunia pernikahan yang ia jalani bersama Sello
Ia sering menumpahkan tangisnya di kamar ini. Tapi, sekarang ia benar-benar ikhlas meninggalkan kamar yang selama ini menjadi tempatnya untuk menikmati rasa pedih.
Tak lama, Bianca mengembangkan senyumnya. “Terima kasih telah menjadi tempat yang paling nyaman untukku. Dan aku rasa, sebentar lagi kita akan berpisah.”
Bianca langsung berjalan ke arah lemari. Lalu setelah itu, ia mengeluarkan berkas-berkas yang sudah ia siapkan. Faktanya, hukum di Rusia berbeda dengan hukum di Indonesia. Hukum di Rusia jauh lebih rumit, itu sebabnya Bianca harus berhati-hati dalam mengajukan gugatan cerai, agar tidak terpergok oleh Sello, sebab bisa saja Sello menolak untuk menandatanganinya.
Akhirnya semuanya selesai, berkas sudah rampung. Semua berkas sudah ia siapkan, Ia hanya tinggal meminta tanda tangan Seo agar Sello setuju dengan perceraian merena.
•••
Sello mengerutkan keningnya saat melihat Bianca begitu aneh.Bahkan Saat ini, ia malah melihat Bianca sedang memasak di dapur. Padahal biasanya, Bianca tidak pernah mau memasak “Kau sedang apa?” tanya Sello yang menghampiri Bianca.
“Kau tidak lihat, aku sedang memasak,” jawab Bianca, lagi-lagi Sello mengurutkan keningnya, biasanya Bianca akan bersikap ketus ataupun menjawab sinis. Tapi sekarang ....
“Kau memasakan untukku juga?” tanya Selo yang ragu-ragu bertanya.
“Jika kau mau aku akan membaginya untukmu.”
“Baiklah, buatkan aku.”
10 menit kemudian, Bianca membawa dua piring yang berisi makanan dan membawanya kemeja makan. Lalu setelah itu, ia menarik kursi dan mulai memakan makanannya, begitupun dengan Sello.
Saat makan, Sello terus melihat ke arah Bianca, sepertinya ada yang aneh dengan istrinya tidak biasanya istrinya seperti ini.
“Apa sesuatu terjadi padamu? kenapa kau aneh sekali?” tanya Sello.
“Tidak ada," jawab Bianca dengan acuh. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian menyimpan piring ke dapur.
“Simpan piringmu sendiri, dan cuci piring!” kata Bianca saat melewati meja makan, Ia pun langsung kembali berjalan ke arah kamar membuat Sello benar-benar penasaran.
Bianca membaringkan tubuhnya di ranjang, sungguh efek perkataan Roland masih terasa sampai sekarang, di mana Bianca benar-benar merasa lega, dan mulai mencintai dirinya sendiri. apalagi ia sudah memutuskan untuk bercerai rasanya kepercayaan diri biarkan kembali meningkat.
Seneng bet Bianca udah sadar hahaha
klo ada pun, pemimpin nya bobrok!! apa lagi di jenjang elementary school... hadeeh