Keputusasaan yang membuat Audrey Cantika harus menandatangani perjanjian pernikahan yang dibuat secara sepihak oleh laki-laki berkuasa bernama Byakta Arsena.
"Lahirkan seorang anak untukku, sebagai tebusannya aku akan membayarmu lima miliar," ucap laki-laki itu dengan sangat arogan.
"Baik! Tapi ku mohon berikan aku uang terlebih dahulu, setelah itu aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan, termasuk melahirkan seorang anak," jawab Audrey putus asa.
Laki-laki itu mendengus saat Andrey meminta uang, ia berpikir semua wanita sama saja, yang mereka pikirkan hanya uang dan uang tanpa mementingkan harga dirinya.
Yuk ikuti terus!! ☺️☺️
Mohon bijak dalam memilih bacaan dan jika suka ceritanya silahkan tinggalkan like komen dan klik ♥️
Jika tidak suka bisa langsung tinggalkan, tanpa memberi komentar yang membuat penulisnya down 🙏☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifah_Musfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RLM bab 32
Awalnya pelayan itu tidak setuju, ia tidak mau membuat dirinya susah nantinya. Namu, bukan Melisa namanya kalau tidak pintar membujuk rayu seseorang, hanya Byakta yang tidak termakan dengan godaannya.
Akhirny pelayan tersebut setuju menjalankan aksi jahatnya bersama Melisa, pelayan wanita itu di minta Melisa untuk memasang benang untuk menghalangi jalan Audrey ketika menuruni tangga.
Aksi mereka hampir saja gagal karena ternyata yang turun bukannya Audrey, tapi Byakta di barengi dengan kedatangan Bastian, akhirnya mereka bersembunyi di balik lemari tepat di bawah tangga.
Setelah Byakta berlalu bersama Bastian, mereka melanjutkan aksi mereka dan masih berharap Audrey akan turun. Ternyata sesuai keinginan mereka, setengah jam kemudian Audrey berjalan tergesah dengan raut wajah sembab bercampur panik. Dan terjadilah yang mereka inginkan, Audrey terjatuh dari tangga.
Sedangkan di rumah sakit, Audrey sedang menjalani operasi, gadis itu tak henti mengeluarkan darah setelah janin berhasil di ambil. Benturan yang cukup kuat pada perutnya, membuat janin yang baru berumur satu bulan itu tak kuat untuk bertahan dan akhirnya Audrey keguguran.
Sedangkan di luar, tampak Byakta dan bibi Lauren masih menunggu dengan wajah bercampur aduk, sedih, terpukul, khawatir menjadi satu.
Bibi Lauren tak henti mengeluarkan air matanya, menangisi menantunya yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya, ia tahu sakinya keguguran itu seperti apa, ia juga khawatir Audrey tak mampu menahannya.
"Bi, setelah ini, aku berjanji akan menyayanginya, aku akan menerima dia sebagai istriku yang sebenarnya, aku berjanji akan memperbaiki semuanya, maafkan aku." Byakta mengusap air mata yang jatuh di pipi bibi Lauren.
"Sekarang kau sadar bahwa tidak semua wanita itu sama dengan, ibu mu?"
Byakta mengangguk "seharusnya, dari dulu aku sadar saat melihat Bibi, aku terlalu egois untuk itu, hingga aku menutup mata hatiku. Tapi, hari ini aku kembali melihat ketulusan dan cinta pada diri Audrey, ia yang hanya seorang kakak, rela berjuang untuk adiknya agar tetap hidup. Tapi aku, malah mengabaikannya," ujar Byakta panjang lebar dan menunduk penuh sesal.
Bibi Lauren mengusap kepalanya, saat ini laki-laki itu sedang berlutut di kakinya, "duduklah disini, Nak." Bibi Lauren menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Byakta menggelengkan kepalanya yang masih menunduk, "apa Audrey akan memaafkan aku, Bi?"
Pertanyaan yang Bibi Lauren sendiri tidak tahu jawabannya, "dia wanita yang baik, bibi yakin semua akan baik-baik saja, bibi akan membantumu nanti,"
Bibi Lauren berusaha berpikir positif untuk menenangkan keponakannya ini, ia juga merasa kasihan dengan Byakta yang tidak pernah merasa tenang dalam menjalani hidup.
Kemarin ia sudah sangat senang mendapatkan Audrey menjadi menantunya, saat kebahagiaan sedang bersama mereka karena Audrey hamil, tiba-tiba masalah baru datang, yaitu Melisa yang mengaku hamil anak dari Byakta padahal jelas-jelas mereka sudah bercerai lama.
Bibi Lauren bukan begitu saja percaya dengan Melisa, tapi dia dan Bastian sedang merencanakan sesuatu untuk mengungkap kebenarannya.
Pintu ruangan dimana Audrey menjalani semua proses pengurutan terbuka, muncul seorang dokter yang tidak lain adalah sahabat Bibi Lauren sendiri.
Segera Byakta bangkit "bagaimana keadaannya, Dok?"
Sebelum menjawab, dokter itu menarik nafas terlebih dahulu "Audrey masih dalam keadaan kritis, pendarahannya tak yang di alaminya tidak main-main, bersyukur kami berhasil menghentikan pendarahan tersebut, kita berdo'a saja semoga Audrey cepat melewati masa kritisnya," jelaa dokter tersebut.
Byakta memejamkan matanya saat mendengar penjelasan Dokter itu, rasanya ia ingin sekali menggantikan Audrey.
"Boleh saya melihatnya, Dok?" tanya Byakta penuh harap.
Dokter tersebut mengangguk "Tentu saja, tapi hanya satu orang yang boleh masuk dengan mengikuti prosedur yang ada di rumah sakit ini untuk menjenguk pasien kritis,"