kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya Tuhan
Ujian Akhir Sekolah sudah mereka lalui bersama. Kini tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Tiwi sih yakin jika dirinya lulus, hanya saja dia kuatir dengan nilai yang diperoleh nanti apakah sesuai dengan yang diharapkan.
“Kalau ternyata kita dijalur prestasi tidak memenuhi nilainya bagaimana Sayang?” Tanya Bayu pada kekasihnya.
Mereka sedang duduk berdua di teras asramanya. Banyak dari teman-teman yang sudah mengetahui jika Tiwi dan Bayu bukan sekedar pacaran, tetapi kekasih hati sungguhan. Meskipun mereka tidak seorangpun yang tahu jika Tiwi tidak sepenuhnya mencintai Bayu sebagai kekasihnya. Dia hanya merasa jika sudah tidak suci lagi, tidak akan ada yang bisa menerimanya selain Bayu yang telah merampas kesuciannya itu.
“Entahlah, aku akan mencoba masuk lewat jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi sajalah. Meskipun soal-soalnya sangat sulit, tetapi aku optimis mampu menjawab..” ujar Tiwi dengan nada penuh semangat.
Bayu mengangguk mengiyakan. Dirinya juga akan bersikap sama seperti kekasih hatinya ini, mereka harus sukses bersama. Bayu yang masih menggantungkan biaya sekolahnya dan kuliahnya kelak pada para kakak nya jadi memiliki beban harus berhasil jadi orang agar nanti bisa gantian membiayai adik-adiknya.
Tiwi diam, ada satu hal yang membuat nya penuh tanya, dan sangat kuatir. Sudah beberapa hari terakhir ini dia sangat suka makan. Tapi anehnya dia selalu mual dan muntah setiap mandi pagi, sampai badannya lemas. Yang lebih membuatnya sangat kuatir adalah, dia sudah hampir tiga bulan ini tidak mendapatkan tamu bulanan nya. Apakah….?
“Bay…” panggil Tiwi pelan.
Bayu menoleh, dilihatnya raut wajah cemas dari kekasihnya ini.
“Ya.. ada apa? Mengapa kamu kelihatan cemas dan pucat begini Yang? Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kita pasti lulus dengan nilai yang bagus,”hibur Bayu.
“Bukan itu..tapi…”Tiwi menggantungkan ucapannya, di takut ada yang mendengar.
Bayu menggerakkan kepalanya sedikit, gestur bertanya tanpa kata. Tiwi meminta agar Bayu mendekatkan telinganya.
“Aku… aku takut kalau jadi…” bisik Tiwi dengan nada kuatir.
Bayu menatap mata kekasih hatinya ini, mencoba mengartikan kata-kata yang baru diucapkan itu.
“Kamu?” Tanyanya kemudian.
Tiwi mengangguk pelan.
Duaaarrr !!!
Ya Tuhan..
Apa yang dikuatirkan selama ini kejadian sudah. Bayu memang mengakui jika di salah karena sudah memaksa Tiwi untuk melakukan hal yang seharusnya belum boleh itu. Namun semuanya dia lakukan karena di tidak ingin kehilangan gadis itu. Dan juga dia memang sangat mencintai Tiwi.
Disaat mereka sedang shock, tiba-tiba datanglah Toni, Teguh, Anton dan banyak lagi anak asrama lainnya.
“Heh, Wi, Bay, kalian nggak mau ikut kita ke rumah kost Widarto? Dia sedang sakit loh, kasihan, tidak bisa pulang, jadi kita yang gantian merawatnya,” ujar Anton mengabarkan jika salah satu sahabat mereka yang baik hati sedang sakit.
Bayu menatap Tiwi, akhirnya memutuskan untuk ikutan mereka berjalan kaki bersama ke kostnya Widarto.
Berbondong-bondong mereka berjalan, dan tentu saja Tiwi berdua dengan Bayu diantara mereka. Sesampai di dekat jembatan tiba-tiba ada sebuah Jeep yang berhenti di depan mereka. Tampak Ismawan turun dari mobil itu dengan muka marah. Dan langsung menarik Tiwi untuk masuk kedalam mobilnya lalu membawanya pergi.
Semua anak terkejut, apalagi Bayu. Bagaimana sang kekasih ibu dari anaknya langsung ditarik begitu saja dari sisinya. Tentu saja dia merasa malu karena itu dilakukan dihadapan semua temannya.
“Wah, mertuamu galak juga tu Bay, main tarik aja ke anaknya,” komentar Bagyo sang Ketua kelas.
“Iya loh, mana nggak pakai aba-aba lagi, apalagi senyum, hiiyy serem…”ujar Anton.
“Bapaknya Tiwi emang terkenal tegas orangnya, tapi sangat dermawan ke tetangga sekitar,” Reni teman sekamarnya Tiwi menambahkan.
Bayu hanya diam saja, pikirannya penuh, bagaimana jika Tiwi dihajar, dan ketahuan sedang mengandung anaknya. Entah bagaimana nasib mereka berdua nantinya…
“Lah, Malah ngelamun nih orang, sadar Bay… berdoa saja semoga istri mu nggak di gebukin sama Bapak mertua mu…” ujar Teguh ngomporin.
Bayu hanya tersenyum datar.
Mereka pun sudah sampai di rumah kost Widarto dan menjenguk cowok yang sedang terbaring lemah itu.
—------------
Ismawan membawa Tiwi pulang kerumah. Dengan wajah bersungut-sungut dia menyuruh anak gadisnya itu duduk di ruang keluarga. Riyanti kaget mengapa anaknya pulang bareng bapaknya tetapi dengan kondisi Ismawan tengah marah. Begitu juga dengan bu Mirah yang kuatir dengan keadaan cucunya ini.
“Loh, ketemu dimana kamu dengan Bapak Wi?” Tanya Riyanti pada Tiwi.
“Tuh! Anakmu! Jalan bareng cowok nggak jelas! Untung ketahuan, jadi aku langsung bawa pulang. Bilangin, masih kecil jangan pacaran! Nanti hamil duluan dia!” Ujar Ismawan keras.
Riyanti mendekati anaknya,
“Kamu pacaran Wi?”
Tiwi menggeleng, terpaksa dia berbohong demi kebaikannya saat ini.
“Aku tadi mau menjenguk teman yang sakit di kost nya. Dan aku tidak jalan berduaan, tapi aku bersama banyak anak Bu. Ada mbak Reni, ada Hesti, juga Indah. Memang aku tadi jalan dibelakang karena pas di jembatan, nggak bisa berbarengan, bahaya kan Bu?” Tiwi mencoba menjelaskan kepada Ibunya.
Ismawan mencebik, dia adalah orang yang sulit percaya dengan alasan, tapi dia sangat percaya dengan bukti.
“Pokoknya kalau kamu ketahuan pacaran bahkan sampai hamil duluan, silahkan kamu keluar dari rumah ini! Aku nggak sudi punya anak yang tidak taat aturan agama dan juga melanggar norma masyarakat. Paham kamu!!” Ucap Ismawan pada Tiwi dengan keras.
Entah feeling seorang bapak kepada anaknya atau memang dia tahu, entahlah. Tiwi hanya bisa berlindung kepada Allah SWT Sang pemilik Hidup, dia benar-benar menyerahkan hidupnya apapun yang terjadi.
“Dan juga, Ibu harap kamu mendapatkan nilai yang bagus di kelulusan mu nanti..” imbuh Riyanti pada anaknya.
“Iya Bu…”jawab Tiwi dengan suara pelan.
“Ya sudah, ganti baju sana! Trus makan siang, dan istirahat!” Titah sang ibu.
Gadis remaja itu pun segera bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Setelah berganti baju, dia pergi ke dapur menemui sang Nenek.
“Mbah…” diapun segera memeluk wanita tua yang sangat dia sayangi ini.
“Bagaimana keadaanmu Ndhuk?” “Tanya sang Nenek.
Tiwi hanya menggelengkan kepalanya, setetes air mata meluncur di pipinya. Dan itu cukup menjadi jawaban bagi Neneknya.
“Ya Tuhan, bagaimana ini Ndhuk…apa dia sudah tau?”
“Sudah Mbah, tadinya kami akan membicarakan hal ini, tetapi Bapak langsung membawa ku pulang, aku takut Mbah…”
Wanita sepuh itu hanya bisa mempererat pelukannya, dihapusnya air mata di pipi sang cucu.
“Makanlah dulu…nanti kita bicara lagi…” titahnya pada sang cucu kesayangannya.
Tiwi pun menuruti permintaannya, dan mengambil makan siangnya meskipun pikirannya melayang kemana-mana.
—---------
Sore harinya, Tiwi sedang melamun di teras belakang sendiri. Jaya yang baru saja datang dari bekerja, menyapanya.
“Kok pulang? Kan belum hari Sabtu?”
Tiwi hanya tersenyum tipis. Jaya mengambil tempat duduk di samping adik bungsunya ini.
“Kenapa, hm? Wajahmu kusut sekali. Ku yakin ini bukan tentang sekolahmu… ada apa? Mungkin aku bisa bantuin,” tanya Jaya sang kakak keempatnya ini.
Sebenarnya Tiwi ragu buat bercerita, namun dia benar-benar bingung dengan keadaannya.
“Aku…aku…”Tiwi menunduk tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Kamu kenapa? Apa kamu kebablasan?” tanya Jaya pada Tiwi.
Adik bungsunya itupun mengangguk lemah.
“Ya Tuhan… Tiwi…” ujar Jaya menepuk jidatnya sendiri.
“Ya sudah, aku akan terima tawaran kerja di pabrik di Surabaya, agar bisa menjaga rumah mbak Rini. Yang akan pergi ke Jogja ikut mas Agus. Dan aku akan carikan jalan buat kalian berdua nanti, jangan sedih ya Dek, masih ada aku, kakakmu yang akan berusaha menolong,” kata Jaya menghibur Tiwi.
Perempuan muda itu menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak, dengan pandangan sendu menatap masa depannya yang abu-abu.
************