Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love is Love
"Ya, dia memang agak aneh akhir minggu ini. Mungkin lagi ada masalah," singkatku.
Keesokan harinya ketika ocha berjalan melewati halaman parkiran sepeda di jam sekolah usai.
"Cha....!" sapa Azi menghentikan langkahnya.
"Azi?"
"Alea jadi khawatir karena kamu gak angkat teleponnya," lanjut Azi di atas sepeda.
"Oh tadi aku ada rapat."
"Jadi kamu gak ikut pesta tahun baru?" lanjut Azi.
"Pesta siapa?"
"Itu pesta dari Alea," jelas Azi.
"Beneran dari Alea ya? Kemarin ada sih yang kasih undangan, tapi aku pikir itu hanya kerjaan orang iseng."
"Kalau kamu mau kesana, kita bisa barengan kok, aku bawa sepeda."
"Maaf, hari ini aku gak bisa," balas Ocha tersenyum tipis.
"Begitu ya, yaudah deh sampai jumpa."
"Iya, maaf ya."
"Ok."
Keduanya bergegas ke arah masing-masing, tak begitu jauh jarak keduanya, Azi terhenti mendayu ,
"Setelah kupikir-pikir, ayo ikut Cha, soalnya disana pasti menyenangkan," jelas Azi kembali melirik kearah belakang.
Dilain sisi di toko game Rio, Geng umbi dan Zain yang sedang berkumpul menikmati kue di atas meja.
"Salah!!! Sinterklas itu seorang peri," pekik Zain.
"Iya tuh betul," sahut Dion mencolek potongan kue bolu.
"Soalnya kalau dipikir nih ya, para rusa sinterklas pasti seseorang yang berlaku buruk di jaman sebelumnya tuh," balas Zain kembali.
"Tunggu!!!!! Jangan makan kue seenaknya..!!" pekik Alea.
Azi dan Ocha yang baru sampai, mendapati keributan suasana saat itu sangat berbanding dengan ekspentasi mereka.
"Ternyata situasinya serumit ini," keluh Azi.
"Si-siapa mereka?" gumam Ocha menatap geng umbi.
"Hoi kalian! Tenanglah!" sahut Rio menegur geng umbi sembari membersihkan playstation.
"Siap salah, Abangda! Maaf!" sahut kompak geng umbi.
"Wop! Azi, akhirnya kau sampai juga," ucap Zain berdiri.
Geng umbi yang juga menoleh, melihat Azi bersama wanita, langsung kompak bereaksi mendekati.
"CEWEKKK!!! Mantap Azi, kerja bagus! Siapa dia?"
"Halo," lanjut Tama.
"Ha-halo," balas Ocha sedikit bingung.
"Yosh, aku suka cewek berbadan tinggi berkulit putih, siapakah namamu wahai nona titisan putri kerajaan," sahut Dion membungkukkan separuh badan.
"Kalau aku suka kacamatanya," balas Tama.
"Ocha... Akhirnya kamu datang juga, terimakasih sudah datang," sambut Alea menghampiri.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" jawab Ocha melihat Alea menggenakan gaun lengkap memakai topeng kacamata.
"Rencananya sih aku yg membawa kuenya, jadi berpakaian begini, tapi mereka malah memakannya."
Sementara mereka sibuk berkumpul, aku dan Gio tetap tenang duduk di sofa menyatap burger.
"Bukankah dia cewek yang di festival budaya itu ya?" ujar Gio.
"Iya," singkatku.
"Rivalmu sudah disini loh, apa yang bakal kamu lakuin, Anita?"
"Rival? Dia cuma jatuh cinta sama Zain atas kemauan dirinya sendiri dan itu bukan urusanku."
"Bukan urusanmu ya? Apakah kau sadar betapa beruntungnya dirimu masih sanggup mengatakan itu?" batin Gio.
"Baiklah aku akan potong kuenya," ujar Alea berwajah lemas membawa sisa separuh kue yang telah di makan geng umbi terlebih dahulu.
Mendengar ucapan Alea, Rio berdiri di hadapan Alea, "Oh..saatnya potong kue ya? Mau di bantu?"
"Eng-enggak usah, makasih." Berjalan melewati Rio.
"Entah kenapa dia selalu mengindariku," pekik Rio pada Azi.
"Dia itu jatuh cinta padamu loh! Entah kenapa kalau aku ingat aksi kamu yang kemarin itu waktu di cafe sangat keren," batin Azi melirik Rio yang memperhatikan Alea.
"Sedihnya!!" Teriak Azi berbalik badan.
"Hah?" balas bingung Rio.
"Rasanya aku telah di kalahkan. Tapi ya gak apalah," lanjut Azi berjalan menghampiri Zain dan geng umbi meninggalkan Rio yang masih bingung.
"Kenapa mereka semua jadi aneh ya? Tapi yah, yang penting sih Zain. Akhirnya dia bisa bergabung memiliki banyak teman dan itu sudah cukup bagus untuknya di banding dia yang dulu. Dia sudah berubah, bener-bener berubah seperti anak SMA biasanya. Aku berutang budi padamu Anita," jelas Rio tersenyum memandang Zain terbahak-bahak bersama genk umbi.
Suasana ramai akan kebesingin bersaut-sautan itupun kini menjadi bagian dari keseruan pesta..
"Aku mau ke toilet.."
"Silahkan.."
"Loh! Sapa yang makan dua potong kuenya?"
"Cha, apa kamu punya pacar?"
"Eng-enggak."
"Tama! Seenaknya kau curi start begitu! Belum sunat aja belagu!"
"Wah!!! Cari ribut lu kampang!"
"Bodo amat!"
"Jangan disebar ke semua orang dong!"
"Ayo ribut!"
"Uraaaa...!!!
"Ciat..!"
"Kalian berisik kali sih!!"
"Menyenangkan sekali bukan? Ahahha," sahut tawa Zain memperhatikan sekitar.
"Apanya?"
"Anu...sebaiknya kalian jangan berkelahi."
"Mau ku tusbol pantatmu itu ha!"
"Mau kau kusunat dua kali ha!"
"Kau bener bener ya! Maju sini jing, kubunuh kau! Ciat!!!!"
"Cha, ayo main tebak-tebakan, aku punya bukunya ini," ujar Alea.
"Cuma berdua? Padahal disini ramai loh."
"Apa yang diam dan terus berjalan?" lanjut Alea.
Zain diam sejenak kemudian...
"Jam," singkat Zain.
"Yup, Zain bener."
"Apa cuma aku yang aneh sendiri ya?" batin Ocha.
"Kalian berdua bisa berhenti berantem gak sih wahai ternak-ternak liar," ujar Azi berjalan melewati Dion dan tama menuju kumpulan Alea.
"Oh, main tebak-tebakan ya? Jadi kangen, ayo main," lanjut Azi duduk di samping Ocha.
"Boleh, ayo kita buat seru-seruan, apakah ada yang sanggup mengalahkanku!" balas Zain.
"Oi Anita! Bisa-bisanya disaat seperti ini malah sibuk belajar," pekik Azi melihatku membaca buku pelajaran.
"Berisik."
"Ahahaha...."
"Kamu hebat ya Zi, aku gak tau harus bagaimana menanggapi ini semua," gumam Ocha.
"Kamu ini cuma terlalu khawatir Cha, santai aja, benar begitu kan bang Rio?"
Rio yang berjalan melewati mereka bingung akan permasalahan, "Ha?"
"Ini tentang kebisingan keanehan anak-anak," jelas Azi.
"Oh, ya lebih baik abaikan saja mereka, terutama Zain," sambut Rio.
"Begitu ya?" lirik Ocha melirik ke arah Zain dan geng Umbi.
"Zain, tunjukin salto yang itu lagi dong," ujar Tama dan Dion.
"Oh yang itu ya...oke."
Tangan Rio menarik kera belakang Zain dan membenturkan kepalanya...
Debugggg!!!!
"Sakit njerrr!!" ucap Zain tersungkur.
"Dan kau cukup lakukan ini untuk memperingatkannya," jelas Rio menatap Ocha.
"Mustahil banget!" batin Ocha.
Zain bangkit berdiri kemudian duduk kembali.
"Zain, kamu ingat gak insiden yang dulu itu waktu kasus pendorongan?" pekik Gio.
"Aku lupa, tapi yang penting sekarang aku sudah punya Anita," jelas Zain merangkulku.
"Anita, bukannya kamu ikut kelas bimbel itu ya?" sahut Ocha.
"Apa kamu juga ikut kelas khusus lain?" balasku melirik Ocha.
"Enggak kok, aku cuma ikut kelas biasa."
"Wah kebetulan sekali, aku juga ikut," sahut Gio berwajah datar.
Zain menggesekkan giginya ke arah Gio.
"Kamu juga ikut kelas khusus? Tanyaku pada Gio
****
Sampai disini dulu yak, author baru siuman...next lanjut gais...sankyu...
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa