NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan dari Masa Lalu dan Teror di Balik Cermin

​Empat bulan telah berlalu sejak insiden di Singapura. Kehidupan di Apartemen Puri Kencana tampak kembali normal di permukaan, namun bagi penghuni lantai tiga, "normal" adalah sebuah fatamorgana yang rapuh. The Ghost tidak hanya sekadar musuh dia adalah hantu digital yang kini secara sistematis mulai menyusup ke dalam ruang paling pribadi mereka.

​Pagi itu, Jakarta sedang diselimuti kabut tipis yang aneh. Maya Adinda sedang asyik melakukan rutinitas skincare di depan cermin riasnya yang besar. Ia sedang mencoba serum baru yang ia beli dari Korea. Namun, saat ia mengusapkan cairan itu ke pipinya, ia membeku.

​Di permukaan cerminnya, di sela-sela pantulan wajahnya yang glowing, muncul tulisan berwarna merah pudar yang seolah terjahit di dalam kaca "INGATAN ADALAH PAKAIAN YANG MUDAH SOBEK, MAYA."

​"RAKAAAAA! BELLAAAAAA!" jeritan Maya memecah kesunyian lantai tiga, lebih melengking dari biasanya.

​Raka dan Bella yang sedang berlatih tanding ringan di ruang tengah unit 304 langsung menerjang pintu. Mereka menemukan Maya terduduk di lantai, menunjuk cerminnya dengan jari gemetar. Tulisan itu menghilang dalam hitungan detik, meninggalkan kaca yang bersih seperti sedia kala.

​"Dia sudah di sini," bisik Bella. Ia segera mengeluarkan pemindai frekuensi dari saku celananya. "Nggak ada jejak fisik, tapi ada sisa-isanya gelombang ultrasonik di permukaan kaca. Ini teknologi The Ghost. Dia menggunakan proyeksi laser mikro untuk 'menjahit' pesan ke dalam retina mata kita melalui pantulan cahaya."

​Selama satu minggu berikutnya, teror tersebut meningkat menjadi serangan personal yang sangat terarah. The Ghost tidak menggunakan bom, tapi dia menghancurkan pondasi kehidupan mereka satu per satu.

​Siska Paramita adalah korban berikutnya. Saat ia sedang memasak pesanan katering untuk acara pernikahan besar, tiba-tiba seluruh bahan makanannya berubah menjadi abu hitam dalam hitungan detik. Bukan karena terbakar, tapi karena mikro-robot berbentuk serangga yang disusupkan lewat jalur pipa air telah "memakan" pigmen dan struktur organik daging dan sayurannya.

​"Semua pesanan gue rusak, Bel!" tangis Siska di dapur. "Ini bukan cuma soal uang, tapi reputasi gue sebagai koki! Siapa yang mau percaya sama koki yang makanannya berubah jadi debu hitam?"

​Sementara itu, Raka mengalami serangan digital yang brutal. Seluruh akun banknya dikuras habis, namun bukan ditransfer ke rekening lain, melainkan disumbangkan ke organisasi-organisasi ekstremis internasional atas namanya.

​"Dia mau gue diburu oleh Interpol lagi," ujar Raka sambil menatap layar laptopnya yang terus-menerus menampilkan gambar topeng sutra putih The Ghost. "Dia memanipulasi jejak digital gue supaya gue kelihatan seperti pendana terorisme."

​Bella sendiri menerima serangan yang paling emosional. Sebuah paket tiba di depan pintunya berisi daster lama milik ibunya daster yang seharusnya sudah hangus saat rumah masa kecilnya terbakar puluhan tahun lalu. Di kerah daster itu, tertulis koordinat Pasar Barang Antik Jalan Surabaya.

​"Kita nggak bisa diem aja nunggu dia ngerusak kita perlahan-lahan," tegas Bella. "Dia mau gue dateng ke koordinat ini. Ini jebakan, tapi ini satu-satunya jalan buat narik dia keluar dari persembunyian."

​Pukul dua siang, matahari Jakarta menyengat kulit. Mereka tiba di Jalan Surabaya dengan formasi lengkap. Raka berada di atap gedung seberang dengan senapan runduknya, sementara Siska dan Maya menyamar sebagai turis yang sedang menawar gramofon tua.

​Bella berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang dipenuhi patung perunggu, lampu gantung kristal, dan barang-barang mistis. Ia berhenti di depan sebuah toko tua yang hanya menjual cermin-cermin antik.

​Di dalam toko, suasana mendadak sunyi. Suara bising knalpot dari jalan raya menghilang, seolah-olah ruangan itu kedap suara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas abu-abu perak. Wajahnya tertutup masker sutra tipis yang mengikuti kontur wajahnya dengan sempurna.

​"Selamat datang, Bella Damayanti," suara The Ghost terdengar seperti gema di dalam air. "Daster ibumu... jahitannya masih bagus, bukan? Aku yang memperbaikinya."

​"Kenapa lo lakuin ini? Apa mau lo?!" teriak Bella, tangannya sudah memegang gagang payung titaniumnya.

​"Aku mau menunjukkan bahwa kalian hanyalah benang-benang yang tidak berarti di dalam tenunan besar yang aku buat. Kalian pikir kalian pahlawan? Kalian hanyalah residu dari kegagalan Master Tailor."

​Tiba-tiba, ratusan cermin di toko itu mulai berputar secara otomatis. Cahaya matahari yang masuk dari jendela dipantulkan secara menyilang, menciptakan labirin cahaya yang menyilaukan.

​"Bel! Jangan liat cahayanya!" teriak Raka melalui earpiece. "Itu laser induksi saraf! Dia mau menghapus memori lo secara instan lewat syaraf optik!"

​Bella menutup matanya dan bergerak hanya berdasarkan pendengaran. Ia membuka payungnya dalam mode perisai pemantul.

​ZINGGGG! ZAPPP!

​Laser-laser itu menghantam payung Bella dan terpantul ke segala arah, menghancurkan cermin-cermin antik di sekelilingnya. Siska dan Maya segera merangsek masuk.

​"Makan nih, Hantu Digital!" Maya melemparkan "Bedak Magnetik" dosis tinggi. Partikel bedak itu memenuhi udara, menempel pada serat-serat jas The Ghost yang terbuat dari The Void Silk.

​Sekali lagi, sosok The Ghost yang tadinya tampak transparan kini terlihat jelas sebagai siluet abu-abu. Siska tidak membuang waktu. Ia menggunakan sutil titaniumnya yang sudah diisi dengan frekuensi "Disruptor". Ia menghantam lantai toko, mengirimkan gelombang kejut yang mengacaukan proyektor laser yang ada di langit-langit.

​"Kalian sangat berisik," desis The Ghost. Ia mengeluarkan cambuk benang yang bisa memotong marmer.

​Raka melepaskan tembakan dari kejauhan. Pelurunya bukan peluru tajam, melainkan peluru EMP mini. BOOM! Ledakan elektromagnetik kecil menghantam bahu The Ghost, menyebabkan masker sutranya korsleting dan menampakkan sebagian wajahnya seorang pria muda dengan luka parah di wajah yang tampak seperti bekas jahitan kasar.

​"Itu... dia mantan subjek eksperimen Master Tailor!" seru Raka. "Dia adalah Subject Zero!"

​Menyadari posisinya terdesak, The Ghost menekan tombol di pergelangan tangannya. "Jika aku tidak bisa menghapus memori kalian, maka aku akan menghapus keberadaan kalian."

​Toko cermin itu meledak dari dalam. Bukan ledakan api, melainkan ledakan tekanan udara yang meruntuhkan rak-rak berat. Di tengah debu yang beterbangan, The Ghost menghilang dalam sebuah glitch cahaya, meninggalkan pesan suara yang menggema di seluruh area: "PERMAINAN BARU SAJA DIMULAI. KITA BERTEMU DI RUMAH."

​"Rumah?!" Maya berteriak panik. "Maksudnya dia mau ke Puri Kencana?!"

​Mereka berlari menuju mobil. Raka memacu kendaraan dengan kecepatan gila melintasi kemacetan Jakarta. Di dalam mobil, Bella terus mencoba menghubungi sistem keamanan apartemen yang ia bangun, tapi semuanya mati total.

​Saat mereka sampai di Puri Kencana, suasana tampak sunyi mencekam. Lampu-lampu di koridor lantai tiga berkedip-kedip. Saat mereka sampai di depan unit 301, mereka menemukan pintu terbuka lebar.

​Di ruang tamu, di atas meja makan Siska, terdapat sebuah mesin jahit kuno yang terus bergerak sendiri tanpa ada yang mengoperasikannya. Mesin itu sedang menjahit selembar kain panjang yang berisi nama-nama semua orang yang pernah mereka selamatkan tapi nama-nama itu dicoret dengan tinta merah.

​"Dia tahu segalanya tentang kita," bisik Siska, air mata mulai mengalir. "Dia tahu siapa yang kita lindungi."

​Raka memeriksa laptopnya yang tertinggal. Sebuah video muncul. The Ghost berdiri di atap apartemen mereka. "Aku tidak akan membunuh kalian. Itu terlalu mudah. Aku akan membuat seluruh dunia lupa bahwa kalian pernah ada. Besok pagi, saat matahari terbit, identitas kalian di seluruh database dunia akan dihapus. Kalian akan menjadi orang asing di rumah kalian sendiri."

​"Kita nggak bisa biarin itu terjadi," Bella menatap teman-temannya. Wajahnya yang biasa dingin kini menunjukkan api tekad yang luar biasa. "Raka, lo punya akses ke backdoor satelit agensi yang lama?"

​"Ada, tapi butuh waktu dua jam untuk menembusnya," jawab Raka.

​"Kita bakal kasih lo waktu dua jam. Siska, Maya... kita siapkan 'Sambutan Terakhir'. Kalau dia mau main di rumah kita, dia harus hadapin aturan rumah kita."

​Malam itu, mereka bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Maya mengeluarkan seluruh stok daster teknisnya. Mereka menyambungkan serat-serat daster tersebut menjadi jaring-jaring konduktor raksasa yang menutupi seluruh unit 301, 302, dan 303.

​Siska mencampurkan bahan kimia paling volatil yang ia punya dengan sisa-sisa bumbu dapur. Ia menciptakan "Awan Asap Bio-Statik" yang bisa menetralisir teknologi The Ghost.

​Pukul tiga dini hari. The Ghost muncul di koridor, berjalan dengan tenang. Ia merasa sudah menang. Namun, saat ia melangkah masuk ke area lantai tiga, seluruh daster yang tergantung di jemuran mendadak menyala dengan cahaya biru.

​"Selamat datang di rumah kami, Ghost," suara Bella terdengar dari speaker koridor.

​Maya menekan sakelar. Jaring daster itu melepaskan muatan listrik statis yang sangat besar, mengunci posisi The Ghost di tengah koridor. The Ghost mencoba menghilang, tapi partikel asap Siska membuatnya tetap terlihat.

​"Kalian... menggunakan pakaian tidur untuk melawanku?!" geram The Ghost.

​"Ini bukan cuma pakaian tidur," seru Maya dari balik pintu. "Ini adalah lambang keberadaan kita! Kita ada karena kita punya kenangan, dan kita nggak bakal biarin lo hapus itu!"

​Siska melemparkan sutilnya yang sudah bermuatan energi penuh. BOOM! Sutil itu menghantam dada The Ghost, menghancurkan unit kontrol utama di jasnya. Di saat yang sama, Raka berteriak dari dalam unit, "BERHASIL! Gue sudah enkripsi balik identitas kita dan gue balikkan virusnya ke server dia!"

​Jas The Ghost mulai terbakar oleh energinya sendiri. Ia jatuh terduduk, maskernya terlepas sepenuhnya. Wajahnya tampak hancur, bukan karena luka, tapi karena teknologi yang ia gunakan telah memakan tubuhnya sendiri.

​"Kenapa... kalian tetap ingat?" tanya The Ghost dengan suara yang makin melemah.

​"Karena kita nggak simpan kenangan kita di server atau di database," jawab Bella sambil berdiri di depan pria itu. "Kita simpan kenangan kita di sini, di sela-sela tawa pas makan rendang, di sela-sela debat drama Korea, dan di setiap helai daster yang kita jemur bareng-bareng. Itu memori yang nggak bisa lo jahit, Ghost."

​Tim agensi pusat akhirnya datang untuk menjemput Subject Zero. Kali ini, Master Tailor sendiri yang datang dengan helikopter.

​"Kalian luar biasa," ujar Master Tailor sambil menatap ketiga janda itu dan Raka. "Kalian telah membuktikan bahwa kemanusiaan jauh lebih kuat daripada algoritma."

​Matahari terbit di atas Jakarta. Kabut aneh itu menghilang. Maya, Siska, Bella, dan Raka duduk di balkon lantai tiga, kelelahan namun lega. Identitas mereka aman. Rumah mereka aman.

​"Bel," panggil Raka pelan.

​"Apa?"

​"Besok-besok kalau ada paket lagi, jangan langsung dibuka ya. Gue jantungan liat daster ibu lo tadi."

​Bella tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Raka. "Iya, bawel. Makasih ya udah jaga gue."

​Siska keluar membawa nampan berisi kopi hangat dan pisang goreng. "Ayo sarapan. Perang selesai, perut harus kenyang."

​Maya memegang ponselnya, bersiap melakukan live streaming. "Halo Kakak-kakak! Tebak siapa yang baru aja ngalahin hantu paling modis di dunia? Tetep pantau toko kita ya, karena daster yang dipake perang semalem bakal kita rilis versi terbatasnya!"

​Hidup di Puri Kencana kembali ke jalurnya. Mungkin The Ghost adalah tantangan terberat mereka, tapi dia juga mengingatkan mereka tentang satu hal mereka tidak akan pernah terlupakan selama mereka saling memiliki.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!