Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng yang Luntur
Bruk.
Byur..
“Aduh!! Yah basah lagi lantainya.” Keluh Yuki panik pada air bekas pel yang tertumpah di lantai yang baru saja selesai ia pel.
“Maaf Mbak kalau kakinya jadi basah.” Imbuh Yuki sambil mengemas ember kosong dan tongkat pel yang tergeletak di lantai. Mendongak menatap sosok yang tidak sengaja bertabrakan dengannya, Yuki mendapati wanita yang merupakan senior sekaligus seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi darinya.
“Gak apa-apa. Lebih baik kamu cepat bersihkan lagi lantainya sebelum ada yang jatuh terpleset di sini.” Ucap Alia santai sembari mengingatkan Yuki untuk segera menghandle kekacauan kecil dari tumpahan air bekas pel.
“Iya, Mbak. Sekali lagi maaf.” Menunduk sekilas Yuki meminta maaf lagi pada Alia. Tidak dapat dipungkiri karena kecerobohannya yang sempat mengalihkan pandangan justru menabrak Alia yang mungkin juga tidak menyadari kehadiran Yuki.
“Panggil Kak aja, jangan Mbak. Aku gak terbiasa.” Ucap Alia yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Yuki yang berkutat lagi mengepel lantai sekali lagi.
“Malam-malam ngepel mulu.” Gerutu Yuki sembari menggerakkan tongkat pel dengan kasar. Tenaganya terkuras ekstra malam ini.
Menyelesaikan sedikit kekacauan yang beruntungnya tidak disadari oleh orang lainnya, Yuki melangkah ke bilik tempat peralatan kebersihan biasa diletakkan. Namun langkahnya tiba-tiba membeku.
Dari sudut ekor matanya, tampak Alia sedang memeluk seorang laki-laki yang sangat Yuki kenali. Keduanya tampak hanyut dalam suasana intim hingga tidak peka pada sekitarnya.
Berjinjit melangkah perlahan dengan hati-hati, Yuki meletakkan peralatan pel dengan pikiran yang sudah bercabang. Otaknya sudah merangkai berbagai macam dugaan.
Kruk.. Krucuk..
Suara kuat dari pusat perutnya mengejutkan Yuki, membuyarkan lamunan panjang yang hampir selesai tersusun sebagai naskah cerita. Ia menurunkan pandang ke arah perut, mengusap perlahan sambil menelan saliva.
“Lapar.” Gumam Yuki lirih, berjalan gontai melupakan sepasang manusia yang mungkin masih bermesraan di tempat yang sama.
Duk.
“Aw!”
Keluh kedua suara perempuan berbeda usia secara serentak. Masing-masing saling memegangi bahu dan mengusap pelan lengannya.
“Kamu lagi. Suka banget nabrak. Lain kali jangan melamun dan perhatikan jalan!” Ucap Alia dengan suara meninggi, ketus dan sewot.
“Maaf Kak.” Ucap Yuki meminta maaf lagi.
‘Kirain lemah lembut, rupanya kayak angsa kebelet kawin.' Membatin kesal Yuki pada sikap Alia yang tiba-tiba terlihat sangat mengesalkan. Padahal jika mereka saling bertabrakan lagi bukan sepenuhnya salah Yuki. Jika saja Alia sadar, harusnya ia bisa menghindar dari Yuki yang tidak fokus, bukan malah pasrah dan siap sedia Yuki tabrak.
“Minggir!” Ucap Alia ketus, matanya mendelik kesal pada Yuki. Entah apa yang terjadi sehingga Alia bersikap kasar pada Yuki.
Hufft..
‘Sabar Yuki!!’ Jerit Yuki dalam hati, ingin rasanya ia menjambak rambut Alia dan menggosokkan wajah cantik wanita itu ke dinding.
Meninggalkan restoran saat waktu bekerjanya usai, Yuki mengemudikan motornya dalam kondisi hati yang kacau dan perut yang terus memberontak.
“Kesel banget malam ini..!! Kenapa juga harus ada setan magang yang terus-terusan ngintilin dia!!” Teriak Yuki kuat, sekuat motor yang dipacunya semakin cepat.
“Kenapa aku harus bahas setan sih??!! Sepi lagi jalanan nya.” Desis Yuki semakin kesal, tubuhnya seketika merinding bukan karena dingin, melainkan kata ‘setan’ yang sempat ia ucapkan sendiri.
...----------------...
“Lagi-lagi aku harus lihat pemandangan ini.” Ucap Yuki dengan tatapan mata sendu. Mana bisa sebagai perempuan normal yang mencintai lawan jenisnya akan kuat jika menatap sosok yang dicintai asik dengan perempuan lainnya.
Mencoba memantapkan langkah dan tekatnya, Yuki mendekati sebuah meja dimana dua orang laki-laki dan seorang wanita asik berbagi tawa dan senda gurau.
Tak.
“Sore Mas Saka. Sore Mas Keven. Sore Kak..” Sapa Yuki ramah pada ketiganya, tersenyum riang setelah sempat meletakkan bawaannya membentur kuat pada meja.
“Hi, Ki. Kamu udah datang? Tumben hari ini lebih cepat beberapa menit.” Ucap Saka membalas sapaan Yuki dengan ramah. Keduanya memang sudah cukup akrab.
“Wah, memang Mas Saka yang paling perhatian. Tau aja hari ini aku datang lebih cepat.” Ucap Yuki sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Pasti dong.. Yuki si cantik yang bawel suka datang tepat waktu. Benar-benar tepat waktu yang seharusnya udah mulai kerja.” Ucap Saka yang membuat Yuki seketika mengerucutkan bibirnya. Yuki tau saat ini Saka secara tidak langsung juga sedang menyindirnya.
“Kamu suka sama dia?” Tanya Alia tanpa basa-basi secara mendadak. Ia tidak suka pada interaksi akrab antara Yuki dan Saka. Apa lagi pujian yang terang-terangan Saka ucapkan pada Yuki.
“Kalau iya kenapa, kalau nggak juga kenapa?” Ucap Saka sembari memainkan kedua alisnya naik-turun serentak. Jelas Saka sedang menggoda Alia dengan pertanyaan yang menjebak.
“Awas kamu macam-macam!” Ancam Alia tanpa menjawab pertanyaan Saka.
Mengulum senyuman menahan tawa, Saka mencolek pipi Alia dengan gemas. “Cemburu ya?”
“Saka!” Ucap Alia meninggi sambil melotot tajam pada Saka.
“Jangan ngambek gitu dong pacar aku..”
Deg!
Ada jantung yang tiba-tiba tersentak hingga terasa sakit menusuk. Seakan ada tangan tidak kasat mata yang meremas langsung jantung polosnya. Harusnya ia sadar kejadian seperti ini sudah bisa ditebak pasti akan terjadi.
“Pacar?” Memiringkan kepala, perkataan Keven hampir terucap bersamaan dengan gumaman Yuki.
“Kita lupa kasih tau kamu Kev. Aku sama Alia baru aja jadian.” Ucap Saka bangga, menarik lembut jemari Alia dan memamerkan cincin yang melingkar di jari Alia.
Sejenak Yuki mengerutkan dahinya pada kepalan tangan Keven di bawah meja yang tidak sejalan dengan senyum manis yang ia berikan pada Saka dan Alia. Memandang lekat Keven yang berusaha mengatur nafas teratur dan bersikap setenang mungkin, Keven tidak bisa membohongi Yuki pada perasaannya yang sebenarnya.
‘Cinta apa ini?’ Ucap Yuki miris, memandangi ketiga orang yang juga ikut membuat dirinya patah hati. Langit cerah dengan sinar matahari yang terik seolah membakar perasaan Yuki hingga hancur dan meleleh tidak bersisa.
Niatnya ingin memberikan lilin aroma therapy gagal. Pikiran dan hatinya terlalu kalut saat ini untuk mencerna semua kejadian yang baru saja ia alami.
Haruskah Yuki menyerah atau tetap berjuang meraih hati seseorang yang nyatanya milik perempuan lain bernama Alia?
Mendesah dengan helaan nafas berat, Yuki mendongak memandang awan yang bergerak perlahan. Rasanya ingin menangis. Sesakit itu patah hati, padahal dirinya baru berjuang. Semua sudah tampak nyata di mana hati laki-laki yang dicintainya berlabuh.
Senyumnya palsu untuk kebahagiaan kedua sahabatnya yang menjalin kasih. Iya, Keven sedang menipu dirinya sendiri dan orang lain. Namun sayangnya tanpa Keven sadari topengnya luntur di mata Yuki yang sudah menaruh hati pada pertemuan kedua mereka di kala hujan.
Sebotol lemon tea hangat yang Keven berikan untuk Yuki dan Dimas saat berlindung dari hujan di depan restoran membawa kenangan manis awal pertemuan mereka.
...****************...
*
*
*
Udah terang benderang cinta nya Yuki, kalau suaminya udah terang juga gak ya?🤭