”Elden, jangan cium!” bentak Moza.
”Suruh sapa bantah aku, Sayang, mm?” sahut Elden dingin.
"ELDENNN!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felina Qwix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasyah?
"Eh, lo? Ngapain ke sini?" tanya Elden, dia tersenyum menatap ke arah Dasyah.
"Gue ke sini mau tunangan lah, kan gue lagi liburan di NY jadi ya gue ke sini, sekalian minta tolong Tante sama Om buat jadi wali gue," sahut Dasyah.
Elden pun terkekeh. "Gak asyik, Syah kalo cuma tunangan, nikah aja kenapa?" Ledeknya.
Dasyah terkekeh. "Iya, slow kali. Lo sama Moza mah enak deketan, gue kan selama ini LDR-manja," sahutnya. Elden pun tersenyum, lantas berpamitan. "Gue keburu, mau beli nasinya bini gue. See you!"
"Eh, tante sama Om dimana?"
"Di rumah, call aja."
Seketika itu, Elden pergi meninggalkan Dasyah. Bersamaan dengan Elden pergi, terlihat Jagur menarik paksa Devano ke sebuah mobil. Dasyah pun mengejar asisten pribadinya Elden itu.
"Gur, tungguin. Ini anak sopir mau dikemanakan?" tanya Dasyah.
"Dia lancang, Non. Dia harus dihukum di ruangan lain, apartemen Tuan Muda terlalu mewah," sahut Jagur.
"Oh, dia gak jera-jera sih jadi orang!" keluh Dasyah sebal. Gadis itu pergi berbalik badan, dia hendak menghubungi Jonathan dan Anera. Tapi, Anera mengatakan kalo Dasyah harus ikut dirinya hari ini belanja banyak pakaian mewah untuk Moza, karena empat hari lagi keluarga besar mereka termasuk Dasyah akan melakukan perjamuan keluarga di Swiss.
Dasyah pun tak banyak bicara, dia segera menyusul Anera di butik terkenal miliknya. Dan lagi, katanya Anera akan memesan baju mewah yang edisi terbatas di desainer terkenal andalannya.
***
Sementara Elden, dia tergesa-gesa pulang ke rumahnya Moza membawa sebungkus nasi rames yang dia beli di restoran.
"Jam 7 lewat lima belas. Ujian masuk jam 8. Kamu ini ngapain sih!" protes Moza, kedua tangannya dilipat didepan dada.
Elden tersenyum, bibirnya mendarat sempurna di kening Moza. Lalu, mengusap puncak kepala gadisnya lembut. "Aku pesan dress buat acara perjamuan keluarga sayang, acaranya empat hari lagi," balasnya.
"Empat hari lagi? Dimana?"
"Di Swiss. Kamu harus ikut."
Moza tak habis pikir, mendengar nama Swiss saja rasanya mimpi, apalagi sampai tiba di sana? Tapi, hatinya girang bukan main. "Aku mau makan nasinya di mobil gak papa?"
"Dimana aja, as you want, My girl." Ucap Elden yang lantas meraih tas ransel di pundak Moza. "Sini, aku yang bawa. Isinya berat." Balas Elden.
Moza pun menggelengkan kepalanya. "Gak kok, cuma bawa buku tulis satu sama pulpen doang," bantah Moza.
"Gak bisa, Sayang. Tetap aku yang bawa,"
"Gak papa, aku bisa."
Tanpa menunggu izin dari Moza, Elden menyapa bibirnya Moza sejenak. Tapi, gadis itu segera melepaskan kecupan suaminya.
”Elden, jangan cium!” bentak Moza.
”Suruh sapa bantah aku, Sayang, mm?” sahut Elden dingin.
"ELDENNN!"
"Sini, aku bawa tasnya. No bantah, oke?"
Dengan segera Elden mengambil tas ransel milik Moza dari pundak gadisnya, Moza sebenarnya terkagum-kagum dengan ulah Elden, tapi rasa gengsinya membuatnya enggan untuk mengakui.
Saat Moza masuk ke dalam mobil, Elden selalu membukakan pintu mobilnya untuk Moza—istrinya.
Saat masuk ke dalam, Moza terkejut ketika ada bau rokok yang menguar. "Kamu ngerokok lagi ya?" tanya Moza pada Elden.
Pria itu memilih untuk tak menjawab pertanyaan Moza, melainkan langsung menginjak pedal gas mobilnya. Tapi, Moza tak mau kalah, untuk terus bertanya. "El, aku gak suka kamu masih ngerokok ya, kamu tau kan bahaya rokok itu apa? Kamu mau mati duluan?" Ocehnya. Elden pun tersenyum menoleh ke arahnya, lalu fokus menyetir kembali.
"Makan, Sayang. Nanti aku jawab setelah kamu selesai makan, sini aku bukakan." Tanpa basa-basi satu tangan Elden, membuka nasi rames yang dibungkus Styrofoam, nasi itu diletakkan di atas dashboard mobil.
Setelah membuka, diberikannya nasi itu kepada Moza. Terpaksa, Moza berhenti mengoceh. Gadis itu segera makan. "Nutut gak sih, pas sampe sekolah aku udah selesai makannya?" tanya Moza lagi.
Elden tersenyum menatap gadisnya. Lalu, kembali fokus menyetir. "Kalo gak nutut, aku buat nutut."
"Maksudnya gak telat pas ujian?"
"Gak, Sayang. Telat sekalipun, gak masalah, semuanya aman terkendali."
Moza mengangguk, gadis itu melanjutkan makan nasi rames favoritnya. Nasinya sungguh enak, bahkan nasi buatan mamanya Moza sendiri saja kalah enak.
"Kok bisa enak sih?" tanya Moza. "Kamu beli dimana?" tanyanya lagi. "Anyway makasih, sibuk-sibuk beliin aku nasi," sambungnya. Elden pun tersenyum, entah kenapa dia lebih suka Moza dengan versi cerewet seperti ini. Baginya, terlalu merasa spesial dengan keadaan Moza yang mau bercerita banyak dengannya.
"Sayang, gak usah bilang makasih. Itu kewajiban aku buat sayangin kamu, jagain kamu, masak pake makasih?" sahut Elden.
"Kalo sayang, please gak usah langgar buat rokok kenapa? Aku gak mau ditinggal kamu!" protes Moza.
"Maaf, aku tau. Tapi, tadi ada masalah sedikit, aku terbiasa ngerokok kalo lagi kesal, nanti-"
"Nanti minta aja ke aku, ulangan aku dua hari ini kalah terus sama kamu, aku sportif kok, kamu bisa minta ciuman kapan aja ke aku, asal gak ngerokok." Balas Moza yang membuat Elden tersedak, dia gugup. Senyumnya sempat tertahan, tapi dia justru salah tingkah. Sebenarnya, Elden suka dengan keberanian Moza. Namun, karena dadakan, dia terpaksa sok cool.
"Sayang-"
"Aku tau, kamu ngerasa aneh, tapi bukannya keputusannya begitu?" Balas Moza. Keduanya saling tatap sejenak, kebetulan ini ada di lampu traffic yang sedang berhenti. Elden menyentuh bibir Moza dengan ibu jarinya, lalu membersihkan butiran nasi di pinggir mulut gadisnya.
"Love you, Sayang."
Moza berusaha menarik napasnya dengan baik. Elden terlalu sempurna untuk tidak membuatnya jatuh cinta. Gadis itu tersenyum ke arah Elden, jantungnya tak karuan rasanya. Dia sebenarnya merasa sesak dengan momen ini, tapi dia juga sebisa mungkin bersikap netral.
Sejak itu, keduanya saling diam, sepertinya memang tegang. Saat tiba di sekolah, Moza segera ke kelasnya, semua orang sudah siap untuk melakukan ujian sekolah. Sementara beberapa teman-temannya Moza selalu saja bergosip, saat seorang guru masih menyiapkan kertas ulangan untuk dibagikan.
"Dasyah, si anak adopnya Om Jo udah pulang dari New York, katanya mau tunangan, kebayang cowok siapa sih yang dipilih dia kira-kira?"
"Mana gue tau? Palingan anak Jehuda, atau orang bule juga?"
"Dia dianggap sepupunya Elden gak sih hitungannya?"
"Iya sih, soalnya kan yang hamil waktu itu masih ada hubungannya sama kakeknya Elden, anak bibinya Elden apa ya gue lupa,"
"Iya, suaminya itu kan orang bule. Sumpah, Dasyah cantik banget,"
"Menurut gue lebih cantikan Moza sih," ujar beberapa siswi yang lain.
Seketika Moza jadi overthinking sendiri, mengenai siapa Dasyah sebenarnya, tapi gadis itu segera fokus kembali ke selembar ulangan yang mulai dibagikan.
Saat istirahat tiba, lagi-lagi nilai Elden jauh lebih tinggi daripada Moza. Sudah tiga hari berturut-turut, Moza diserang overthinking yang berlebihan ketika mengerjakan ulangan. Hasilnya justru malah mengecewakan.
Jia pun menghampiri Moza di saat gadis itu berjalan sendirian di koridor sekolah. "Za, Lo udah ketemu si Dasyah? Siapa sih dia? Tadi, ada yang spill fotonya Dasyah sama Elden pas masih kecil, dia itu kok bisa deket sama Elden ya?" tanya Jia, yang ikutan kepo.
Moza menghela napasnya berat. "Lagian kenapa gue harus peduli sih?"
"Lo gak takut Elden diambil dia? Mereka deket loh. Elden juga katanya care banget ke Dasyah,"
"Apaan sih?"
"Lo cemburu?"
untung joinan 😁
baru juga dorr
burungnya habis minum nitro kali 🤣🤣🤣