Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengunduran diri
Alina duduk bersandar di sofa kamar, air matanya tiba-tiba saja mengalir dari kedua pelupuk matanya. Dia mengelus pelan perut yang terlihat sedikit membuncit itu.
"Sayang, kamu harus selalu sehat, Nak. Jangan buat Mama takut lagi. Kita pasti bisa melewati ini berdua, Sayang."
"Maafkan Alina, Ma. Alina tidak bermaksud berbohong, kalau mama tau kandungan Alina lemah pasti Mama akan sangat khawatir, kan?" ucap Alina lirih sambil menyapu air mata yang sudah membasahi pipinya.
Alina menegakkan tubuhnya, mengambil kertas dan pulpen yang berada di atas meja. Dia mulai menulis di secarik kertas itu dengan wajah yang terlihat sendu menggambarkan keadaan hatinya saat ini. Dia melipat kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Alina bangkit menuju tempat tidur, sesekali dia mengelus perut dan menyeka air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.
********
Sudah tengah malam Reyhan belum juga bisa memejamkan matanya, hatinya sangat gelisah memikirkan keadaan Alina. Reyhan membuka laptopnya, dia mulai mencari-cari informasi tentang kehamilan.
"Apa ini? semua informasi yang aku dapatkan tentang flek seperti yang dia bilang itu semuanya buruk. Kenapa dia bilang baik-baik saja?"
"Aku benar-benar khawatir padanya tapi aku tidak berani untuk bertanya apapun, aku tahu dia pasti sangat kecewa padaku. Seharusnya aku bisa lebih memperhatikannya. Apa-apaan aku ini hanya karena keegoisanku aku hampir menghancurkan semuanya."
"Maafkan Papamu ini, Nak. Jika saja Papa bisa berpikir jernih sejak awal semua ini tidak akan terjadi. Bahkan kamu harus menderita saat masih didalam kandungan, aku memang sangat bodoh. Aku bahkan ingin membunuh anakku sendiri, aku sama sekali tidak pantas disebut sebagai ayah." Reyhan merutuki semua kebodohan yang sudah dia lakukan pada Alina, dia menggertakkan gigi, mengacak rambut, bahkan memukul tembok untuk melepaskan kekesalannya pada dirinya sendiri.
Pagi hari.
"Wahh ... baunya enak sekali, Pak Reyhan yang masak semua ini?" tanya Alina yang baru saja turun dari tangga melihat makanan sudah tertata rapi dimeja makan.
"Tentu saja. Memang ada orang lain selain aku disini? Segeralah sarapan, keburu dingin."
Alina mengangguk dan segera mengambil makanan, tak lupa dia juga mengambilkan untuk Reyhan.
"Telur dadar ini sangat enak, tidak kusangka kau sangat pandai memasak, Pak."
Reyhan hanya memandang Alina yang sedang menikmati makanannya, sesekali senyum kecil tersungging di bibir Reyhan.
"Hari ini berangkatlah bersamaku," ucap Reyhan membuat Alina menghentikan aktivitasnya.
"Tapi pak—"
"Jangan membantahku kali ini!" sela Reyhan.
Alina hanya mengangguk pelan dan melanjutkan lagi makannya yang tertunda.
"Baiklah sekali ini saja tidak masalah, pertama dan terakhir aku berangkat kerja bersamanya."
Alina sudah sampai di perusahaan, untung saja hanya security yang melihatnya dan Reyhan datang bersama jadi tidak akan menimbulkan masalah baru untuk Alina.
"Al, tumben tadi nggak bareng gue?" sapa Sinta yang baru saja datang menghampiri Alina.
"Tadi gue bareng pak Reyhan," jawab Alina sambil menaruh tasnya di meja
"Seriusan? Kesambet apa dia mau berengin elo?"
"Nggak tau. Pokonya dia nawarin dan gue iyain aja,"
"Udah ah! gue mau ngadep ke Bu Selly dulu," ucap Alina dan langsung pergi meninggalkan Sinta.
"Permisi Bu Selly," sapa Alina masuk ke ruangan atasannya.
"Iya, Al. Ada apa?"
"Bu Selly, saya mau menyerahkan surat pengunduran diri." Alina menyerahkan amplop berisi surat pengunduran diri yang sudah ditulisnya semalam.
"Loh Al, kenapa kamu mau resign? kamu dapat kerjaan baru lebih bagus ya?" tanya Bu Selly mengangkat kedua alisnya.
"Tidak, Bu. Bukan begitu, saya hanya sedang ada masalah keluarga. Saya takut akan menggangu pekerjaan nantinya."
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik, Al? jika kamu tidak puas dengan posisimu saya bisa promosikan kamu atau kamu mau minta cuti dulu, Al?" Bu Selly mencoba membujuk Alina agar tidak resign karena selama bekerja, Alina memang sangat baik dan rajin.
"Tidak, Bu. Saya sudah sangat puas dengan posisi saya sekarang, tapi maaf saya tetap harus mengundurkan diri, Bu."
"Ya sudah, jika memang keputusanmu sudah bulat, saya akan mengajukannya ke atasan," jawab Bu Selly tersenyum pada Alina.
Bersambung ....
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍