Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Insiden Kopi
Steve masuk ke ruangan Jayden dengan membawa 4 buah kantung belanja besar di genggaman tangannya. Kemudian ia pun berjalan mendekati meja kerja Jayden.
"Presdir, ini barangnya," ujar Steve seraya meletakkan kantung-kantung itu di atas meja kerja Jayden, sama seperti kemarin.
"Mengapa kau taruh di ruanganku?! Bawa pergi sana!" titah Jayden dengan raut wajah kesal.
"Apa?! Bukankah tadi Anda bilang ...."
Steve pun terdiam. Ia tak jadi melanjutkan kata-katanya karena merasakan aura di sekitar Jayden yang sangat mencekam.
'Ya, ampun. Ada apa lagi dengannya? Bukankah tadi dia baik-baik saja? Haish! Suasana hatinya berganti lebih cepat dari pada perubahan cuaca.'
Steve kemudian segera mengambil kembali kantung belanja itu dan bersiap untuk membawanya pergi dari ruangan Jayden. Akan tetapi, pria itu pun menghentikannya lagi.
"Kau mau bawa ke mana kantung itu?! Letakkan di sana!" Tunjuk Jayden ke arah meja di dekat sofa.
Steve pun hanya menggeleng pelan dan meletakkan kantung belanja itu di meja, sesuai dengan perintah Jayden. Kemudian ia segera undur diri dari ruangan Jayden, sebelum pria itu bertingkah lebih aneh lagi.
'Jika aku adalah kantung belanja itu, maka aku pasti akan merasa pusing karena terus dipindahkan ke sana kemari sejak kemarin.'
Steve membuka pintu ruangan Jayden dan ia pun berpapasan dengan Jesslyn. Steve kemudian menahan pintu itu untuk membiarkan Jesslyn masuk. Jesslyn pun tersenyum dan menundukkan kepalanya seraya menyapa Steve.
"Asisten Wei," sapa Jesslyn.
Namun, saat Steve ingin membalas sapaan Jesslyn, tanpa sengaja ekor matanya pun menangkap seseorang yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Tubuh Steve pun bergidik ngeri, dan ia kemudian segera berlalu dari ruangan itu tanpa mempedulikan Jesslyn.
'Sekretaris Jiang, semoga kau selamat.'
Jesslyn masuk ke ruangan Jayden dan berjalan mendekat ke arah meja kerjanya. Pria itu tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya dan menatapnya tajam.
'Terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk melayaniku? Tetapi, dia selalu menggoda pria lain di setiap ada kesempatan. Benar-benar bernyali besar.'
"Presdir Zhou," sapa Jesslyn.
Jayden pun terdiam dan hanya menatap lekat wanita yang telah dinantinya sejak semalam itu. Hari ini Jesslyn mengenakan setelan kerja berupa celana dan blazer hitam, dengan blouse berbahan satin sifon berwarna biru yang membalut tubuh mungilnya. Seperti biasa, wanita itu pun tampil cantik dan elegan. Namun, tetap terlihat menggemaskan.
Jesslyn berdiri tepat di depan meja kerja Jayden dan siap menerima perintah dari atasannya itu. Namun, sudah hampir 10 menit berlalu, tetapi pria itu masih tetap terdiam. Hanya tatapan mata Jayden yang terus menelusuri setiap gerak-gerik Jesslyn. Wanita itu tampak kesal, canggung, dan juga pegal karena ia terus berdiri sejak tadi.
"Presdir Zhou, ada perlu apa Anda memintaku datang ke ruangan Anda?" tanya Jesslyn yang sudah tak dapat menahan diri lagi dalam situasi menyebalkan seperti ini.
"Jadi kau tidak bersedia datang ke ruanganku?"
Jayden balik bertanya kepada Jesslyn tanpa melepaskan pandangannya dari wanita itu.
"Bukan itu maksudku. Tetapi, jika memang tidak ada hal penting, maka lebih baik aku kembali ke ruanganku dan melanjutkan pekerjaanku."
"Kenapa? Apa kau keberatan berada di dekatku?"
"Presdir Zhou, sebenarnya Anda mau apa?"
Jayden masih terdiam, ia merasa kesal akan perkataan Joana yang mengatakan Jesslyn lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dengan melayaninya.
Jayden juga cemburu dengan senyuman Jesslyn untuk Steve tadi. Sementara, saat sedang bersamanya, wanita ini selalu saja mendebatnya.
"Presdir Zhou, berapa lama Anda berniat untuk mendiamkan aku? Kakiku pegal. Setidaknya biarkan aku duduk."
Jesslyn pun menarik kursi di depan meja kerja Jayden dan berniat untuk duduk, tetapi Jayden pun menghentikannya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk?"
Jesslyn pun kembali mengangkat b*kongnya yang bahkan belum menempel pada kursi dan segera berdiri tegak.
"Presdir Zhou, sebenarnya apa kesalahanku? Mengapa Anda menghukumku seperti ini?"
Jesslyn bertanya dengan wajah mengiba membuat Jayden menelan salivanya menatap bibir mungil itu. Ingin sekali ia mel*matnya dan membuat Jesslyn terengah-engah kehabisan napas karena ciumannya. Jayden kemudian memalingkan wajahnya dan berdeham sejenak. Ia pun kembali bersikap dingin.
"Apa tugas pertamamu saat aku tiba di kantor?"
"Apa?!"
"Mana kopiku?"
Jesslyn melirik ke arah secangkir kopi yang berada di atas meja kerja pria itu. Namun, kopi itu masih dalam keadaan tak tersentuh. Jesslyn pun memijat pelipisnya. Ia kesal sekali dengan Jayden.
'Ya, Tuhan. Jadi ini hanya karena masalah kopi? Bukankah Joana sudah membuatkan kopi untuknya tadi?'
"Aku tidak mau itu!" teriak Jayden seraya menggebrak meja dengan kencang membuat sekretarisnya itu tersentak kaget. Ia seolah dapat membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Jesslyn.
"Bawa pergi sana dan buatkan aku yang baru!"
Tanpa banyak membantah, Jesslyn pun segera mengambil cangkir kopi itu dan menggantinya dengan kopi yang baru. Ia hanya ingin segera pergi dari hadapan Jayden yang membuatnya sakit kepala dengan tingkah anehnya. Setelah kopi itu siap, Jesslyn pun langsung menyuguhkannya untuk Jayden.
"Ini kopi Anda, Presdir," ucap Jesslyn. Ia pun segera membalikkan tubuhnya, berniat untuk kembali ke ruangannya.
"Terlalu encer!" teriak Jayden setelah mencicipi sedikit kopinya. Jesslyn pun segera menoleh ke arah atasannya itu dan menatapnya bingung.
"Apa? Terlalu encer?"
"Buatkan lagi!" titahnya.
"Tetapi, itu sudah sesuai dengan takaran. Sama seperti yang aku buatkan untuk Anda kemarin."
"Aku bilang terlalu encer dan tidak enak! Buat lagi cepat!"
Tak mau berdebat lebih lama lagi dengan Jayden, Jesslyn pun meraih cangkir kopi itu dan membuatkannya lagi.
"Silakan, Presdir."
Sama seperti tadi, Jesslyn pun langsung berniat kembali ke ruangannya.
"Terlalu manis! Buatkan lagi!"
"Apa?!"
"Kau tidak dengar apa yang aku katakan?!"
"Tetapi, aku tidak menambahkan bahan lain ke dalam kopi itu, bahkan aku menaruh kopinya lebih banyak. Bagaimana itu bisa terasa manis?"
Jayden tak menjawab perkataan Jesslyn. Ia pun kembali bersandar dan menatap Jesslyn dalam diam.
'Karena ada kamu,' gumam Jayden.
Jesslyn pun menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan.
'Tenang, Jessy. Jangan hiraukan dia. Emosi berlebihan tidak baik untukmu.'
Untuk yang ketiga kalinya, Jesslyn pun membuatkan kopi untuk Jayden. Di dalam pantry, ia pun menendang sebuah kursi untuk meredakan kekesalannya. Namun, karena kursi itu terbuat dari besi, maka ia pun meringis kesakitan.
"Auw!"
Jesslyn membungkuk dan mengusap kakinya yang terasa sakit, seraya memukul-mukul kursi tadi.
"Dasar pria gila! Menyebalkan!"
Setelah puas menghukum kursi yang tidak bersalah itu, maka ia pun segera membuatkan lagi kopi untuk atasan anehnya itu.
"Ini kopi Anda."
Jesslyn meletakkan kopi di meja Jayden dengan raut wajah kesal. Dia lelah karena harus bolak-balik ke pantry dan kembali lagi ruangan Jayden. Belum lagi harus terus melihat wajah Jayden yang membuatnya sebal.
"Mengapa lama sekali?" tanya Jayden, karena Jesslyn memang membuat kopi sedikit lebih lama kali ini.
"Aku harus membuat kopi dengan takaran yang pas agar sesuai dengan selera Anda, jadi membutuhkan waktu agak lama," kilah Jesslyn, dan Jayden pun hanya mengulum senyumnya.
Ia tahu tadi Jesslyn menendang kursi di pantry, dan kursi itu pun membalasnya. Sehingga Jesslyn pun 'bertarung' dengan kursi malang itu. Semua kejadian itu pun terlihat dari CCTV di kantornya.
"Presdir, cepat minum kopi Anda. Jika tidak enak maka aku akan membuatkannya lagi untuk Anda."
Melihat raut wajah Jesslyn yang kesal, tetapi tetap menggemaskan dan terlebih lagi saat ia melihat kejadian di pantry tadi, maka seketika suasana hatinya pun membaik. Jayden pun tak berniat lagi untuk mengerjai Jesslyn.
"Tidak perlu. Kopi ini sudah sesuai dengan seleraku."
"Benarkah? Apa Anda yakin?" tanya Jesslyn memastikan.
"Iya. Aku akan meminumnya nanti."
"Berarti Anda tidak akan memanggilku untuk membuat kopi lagi, 'kan?"
"Tentu. Kembalilah bekerja."
"Baik, Presdir. Permisi."
Jesslyn pun tersenyum senang dan segera berjalan ke arah pintu, tetapi Jayden memanggilnya lagi.
"Jessy!"
Jayden melemparkan sesuatu ke arah Jesslyn dan Jesslyn pun secara refleks menangkapnya.
"Oleskan pada kakimu," ujar Jayden seraya menahan tawa.
Wajah Jesslyn pun memerah dan segera berlalu dari ruangan Jayden.
'Ya, Tuhan. Jadi dia melihatnya? Ah! Memalukan sekali.'
Jesslyn masuk ke ruangannya dan menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ia pun segera duduk di kursinya.
Jesslyn menatap salep obat memar pemberian dari Jayden dan seketika ia pun merasa bersalah.
'Ya, Tuhan, semoga saja dia tidak mati.'
Di dalam ruangan Jayden, kini pria itu yang kesal setengah mati dengan Jesslyn. Bagaimana tidak, ia sudah berbaik hati kepada wanita itu, tetapi Jesslyn malah menaruh garam ke dalam kopi Jayden.
Dan mungkin saja Jesslyn menuangkan seluruh persediaan garam yang ada di pantry itu, karena kini kopinya terasa sangatlah asin bagaikan air laut.
Setelah puas menertawakan kelakuan Jesslyn di pantry tadi, Jayden pun pergi ke ruang istirahatnya untuk mengambil gel pereda memar, jadi ia tidak tahu jika Jesslyn ternyata menambahkan garam ke dalam kopi Jayden.
Namun, karena ia sudah berkata tidak akan memanggil Jesslyn untuk membuatkannya kopi lagi hari ini, maka Jayden pun hanya bisa memendam kekesalannya saja.
'Dasar wanita itu. Akan kubalas kau nanti.'
.
.
.